FILSAFAT YUNANI DAN KEBANGKITAN DUNIA ISLAM
A. Pengertian Filsafat Yunani dan Sejarah Kemunculannya
![]() |
| FILSAFAT YUNANI DAN KEBANGKITAN DUNIA ISLAM |
Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran atau rasio. Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.
Berikut ini pengertian filsafatmenurut para tokoh :
1. Menurut Plato ( 427-347 SM) filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada.
2. Aristoteles (384-322 SM) yang merupakan murid Plato menyatakan filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda.
3. Marcus Tullius Cicero (106 – 43 SM) mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha untuk mencapainya.
4. Al-Farabi (wafat 950 M) filsuf muslim terbesar sebelum Ibn Sina menyatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakekatnya yang sebenarnya.
5. Pengertian filsafat menurut Harun Nasution filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tak terikat tradisi, dogma atau agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan.
Membicarakan Filsafat Yunani dan Kebangkitan Dunia Islam terutama Filsafat barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke 7 S.M.. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai memikirkan dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada [agama] lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.
Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas.
Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang terbesar tentu saja ialah: Sokrates, Plato dan Aristoteles. Sokrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah “Komentar-komentar karya Plato belaka”. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat. Buku karangan plato yg terkenal adalah berjudul "etika, republik, apologi, phaedo, dan krito".[2]
Pemikiran Filsafat sebenarnya merupakan konsep dasar mengenai kehidupan dan visi kedepan manusia. Dalam suatu himpunan/ komunitas, pemikiran filsafat dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan kebudayaan masing-masing, melintasi ruang dan waktu sampai akhirnya filsafat berkembang keseluruh penjuru dunia dan membentuk cirinya sendiri dari setiap daerah dan suku bangsa yang kemudian berkontribusi besar dalam peradaban di daerah tersebut. Lihat juga Dunia Islam di Bawah Kekuasaan Bangsa Monggol.
B. Histografi Filsafat Yunani kedalam Islam
Masyarakat Islam dilihat dari sisi latar belakang etnis, bahasa, adat dan pola kebudayaan, menampilkan keberagaman sosok yang disatukan dalam satu ikatan visi keagamaan, yaitu Islam. Islam dengan keragamannya merupakan hasil interaksi sosial, politik,dan budaya masyarakat Islam Arab dengan masyarakat-masyarakat lainnya. Islam banyak mengalami inovasi-inovasi dengan corak sosial, politik budaya Arab, Persia, dan Yunani ( Hellenisme), China dan Barat. Semuanya itu merupakan bagian penting dalam pembentukan peradaban Islam, itulah awal sejarah Filsafat Yunani dan Kebangkitan Dunia Islam.
Bagi orang muslim bangsa Arab, filsafat (falsafah) merupakan pengetahuan tentang kebenaran dalam arti yang sebenarnya, sejauh hal itu dapat dipahami oleh pikiran manusia. Secara khusus, nuansa filsafat mereka berakar pada tradisi filsafat Yunani, yang dimodifikasi dengan pemikiran para penduduk di wilayah taklukan, serta pengaruh-pengaruh Timur lainnya, yang disesuaikan dengan nilai-nilai Islam, dan diungkapkan dalam bahasa Arab.[3]
Dari segi Historis, interaksi Islam dengan peradaban dunia sangat diwarnai oleh ekspansi atau penaklukan terhadap daerah kekuasaan lain. Motif-motif penaklukan yang dilakukan kaum muslimin sejak kepemimpinan Nabi Muhammad SAW adalah Jihad untuk melawan orang – orang kafir yang menz}alimi kaum muslimin. Pada awal petumbuhannya, Islam dapat mengambil simpati masyarakat Arab karena semangatnya yang menegakkan keadilan. Islam bukan disebarkan dengan kekerasan atau pedang. Dalam sejarah dibuktikan, dalam ekspansi tesebut kaum muslimin tidak melakukan pemaksaan dalam hal agama.
Setelah Rasu>lulla>h SAW wafat 632 M,berturut-turut umat Islam dipimpin al-Khulafa’ al- Rashidun, Bani Umaiyyah dan Bani Abbasiyah. Dibawah kepemimpinan Abu Bakar, Islam telah melakukan penaklukan –penaklukan dibeberapa daerah kekuasaan Byzantium dan Persia. Di akhir pemerintahan ‘Umar bin Khat{t}a>b Pada tahun 644 M (Hodgson, 2002:24), kekuasaan Islam meliputi Asia Barat, seluruh Irak, Suriah sampai Mesir Selatan dan sebagian pantai Afrika Utara ke arah Cyrenaica. Dan pada waktu kekhilafahan ‘Uthma>n bin ‘Affa>n arah peta Islam meluas ke Cyprus. Dalam perjalanan berikutnya, kekuasaan khalifah ‘Uthma>n sudah mencapai sepanjang pantai Afrika Utara sampai Tripoli. Ke arah utara dari Irak mereka menaklukkan sebagian besar Armenia dan menerobos daerah Kaukus, menempatkan Garnizun di Tiflis. Di Timur mereka telah mencapai sungai Trans-Oxiana, mereka mnguasai Heart, Afganistan, melewati Mekran, Persia Tenggara dan perbatasan Asia Selatan.
Sampai akhir pemerintahan Khulafa’ al-Ra>shidi>n Islam hampir separuh dari wilayah kekaisaran Romawi dan Persia telah ditaklukkan. Pada masa pemerintahan bani Umayyah banyak dilakukan ekspansi ke berbagai wilayah. Utamanya ekspansi ke arah utara yaitu ke Syiria dan Mesir, yang nota bene merupakan kota-kota peninggalan peradaban Yunani.[4] Pada masa Kekhalifahan Abba>siyah,ekspansi-ekspansi Islam dilakukan ke berbagai daerah yaitu dua imperium besar Byzantium dan Sasania, menyebabkan terjadinya interaksi dan dinamisasi bahasa, tradisi budaya, yang cepat atau lambat tak terelakkan. Dialektika dan dinamisasi tersebut berimbas kepada praktis keberagaman, pemerintahan dan pengembangan keilmuan.
Bersamaan dengan itu, juga dilakukan penerjemahan terhadap ilmu pengetahuan ilmiah dan tehnik, diantara gagasan kedokteran, matematika, astronomi, dan filsafat Hellenistik. Disamping itu juga dilakukan penerjemahan terhadap pengetahuan praksis tentang tehnik pemerintahan, manajemen pertanian dan irigasi kedalam bahasa Arab. Karena didalam pemerintahan Abba>siyah banyak menempatkan kaum mawalikhusus orang-orang Persia pada jabatan-jabatan strategis, bahkan banyak tradisi-tradisi dalam pemerintahan dan keilmuan yang ditransfer dari tradisi sistem pemerintahan Persia.[5]
Pada masa kekhilafahan ‘Abbasiyah, cakupan keilmuan saat itu berkembang dengan pesat tidak hanya terbatas tidak hanya terbatas pada masalah teologi dan keagamaan,tapi juga berkisar pada filsafat, matematika, kedokteran dan lain sebagainya. Lengkapnya, ciri keilmuan yang muncul saat itu antara lain, teologi dan keagamaan, sastra, sejarah, geografi, sufisme, kedokteran, matematika, astronomi, filsafat dan lainnya.
Hal tersebut dapat dibuktikan dengan munculnya beberapa tokoh kenamaan. Misalnya di bidang teologi, al-Ash’ari (935) dan al-Maturidi (w.944). Di bidang sastra al-Jahiz (w.780) dan Ibnu Qutaibah (w.828). Dibidang sejarah dan geografi al-Baladhuri (w.820) dan al-Ya’qub (w.897). Di bidang sufisme, al- Muhasibi (w.857) dan Yazid al-Bustami (w.875) dan al-Hallaj (w.922). Di bidang kedokteran al-Ra>zi> (w.923) dan Ibnu Sina ( w.1037). Di bidang matematika dan astronomi, al-Khaw>rizmi> (w.846) dan Ibnu Haitha>m ( w.1039) dan di bidang Filsafat al-Kindi> ( w.881), al-Farabi> ( w.870) dan Ibnu Sina (w.980).
Filsafat Yunani dan Kebangkitan Dunia Islam
C. Interaksi Islam – Yunani
Sebenarnya interaksi Islam dengan peradaban Yunani, sebagaimana dijelaskan diatas, telah terjadi sejak masa al-Khulafa>’ al-Ra>shidu>n. Namun interaksi tersebut semakin kuat dan tampak jelas wujudnya pada masa pemerintahan ‘Abba>siyah dan memberikan pengaruh yang tidak sedikit pada masa-masa setelahnya.
Penaklukkan Iskandariyah, termasuk Syiria dan Persia yang merupakan sentra Hellenisme, membawa Islam untuk bersentuhan dengan peradaban Yunani dan peradaban Timur Tengah lainnya seperti mistis Mesir, Phoenisia, Persia, Yahudi dan Kristen. Persentuhan Islam dengan tradisi Hellenistik ini pada akhirnya mempengaruhi cara dan gaya berfikir kaum muslimin. Faktor yang sangat berpengaruh terhadap penyerapan tradisi hellenistik adalah booming terjemahan. Penerjemahan karya-karya berbahasa Suryani dan Yunani ke dalam bahasa Arab terjadi pada abad ke 8 Masehi. Terjemahan karya filsafat pertama dilakukan oleh sastrawan terkemuka saat itu, Abdulla>h Ibnu al-Muqaffa dan putranya Muhammad, yang mencakup Categories, Hermeneutica, dan Analytica Apriora karya Aristoteles pada masa Khalifah al- Mans{u>r ( 754-773 M). Lalu ada Yahya bin al-Bitriq yang menerjemaahkan karya Plato yang berjudul Temaeus. Juga karya Aristoteles seperti; De Anima, Book of Animals, dan Secret of the secret. Lihat Juga Pengaruh Al-Ghazali dalam Perkembangan Islam.
Khalifah al-Makmu>n, mendirikan Bait al-Hikmah sebagai pusat perpustakaan dan terjemahan, sehingga lembaga ini tercata sebagai institute terbesar sepanjang sejarah penerjemahan karya-karya filsafat dan kedokteran Yunani. Dari beberapa buku yang diterjemahkan pada masa awal kedalam bahasa Arab, jelas terlihat didominasi oleh karya Aristoteles khususnya masalah logika. Hal ini disebabkan logika Aristoteles ( al-Mant}iq al-Arist}o) dirasa cocok dan memang diperlukan kaum muslimin pada saat itu sebagai alat argumentasi.[6]
Pasca penerjemahan ilmu-ilmu Yunani ke Arab, maka filsafat Yunani tidak asing lagi dikalangan akademisi muslim. Filsafat Yunani dan Kebangkitan Dunia Islam diambil oleh para teolog muslim mengambil sebagian tradisi filsafat Yunani, yaitu filsafat ketuhanan dan logika Aristoteles sebagai dasar argumen teologi dan alat berdebat. Kemudian para filosof muslim murni seperti al-Kindi,al-Ra>zi>, al-Fa>rabi>, Ibnu Si>na>, Ibnu Ba>jah, Ibnu T}ufail dan Ibnu Rushd, mengambil hampir semua tradisi Yunani yang dimodifikasi dengan ajaran islam.
D. Perkembangan Filsafat dalam Islam dan Implikasinya
Suatu kebenaran yang tidak dapat ditolak adalah pengaruh peradaban Yunani dalam perkembangan peradaban Islam. Dengan tidak mengenyampingkan pengaruh peradaban lain (Persia dan India) pengaruh filsafat Yunani dalam peradaban Islam sangatlah besar. Orang Arab percaya bahwa karya-karya Aristoteles merupakan kodifikasi filsafat Yunani yang lengkap, seperti halnya karya Galen yang merepresentasikan ilmu kedokteran Yunani. Dengan demikian, filsafat dan kedokteran Yunani yang berkembang saat itu senyatanya merupakan ilmu yang dimiliki Barat. Sebagai muslim, orang Arab percaya bahwa Al-Qur’an dan teologi Islam merupakan rangkuman dari hukum dan pengalaman agama. Karena itu, kontribusi orisinal mereka terletak di antara filsafat dan agama di satu sisi, dan di antara filsafat dan kedokteran di sisi lainnya. Dengan berlalunya waktu, para penulis Arab akhirnya menerapkan kata falasifah atau hukama’ (filosof atau sufi) terhadap para filosof yang pemikiran spekulatifnya tidak dibatasi agama, dan menerapkan istilah mutakallimun atau ahl al-kalam (ahli bicara, ahli dialektika) pada orang yang memosisikan sistem pemikirannya dibawah ajaran Islam samawi.[7]
Untuk menjawab para penulis skolastik Eropa Kristen, kelompokmutakallimun nerumuskan teori mereka dalam bentuk proposisi sehingga mereka disebut sebagai ahli membuat proposisi.Kalam perlahan-lahan berubah maknanya menjadi teologi,dan mutakallimin akhirnya sinonim dengan teolog. al-Ghazzali pada prinsipnya adalah seorang teolog, dan kita akan tiba pada pembahasan itu. Nama-nama besar dalam bidang filsafat Arab adalah al-Kindi, al-Farabi, dan Ibn Sina.
Filosof pertama, al-Kindi, atau Abu Yusuf Ya’qub ibn Iskhaq, mungkin lahir di Kufah sekitar 801, lalu tinggal dan meninggal di Baghdad pada 873. Karena merupakan keturunan asli Arab, maka ia memperoleh gelar “filosof bangsa Arab”, dan ia memang merupakan representasi pertama dan terakhir dari seorang murid Aristoteles di dunia Timur yang murni keturunan Arab. Sistem pemikirannya beraliran ekletisisme, namun al Kindi menggunakan pola Neo-Platonis untuk menggabungkan pemikiran Plato dan Aristoteles, serta menjadikan matematika neo-Pythagorean sebagai landasan semua ilmu. Al-Kindi lebih dari sekedar Filosof. Ia ahli perbintangan, kimia, ahli mata, dan musik. Tidak kurang dari 361 buah karya telah dinisbatkan kepadanya, namun sayangnya kebanyakan dari karya-karya itu tidak bisa ditemukan. Karya utamanya tentang ilmu optik geometris dan fisiologis, yang didasarkan atas buku Optick karya Euclid, digunakan secara luas di Barat dan Timur, sehingga akhirnya di gantikan oleh buku karya Ibn al-Haytsam. [8]
Proyek harmonisasi antara filsafat Yunani dengan Islam, yang dimulai oleh al-Kindi, seorang keturunan Arab, dilanjutkan oleh al-Farabi, seorang keturunan Turki, dan disempurnakan di dunia Timur oleh Ibn Sina, seorang keturunan Suriah. Nama lengkapnya Muhammad ibn Muhammad ibn Tharkhan Abu Nashr al-Farabi (Alpharabius); dilahirkan di Transoxiana, dididik oleh seorang dokter Kristen dan penerjemah kristen dari Baghdad, dan hidup sebagai seorang Sufi di Aleppo dalam istana Sayf al-Dawlah al-Hamdani. Ia meninggal di Damaskus tahun 950 pada usia sekitar 80 tahun. Sistem filsafatnya, seperti yang terungkap dari beberapa risalahnya tentang Plato dan Aristoteles, merupakan campuran antara Platonisme, Aristotelianisme, dan mistisisme, yang membuatnya dijuluki sebagai “guru kedua” (al-mu’allim al-tsani), setelah Aristoteles. Lihat Juga Islam dan Peradaban Sebuah Telaah Analisis.
Di samping sejumlah komentar terhadap Aristoteles dan filosof Yunani lainnya, al-Farabi juga menulis berbagai karya tentang psikologi, politik, dan metafisika. Salah satu karyanya yang terbaik adalah Risalah Fushush al-Hikam (Risalah Mutiara Hikmah) dan Risalah fi Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadhilah (Risalah tentang Pendapat Penduduk Kota Ideal). Dalam buku yang disebutkan terakhir, dan dalam karyanya yang lain, al-Siyasah al-Madaniyah (Politik Madani), al-Farabi, yang terilhami oleh Republickarya Plato, dan Politics karya Aristoteles, mengungkapkan konsepnya tentang sebuah kota ideal, yang ia pandang sebagai organism hirarkis, serupa dengan struktur tubuh manusia. Dalam konsepnya tentang kota ideal, tujuan dari sebuah organisasi adalah untuk kebahagiaan warganya, dan pemegang kedaulatan adalah pihak yang paling sempurna dari sisi moral dan intelektual.
Tulisan-tulisan al-Farabi yang lainnya menunjukkan bahwa ia adalah seorang dokter dan ahli matematika yang arif, seorang pakar penyakit dalam, dan seorang musisi yang handal. Ia memang dipandang sebagai teoritis terbesar yang memahami berbagai teori music Arab. Di samping pembahasannya tentang music dalam kompendiumnya tentang ilmu pengetahuan, ia juga menulis tiga karya besar yang membahas bidang tersebut, yang paling penting di antaranya adalah Kitab al-Musiqi al-Kabir (kitab induk tentang Musik). Diriwayatkan bahwa di hadapan sahabatnya, Sayf al Dawlah, ia mampu memainkan gambus dengan permainan yang memukau, sehingga para pendengarnya akan tertawa, menitikan air mata atau tertidur. Bahkan alunan musiknya itu terdengar dan memengaruhi emosi para penjaga gerbang istana. Nyanyian-nyanyian klasik yang di nisbatkan kepadanya masih dilantunkan oleh para darwis Mawlawi.[9]
Setelah al-Farabi, Ibn Sina, yang pernah dijuluki sebagai ahli kedokteran, banyak mengadopsi pandangan filosofis al-Farabi. Menurut Ibn Khallikan, “tidak ada satupun orang islam yang pernah mencapai pengetahuan filosofis yang menyamai prestasi al-Farabi; dan melalui kajian terhadap berbagai karyanya, serta peniruan terhadap gaya penulisannya itulah Ibn Sina mencapai keunggulan, dan menjadikan karya-karyanya sedemikian bermanfaat”. Meski demikian, Ibn Sina merupakan pemikir yang sanggup menyatukan berbagai kebijaksanaan Yunani dengan pemikirannya sendiri, yang dipersembahkan untuk kalangan muslim terpelajar dalam bentuk yang mudah dicerna. Melalui karya-karyanya, sistem pemikiran Yunani, terutama pemikiran Philo, dapat diselaraskan dengan ajaran Islam.
E. Pengaruh Filsafat Yunani terhadap perkembangan Filsafat Islam
Pengaruh terbesar peradaban yunani yang diterima umat Islam adalah dalam bidang ilmu pengetahuan dan filsafat. Karena kontak umat Islam dengan peradaban Yunani bersamaan waktunya dengan penulisan ilmu-ilmu Islam. Logika Yunani mempunyai pengaruh besar pada alam pemikiran saat itu.
Perlu ditegaskan bahwa pengaruh bukan berarti plagiat. Betapa banyak para filosof baik Islam maupun non Islam terpengaruh oleh pemikiran filosof sebelumnya, namun mereka tidak menyandang predikat plagiator atau penjiplak. Filosof Amsterdam, Belanda, Burch De Spinoza (1632-1677) dikenal sebagai pengikut Bapak Filsafat modern asal Prancis, Rene Descartes ( 1596- 1650). Demikian pula filosof Muslim Ibnu Si>na> walaupun terpengaruh berat oleh Aristoteles, tetapi ia juga memiliki pemikiran filsafat sendiri, yang tidak dimiliki oleh mu’allim al-Awwal, Aristoteles sendiri. Secara karakteristik, filsafat Islam menurut Sirajuddin Zar dirangkum menjadi tiga;
1. Filsafat Islam membahas masalah yang sudah pernah dibahas filsafat Yunani dan lainnya, seperti ketuhanan, alam dan ruh. Akan tetapi, selain penyelesaian dalam filsafat Islam berbeda dengan filsafat lain, para filosof Muslim juga menambahkan dan mengembangkan ke dalamnya hasil-hasil pemikiran mereka sendiri.
2. Filsafat Islam membahas masalah yang belum pernah dibahas sebelumnya seperti Filsafat Kenabian ( al-Naz}ariya>t al-Nubu>wa>t).
3. Dalam filsafat Islam terdapat pemanduan antara agama dan filsafat, antara aqidah dan hikmah, antara wahtu dan akal. Bentuk seperti ini banyak terlihat dalam pemikiran filosof Muslim seperti; al- Madi>nat al-Fad{i>lat (Negara Utama) dalam filsafat al-Farabi>: bahwa yang menjadi kepala Negara adalah nabi atau filosof . Begitu juga pendapat al-Farabi> pada filsafat kenabian: bahwa Nabi dan Filosof adalah sama-sama menerima kebenaran dari sumber yang sama, yakni Akal Aktif ( Akal X). Akan tetapi, berbeda hanya dari segi tehnik, Filosof melalui Akal Perolehan (Mustafa>d) dengan latihan-latihan, sedangkan Nabi dengan akal Had yang memiliki daya yang kuat (al-Qudsi>ya>t) jauh kekuatannya melebihi akal Mustafa>dfilosof. Akal h{ad Nabi berasal dari Allah, hal itu diperoleh bukan berdasarkan latihan-latihan berpikir. Oleh karena itu, pengetahuan diperoleh para nabi (wahyu) tidak mungkin bertentangan dengan pengetahuan yang diperoleh para filosof.
Jelas bahwa filsafat Islam benar-benar ada dan bukan plagiat dari filsafat Yunani. Kalau dilacak dari akar sejarahnya, pandangan Islam tentang Filsafat tumbuh besamaan munculnya Islam itu sendiri. Ketika rasulullah SAW menerima wahyu yang pertama, yang mula-mula diperintahkan kepadanya adalah "membaca". Dari kata Iqra’ inilah lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti,mengetahui ciri sesuatu dan membaca teks baik yang tersurat maupun tersirat.
Jadi yang disebut filsafat Islam adalah perkembangan pemikiran umat islam dalam masalah ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam semesta yang disinari ajaran Islam. Adapun difinisinya secara khusus seperti apa yang dikemukakan penulis islam sebagai berikut :
1. Ibrahim Madkur, Filsafat Islam adalah pemikiran yang lahir dalam dunia Islam untuk menjawab tantangan zaman, yang meliputi Allah dan alam semesta, wahyu dan akal, agama dan filsafat.
2. Ahmad Fu’ad al-Ahwani. Filsafat Islam adalah pembahasan tentang alam dan manusia yang disinari ajaran Islam.
3. M.‘Atif al-‘Iraqi. Filsafat Islam secara umum didalamnya tercakup ilmu kalam, ilmu usul fiqih, ilmu tasawuf, dan ilmu pengetahuan lainnya yang diciptakan oleh intelektual Islam. Pengertiannya secara khusus, ialah pokok-pokok atau dasar-dasar pemikiran filosofis yang dikemukakan para filosof Muslim.

Komentar
Posting Komentar