TAHAPAN - TAHAPAN PENELITIAN


A.    Definisi  Penelitian
Sebelum kita membahas lebih banyak tentang seluk beluk penelitian maka kita harus memahami makna penelitian itu sendiri. Dalam bahasa Inggris penelitian disebut juga dengan research yang kemudian diindonesiakan menjadi kalimat “riset”, yang memiliki arti penelitian.  Kata “penelitian” dan “riset”[1]memiliki makna yang sama dan dapat dipertukarkan.
Secara etimologis, research berasal dari dua kata, yaitu re dan search. Re berarti kembali atau beulang-ulang dan search berarti mencari, menjelajahi, dan menemukan makna kembali secar berulang-ulang.[2]Berarti penelitian adalah kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang untuk membangun sebuah hukum, dalil, generalisasi, memvalidasi, atau menguji teori yang sudah ada.
Penelitian diartikan sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis dan logis untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. pengumpulan dan analisis data menggunakan metode-metode ilmiah, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif.[3]
Dari  pengertian diatas dapat dipahami bahwasanya Penelitian adalah kegiatan mengumpulkan data dengan cara dokumentasi, observasi ataupun kuesioner yang dilakuka dengan langkah kerja tertentu. Setelah cukup mendapatkan data yang diinginkan oleh peneliti, barulah seorang peneliti melakukan analisa-analisa berdasarkan data yang didapatkan, yang kemudian  diambillah kesimpulan untuk selanjutnya dilakukan tindakan-tindakan sebagai langkah perbaikan dari hasil temuan yang terdapat dalam penelitian.
Dari kata penelitian, orang mulai mereka-reka tentang adanya hal-hal yang "masih gelap" masih menjadi "Tanda Tanya" " belum jelas" atau masih misterius. Oleh karena itu perlu pengungkapan rahasia dibalik itu, rahasia manayang akan menjelaskan semua " ketidak jelasan" semua yang " masih gelap" dan semua yang masih "misterius."[4]
Berdasarkan pengertian diatas, secara garis besar pengertian ini dapat diartikan sebagai proses pengungkapan segala sesuatu yang belum jelas atau samar dengan suatu cara atau metode pengungkapan, selanjutnya hal tersebut disebut dengan metodologi penetitian.
Penelitian ( Research) merupakan rangkaian kegiatan ilmiah dalam rangka pemecahan masalah. Fungsi penelitian adalah mencarikan penjelasan dan jawaban terhadap permasalahan serta memberikan alternative bagi kemungkinan yang dapat digunakan untuk pemecahan masalah. Penjelasan dan jawaban terhadap permaslahan itu dapat bersifat abstrak dan umum sebagaimana halnya dalam penelitian dasar (basic Research) dan dapat pula sangat kongkret dan spesifik seperti biasanya ditemui pada penelitian terapan (Applied research)[5]

Setiap manusia yang diciptakan oleh Allah dalam kehidupannya pernah melakukan penelitian meski dilakukan dengan sangat sederhana. Misalnya : seorang Nelayan merasakan bahwasanya hasil Tangkapannya mulai berkurang, maka ia mulai menerka-nerka setiap masalah yang terjadi, mulai dari musim, air pasang laut, tercemarnya limbah sampai dengan hal-hal yang mistis, misalnya kurangnya sesajen, marahnya nyai Roro kidul, kurangnya keberuntungan karena tidak mandi dsb. Hingga pada akhirnya nelayan tersebut menyimpulkan bahwasanya yang menjadikan tangkapannya menurun disebabkan karena Rusaknya terumbu karang.
Dari illustrasi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwasanya, semua orang di dunia ini pernah melakukan penelitian, penelitian tidaklah dilakukan oleh para ilmuwan saja. Tetapi sering pula dilakukan oleh orang-orang awam di sekitar kita . Kita tinggal membatasi, penelitian mana yang dilakkan oleh orang awam dan tingkat penelitian mana yang dilakukan oleh seorang ilmuwan. 
Penelitian yang dilakukan oleh orang-orang awam adalah dengan tanpa melalui penelitian ilmiah , yaitu dengan cara non ilmiah. Disebut dengan unscientific. Oleh karena itu kebenaran yang  diperoleh  dari  unscientific  ini tidak dapat disebut dengan scientific truth. [6]
Pada mulanya orang harus berbuat apa terhadap dorongan ingin tahunya. Oleh karena itu orang berbuat pasif terhadap dorongan tersebut. hal itu karena tingkat pengetahuannya yang masih sangat rendah pada waktu itu. Akibatnya semua pengetahuan (kebenaran) diperoleh secara kebetulan.[7]
Kebenaran melalui otoritas membutuhkan orang yang lain yang dapat dijadikan subyek ketergantungan, karena dengan pendekatan ini sadar atau tidak, telah mengakui ketidakmampuan rasio seseorang untuk memecahkan problem kebenaran. Otoritas membuat  orang tergantung padanya pada ketaklidan, sehingga hal tersebut dalam tabung kebekuan yang abadi.[8]
hal yang disebutkan diatas juga merupakan  cara manusia untuk menambah pengetahuannya, secara umum manusia belajar  dari penelitian yang bersumber deri pengalamannya sehari-hari. Berbeda dengan penelitian ilmiah,  " penelitian ilmiah sangat memperhatikan pada kebenaran ilmiah (scientific truth), selain itu juga sangat memperhatikan cara-cara untuk memperoleh kebenaran ilmiah itu, cara ilmiah itu disebut juga dengan (Scientific research)  disebut juga dengan metodologi penelitian."
Colin nevil dari University of Bradford, dalam scholl of management mendefinisikan bahwasanya Research is a process of enquiry and investigation; it is systematic, methodical and ethical; research can help solve practical problem and increase knowledge "[9]yang dimaksud disini adalah penelitian adalah penyelidikan dan penyidikan, hal itu terbentuk secara sitematis, terdapat beberapa metode pengambilan data dan analisa, dan memiliki kode etik yang harus dilakukan oleh seorang peneliti, sehingga pada akhirnya penelitian dapat membantu memecahkan masalah praktis  yang ada di sekitarnya dan menambah ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
Dalam memberikan definisi riset Morton  L. Arkafa menulis di dalam bukunya “Research answer such questiont through the application of tested procedurs to social work problems, this scientific method has proved to be the most trustworty known source of knowledge, altough its use cannot guarantee that a given scientific undertaking produces the best information, it is more likely to do so than any other procedures currently known.” [10]tulisan ini menjelaskan bahwasanya penelitian menjawab demikian banyak pertanyaan melalui penerapan prosedur yang dapat diuji dari setiap masalah-masalah sosial. Metode ilmiah ini telah terbukti menjadi sumber ilmu pengetahuan yang paling dikenal dan dapat dipercaya. Meskipun hal itu tidak dapat menjamin bahwa pekerjaan ilmiah ini menghasilkan informasi yang baik. Hal tersebut lebih diminati daripada prosedur lain yang dikenal saat ini.
Dalam mencari dan menguji kebenaran, penelitian masih menjadi metode utama untuk mencari ilmu baru atau menguji teori-teori yang sudah ada kebenaran dan kesahihannya.
Secara  lebih detail karakteristik suatu metode ilmiah sebagaimana berikut:
1.      Metode yang digunakan harus bersifat kritis, analistis.[11]
2.      Metode harus bersifat ilmiah
3.      Metode harus bersifat obyektif
4.      Metode harus bersifat konseptual dan teoritis.
5.      Metode bersifat empiris.[12]

B.     KARAKTERISTIK PENELITIAN
1.      Obyektif
Penelitian atau riset harus berdasarkan sifat objectivity, baik dalam karakteristiknya maupun prosedurnya. Yang artinya penelitian yang dilakukan harus berdasarkan fakta-fakta atau  data riil yang terjadi. Data atau fakta  yang dipakai dalam penelitian atau riset seharusnya tidak ada tendensi  atau kepentingan apapun yang dapat mempengaruhi obyektifitas data, misalnya : Kepentingan, material. Begitu juga hasil penelitian yang dihasilkan dari sebuah riset/penelitian. Obyektifitas hanya dapat dicapai dengan keterbukaan, yaitu data yang ada benar-benar ada dan diketahui oleh semua orang atau kalangan. Sehingga data yang digunakan atau hasil riset yang dihasilkan terhindar dari bias dan subyektifitas.[13]
2.      Ketepatan
Penelitian harus dilakukan dengan tingkat ketepatan (precision) yang sangat tinggi. Mulai tahap awal penelitian sampai dengan hasil penelitian yang dihasilkan.  Teknik pengumpulan data harus memiliki validitas dan relibilitas yang cukup tinggi, desain penelitian yang digunakan harus cukup efektif, pengambilan sampel dan teknik analisanya tepat  sehingga waktu dan pembiayaan yang digunakan bisa dikelola dengan efisien. Dengan ketepatan  pengambilan langkah-langkah penelitian diharapkan mampu menghasilkan penelitian yang bermutu. [14]
3.      Verifikasi
Hasil yang didapat dari penelitian hendaknya dapat diverifikasi, yang artinya saat direview atau ditinjau ulang hasil penelitian kebenaran data, analisa atau laporannya masih dapat dipertanggung jawabkan. Sehingga saat dikonfirmasikan dengan data yang sama,  hasil penelitian  tersebut memiliki nilai ketepatan yang  tinggi.  Selain hal tersebut,  hasil penelitian dapat direvisi dan diulang dengan cara yang sama atau berbeda. Verifikasi juga bermakna bahwasanya hasil penelitian yang dihasilkan mampu memberikan sumbangan kepada ilmu atau studi yang lain.[15]
4.      Penjelasan ringkas
Penelitian bertujuan untuk memberikan penjelasan ringkas dan sederhana tentang cara memahami suatu Fenomena, baik Fenomena yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi, maupun Fenomena yang saling berhubungan dan namun tidak saling mempengaruhi. Tujuan akhir dalam Penelitian adalah mereduksi realitas yang sangat komplek dan beragam kedalam penjelasan yang singkat dan sederhana. Dalam penelitian kuantitatif penjelasn singkat tersebut berbentuk generalisasi, namun dalam penelitian kualitatif penjelasan singkat tersebut berbentuk deskripsi tentang hal-hal yang esensial atau pokok[16]
5.      Empiris
Penelitian harus dilakukan dengan sikap dan pendekatan empiris yang kuat.  Secara pengertian dasar, bahwasanya penelitian yang dilakukan harus dilakukan dengan pengalaman praktis, bukan dengan pengalaman yang diimajinasikan atau pengalaman orang lain yang dianggap menarik. Dalam penelitian empiris kesimpulan didasarkan atas kenyataan atau fenomena  yang diperoleh dengan penelitian yang menggunakan metode penelitian yang sistematis. Bukan dari hasil pendapat orang lain atau kekuasaan. Sikap empiris dalam penelitian menuntut ketiadaan sikap berdasarkan pengalaman dan sikap pribadi, terutama bagi peneliti. Kritis dalam penelitian berarti membuat interpretasi berdasarkan kenyataan dan nalar yang didasarkan pada kenyataan-kenyataan (Evidensi). Evidensi  adalah data yang diperoleh dari penelitian, berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dalam penelitian, berdasarkan hasil analisis data tersebut intrepretasi dibuat. Angka, print out, catatan lapangan, rekaman wawancara,  artifak dan dokumen sejarah adalah data dalam penelitian.[17]
6.      Penalaran logis
Semua kegiatan dalam Penelitian harus didasarkan kepada sistematika berfikir logis,  yang tidak dicampur dengan penalaran-penalaran yang bersifat mitos/mistik.  Karena logis merupakan proses berfikir dengan menggunakan penalaran logika deduktif atau induktif.  Penalaran deduktif adalah penarikan kesimpulan dari umum ke khusus. Dalam pemalaran deduktif, bila premisnya benar maka kesimpulan otomatis benar. Logika deduktif dapat menidentifikasi hubungan-hubungan baru dalam sistematika ilmu pengetahuan yang ada. Dalam penalaran  induktif, peneliti  mengambil  kesimpulan berdasarkan hasil sejumlah pengamatan kasus-kasus (Individual, situasi, peristiwa), kemudian peneliti membuat kesimpulan yang bersifat umum.  Kesimpulan dibatasi oleh jumlah dan karakteristikdari kasus yang diamati.[18]
7.      Kesimpulan yang rasional[19]
Kesimpulan hasil penelitian tidaklah bersifat absolut. Penelitian tentang perilaku manusia atau hewan, atau juga menyangkut Alam, tidak dapat menghasilkan kepastian.  Sekalipun kepastian relatif. Semua yang dihasilkannya adalah pengetahuan probabilistik. Penelitian boleh dikatakan hanya mereduksi ketidaktentuan yang tersembunyi dari fenomena-fenomena yang diteliti. Ilmu sosial memiliki ketidak tentuan lebih tinggi dibandingkan dengan kealaman. Baik kesimpulan penelitian kualitatif maupun Kuantitatif, bersifat kondisional. Para peneliti seringkali menekankan / menuliskan bahwa hasil penelitiannya “ cenderung menunjukkan atau memberikan kecenderungan”

C.    TAHAP-TAHAP PENELITIAN
Pada umumnya scientific research terperinci menjadi tahapan-tahapan kerja, yang mana satu tahapan dengan tahapan yang lain ada saling keterkaitan, masing-masing tahapan tersebut saling mempengaruhi dan dipengaruhi. Sadar dengan hal tersebut maka seorang peneliti harus lebih bijaksana dalam mengambil keputusan dalam setiap tahap penelitian, adapun tahapan tahapan penelitian tersebut adalah :
1.      Perencanaan
Perencanaan penelitian meliputi penentuan tujuan yang ingin dicapai oleh suatu penelitian dan merencanakan strategi untuk untuk  memperoleh dan menganalisa data bagi penelitian itu. Hal ini harus dimulai  dengan memberikan perhatian khusus terhadap konsep, dan akan mengarahkan peneliti yang bersangkutan dan penelaahan kembali terhadap literatur. Termasuk penelitian yang pernah dilakukan oleh orang sebelumnya yang berhubungan dengan maslah judul dan penelitian yang bersangkutan. Tahap ini adalah tahap penyusunan “term of Refference[20]
Perencanaan penelitian dilakukan  karena adanya kebutuhan untuk mengetahui fenomena tertentu (The felt need) karena " seseorang merasakan adanya sesuatu  kebutuhan yang menggoda perasaannya sehingga dia berusaha mengungkap misteri kebutuhan tersebut."[21]
2.      Pengkajian secara teliti terhadap rencana penelitian
Tahap ini merupakan pengembangan dari tahap perencanaan, disini disajikan lagi latar belakang pendidikan, permasalahan, tujuan penelitian, hipotesis serta metode atau prosedur analisis dan pengumpulan data, tahap ini pula penentuan macam data yang diperlukan untuk mencapai tujuan pokok penelitian, tahap ini merupakan tahap penyusunan usulan proyek penelitian.[22]
Fungsi pengkajian dalam rencana penelitian adalah untuk mengidentifikasi masalah yang terjadi ( The Problem), karena perasaan akan adanya sesuatu kebutuhan  pada tahap the felt need diatas  kemudian diteruskan dengan merumuskannya, menetapkan, dan membatasi permasalahan atau kebutuhan tersebut.[23]
Lebih mudahnya, tahapan ini adalah untuk merumuskan dan memetakan variable-variabel yang terkait dengan masalah penelitian.

3.      Pengambilan contoh (sampling)
Ini adalah proses pemilihan sejumlah unsur/bagian tertentu dari suatu populasi guna mewakili seluruh populasi itu. Dalam tahap ini peneliti harus secara teliti  membuat definisi atau rumusan mengenai populasi yang harus dikaji. Rencana pengambilan contoh ini terdiri dari prosedur pemilihan unsur-unsur populasi dan prosedur menjadi atau mengubah data dari hasil sampel untuk memperkirakan sifat-sifat dari seluruh populasi. Tantangan yang dihadapi dalam tahap ini adalah yang bagaimana kita dapat mengikuti sedemikian prosedur yang kita miliki dengan keadaan sosial setempat dan dengan sumber dana yangt tersedia, sementara tetap mempertahankan kebaikan dan keuntungan dari sample survey. [24]
Dalam tahapan ini peneliti mulai menyusun hipotesis dan percobaaan penyelesaian maslah penelitian mulai dilakukan. Percobaan penyelesaian masalah tersebut didasarkan pada pengalaman-pengalaman yang memiliki kemiripan, wacana penelitian, hokum-hukum dan teori-teori yang relevan dengan masalah tersebut
4.      Menyusun daftar pertanyaan
Ini merupakan proses penterjemahan tujuan-tujuan studi daalam bentuk pertanyaan untuk mendapatkan jawaban yang berupa informasi yang dibutuhkan. Sebenarnya ini merupakan proses Trial and Error yang membutuhkan waktu cukup lama. Hal yang perlu diperhatikan  adalah jumlah dan macam pertanyaan serta urutan masing-masing pertanyaan. Tidak ketinggalan pula adalah upaya bagimana agar-orang yang diwawancarai (Responden) dengan senag hati mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan tetap senang dalam memberikan jawabannya.

5.      Kerja lapangan
Tahap ini meliputi pemilihan dan latihan para pewawancara, bimbingan dalam wawancara serta pelaksanaan wawancara. Ini dapat meliputi pula berbagai tugas yang berhubungan dengan pemilihan lokasi sample dan pretisting daftar pertanyaan, kerja lapangan ini tidak akan diperlukan bila kita menggunakan metode wawancara lewat Telepon atau surat. [25]
 Dalam kerja lapangan ini banyak hal yang bisa diambil untuk pengumpulan data yang salah satunya adalah  dengan observasi, dalam bukunya Goran hermeren mengatakan :
the methods of participating, observing and /or audio-or video-recording can be used in many situations. A researcher may want to actually be in the research subject'/informants' environment and observe what happens, hear what said and follow the people's interaction. In some situations covert participant observation is used, but this type of secret or disguised research is rare and should  be the exception, rather than the rule[26]

dalam pendapatnya dia mengatakan bahwasanya metode partisipasi, mengamati/atau suara-gambar- atau rekaman dapat digunakan didalam banyak situasi, seorang peneliti mungkin ingin berada di dalam subyek penelitian/ lingkungan pemberi informasi utuk mengamati apa yag terjadi, mendengar apakah yang dikatakan,  dan mengikuti interaksi orang-orang yang berada di sekitarnya. Di beberapa situasi penelitian ini dirahasiakan atau terselubung dan hal tersebut menjadi pengecualian, karena hal tersebut bukanlah aturan yang mengikat.
Tidaklah cukup memecahkan maslah yang timbul  hanya berdasarkan pengalaman dan teori-teori, maka pendekatan hipotesis dianggap tidak memadai, rasio hipotesis mulai dipertanyakan. Orang kemudian tidak tidak yakin dengan hipotesis yang selama ini dipegang teguh, yang sudah dibuat orang lain. Salah satu alternative pembuktiannya adalah dengan menguji kebenaran hipotesis yang dipertanyakan itu. Hal ini berart peneliti harus merekam data yang ada di lapangan, karena hal tersebut membutuhkan informasi untuk keperluan tersebut.
Data data yang diperoleh dilapangan yang menggunakan metode questioner, partisipasi, observasi, dan eksperimen kemudian dihubungkan-hubungkan satu dengan yang lainnya  untuk menemukan keterkaitan  satu sama lainnya, kegiatan inilah yang kemudian disebut dengan analisis, kegiatan analisis  tersebut kemudian dilengkapi dengan kesimpulan yag mendukung atau menolak kebenaran hipotesis yang dipertanyakan tadi.
 
6.      Editing dan koding
Coding adalah proses pemindahan jawaban yang tertera dalam daftar pertanyaan dalam berbagai kelompok jawaban yang disusun dalam angka dan ditabulasi. Editing biasanya dikerjakan sebelum koding, agar pelaksanaan koding dapat dibuat sesederhana mungkin. Editing juga meneliti  lagi daftar pertanyaan yang telah diisi, apakah yang ditulis itu benar atau sudah sesuai dengan yang dimaksud.[27]

7.      Analisis dan penyajian hasil penelitian
Ini meliputi berbagai tugas yang saling berhubungan, dan terpenting pula dalam suatu proses penelitian. Suatu hasil penelitian  yang dilaporkan atau tidak dilaporkan tetapi dengan cara yang kurang baik maka penelitian itu tidak ada gunanya. Tugas yang dikerjakan pada tahap ini  adalah dengan cara penyajian tabel-tabel dalam bentuk frekuensi distribusi. Tabulasi silang atau dapat pula brupa daftar yang memerlukan metode statistik yang komplek, kemudian interpretasi dari penemuan-penemuan itu atas dasar teori yang telah kita ketahui.[28]
Analisis juga bisa kita katakan sebagai kesimpulan yang diyakini kebenarannya (Concluding believe), yang artinya pengujuan hipotesis penelitian diformulasikan sedemikian rupa sehingga menjadi teori, konsep dan metode pemecahan terhadap masalah atau kebutuhan yang sedang dihadapi oleh seorang peneliti. Konsep analisa inilah yang kemudian menjadi metode untuk mengungkap misteri kebenaran yang yang sedang menggoda rasa ingin tahu peneliti.
Setelah peneliti  melakukan Concluding believe barulah peneliti melakukan general value of the conclusion yaitu memformulasikan kesimpulan yang di dapat menjadi kesimpulan secara umum. Formulasi kesimpulan pengujian hipotesis tidak saja berwujud teori, konsep, metode yang hanya berlaku pada kasus tertentu. Namun hasil penelitian juga harus mampu diterapkan pada kasus lain yang memiliki kesamaan dengan kasus yang telah dibuktikan tersebut untuk mas sekarang maupun masa yang akan datang.
Tahapan-tahapan yang telah dibuktikan itu  harus dilaksanakan secara ketat dan menjadi persyaratan dalam menentukan bobot ilmiah dari kerja tersebut,  apabila salah satu langkah-langkah itu terlupakan atau sengaja diabaikan , maka sebesar itu pula ilmiah telah dilupakan maka sebesar itu pula nilai ilmiah telah dilupakan dalam pekerjaan ini.
Berangkat dari dua pemahaman penelitian, yaitu penelitian yang biasa dilakukan orang awam ( unscientific research) dan peneltian yang hanya dilakukan  oleh pakar ilmu pengetahuan (scientific research). Perlu digaris bawahi bahwasanya metodologi penelitian ini hanya akan membahas mengenai penelitian ilmiah.
Atas dasar tersebut batasan penelitian ilmiah oleh Standyo wignyosubroto " bahwa penelitian  ilmiah merupakan suatu prosedur di dalam  kegiatan ilmiah yang ditetapkan secara ketat dan harus dipatuhi dengan penuh disiplin, dalam rangka kerja ilmuawan untuk mengembangkan atau menemukan pengetahuan baru[29]". 

D.    KEBUTUHAN –KEBUTUHAN DALAM PENELITIAN
Penelitian merupakan pekerjaan ilmiah yang membutuhkan sesuatu  agar penelitian bisa berjalan sesuai dengan rencana, selain uang dan waktu, penelitian juga membutuhkan peneliti. Inilah kebutuhan yang dominan dari sebuah penelitian. Peneliti adalah tokoh utama atau "otak", mesin,  dan instrument  utama penelitian. Oleh karena itu banyak tuntutan dan keharusan yang ditujukan bagi seorang peneliti, yang pada dasarnya tuntutan kepada peneliti sama dengan tuntutan kepada ilmuwan yaitu :
1.      Peneliti harus bersikap Obyektif [30]dan factual yaitu seorang peniliti harus berbicara dan bertindak berdasarkan fakta, Tidak memihak kepada siapapun yang mampu mempengaruhi hasil risetnya. Fakta yang dijadikan landasan harus fakta yang factual yang  sesuai dengan zaman kekinian.
2.      Open, fair, Resposibility, [31]artinya seorang peneliti harus memiliki sikap terbuka terhadap masukan yang berupa saran, Kritikan dan perbaikan dari berbagai kalangan, terutama semua stakeholder yang terlibat dalam penelitian. Peneliti harus bersikap wajar, jujur dalam pekerjaannya serta  mampu mempertanggung jawabkan segala sesuatu yang terjadi di dalam penelitian secara ilmiah di depan public.
3.      Curious : Wanting To Know, [32]yang berarti seorang peneliti wajib memiliki keingintahuan yang lebih dibandingkan dengan orang lain yang tidak melakukan penelitian. Karena dengan rasa keingintahuan itulah peneliti mampu melihat fenomena-fenomena yang terjadi di sekitarnya. Berarti peneliti  adalah orang-orang yang peka terhadap informasi dan data dari setiap fenomenan yang ada di sekitarnya.
4.      Inventive always [33]Yaitu peneliti harus memiliki  daya cipta yang tinggi, kreatif  dan senang terhadap inovasi-inovasi.
Selain hal –hal tersebut diatas,  seorang peneliti harus memiliki  kemampuan-kemampuan sebagaimana berikut:
1.      Think, critically, sistimatically[34], yang artinya peneliti adalah sesorang yang memiliki wawasan yang cukup luas, memiliki kemampuan yang jeli dalam memberikan kritik-kritik dan mampu berpikir sistematis dalam kerangka keilmiahan.
2.      Able to create, Innovative,[35]yang berarti seorang peneliti harus memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu dari sesuatu yang selama ini belum ada, atau membuat penemuan-penemuan baru.
3.      Communicate Affectivity[36] yaitu peneliti harus memiliki kemampuan dalam membangun komunikasi dan memiliki kemampuan yang baik dalam mempengaruhi stakeholder yang  lain dengan komunikasi tersebut.
4.      Able to identifity and formulate problem clearly,[37] yang artinya seorang peneliti harus mempunyai kemampuan mengenali/mengidentifikasi setiap masalah dan menemukan formulasi yang tepat dari setiap masalah dengan jelas
5.      View a problem in winder context,[38]yaitu peneliti harus memiliki kemampuan dalam melihat masalah dalam konteks yang lebih luas, karena dalam keilmiahan masalah tidak akan mungkin berdiri sendiri, tanpa adanya factor yang lain yang mendukungnya. 
Dalam kebutuhan akan penelitian ini ada satu hal yang sangat penting yang mampu mempengaruhi seluruh aktivitas penelitian seperti yang disebutkan diatas, hal tersebut adalah moral/akhlakul karimah,  tanpa moral seorang peneliti akan lebih mudah untuk melanggar kode etik yang menjadi dasar penelitian.




[1] Sudarwan danim, menjadi peneliti kualitatif (Bandung : Pustaka setia, 2002), 24
[2] Ibid, 25
[3]Nana syaodih sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung : PT. Remaja Rosda karya, 2006), 5.
[4] Burhan bungin, Metodologi penelitian social; format-format kuantitatif dan kualitatif (Surabaya: Airlangga university press, 2001), 8
[5]Dharminto,Metode penelitian dan penelitian sampel http://eprints.undip.ac.id/5613/1 / METODE _PENELITIAN _-_dharminto.pdf, (2007), 1
[6] Ibid, 9.
[7]  Ibid 10
[8]  Ibid, 12
[9] Colin nevil, Effective learning service Introduction to research and research methods (United Kingdom: Bradford university: 2007), 1
[10]Morton l arkava & thomas a. Lane, Beginning social work research (US : Ally and bacon inc, 1983), 3.
[11] Jonathan Sarwono, Metode Penelitian kuantitatif & kualitatif (Yogyakarta: Graha ilmu, 2006), 15
[12]Ibid, 16
[13] Nana Syaodih Sukamadinata, Metode Penelitian pendidikan (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2006), 7.
[14] Ibid, 8
[15] Ibid, 8
[16] Ibid, 9
[17] Ibid, 9
[18] Ibid, 9
[19] Ibid, 9.
[20]Dharminto,Metode penelitian dan penelitian sampel, 3.
[21]Burhan bungin, Metodologi penelitian social; format-format kuantitatif dan kualitatif, 21.
[22]Dharminto,Metode penelitian dan penelitian sampel, 3.

[24]Dharminto,Metode penelitian dan penelitian sampel, 3.
[25]Ibid, 3
[26] The Swedish research council's, Good Research practice (Sweden: CM-gruppen AB, 2011),42 
[27]Dharminto,Metode penelitian dan penelitian sampel, 3
[28]Dharminto,Metode penelitian dan penelitian sampel, 3
[29] Burhan bungin, Metodologi penelitian social; format-format kuantitatif dan kualitatif, 22.
[30] Ibid; 23
[31]Ibid; 23
[32]Ibid; 23
[33]Ibid; 23
[34]Ibid; 24
[35]Ibid; 24
[36]Ibid; 24
[37]Ibid; 24
[38]Ibid; 24

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANGGAPAN DASAR DAN HIPOTESIS

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP STUDI QURAN

AL- JARH WA AT-TA’DIL (ADIL DAN CACAT PERAWI HADIST)