DAULAH UMAYYAH ( Pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan, Yazid bin Muawiyah, dan Muawiyah II )
![]() |
| Silsilah Daulah Umayyah |
Kembali kepada manfaat sejarah Islam bagi ummat Islam , bagi ummat muslim mempelajari sejarah Islam dapat memunculkan kebanggaan terhadap Islam sendiri karena Islam pernah menemui kemajuan di segala bidang berates-ratus tahun lamanya, juga sebagai peringatan agar lebih berhati-hati, yang memang harus di akui pula masa kumunduran Islam juga sebagai pelengkap cerita untuk lebih menyadarkan ummat Islam tak henti berbenah diri serta tampil berjuang.
Dari kaadaan itulah dirasa perlunya kajian kritis kaum intelektual demi “melek” nya sejarah yang benar-benar dapat ditularkan manfaat dan maslahatnya, sebab tak jarang sejarah mengalami pemutar balikan dari hal yang sesungguhnya.
Termasuk dari sejarah bani Umayyah ( Muawiyah bin Abi Sufyan[2]) dan lain-lain, banyak perbedaan pendapat perjalanan sejarahnya, hal ini bisa terjadi di karenakan kaadaan psikologi penulis atau kurangnya nalar kritis dari peneliti.
A. Sejarah Bani Ummayyah
Bani Ummayyah artinya keturunan Ummayyah . Dalam pemerintahannya bani Ummayyah menggunakan kata Daulah Ummayyah , secara bahasa Daulah mempunyai arti kerajaan atau dinasti, berbeda dengan pemerintahan sebelumnya, pada zaman khulafa’urrasyidhi>n yang menggunakan kata KhAli fah, hal ini menandakan bahwa adanya perbedaan dalam system pemerintahannya. salah satu indikasinya tampak dalam cara memilih pucuk kepemimpinan yaitu monarchi (dengan menunjuk anaknya sebagai putera mahkota), sedangkan pada masa sebelumnya (khulafa rasyidin) pemilihan pemimpin dilakukan dengan pemilihan secara umum dengan melibatkan Ahlul Halli Wa Al ‘Aqdi.
Ummayyah adalah seorang pemuka Qurays pada zaman Jahiliyah, Nama lengkap Ummayyah adalah Ummayyah bin Abd Syams bin Abd Manaf, Abd Syams adalah saudara dari Hasyim. Ummayyah segenerasi dengan Abdul MuthAli b bin Hasyim, kakek Nabi Muhammad SAW dan Ali bin Abi ThAli b[3].
Dalam riwayat perjalanan hidup nya Ummayyah dan Hasyim selalu mengalami pertentangan, akan tetapi pihak Ummayyah lebih unggul dibanding Hasyim, keunggulannya dikarenakan Ummayyah sendiri seorang saudagar mempunyai banyak harta dan banyak keturunan yang memudahkan mengambil pengaruh dalam suku-suku Arab, sampailah pada dilahirkanya Nabi Muhammad SAW. yang menjadi Rasul membawa wahyu untuk mengajak ummatnya masuk Islam , namun selalu mendapat perlawanan keras dari Bani Ummayyah , yang pada saat itu Abu Sufyan bin Harb bin Ummayyah memegang posisi pimpinan, sedangkan dari pihak bani Hasyim selalu membela Nabi Muhammad SAW. dalam setiap langkah dakwahnya.
Perselisihan ini terus terjadi hingga terjadi Fathu Makkah pada 8 Hijriyah. Di mana Nabi Muhammad SAW memberikan “keististimewaan” kepada Abu Sufyan dengan terjaminnya keamanan diri bagi penduduk yang berlindung di rumah Abu Sufyan tersebut. Maka redamlah perselisihan yang ada pada saat itu. (Baca juga: Nabi Periode Madinah dan Pengembangan Peradaban)
Di zaman kekhAli fahan Abu Bakar As-Shiddiq, Yazid bin Abu Sufyan ikut serta dalam memberantas kaum murtadin dan ia ditunjuk menjadi salah seorang pemimpin untuk invansi ke Syam. Kepemimpinan Yazid di Syam terus berlanjut hingga zaman khAli fah Umar bin Khattab. Setelah Yazid meninggal, Umar menunjuk saudara Yazid yaitu Muawiyah bin Abu Sufyan sebagai gantinya. Dari sinilah Muawiyah memulai karir kepemimpinannya.
B. Sejarah Pemerintahan Muawiyah bin Shakhr (Muawiyah bin Abi Sufyan)
Muawiyah adalah keturunan yang ke tiga dari Ummayyah dengan silsilah Muawiyah bin Sakhr (dikenal dengan sebutan Abu sufyan) Bin Harb Bin Ummayyah [4] bin Abu Sufyan, lahir di Makkah 15 tahun sebelum hijrah. Ia masuk Islam ketika terjadi fathu makkah. Saat itu ia baru berusia 23 tahun. Ia juga menjadi salah seorang periwayat hadis yang baik, pribadinya cerdas, selalu optimis dan mahir dalam mengatur strategi pemerintahan.
Menjabatnya Muawiyah sebagai kepala Pemerintahan bukan atas keputusan totAli tas kaum Muslimin, ketika Kholifah Usman bin affa>n R.A.
Kejadian tetrbunuhnya Kholifah Usman bin Affan menjadi lahan membarahnya kaum munafiq dalam melancarkan fitnah-fitnah Intern kaum muslimin, desas-desus ketidak sepakatan dengan keputusa Sayyidina Ali .R.A yang telah mencopot beberapa pentolan-pentolan diwilayah Islam dari keputusan Kholifah Usman yang memang mayoritas mempunyai hubungan darah dengan pimpinanyan yakni Kholifah Usman, ditambah lagi dari golongan Muawiyah dengan egoisnya yang menginginkan keadilan atas pembunuhan Kholifah Usman belum juga terlaksana, di karenakan kholifah Ali sibuk dalam sterilisasi perAli han kepemimpinan, memang sewajarnya seorang pemimpin memikirkan warga secara totAli tas tanpa pandang bulu, dari hemat pengamatan penulis kondisi ini sangat potensi kaum munafiqin untuk mengobrak-abrik ketaatan antara bawahan terhadap pucuk pimpinan, factor fanatic ke sukuan yang kental menjadi angin pendorong layar keegoisan menuju pertempuran, sehingga benar-benar terjadi kaum yang terorganisir untuk menentang pemerintahan Kholifah Ali yang sah.
tanggapan kubu sayyidina Ali selalu siap meluruskan siapa saja yang menyimpang dari ajaran Islam termasuk pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah, yang akhirnya terjadilah peperangan yang di komandoi oleh sayyyidatina Aisyah popular dengan sebutan perang jamal pada tahun 36 H/657 M, perang jamal ini terjadi atas profokator Abdullah bin Zubair dan Tholhah yang menginginkan kedudukan Kholifah[5]menghasud Aisyah untuk memimpin perang melawan Kholifah Ali , namun Kholifah Ali sangat mengetahui dalang pertempuran itu sehingga saat Zubair dan Tholhah terbunuh Kholifah Ali sangat menyanjung Aisyah sebagai Ummul Mu’minin dan mengembAli kan Aisyah ke makkah dengan penuh penghormatan[6].
Para pemfitnah belum berhenti di sini, sahabat Muawiyah bin abi sufyan yang menjadi gunernur Syam[7]belum membaiat Kholifah Ali , selalu di desak untuk mengadili pembunuh Kholifah usman dengan beberapa kampanye tidak boleh taat pada pemimpin yang tidak menjalankan syari’at Islam , melihat banyak nya kaum muslimin yang terpengaruh oleh fitnah-fitnah ini akhirnya Kholifah Ali mengirimkan surat kepada Muawiyah yakni bersedia Membai’at Kholifah Ali atau meletakkan jabatannya, tetapi Muawiyah tidak menentukan pilihannya sebelum tuntutan dari keluarga Muawiyah terpenuhi, kokohnya tuntutan Muawiyah kepada Ali untuk mengadili pembunuh Usman, di sebabkan kubu Muawiyah mencium bau bahwa pelaku pembunuhan Usman adalah dari pihak Ali , bahkan pemimpinya Muhammad bin Abu Bakar[8]dijadikan Gubernur Mesir .
Dari genjarnya kampanye yang di lakukan kubu Muawiyah untuk menentang Kholifah Ali , semakin banyaklah para simpatisan Muawiyah , sehingga terkumpul pasukan yang siap meyerang rezim Kholifah Ali , Kholifah Ali pun telah mempersiapkan pasukan dari Irak, Iran, dan Khurasan serta bantuan basukan dari Azerbejan dan Mesir atas komando Muhammad bin Abu Bakar, sebelum terjadi peperangan, Kholifah Ali terus menawarkan kepada Muawiyah agar bisa membai’at Ali atau terpaksa meletakkan Jabatan nya agar kaum muslimin tidak terprofokasi pemberontakan, namun kubu Muawiyah menuntut sebAli knya, yakni pihak Khilifah Ali yang di anggap lemah dalam menegakkan hukum Islam harus meletakkan pucuk pimpinan nya dan membai’at Muawiyah sebagai Kholifah. Akhirnya pada bulan Shafar tahun 37 H/ 658 M, peperangan sengit antara Kholifah Ali dengan pasukan Muawiyah tak dapat di bendung, berlangsung di Shiffin wilayah Syam dekat tepian sungai Efrat, peperangan ini terkenal dengan perang Shiffin.
Dalam perang Shiffin ini kholifah Ali dapat memukul mundur pasukan Muawiyah , saat pasukan Muawiyah bersiap-siap melarikan diri, tampillah Amr bin Ash dengan siasatnya mengangkat al-Qur’an di ujung tombak sebagai tanda penghormatan kepada wahyu dan peperangan harus di hentikan, semua di kembAli kan dengan hati dan fikiran yang tenang kepada wahyu[9], namun kholifah Ali mengetahui yang dilakukan Amr bin Ash ini hanyalah siasat untuk melindungi diri, Kholifah Ali tegas menyerukan terus untuk memerangi kaum pemberontak sampai titik akhir, namun di lain sisi para prajurit Kholifah Ali harus diam melihat al-Qur’an di ujung tombak, hatinya hanya ingat yang melakukan peperangan adalah sesama kaum muslimin. (Baca juga: Arab Pra Islam Ditinjau dari Beberapa Aspek)
Maka terjadilah Tahkim, perundingan mancari jalan keluar tanpa harus meneteskan darah dalam perundingan ini Muawiyah diwakili Amr bin Ash dan dari Kholifah Ali di wakili oleh Abu Musa al-Ash’ary, kedua memperoleh keputusan bahwa kedua penguasa harus sama-sama meletakkan jabatanya[10], Muawiyah sebagai Gubernur dan Ali Sebagai Kholifah setelahnya akan di pilih kembAli oleh masyarakat luas[11], dari sini telah tercium keputusan yang merugikan Kholifah Ali sebagai pemerintahan yang sah dan hampir memenangkan peperangan.
Setelah shubuh Amr bin Ash dan Abu Musa al-Asy’ary mengumumkan peletakan jabatan kedua pemimpin itu, Abu Musa al-Asy’ary yang lebih tua di persilahkan terlebih dahulu ke atas podium mengumumkan pada seluruh masyarakat bahwa atas nama pemerintahan Kholifah Ali , sayyidina Ali meletakkan Jabatanya sebagai kholifah[12], setelah Abu Musa al-Asy’ary menyatakan peletakan jabatan Ali , naiklah Amr bin Ash bahwa ia menyerukan atas nama kubu Muawiyah menyetujui keputusan Sayyidina Ali dan saat itu juga di umumkan nya, maka yang berhak menjadi kholifah adalah Muawiyah [13].
Setelah kejadian Tahkim ini ternyata membuat kecewa para militan Kholifah Ali , sehingga terjadilah perpecahan, Khowarij yang mula-mula pAli ng kecewa dengan keputusan Ali tentang di ambilnya tahkim, memakai kata Khawarij artinya golongan yang keluar dari barisan Kholifah Ali [14], selain itu Murji’ah golongan yang lepas tangan dengan masalah yang dilakukan oleh dua Sahabat besar ini, golongan ini menunda keputusan dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan yang maha mengetahui dan maha bijaksana di akhirat kelak[15], Khawarij sebagai barisan sakit hati terus mengincar tokoh-tokoh yang menjadi penyebab ia sakit hati, dengan akan membunuh empat orang yang di anggap mempermainkan Ummat Islam , yakni Muawiyah , Ali bin Abi Tholib, Amr bin Ash, dan Abu Musa Al-Asy’ary, namun kehendak Tuhan mereka hanya bisa membunuh Kholifah Ali saja, di tangan Abdurrahman ibn Muljam Kholifah yang Luas Ilmunya Ba>bul ‘Ilm, sahabat tanggguh, pemberani dengan julukan Singa Padang Pasir, pada tanggal 19 Ramadlan tahun 40 Hijriyah bertepatan tahun 661 Masehi menghembuskan nafas terakhir.
Dengan terbunuhnya KhAli fah Ali bin Abi Tholib Karramalla>hu Wajhah. Maka masyarakat membai’at putranya Hasan Bin Ali menjadi Kholifah, di karenakan banyak nya perpecahan dari kaum militan Ali , sehingga pendukung putranya pun menipis juga, di lain sisi Muawiyah semakin mapan dengan kemakmuran prajuritnya, penindasan sangat potensi di lakukan kubu Muawiyah , maka Hasan bin Ali mengajak Muawiyah untuk memadamkan gejolak-gejolak yang makin membara tersebut dengan menawarkan jabatan kekholifahan Ali di pundak Muawiyah , saat itu Hasan masih menjabat sebagai Kholifah selama 6 Bulan[16], sebelum jabatan Kholifah di serahkan pada Muawiyah Kholifah Hasan mempunyai perjanjian kepada Muawiyah , jika di sepakati maka jabatan Kholifah akan di serahkan pada Muawiyah , beberapa perjanjian itu di antaranya;
1. Jaminan hidup bagi loyalis Hasan bin Ali
2. Jika Muawiyah meninggal jabatan Kholifah di serahkan kembAli ke tangan Hasan bin Ali .
Berlandasan niat Mulya Hasan maka Muawiyah menerima dengan senang tawaran Hasan bin Ali , hanya sedikit berat pada poin yang kedua yakni Jika Muawiyah meninggal jabatan Kholifah di serahkan kembAli ke tangan Hasan bin Ali [18], kekhawatirannya di karenakan takut akan terjadi pertumapahan darah lagi Antara sesama Ummat Islam yang seharusnya tak perlu terjadi.
Proses pengAli han kepemimpinan Kholifah Hasan bin Ali secara damai ini di kenal dengan Amul Jama’ah[19]tahun persatuan ummat Muslimin. Ini lah bukti kebenaran ucapan Rasulullah bahwa suatu saat cucunya akan mendamaikan dua golongan yang berselisih.
Militansi Bani Ummayyah semakin semangat melihat Muawiyah menjadi Kholifah secara total, pada hakekatnya, dari semula telah menginginkan jabatan khAli fah itu, tetapi mereka belum mempunyai harapan untuk mencapai cita-cita pada masa Abu Bakar dan Umar. dan setelah Umar ditikam, dan ia menyerahkan permusyawaratan untuk memilih khAli fah yang baru kepada eman orang sahabat, diantaranya Utsman, diwaktu itulah baru muncul harapan besar bagi Bani Ummayyah dan mereka lalu menyokong pencalonan Ustman secara terang-terangan, dan akhirnya Ustman terpilih. Semenjak itu mulailah Dinasti Ummayyah meletakkan dasar-dasar untuk menegakkan “Khilafah Umawiyah”, sehingga dikatakan bahwa khAli fah Ummayyah itu pada hakekatnya telah berdiri sejak pengangkatan Utsman menjadi khAli fah dan pada masa pemerintahan Utsman inilah Muawiyah mencurahkan segala tenaganya untuk memperkuat dirinya dan menyiapkan daerah Syam untuk dapat menjadi pusat kekuasaan Islam dimasa datang[20].
Perpindahan kekuasaan kepada Muawiyah Ibn Abi Sufyan telah mengakhiri bentuk pemerintahan yang demokratis menjadi pemerintahan monarki absolute, yakni system kerajaan yang diwariskan secara turun temurun tidak lagi dilakukan dengan pemilihan melalui cara demokratis. Muawiyah mencontoh system pemerintahan kerajaan Byzantium dan system pemerintahan kekaisaran Persia[21].
Keputusan ini sangat tepat untuk di terapkan saat itu, sebab sejarah berkata dengan adanya demokrasi yang di lakukan masyarakat arab yang berwatak keras malah semakin memancing keributan yang berujung perang saudara, Muawiyah mengambil keputusan monarchi dengan berbagai musyawarah, di antaranya dengan Mughira, guber-nur Basrah dengan kesimpulan mengangkat putranya Yazid sebagai pengganti dirinya kelak, Mengenai hal ini seorang sejarawan muslim terkemuka yang bernama Ibnu Khaldun dalam kitabnya Mukaddimah menulis :
“Seorang imam tidak sewajarnya dicurigai meskipun dia telah melantik ayah atau puteranya sendiri sebagai penggantinya. Dia telah dipertanggungjawabkan untuk mengurus kebajikan kaum muslimin selagi dia masih hidup. Lebih daripada itu dia ber-tanggungjawab untuk membasmi, semasa hidupnya (kemungkinan mewabahnya perkara-perkara yang tidak diingini) setelah”. (Baca juga: Islam di Spanyol dinamika politik dan Intelektual)
Namun hal ini menimbulkan kebencian kaum Syiah. Diantara orang-orang syi’ah yang pertama kAli melancarkan permusuhan terbuka terhadap bani Ummayyah adalah Hajar bin Adi. Ia mengkritik pedas Mughirah bin Syu’bah, sang gubernur Kufah. Berhu-bung Mughirah bertipikal lemah lembut dan pemaaf, maka ia mengingatkannya akan akibat tindakannuya. Ketika Mughirah bin Syu’bah wafat Muawiyah mengangkat Ziyyad sebagai gubernur Kufah. Maka Ziyyad mengirim surat kepada Muawiyah mengenai Hajar bin Adi. Dengan kekhawatiran kaum muslimin termakan fitnah lagi Oleh Muawiyah Hajar bin Adi diundang ke Syam dan membunuhnya bersama pengikut setianya.
Dalam mengatur dan menguatkan kedaulatan pemerintahan, Muawiyah melakukan beberapa hal di antaranya:
1. Meminta Pengakuan dari para pengikut Hasan bin Ali
Setelah resminya Muawiyah menjadi pucuk pimpinan, agar mulusnya program pemerintahan adalah mutlak bagi bawahan wajib taat pada pimpinan, maka Muawiyah bin Abi Sufyan meminta kepada Hasan bin Ali untuk menjelaskan hasil kesepakatan yang telah dicapai antara Hasan Bin Ali dengan Muawiyah dalam sebuah pertemuan di maskin kepada para pendukungnya, Permohonan Muawiyah telah disetujuinya, Hasan bin Ali kemudaia mengumpulkan para sahabat setianya di kediaman Madain, sebelum memberikan penjelasan lebih jauh kepada para sahabat setianya di Masjid Kufah. Di dalam pertemuan itu Hasan menjelaskan sebab apa saja yang melatar melatar belakangi di serahkanya jabatan Kholifah Hasan, serta dengan tegas di jelaskan telah mengakui Muawiyah sebagai pemimpin. Oleh karena itu, Hasan meminta dengan sangat agar mereka melakukan seperti apa yang dilakukannya, yaitu menjadikan Muawiyah sebagai pemimpin mereka, dan jangan sekAli -kAli membantahnya bila telah melakukan bai’at kepadanya, kemudian hasan juga menjelaskan nya di masjid kufah, termasuk orang penting yang hadir saat itu adalah dari pihak Hasan bin Ali hadir antara lain, Abdullah bin Abbas, Qays bin Sa’ad, Abu Ja’far, Abu Amir, dan lainnya. Sementara dari pihak Muawiyah hadir antara lain, ’Amr bin Al-Ash, Abu Al-A’war Al-Sulma, ’Amr bin Sufyan.
2. Memindahkan Pusat Kekuasaan ke Damaskus
Setelah kaum loyAli s Hasan bin Ali dengan penuh hati mendukung hasan, kekuatan Muawiyah semakin mapan, langkah cantik yang dilakukan selanjutnya adalah usahanya memindahkan pusat pemerintahan Islam dari Madinah ke Damaskus. Pemindahan ini dilakukan karena di kota itulah pusat kekuasaan Muawiyah bin Abi Sufyan sebenarnya. Di kota itulah para pendukung setianya berada. Dari kota Damaskus Muawiyah mengendAli kan pemerintahan dan mengatur berbagai kebijakan politik.
Alasan lainnya Muawiyah memindahkan pusat kekhAli fahan adalah : karena Kota Damaskus memiliki letak yang sangat strategis bagi Muawiyah untuk mengambangkan kekuasaanya ke bakas-bekas wilayah kekuasaan kerajaan Romawi di bagian utara. Letak strategis itu tidak hanya dari sisi politik militer, juga dari sisi ekonomi. Sebab kota Damaskus. Syiria terletak di dekat laut Tengah (Laut Mediterania) yang merupakan jalur perdagangan ke Eropa, dengan pemindahan pusat pemerintahan inilah rezim Muawiyah mengalami perkembangan cukup cepat.
3. Mengangkat Para Pejabat Gubernur
Muawiyah bin Abi Sufyan telah memilih beberapa orang yang dapat memperkuat posisi kepemimpinannya. Mereka adalah Amr bin Al-Ash, Mughirah bin Syu’bah, dan Ziyad bin Abihi[22]. Kedua orang yang di sebutkan itu, Amr dan Al Mughirah bin Syu’bah, memiliki peran yang sangat penting, baik sebelum atau sesudah Muawiyah menjadi khAli fah. Sementara Ziyad baru memainkan peran pentingnya ketika ia di beri kesempatan oleh Muawiyah untuk menduduki jabatan penting di dalam pemerintahan Bani Umaiyah, yaitu gubernur Basrah.
Salah satu alasan Muawiyah merangkul Amr bin Al-Ash, adalah karena ia telah memiliki kemampuan luar biasa dalam masalah taktik dan strategi politik dan peperangan yang sebanding dengannya. Ia kemudian di ajak kerjasama dalam mengahadapi kekuatan Ali bin Abi ThAli b, yang kemudian setelah itu diberi kepercayaan untuk menaklukan Mesir dan setelah berhasil Amr di percaya menjadi gubernur kota itu. Setelah Muawiyah bin Abi Sufyan berhasil mendapatkan legitimasi politik dari masyarakat luas, khususnya para pendukung Ali dan Hasan di Kufah dan Basrah, jabatan tersebut tetap di percayakan kepada Amr bin Al-Ash. Pemberian jabatan ini karena Muawiyah tau persis kemampuan yang di miliki Amr dan kekuatan yang ada padanya. Amr berkuasa sebagai gubernur selama kurang lebih dua tahun (41-43 H).
Selain merangkul Amr bin Al-Ash, Muawiyah juga mengangkat Al-Mhugirah bin Syu’bah. Ia memiliki potensi besar dengan dukungan masa yang cukup banyak di kotanya. Karena itu, ketika Muawiyah berkuasa sebagai khAli fah, ia melihat Al-Mughirah sebagai seorang tokoh potensial yang perlu di rangkul dengan jabatan strategis di wilayah Kufah, jabatan yang pernah di dipegang selama satu tahun atau dua tahun ketika Umar bin Khattab berkuasa yang mencakup pula wilayah Syiria. Ia mengaku jabatan ini selama lebih kurang satu dasawarsa hingga ia wafat pada tahun 50 H. Setelah ia wafat, wilayah kekuasaanya di gabungkan Muawiyah ke dalam wilayah pemerintahan gubernur Ziyad bin Abihi.
Tokoh lainnya yang dianggap perlu diangkat adalah: Ziyad bin Abihi. Dalam pandangan Muawiyah , orang seperti Ziyad juga perlu mendapatkan perhatian dan kedudukan khusus di pemerintahan. Sebab, Ziyad bin Abihi, meskipun sedikit memiliki pengaruh keluarga atau klan, karena Ziyad di beritakan tidak memiliki ayah yang jelas yang kemudian orang mengenalnya dengan sebutan Ziyad bin Abihi tetap saja menjadi orang yang di perhitungkan oleh Muawiyah , bukan hanya karena reputasinya, juga karena dari penelusuran silsilah atau asal usulnya, ternyata Ziyad di ketahui anak seorang ibu yang sebenarnya budak Abi Sufyan yang berasal dari Thaif yang berAli h tangan al-Harits bin Kaldah sebelum Ziyad lahir. Karenanya, Ziyad juga sering di sebut dengan Ziyad bin Abi Sufyan.
Pada masa khAli fah Ali bin Abi ThAli b berkuasa, Ziyad di tunjuk sebagai gubernur Basrah dengan tugas khusus di persia bagian selatan. Karenanya ketika Ali wafat, dan Hasan memberikan kekuasaan kepada Muawiyah dalam peristiwa Am al-Jama’ah di maskin tahun 661 M/41 H, ia pindah ke persia sembunyi di sana. Hal itu di lakukan karena ia merasa khawatir akan keselamatan dirinya karena ia telah menolak ajakan Muawiyah agar Ziyad mau bergabung bersamanya yang telah mengakuinya sebagai saudara seayah .
Berkat kecerdikan Muawiyah dan kepiawaian, maka Muawiyah akhirnya mampu mempengaruhi Ziyad untuk bergabung dengannya, bahkan Muawiyah mengikatnya dengan ikatan perkawinan antara putri Muawiyah dengan putra Ziyad bernama Muhammad bin Ziyad. Dengan cara-cara seperti itu, akhirnya Ziyad mau menyatakan bersedia bergabung dan secara otomatis mengakui keberadaan khAli fah Muawiyah bin Abi Sufyan. Hal tersebut dilakukan Muawiyah karena ia melihat potensi besar yang dimiliki Ziyad dalam masalah kemiliteran dan keteguhan dalam mempertahankan prinsip yang dimilikinya.
Ditempat tugas barunya inilah Ziyad menyampaikan pidato perdananya kepada masyarakat Basrah. Pidato yang disampaikan sangat mengagumkan dan sekAli gus menggetarkan sendi-sendi orang yang berusaha menentang kekuasaannya atau kekuasaan Muawiyah . Pidatonya itu di kenal dengan pidato batra, karena tidak dimulai dengan ucapan basmalah. Isi pidatonya sangat jelas dan menelanjangi kejahatan-kejahatan penduduk Basrah. Ia mengulurkan ancaman-ancaman keras terhadap mereka yang tidak patuh. Dalam pidatonya itu, ia juga bersumpah kalau tidak hanya akan menghukum mereka yang berdosa, juga menghukum tuan lantaran dosa hamba sahaya, dan seterusnya.
Setelah terjadinya ketentraman dan persatuan dalam kedaulatan Islam , Muawiyah mulai malancarkan Ekspansi Militer Ke timur, Pasukan Islam berhasil menaklukan Khurasan (663-671) dari arah Basrah, menyebrangi sungai Oxus, dan menyerbu Bukhara di Turkistan (674). Ke Barat, Gubernur Mesir mengirim ekspedisi dibawah pimpinan Uqba bin Nafi menaklukan Afrika Utara yang masih dikuasai Bizantium sampai Algeria. Ke Utara, menye-rang Asia Kecil untuk melawan Bizantium. Muawiyah juga meluncurkan serangan sebanyak 2 kAli meskipun tidak berhasil untuk mengepung Konstan-tinople yang dipimpin putranya, Yazid bin Muawiyah
C. . Sejarah Pemerintahan Yazid bin Muawiyah
Yazid di lahirkan dari Muawiyah dan Asmah binti Bahdal[23], terlahir dari suku badwi Nejd, yang pindah ke kota Damsyik[24], saat mengandung yazid, Asmah kembAli ke dusun untuk “menenangkan” hati yang telah lama bersanding dengan Muawiyah , namun Muawiyah yang memangku jabatan dan tanggung besar sering lebih konsen pada pada tanggung jawabnya, pada tahun 26 H bertepatan tanggal 23 Juli 645 Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan dilahirkan, Pada masa kekhAli fahan ayahnya, beliau menjadi seorang pangglima yang cukup penting dan juga seorang pangglima angkatan laut. Diawal tahun 668, KhAli fah Muawiyah mengirim pasukan dibawah pimpinan Yazid bin Muawiyah untuk melawan Kekaisaran Bizantium. Yazid mencapai Chalcedon dan mengambil Ali h kota penting Bizantium, Amorion. Meskipun kota tersebut direbut kembAli , pasukan arab kemudian menyerang Chartago dan Sisilia pada tabun 669. Pada tahun 670, pasukan Arab mencapai Siprus dan mendirikan pertahanan disana untuk menyerang jantung Bizantium. Armada Yazid menaklukan Smyrna dan kota pesisisr lainnya pada tahun 672.
Di Makkah saat awal Wafatnya Muawiyah , Husain bin Ali mendapat banyak surat dari penduduk Syiah Kufa yang menyatakan kesetiaannya pada beliau dan meminta beliau ke Kufah untuk dibaiat menjadi KhAli fah. Oleh karena itu Husain bin Ali mengirim keponakannya, Muslim bin Uqail bin Abi ThAli b ke kufah dan memastikan mendapatkan baiat 30 ribu penduduk Kufah. Muslim bin Uqail pun menyampaikan berita ini ke Husain dan mengundangnya datang ke Kufah.
Akan tetapi ternyata hal ini tak berlangsung lama. Begitu mendengar sikap penduduk Kufah, KhAli fah Yazid marah besar, sinyal pemberontakan mulai muncul, kekhawatirannya jika kaum muslimin berhenti dalam meluaskan Aqidah, maka Ia memecat gubernur Kufah, Nu’man bin Basyri dan menggabungkan Kufah dengan Basrah dibawah kekuasaan Abdullab bin Ziyad dan memerintahkan menangkap[25]Husain.
Gubernur Abdullah bin Ziyad tiba di Kufah lebih dahulu dari pada Husain dan dengan mudah merebut dan menduduki Kufah. Para penduduknya berbAli k membaiat kepada Yazid bin Muawiyah . Sementara Muslim bin Uqail ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.
Situasi ini tidak diketahui Husein. Ia tetap berangkat ke Kufah meskipun sebelumnya Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Zubayr menyarankan agar jangan berkunjung ke Kufah. Ia pergi diiringi para sahabat, saudaranya dan keluarganya. Ketika mendekati perbatasan Irak, ia terkejut karena tidak menemukan penduduk Kufah seperti yang dijanjikan. Apalagi setelah mendengar berita kematian tragis utusannya. Oleh karena itu sebagian pengikutnya menyarankan agar kembAli Ke Makkah. Tapi Husain bersikeras tetap pergi karena yakin penduduk Kufah akan tetap berpihak padanya. Tapi ia mengijinkan kepada pengikutnya untuk menentukan pilihan sendiri. Ikut atau pulang. Akhirnya sebagian pengikutnya pulang ke Makkah, sehingga tinggal 31 Orang penunggang kuda dan 40 pejalan kaki yang mengiringi Husein.
Rombongan kecil itu terus melakukan perjalanan. Di Sirrah, rombongan itu berpapasan dengan pasukan Alhur bin Yazid yang kaget melihat jumlah pasukan Husein yang kecil padahal menurut berita yang diterimanya berjumlah besar. Oleh karena itu ia mengambil posisi bertahan. Sementara Husein masih yakin, pasukan besar dihadapannya akan berbaiat kepadanya. Sempat terjadi negosiasi, tetapi menemui jalan buntu. Sementara itu sepucuk surat dari gubernur Abdullah bin Ziyad yang tidak mengetahui jumlah rombongan husein, memerintahkan untuk mendesak rombongan Husein. Pasukan kecil itu terus mundur dan terdesak sampai ke Karbalah, Gubernur Ziyad kemudian mengirimkan lagi 4 ribu pasukan dibawah pimpinan Umar bin Saad bin Abi Waqash. Dalam keterdesakannya, Husain menawarkan tiga pilihan;
Pertama memberikan kesempatan padanya untuk kembAli ke Hejaj,
Kedua memberikan kesempatan untuk menemui Yazid dan
ketiga, mengantarkannya ke daerah perbatasan kaum muslimin dan berdomisili disana dan diperlakukan sama dengan kaum muslimin lainnya. Umar bin Saad menyampaikan hal ini kepada Gubernur Abdullah bin Ziyad. Tapi sang gubernur murka dan mengirim pesan melalui Syammar bin Ziljausan bahwa pilihannya adalah memerangi Husein atau menyerahkan pimpinan pasukan kepada Syamar.
Pangglima Saad merasa harga dirinya jatuh bila menyerahkan pimpinan kepada Syamar Oleh karena itu ia pun memerintahkan penyerangan. Seluruh pengikut Husein gugur. Hanya wanita dan anak-anak yang dibiarkan selamat. Husein sendiri terbunuh. Kepalanya dipenggal oleh Syamar bin Ziljausan. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 10 Muharam 61 H / 10 Oktober 680.
Kepala Husain dan keluarganya dibawa ke Kufah., yang kemudian dikirim ke Damaskus. KhAli fah Yazid begitu melihat kepala Husein menagis sedih dan berkata, ‘Saya tak pernah memerintah membunuhnya. Demi Allah bila saya berada di tempat itu, saya akan memberikan ampunan padanya.’
Darah Husain yang tertumpah, melebihi darah ayahnya inilah menjadi cikal bakal pertumbuhan kaum Syiah, sehingga tanggal kematiannya, 10 Muharam , menjadi hari besar kaum Syiah. Sejak saat itu kedudukan imam yang diwariskan turun temurun kepada keturunan Ali menjadi salah satu dogma dalam ajaran syiah yang setara dengan kenabian Nabi Muhammad.
Peristiwa Karbalah ini menggemparkan penduduk Hejaj. Sebagian penduduk Madinah melepaskan baiatnya kepada Yazid. Mantan Gubernur Hejaj, Marwan bin Hakam dan penggantinya Usman bin Muhammad terpaksa melarikan diri ke Damaskus. Abdullah bin Zubair dibaiat menjadi KhAli fah. Saat itu ia mendapat dukungan dari Hejaj, Yaman dan Arabia selatan.
Walau demikian, karena keadaan masih tidak kondusif, Yazid bin Muawiyah tidak langsung menyerang Ibnu Zubair. Selama tiga tahun, dengan penuh semangat Ia mencoba melanjutkan kebijakan ayahandanya dan menggaji banyak orang yang membantunya. Ia memperkuat struktur administrasi khilafah dan memperbaiki pertahanan militer Suriah, basis kekuatan Bani Ummayyah . Sistem keuangan diperbaiki. Ia mengurangi pajak beberapa kelompok Kristen dan menghapuskan konsesi pajak yang ditanggung orang-orang Samara sebagai hadiah untuk pertolongan yang telah disumbangkan di hari-hari awal penaklukan Arab. Ia juga membayar perhatian berarti pada pertanian dan memperbaiki sistem irigasi di oasis Damsyik
Baru pada tahun 683, Yazid mengirimkan pasukan ke Hejaz dibawah pimpinan Muslim bin Uqbah al Muri dengan jumlah 30 ribu pasukan kavaleri. Ketika tiba di Hurat, ia dihadang oleh pasukan Abdullah bin Hanzalahh, gubernur Madinah yang ditunjuk Abdullah bin Zubair. Pecahlah pertempuran dan pasukan Madinah kalah. Tercatat lebih dari 10 ribu orang gugur. Sebagian dari kaum Anshar dan Muhajirin. Sesuai perintah Yazid, Muslim bin Uqbah yang terkenal berperingai bengis dan kejam kapada penduduk madinah, memperbolehkan tentaranya untuk melakukan apa saja di Madinah selama tiga hari. Setelah berhasil menaklukan warga Madinah, ia kemudian melanjutkan ke Makkah, tapi ia saat dalam perjalanan meninggal, sehingga jabatan pangglima diambil Ali h Husain bin Numair sesuai wasiat Yazid bin Muawiyah . Sesampainya di Makkah, Husain bin Numair langsung memblokade Makkah dengan ketat selama dua bulan. Blokade ini membuat Ibnu Zubair tak berdaya. Tetapi ketika blokade ini berlangsung, terdengar kabar tentang kematian Yazid, pengepungan dihentikan dan diadakan gencatan senjata. Dalam pemerintahan Daulah Bani Ummayyah Yazid Bin Muawiyah hanya menjabat 4 tahun ( 60 H – 64 H ) dan di gantikan dengan anaknya Muawiyah bin Yazid atau Muawiyah II.
D. Muawiyah bin Yazid ( Muawiyah II )
Muawiyah bin yazid hanya memerintah 40 hari bahkan ada yang berpendapat kurang dari 40 hari juga salah satu pendapat mengatakan Muawiyah II menjabat selam 6 bulan[26], di karenakan banyak nya tekanan jiwa, di usia nya 23 tahun saat menjabat psikisnya belum matang dalam menghadapi persoalan masyarakat yang luas juga kompleks, sehingga dalam halayak umum Muawiyah II berpidato:
“wahai manusia, saya dengan sadar mengakui bahwa saya tidak sanggup memegang pekerjaan ini, saya menginginkan ada di Antara kAli an yang seperti Umar bin Khattab, tapi tak seorang pun aku temui, aku juga mencari yang seperti Ahli Syura[27]tak seorang pun jua ku temui, maka dari itu aku serahkan kembAli jabatan ku ini kepada kAli an semua, pilihlah yang terbaik, yang kau kehendaki, karena bagi aku jabatan ini tidak akan mendapatkan kemaslahatan dalam hidupku” [28].
Ini adalah kholifah pertama yang meletakkan jabatan nya dengan penuh lapang dada. Setelah Muawiyah II jelas telah mengundurkan diri, kaum muslimin semakin bingung mencari penggantinya, akhirnya di putuskan bahwa Marwan bin Hakam sebagai penyandang jabatan Kholifah Ummat Islam saat itu.
DAFTAR PUSTAKA
Syalabi, Sejarah Dan Kebudayaan Islam 2, Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru, 2003
-------------‘ sejarah kebudayaan Islam , Jakarta: Pustaka Al Husna, 1982
HAMKA.Sejarah Ummat Islam II, Cet.II. Jakarta: Bulan Bintang.1981
Hadariansyah AB, Pemikiran-pemikiran Teologi dalam Sejarah Pemikiran Islam Banjar Masin: Antasari Pres, 2008
Rosihon Anwar, Ilmu Kalam Bandung: CV. Pustaka Setia, 2009
Harun Nasution, di tinjau dari beberapa Aspek Jakarta: UI Pres, 2009
Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam ,Semarang: PT. Karya Toha Putra 1995
K.Hitti Philip, History of Arabs Jakarta: Serambi Ilmu Semesta. 2013 [1]H.Abdullah Nata, Metodologi Study Islam. (Jakarta: Rajawali Pers, Cet.XVIII.2011),361.
[2] Termasuk sejarah yang mengadung kontrofersi, beralihnya kekuasaan S.Ali bin Abi Tholib kepada Muawiyah bin Abi Sufyan.
[4] HAMKA.Sejarah Ummat Islam II.(Jakarta: Bulan Bintang Cet.II.1981).78.
[5] A. Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Pustaka Al Husna, 1982),293.
[6] Ibid., 251-252
[7] Muawiyah tergolong insan politikus cerdik dan tanggung jawab, saat menjadi gubernur Syam, rakyat setempat sangat sejahtera sehingga dalam kampanyenya dengan dalih meluruskan kholifah Ali sangat direspon baik oleh masyarakat bawahanya.
[8] Muhammad bin Abu Bakar adalah anak Angkat Kholifah Ali
[9]Hadariansyah AB, Pemikiran-pemikiran Teologi dalam Sejarah Pemikiran Islam (Banjar Masin: Antasari Pres, 2008),14.
[10]Hemat penulis, setiap niat yang menyimpang dari kebenaran akan mudah di lihat dengan menyimpangnya proses penggodokan sebuah keputusan, contoh konkrit usulan meletakkan nya ke dua jabatan, padahal jabatan yang di sandang ke dua pimpimpinan jauh berbeda, Ali sebagai Kholifah sedangkan Muawiyah hanya sebagai Gubernur.
[11] Fatah Syukur,Sejarah Peradaban Islam ( Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 2010), 65.
[12] Harun Nasution, Teologi Islam Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta, UI Press, 1986),5.
[13]Hadariansyah AB, Pemikiran-pemikiran Teologi dalam Sejarah Pemikiran Islam, 16.
[14] Rosihon Anwar, Ilmu Kalam ( Bandung: CV. Pustaka Setia, 2009),49.
[15] Harun Nasution, di tinjau dari beberapa Aspek ( Jakarta: UI Pres, 2009), 29.
[16] HAMKA.Sejarah Ummat Islam II, 80
[17] Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam,( Semarang: PT. Karya Toha Putra 1995), 9.
[18] HAMKA.Sejarah Ummat Islam II, 80.
[19] Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam,9.
[20] A.Syalabi, Sejarah Dan Kebudayaan Islam 2,21.
[21] Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam,9.
[22] Ziyad digelari bin Abihi kerena ketidakjelasan identitas ayahnya. Ibunya adalah seorang budak di Taif yang dikenal Abu Sufyan. Pada awalnya Ziyad adalah pendukung Ali, tetapi pada saat kritis, Mua-wiyah mengakui Ziyad sebagai saudara sahnya.
[23] Nama lain nya Maisun binti Bahdal
[24] Hamka, Sejarah Peradaban Islam II, 81.
[25] Bukan menyakiti, Yazid hanya ingin masyarakat kufah tidak terprofokasi, bahkan di sebutkan Agar Husain bisa kembali dan tidak meneruskan bertemu penduduk Kuffah yang sering tidak patuh saat pemerintahan ayahnya (Muawiyah), lihat HAMKA.Sejarrah peradaban Islam 2,83.
[27]Kepercayaan sahabat untuk mencari pengganti Kholifah Umar
[28] Hamka, Sejarah Peradaban Islam II, 85

Komentar
Posting Komentar