INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA PENELITIAN
Pengertian Instrumen Pengumpulan Data Penelitian
![]() |
| instrumen pengumpulan data penelitian |
Yang disebut sistem, menurut Prajudio Atmosudirdjo sebagaimana dikutif oleh Aceng Muhataram Mirfani adalah seperangkat komponen yang terdiri dari dua atau lebih, yang saling berhubungan dan saling ketergantungan satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama[5]Sedangkan menurut Ibnu Hajar instrumen pengumpulan data penelitian adalah merupakan alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan informasi kuantitatif tentang variabel yang karakteristik dan objektif[6].
Dari uraian beberapa pakar di atas, dapat penulis ambil suatu generalisasi bahwa instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang digunakan dalam sebuah research untuk mengumpulkan aneka ragam informasi yang diolah secara kuantitatif dan disusun secara sistematis.
instrumen pengumpulan data penelitian merupakan sesuatu yang amat penting dan strategi kedudukannya didalam keseluruhan kegiatan penelitian. Dengan instrumen akan diperoleh data yang merupakan bahan penting untuk menjawab permasalahan, mencari sesuatu yang akan digunakan untuk mencapi tujuan, dan untuk membuktikan hipotesis (jika akan membuktikan hipotesis). Kualitas instrumen akan menentukan kualitas data yang terkumpul.[7]Jadi, Fungsi instrument dalam penelitian adalah sebagai alat pencatat informasi yang disampaikan oleh responden, sebagai alat untuk mengorganisasi proses wawancara, sebagai alat evaluasi performa peneliti.
Dalam penelitian kualitatif instrument utamanya adalah peneliti sendiri[8], sedangkan dalam penelitian kuantitatif instrumenya dapat berupa test,pedoman wawancara, pedoman observasi dan kuesioner.[9]Dalam penelitian kualitataif seorang peneliti harus divalidasi terkait dengan pemahaman.penguasaan serta kesiapannya untuk melakukan penelitian. Guba dan Lincoln dalam Lexy J Moleong, menyatakan bahwa jika manusia sebagai instrument penelitian maka dia harus mempunyai kualitas yang diharapan seperti toleran,sabar, jujur,objektif, menjadi pendengar yang baik, penampilannya menarik dan lain-lain. Kesemuanya itu bisa diwijudkan dengan cara meningkatkan kemampuan peneliti sebagai instrument.[10]
Data yang salah atau tidak menggambarkan data empiris bisa menyesatkan peneliti sehingga kesimpulan penelitian yang ditarik atau dibuat peneliti bisa keliru. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun instrumen penelitian, pertama, masalah yang diteliti termasuk indikator harus jelas, sehingga dapat dengan mudah menetapkan jenis instrumen yang akan di gunakan. Kedua, sumber data atau informasi baik jumlah maupun keragamannya harus diketahui terlebih dahulu, sebagai bahan atau dasar dalam menentukan isi, bahasa, sistematika dalam instrumen penelitian.[11]
Instrumen penelitian dirancang untuk satu tujuan dan tidak bisa digunakan pada penelitian yang lain. Kekhasan setiap objek penelitian menyebabkan seorang peneliti harus merancang sendiri instrumen yang digunakan. Susunan instrument untuk setiap penelitian tidak selalu sama dengan peneliti lain. Hal ini mengingat tujuan dan mekanisme kerja dalam setiap teknik penelitian juga berbeda-beda. Data yang terkumpul dengan menggunakan instrumen tertentu akan dideskripsikan dan dilampirkan atau digunakan untuk menguji hipotesis yang diajukan dalam suatu penelitian.
Untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian, kita dapat menggunakan instrumen yang telah tersedia dan dapat pula menggunkan instrumen yang dibuat sendiri. Instrumen yang telah tersedia pada umumnya adalah instrument yang sudah dianggap baku untuk mengumpulkan data variabel-variabel tertentu. Seperti instrument yang digunakan untuk mengukur motif berprestasi, (n-ach) untuk mengukur sikap, mengukur IQ dan mengukur bakat dan lain-lain.[12]
Dengan demikian, jika instrument baku telah tersedia untuk mengumpulkan data variable penelitian maka kita dapat langsung menggunakan instrument tersebut, dengan catatan bahwa teori yang dijadikan landasan penyusunan instrument tersebut sesuai dengan teori yang diacu dalam penelitian kita. Selain konstruk variable yang diukur oleh instrument tersebut juga sama dengan konstruk variable yang hendak kita ukur dalam penelitian kita.
Akan tetapi, jika instrument yang baku belum tersedia untuk mengumpulkan data varibel tersebut harus dibuat sendiri oleh peneliti. Instrument-instrumen dalam bidang sosal terkadang walau sudah teruji validitas analisis reliabilitasnya tetapi bila diginakan di tempat lain bisa jadi hasilnya berbeda. Karena gejala/fenomena social merupakan suatu hal yang bergerak secara dinamis, cepat berubah dan sulit dicari kesamaanya. Oleh karena itu, dalam penelitian pendidikan instrument penelitian yang digunakan serimng disusun sendiri oleh peneliti termasuk juga dalam menguji validitas dan reliabilitasnya. [13]
Jenis Instrumen Pengumpulan data
Instrumen yang dipergunakan dalam upaya pengumpulan data suatu penelitian itu harus memperhatikan validitas dan reliabelitas, karena sesungguhnya data yang baik adalah data yang valid dan reliable. Menurut Sukidin, dkk (2010:100) berpendapat bahwa Instrumen Valid adalah instrumen yang mampu mengukur apa yang seharusnya diukur misalnya bahwa penggaris adalah alat yang valid untuk mengukur panjang, bukan untuk mengukur berat. Sedangkan instrumen reliable adalah instrumen yang konsisten (tepat/akurat) dalam mengukur yang seharusnya diukur[14]
Menurut Sutrisno Hadi, bahwa yang menjadi instrumen pengumpulan data penelitian yang valid itu memenuhi persyaratan sebagai berikut : (1) pengukuran dengan alat pengukur yang lain sebagi prediktor, (2) adanya standisasi group tertentu untuk mengadakan observasi sebagai sebuah kriterium, (3) diselidiki ada atau tidaknya kecocokan antara hasil prediktor dengan hasil kriterium[15] Menurut Punaji Setyosari berpendapat bahwa validitas terbagi menjadi 2 (dua) yaitu : (1) validitas logis, yakni diperoleh dengan usaha yang sangat hati-hati sehingga secara logika instrumen itu dicapai menurut validitas yang dikehendaki, (2) validitas empiris, yaitu validitas yang diperoleh berdasarkan pengalaman[16]
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, dapat dikatakan bahwa di dalam penyusunan instrumen pengumpulan data penelitian, data yang dihasilkan nanti harus mempunyai kebenaran yang dapat diukur serta mempunyai konsistensi kebenaran terhadap suatu objek sehingga adanya relevansi antara hipotesa dan kenyataan yang diperoleh melalui pengalaman secara optimal yang dengannya kesahihan penelitian dapat diterima secara logis oleh akal.
Baca juga:
Macam-Macam Variabel Penelitian
Pengertian dan Jenis Variabel Penelitian
Metode Pendekatan dalam Penelitian
Baca juga:
Macam-Macam Variabel Penelitian
Pengertian dan Jenis Variabel Penelitian
Metode Pendekatan dalam Penelitian
Cara Menyusun Instrumen Pengumpulan Data Penelitian
Instrumen memegang peranan penting dalam suatu penelitian. Mutu penelitian sangat dipengaruhi oleh Instrumen penelitian yang digunakan, karena kevalidan dan kesahihan data yang diperoleh dalam suatu penelitian dsangat ditentukan oleh tepat tidaknya dalam memilih instrumen penelitian. Instrumen atau alat pengumpul data adalah suatu alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian. Data tersebut dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan dalam penelitian.
Menyusun instrumen pengumpulan data penelitian dilakukan setelah peneliti memahami betul apa yang menjadi variabel penelitian. Pemahaman Peneliti terhadap variabel dan hubungan antar variabel akan mempermudah peneliti dalam menentukan dan menyususn intrumen penelitian yang akan digunakan. Setelah memahami variabel peneliti dapat menyusun instrumen untuk dapat menjabarkan kedalam bentuk sub variabel, indikator, deskriptor dan butir-butir pertanyaan dan angket dalam daftar cocok atau pedoman observasi. Dengan demikian maka instrumen penelitan menajdi hal penting untuk menjaga agar penelitian yang dilakukan tersebut bermutu dan berkualitas.
Menurut Nana Sudjana dan Ibrahim yang dikutip oleh S Margono menyebutkan ada beberapa langkah umum yang dijadikan sebagai petunjuk dalam menyusun instrumen penelitian. Langkah-langkah tersebut antara lain sebagai berikut[17]:
a. Analisis Variabel Penelitian; Menganalisis setiap variabel menjadi subvariabel kemudian mengembangkannya menjadi indikator-indikator merupakan langkah awal sebelum instrumen itu dikembangkan.
b. Menetapkan Jenis Instrumen ; Jenis instrumen dapat ditetapkan manakala peneliti sudah memahami dengan pasti tentang variabel dan indikator penelitiannya. Satu variabel mungkin hanya memerlukan satu jenis instrumen atau meungkin memerlukan lebih dari satu jenis instrumen.
c. Menyusun Kisi-kisi atau Layout Instrumen ; Kisi-kisi instrumen diperlukan sebagai pedoman dalam merumuskan item instrumen. Dalam kisi-kisi itu harus mencakup ruang lingkup materi variabel penelitian, jenis-jenis pertanyaan, banyaknya pertanyaan, serta waktu yang dibutuhkan. Selain itu, dalam kisi-kisi juga harus tergambarkan indikator atau abilitas dari setiap variabel. Misalnya, untuk menentukan prestasi belajar atau kemampuan subjek penelitian, diukur dari tingkat pengetahuan, pemahaman, aplikasi, dan sebagainya.
d. Menyusun Item Instrumen; Berdasarkan kisi-kisi yang telah disusun, langkah selanjutnya adalah menyusun item pertanyaan sesuai dengan jenis instrumen yang akan digunakan.
e. Mengujicobakan Instrumen ; Uji coba instrumen perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat reabilitas dan validitas serta keterbacaan setiap item. Mungkin saja berdasarkan hasil uji coba ada sejumlah item yang harus dibuang dan diganti dengan item yang baru, setelah mendapat masukkan dari subjek uji coba. Skema berikut menjelaskan uraian di atas :
Dari bagan tersebut terlihat bahwa untuk keperluan penyusunan dan pengembangan instrumen pertama-tama adalah penetapan kontruk variabel penelitian yang merupakan sintesis dari teori-teori yang telah dibahas dan dianalisis yang penyajiannya diuraikan dalam pengkajian teoritik atau tinjauan pustaka. Konstruk tersebut dijelaskan dalam definisi konseptual variabel, yang di dalamnya tercakup dimensi dan indikator dari variabel yang hendak diukur. Berdasarkan kontruk tersebut ditetapkan indikator-indikator yang akan diukur dari variabel tersebut. Selanjutnya item-item instrumen dibuat untuk mengukur indikator-indikator yang telah ditetapkan dengan cara seperti telah dikemukakan pada proses penyusunan dan pengembangan instrument point 4 dan 5. Karena bentuk item-item instrumen yang akan dibuat harus sesuai dengan instrumen yang telah dipilih, maka sebelum menulis item-item instrumen terlebih dahulu peneliti harus memilih jenis instrumen apa yang sesuai untuk mengukur indikator dari variabel yang akan diteliti.
Instrumen merupakan alat bantu bagi peneliti di dalam menggunakan metode pengumpulan data. Dengan demikian terdapat kaitan antara metode dengan instrumen pengumpulan data. Pemilihan satu jenis metode pengumpulan data kadang-kadang dapat memerlukan lebih dari satu jenis instrumen. Sebaliknya satu jenis instrumen dapat digunakan untuk berbagai macam metode.
Jika daftar metode dan daftar instrumen tersebut dipasangkan, akan terlihat kaitan dalam tabel berikut ini.
Tabel 1. Pasangan Metode dan Instrumen Pengumpulan Data
No. | Jenis Metode | Jenis Instrumen |
1 | Angket (questionnaire) | Angket (questionnaire) Daftar cocok (checklist) Skala (scala), inventori (inventory) |
2 | Wawancara (interview) | Pedoman wawancara (interview guide) Daftar cocok (checklist) |
3 | Pengamatan/Observasi (Observation) | Lembar Pengamatan, panduan pengamatan, panduan observasi (observation sheet, observation schedule), (checklist). |
4 | Ujian/Tes (test) | Soal ujian, soal tes atau tes (test), inventori (inventory). |
5 | Dokumentasi | Daftar cocok (checklist) Tabel |
(Sumber : Arikunto (1995) dalam Riduwan (2010))
Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa:
a. Inventors dapat digunakan sebagai angket (tidak digunakan untuk mengetahui sesuatu yang sifatnya "ketat" seperti tes, (misalnya angket minat) tetapil ada yang berkedudukan seperti tes.
- Daftar cocok (checklist) dapat digunakan dalam berbagai metode, karena nama "daftar cocok" lebih menunjuk pada cara mengerjakan dan wujud tampiIan instrumen dibandingkan dengan jenis instrumen sendiri.
Instrumen penelitian yang diartikan sebagai "alat bantu" merupakan saran yang dapat diwujudkan dalam benda, misalnya angket (questionnaire), daftar cocok (checklist) atau pedoman wawancara (interview guide atau interview schedule), lembar pengamatan atau panduan pengamatan (observation sheet atau observation schedule) soal tes (yang kadang-kadang hanya disebut dengan "ter" saja, inventors (invertory), skala (scale), dan lain sebagainya. Melihat daftar jenis-jenis metode dan daftar jenis-jenis instrumen tersebut diatas, terdapat istilah-istilah yang sama, yaitu angket dan tes. Dengan demikian ada metode angket dan instrumen angket. Demikian juga ada metode tes dan instrumen tes. Memang instrumen angket digunakan sebagai alat bantu dalam penggunaan metode angket; demikian juga halnya dengan tes. Namun ada kalanya peneliti memilih metode angket tetapi menggunakan daftar cocok sebagai instrumen.
Sedangkan menurut Suharmi Arikunto (2006:149) ada beberapa instrument yang namanya sama dengan metodenya,antarlain adalah:
a. Instrument untuk metode tes adalah tes atau soal tes
b. Instrument untuk metode angaket atau kuesioner adalah angket atau kuesioner
c. Instrument untuk metode observasi adalah chek – list
d. Instrument untuk metode observasi adalah pedoman observasi atau dapat juga chek – list
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pengertian pengumpulan data dan instrumen penelitian adalah suatu proses yang dilakukan untuk mengungkap berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat dengan menggunakan berbagai cara dan metode agar proses ini berjalan secara sisitematis dan lebih dapat dipertanggung jawabkan kevaliditasnya.
Contoh 1 : Judul Penelitian : Pengaruh Kinerja Komite Sekolah, Profesionalisme Guru, dan Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Pelaksanaan MPMBS ( Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah ) di SMK Kabupaten Magelang.[18]
Dalam penyusunan instrumen juga perlu dipertahankan kaidah nilai penelitian[19], yaitu :
1) Netralitas emosional; peneliti tidak dikendalikan oleh rasa senang/tidak senang.
2) Universalisme; hasil dari kerja penelitian mungkin berlaku di mana dan kapan pun. Fungsi generalisasi sedapat mungkin berlaku luas, kecuali bagi studi kasus.
3) Publik; artinya terbuka, yaitu cara bekerja dan hasil suatu penelitian harus dikemukakan ke publik sehingga dapat dikritik oleh peneliti lain.
4) Kemandirian; yakni hasil suatu penelitian adalah karena kebenaran atas dasar fakta, dan bukan karena oleh kekuatan tertentu.
Setiap bentuk dan jenis instrumen penelitian memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Karena itu sebelum menentukan dan mengembangkan instrumen penelitian, perlu dilakukan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Salah satu kriteria pertimbangan yang dapat dipakai untuk menentukan instrumen penelitian adalah kesesuaiannya dengan masalah penelitian yang ingin dipecahkan. Tidak semua alat atau instrumen pengumpul data cocok digunakan untuk penelitian-penelitian tertentu.
Menggali imformasi dari responden dapat dilakukan dengan berbagai cara, meskipun mempunyai kelebihan dan kekurangan. Seorang peneliti harus bisa terlebih dahulu mempertimbangkan kebaikan atau keburukan suatu tehnik penelitian. Suatu teknik penelitian di satu sisi mempunyai kelebihan dan di satu sisi mempunyai kekurangan pemilihan teknik penelitian tersebut harus mempertimbangkan aspek yang mempengaruhi proses penelitian.
Penentuan metode instrument pengumpulan data dipengaruhi oleh beberapa hal sebagai berikut :
1. Tujuan penelitian
2. Sample penelitian
3. Lokasi
4. Pelaksanaan
5. Biaya dan waktu
6. Data
Heriyanto lebih lengkap lagi menjelaskan beberapa prinsip-prinsip pemilihan instrumen penelitian[20], yaitu :
1. Tujuan penelitian
2. Sample penelitian
3. Lokasi
4. Pelaksanaan
5. Biaya dan waktu
6. Data
Heriyanto lebih lengkap lagi menjelaskan beberapa prinsip-prinsip pemilihan instrumen penelitian[20], yaitu :
a. Prinsip utama pemilihan instrumen adalah memahami sepenuhnya tujuan penelitian, sehingga peneliti dapat memilih instrumen yang diharapkan dapat mengantar ke tujuan penelitian. Tujuan penelitian menentukan instrumen apa yang akan digunakan. Karena bisa saja terjadi bahwa tujuan penelitian justru ditentukan oleh instrument yang tersedia, atau digunakan instrumen yang sudah popular, walaupun sebenarnya tidak cocok dengan tujuan penelitiannya.
b. Suatu pendapat yang tidak selalu benar bahwa “instrumen yang canggih adalah yang terbaik”.
c. Pedoman umum yang dapat digunakan dalam pemilihan instrumen, khususnya bagi peneliti pemula adalah :
1) Pakailah instrumen seperti yang telah digunakan oleh peneliti terdahulu.
2) Buatlah daftar instrumen yang tersedia, kemudian kategorikan tiap instrumen sesuai dengan input yang diperlukan dan output yang dihasilkan, baru dipilih yang paling sesuai.
Ada beberapa kriteria penampilan instrumen yang baik, baik yang digunakan untuk mengontrol ataupun untuk mengukur variabel[21], yaitu :
a. Akurasi (accuracy)
1) Akurasi dari suatu instrument pada hakekatnya berkaitan erat dengan validitas (kesahihan) instrumen tersebut.
2) Apakah instrumen benar-benar dapat mengukur apa yang hendak diukur.
3) Apakah masukan yang diukur (measured) hanya terdiri dari masukan yang hendak diukur saja ataukah kemasukan unsur-unsur lain.
4) Pengontrolan yang ketat terhadap kemurnian masukan ini adalah sangat penting agar pengaruh luar dapat dieliminasi.
5) Kegagalan pengontrolan ini akan menyebabkan menurunnya akurasi output atau validitas hasil pengukuran.
6) Validitas tentang apa yang hendak diukur disebut validitas kualitatif.
7) Instrument dapat mengukur dengan cermat dalam batas yang hendak diukur, maka validitas yang diperoleh adalah validitas kuantitatif.
b. Persisi (precision)
1) Persisi instrumen berkaitan erat dengan keterandalan (reliability), yaitu kemampuan memberikan kesesuaian hasil pada pengulangan pengukuran.
2) Instrumen mempunyai presisi yang baik jika dapat menjamin bahwa inputnya sama memberikan output yang selalu sama baik kapan saja, di mana saja, oleh dan kepada siapa saja instrumen ini digunakan memberikan hasil konsisten (ajeg).
3) Instrumen dengan presisi yang baik belum tentu akurasinya baik dan sebaliknya.
4) Instrumen yang baik tentu akusari dan presisinya baik.
c. Kepekaan (sensitivity)
1) Penelitian yang ingin mengetahui adanya perubahan harga variabel tertentu membutuhkan instrumen yang dapat mendeteksi besarnya perubahan tersebut.
2) Makin kecil perubahan yang terjadi harus makin peka instrumen yang digunakan. Kepekaan berkaitan erat dengan validitas kuantitatif.
Klasifikasi Instrumen
a. Klasifikasi Berdasarkan Katagori Instrumen
Berdasarkan kategorinya, instrumen penelitian terdiri dari dua kategori alat atau instrumen yang digunakan dalam penelitian, yaitu Instrumen yang digunakan untuk memperoleh informasi atau data tentang keadaan objek atau proses yang diteliti dan Instrumen yang digunakan untuk mengontrol objek atau proses penelitian. Dengan adanya dua jenis instrumen tersebut, maka kondisi objek atau proses penelitian diukur dalam kondisi yang spesifik dan dapat diulangi lagi (reproducible).
b. Berdasarkan wujudnya, instrumen penelitian dibedakan atas dua bentuk, yaitu Perangkat keras (hardware). Misalnya spektofometer, stetoskop, thermometer, dsb. Dan perangkat lunak (software) digunakan untuk memperoleh informasi atau respon dari subyek baik langsung maupun tidak langsung. Dengan perangkat lunak akan dapat dilakukan pengukuran tentang :
1) Informasi lansung dari objek.
2) Mengevaluasi objek atau tindakan objek oleh pengamat.
3) Mengukur langsung kemampuan dan pengetahuan objek.
4) Mengukur secara tidak langsung tentang kepercayaan, sikap atau perilaku objek.
Adapun yang termasuk dalam kategori perangkat lunak misalnya : kuesioner, ceklist, rating scale, ujian tertulis, wawancara dan lain-lainnya.[22]
[1]Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: alfabeta , 2012), 308
[2] Ibid, 308
[3]Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta : Raja Grafindo, 2008),.52
[4]Suharsimi Arikunto, Manageman Penelitian (Jakarta : Rineka Cipta, 2000),.134
[5]Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, Manajemen Pendidikan, (Bandung : Alfabeta, 2011) , 167
[6]Ibnu Hadjar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif dalam Pendidikan, (Jakarta : Raja Grafindo Persada) ,160
[8] Lexy J Moleong, metodologi penelitian kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya), 168
[9] Sugiyono,Metode, 305
[10] Lexy J Moleong, metodologi, 172-173
[11] S. Margono, metodologi penelitian pendidikan, Jakarta :Rineka Cipta, 156
[12] Sugiyono, metode, 148
[13] Ibid, 148
[14]Sukidin, dkk., Manajemen Penelitian Tindakan Kelas, ( Jakarta : Insan Cendekia, cet.ke-4), 100
[15]Sutrisno Hadi, Metodologi Research, (Yogyakarta : Andi Offset, cet. Ke-23, 1994), 123
[16]Punaji Setyosari, Metode Penelitian Pendidikan Dalam Pengembangan, (Jakarta : Prenada Media Group, cet. Ke-2), .205
[17] S. Margono,metodologi , 157-158
[18] Sugiyono,metode, 149-152
[19] Sandjaja Heriyanto, Panduan Penelitian, (Jakarta : Prestasi Pustaka,2006), 67-70
[20] Ibid, 75
[21] Ibid,81
[22] Ibid,105
[23] Sugiyono,Metode,310.
[25] C.V Good,A.S Barr and D.E Scates, the methodology of educational Research (New York : Appleton Century-Grofits,Inc,1936). 404-406
[26] Sugiyono, metode,310
[27] Sutrisno Hadi, 141
[28] Sutrisno Hadi, 142-143
[29] Ibid, 145
[30] Ibid, 150-152
[31] Sutrisno hadi,metodologi, 151
[32] Ibid, 151
[33] Ibid, 153-154
[34] Sugiyono, 317
[35] Ibid, 318
[37] Byrne, M. 2001. Interviewing as a data collection method. Association of Operating Room Nurses. AORN Journal
[38] Sutrisno hadi, metodologi 201
[39] Ibid, 202
[40] Sugiyono, Metode, 322
[41] S. Margono. Metodologi, 167
[42] Iskandar. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial (Kuantitaif dan Kualitatif). (Jakarta: Gaung Persada Group), 77
[43] Sugiyono, metode, 199-203
[44] Sutrisno hadi, 159-160
[45] Ibid, 165-166
[46] Ellis,Jeffry T.Fouts.1993. Research on Educational Innovation, (USA:Eye Education ), 89-90
[47] Lexy J Moleong,Metodologi 216
[48] Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif,Jakarta: Kencana Prenada Media Group,2011, 126
[49] Sugiyono, Metode, 329
[50] Lexy J Moleong ,metodologi , 220



Komentar
Posting Komentar