Kemukjizatan Al-qur'an ( I’jazi al-Qur’an)

Kemukjizatan Al-qur'an ( I’jazi al-Qur’an)
Kemukjizatan Al-qur'an ( I’jazi al-Qur’an)
1.      Pengertian Kemukjizatan al-Qur’an dan Mu’jizat
Kemukjizatan Al-qur'an ( I’jazi al-Qur’an), menurut bahasa kata i’jaz adalah mashdar dari kata kerja a’jaza, yang berarti melemahkan. Kata a’jaza ini termasuk fi’il ruba’i mazid yang berasal dari fi’il tsulasi mujarrad ajaza yang berarti lemah, lawan dari qodara yang berarti kuat/mampu[1].
Dalam hal ini Dawud Al-Aththar dalam kitabnya Mujaz ‘Ulum Al-Qur’an, menjelaskan bahwa I’jaz secara bahasa berarti  “keluputan”. Dikatakan: A’jazani al-amru”, artinya: Perkara itu luput dariku”. Juga berarti ”membuat tidak mampu”. Seperti dalam contoh A’jaza akhahu (dia telah membuat saudaranya tak mampu) manakala dia telah menetapkan ketidakmampuan saudaranya itu dalam suatu hal atau berarti juga “dia telah menjadikan saudaranya itu tidak mampu”[2].
I’jaz menurut Istilah adalah sesuatu yang membuat manusia tidak mampu, baik secara sendiri-sendiri ataupun bersama-sama, untuk mendatangkan yang seperti itu[3].
Sedangkan kata mukjizat dalam kamus besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai “kejadian ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia.”

Kata mukjizat terambil dari kata bahasa arab اَعْجَزَ   (a’jaza) yang berarti “melemahkan atau menjadikan tidak mampu”. Pelakunya (yang melemahkan) dinamai mu’jiz dan bila kemampuannya melemahkan pihak lain amat menonjol sehingga mampu membungkam lawan, maka ia dinamai مُعْجِزَةٌ(mu’jizat). Tambahan ta’ marbuthah pada akhir kata itu mengandung makna mubalaghah(superlatif).
Mukjizat didefinisikan oleh pakar agama Islam, antara lain sebagai “suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seorang yang mengaku nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, namun mereka tidak mampu melayani tantangan itu[4].
 Bisa dikatakan bahwa mu’jizat adalah apa yang dibawa oleh seorang manusia (nabi) yang memperoleh penguatan dari Allah dan yang tak mampu didatangkan oleh orang lain; ia tidak bersifat mustahil secara rasional; ia melanggar hukum-hukum alam, guna menguatkan perutusan Ilahi yang didakwakannya[5].
Dalam hal ini al-Zarqani menjelaskan bahwa mukjizat adalah sesuatu yang luar biasa yang tak dapat ditantang atau dikalahkan oleh yang menantangnya, yang dibawa oleh orang yang mengklaim menjadi Nabi utusan Allah sebagai bukti atas risalahnya seperti tongkat Nabi Musa, ketika dijatuhkannya berubah wujudnya menjadi seekor ular besar yang menakutkan. Ketika diambil kembali oleh Nabi Musa, lantas ular itu berubah lagi menjadi tongkat seperti biasa[6]
Oleh karena itu Kemukjizatan Al-qur'an ( I’jazi al-Qur’an) ialah ilmu yang menerangkan kekuatan susunan lafal dan kandungan Al-Qur’an, hingga dapat melemahkan semua ahli bahasa arab maupun ahli-ahli lain dalam bidang yang lain pula. Memang mu’jizat itu sendiri memiliki lingkup yang luas seperti yang dikatakan oleh Manna Qathan:

اَلْمُعْجِزَةُ اَمْرٌ خاَرِقٌ لِلْعاَدَةِ مَقْرُوْنٌ بِالتَّحَدِّى ساَلِمٌ عَنِ الْمُعاَرَضَةِ
Artinya: “Mu’jizat adalah sesuatu yang menyalahi adat, hadir bersama kemenangan dan terbebas dari kontroversial[7].
Oleh karena itu, barangsiapa yang mendatangkan suatu perkara yang didasarkan pada pancaindera dan pengalaman, maka itu bukanlah mukjizat, karena tidak adanya unsur pelanggaran hukum alam didalamnya. Jadi, kemampuan untuk terbang ke bulan, misalnya atau ke planet Mars, bukanlah mukjizat, sebab ia ditegakkan diatas dasar pengalaman dan percobaan, didahului oleh proses belajar, penelitian dan percobaan, dan tak memiliki sifat melanggar hukum alam.
Begitu pula halnya dengan kepandaian mengobati penyakit-penyakit yang sulit. Sebab ketidakmampuan orang lain untuk melakukan hal-hal seperti itu bukanlah ketidakmampuan yang bersifat mutlaq, melainkan relatif yang disebabkan oleh tidak adanya ilmu atau pengalaman[8].

2.      Tujuan Kemukjizatan Al-qur'an ( I’jazi al-Qur’an)

Setelah diketahui pengertian I’jazil Qur’an, perlu dijelaskan  tujuannya, agar tidak menimbulkan salah sangka. Sebab mukjizat walaupun dari segi bahasa berarti melemahkan sebagaimana dikemukakan diatas, namun dari segi agama, ia sama sekali tidak dimaksudkan untuk melemahkan atau membuktikan ketidak mampuan yang ditantang. Mukjizat ditampilkan oleh Tuhan melalui hamba-hamba pilihan-Nya untuk membuktikan kebenaran ajaran Ilahi yang dibawa oleh masing-masing nabi.
Secara garis besar ada dua tujuan I’jaz al-Qur’an yaitu diantaranya;
Pertama, Kemukjizatan Al-qur'an ( I’jazi al-Qur’anbagi yang telah percaya pada nabi, maka ia tidak lagi membutuhkan mukjizat. Ia tidak lagi ditantang untuk melakukan hal yang sama. Mukjizat yang dilihat atau dialaminya hanya berfungsi memperkuat keimanan, serta menambah keyakinannya akan kekuasaan Allah Swt. Kedua, tetapi tentu saja ada diantara anggota masyarakat yang meragukan sang nabi sebagai utusan Tuhan, antara lain dengan dalih bahwa “dia adalah manusia biasa seperti kita”. Dari sini dibutuhkan khususnya bagi mereka yang ragu atau tidak percaya bukti kenabian langsung dari Allah Swt yang mengutusnya. Bukti tersebut tidak lain kecuali apa yang dinamai mukjizat[9].
Dalam Hal ini Muchotob Hamzah menguraikan beberapa fungsi kemu’jizatan Al-Qur’an antara lain:
a.       Sebagai bukti kebenaran pengakuan Nabi Muhammad Saw, sebagai utusan Allah SWT
b.      Sebagai bukti bahwa Al-Qur’an bukan produk insany, akan tetapi produk Ilahy
c.       Sebagai pematah hujjah penentangan orang-orang kafir
d.      Sebagai penguat perjuangan Rasulullah, dalam mengemban risalah
e.       Sebagai pemantap iman kaum muslimin
f.          Sebagai pengganti mu’jizat para Nabi terdahulu yang merupakan mu’jizat hissiyah dan hanya dibuktikan oleh umat-umat yang sejaman dengan nabi pembawa mu’jizat. Sedangkan Al-Qur’an bersifat ma’nawiyah aqliyah yang dapat dibuktikan oleh umat zaman Nabi hingga akhir zaman[10].

3.      Macam-Macam I’jaz al-Qur’an
Dalam menjelaskan macam-macam Kemukjizatan Al-qur'an ( I’jazi al-Qur’an)ini para ulama berlainan keterangan. Hal ini disebabkan karena perbedaan tinjauan masing-masing, diantaranya yaitu:
Dr. Abd. Razzaq Naufal, dalam kitab Al-I’jazu Al-Adadi lil Qur’anil Karim menerangkan bahwa I’jazil Qur’an itu ada 4 macam, sebagai berikut:
a.       Al-I’jazul Balaghi, yaitu kemukjizatan segi sastra balaghahnya.
b.      Al-I’jazut Tasyri’i, yaitu kemukjizatan segi pensyariatan hukum-hukum ajarannya.
c.       Al-I’jazul Ilmu, yaitu kemukjizatan segi ilmu pengetahuan.
d.      Al-I’jazul Adadi, yaitu kemukjizatan segi kuantity atau matematis/statistik[11].
Sebagai gambaran I’jazul Adadi menurut Dr. Abd. Razzaq Naufal, berikut diberikan contoh-contohnya:
a.       Dalam Al-Qur’an kata iblis disebutkan sampai 11 kali/ayat, maka ayat yang menyuruh mohon perlindungan dari iblis itu juga disebutkan 11 kali pula.
b.      Kata musibah dengan segala bentuk tasrifnya dalam Al-Qur’an disebutkan sampai 75 kali. Dan dengan jumlah 75 kali pula lafal syukur dan semua bentuknya yang merupakan ungkapan bahagia terhindar dari musibah itu[12].
Imam Al-Khoththoby dalam buku Al-Bayan Fi I’jazil Qur’an mengatakan, bahwa kemukjizatan Al-Qur’an itu terfokus pada bidang kebalaghahan saja. Dengan kata lain, beliau menganggap bahwa I’jazul Qur’an itu hanya satu macam saja intinya, yaitu hanya Al-I’jazul Balaghi. Sebab, kemukjizatan Al-Qur’an itu hanya terdiri dari segi balaghah saja, sekalipun dengan lafal dan maknanya bersama. Maksudnya dengan susunan uslub yang demikian itu bisa mencakup kefasihan lafal, kebaikan susunan, dan keindahan makna.
Sebenarnya, segala yang ada dalam Al-Qur’an itu mu’jiz atau menjadi mukjizat, baik keserasian susunan huruf-hurufnya, ketertiban kalimat-kalimatnya, atau kefasihan lafal-lafalnya, maupun keindahan uraian isi maknanya[13].
Ada dua macam mu’jizat yang Allah berikan kepada Rasul-rasul-Nya, yaitu:
a.       Hissiyah atau indrawi.
Contoh mu’jizat ini berupa tongkat Nabi Musa, onta Nabi Shalih, dan lain-lain[14]. Umat para nabi khususnya sebelum Nabi Muhammad Saw amat membutuhkan bukti kebenaran, yang harus sesuai dengan tingkat pemikiran mereka. Nah ketika itu bukti tersebut harus demikian jelas dan langsung terjangkau oleh indra mereka. Tetapi setelah manusia mulai menanjak ke tahap kedewasaan berpikir, maka bukti yang bersifat indrawi tidak dibutuhkan lagi.
Itu sebabnya Nabi Muhammad Saw. Ketika dimintai bukti-bukti yang sifatnya demikian oleh mereka yang tidak percaya, beliau diperintahkan oleh Allah untuk menjawab[15]:
"Maha Suci Tuhanku, bukankah Aku Ini Hanya seorang manusia yang menjadi rasul?" ( QS. Al-Isra’: 93 )[16].
Dalam ayat lain Nabi Muhammad Saw diperintahkan oleh Allah Swt. Untuk menjawab:
Katakanlah: "Sesungguhnya mukjizat- mukjizat itu terserah kepada Allah. dan Sesungguhnya Aku Hanya seorang pemberi peringatan yang nyata".(QS. Al-Ankabut: 50)[17].
b.      Aqliyah.
Mu’jizat ini diberikan kepada Nabi Muhammad Saw, berupa Al-Qur’an. Dalam Hal ini Rasulullah bersabda :
 “ Tiada seorangpun Nabi dari Nabi-nabi Allah terdahulu kecuali mereka diberi mu’jizat yang sesuai, agar manusia percaya kepadanya. Tetapi mu’jizat yang diberikan kepadaku adalah berupa wahyu yang disampaikan Allah kepadaku. Aku berharap agar diriku menjadi Nabi yang terbanyak pengikutnya “ (HSR. Bukhary)

Begitulah, mu’jizat Al-Qur’an bersifat abadi. Penafsiran Al-Qur’an dan pengkajiannya, tidak akan selesai meskipun seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut menjadi tinta serta ditambahkan tujuh laut sesudah keringnya, niscaya tidak akan ada habis-habisnya kalimat Allah SWT[18]. Seperti firman Allah:
Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. Lukman : 27)[19].
4.    Segi-segi kemu’jizatan Al-Qur’an
Yang dinaksud segi-segi Kemukjizatan Al-qur'an ( I’jazi al-Qur’an) ialah hal-hal yang ada pada Al-Qur’an yang menunjukkan bahwa kitab itu adalah benar-benar wahyu Allah SWT, dan ketidakmampuan jin dan manusia untuk membikin hal-hal yang sama seperti yang ada pada Al-Qur’an.
Untuk menentukan segi-segi I’jazil Qur’an, para ulama berbeda pandangan antaa lain:
Syekh Abd. Adhim Az-Zarqony mengatakan bahwa: orang yang mengamati Al-Qur’an dengan seksama akan mengetahui segi-segi kemukjizatan Al-Qur’an yang sangat menakjubkan, diantaranya sebagai berikut:
a.      Indah susunannya, berbeda dengan setiap susunan yang ada dalam bahasa orang-orang Arab.
Cara penyusunan bahasanya tampak baik, tertib, dan berkaitan antara satu dengan yang lain, sehingga tidak kelihatan adanya perbedaan-perbedaan antara surah satu dengan yang lain, meski Al-Qur’an itu diturunkan secara berangsur-angsur sedikit demi sedikit selama 22 tahun lebih. Tidak kelihatan sedikitpun adanya perbedaan gaya bahasa, loncatan kata, dan kelainan ungkapan. Bahkan tampak kebulatan dan kesinambungan serta keterkaitan antara satu dengan yang lain, sehingga pembaca tidak menduga kalau turunnya secara berangsur-angsur dalam waktu yang lama[20]. Keindahan susunan yang berlainan dengan setiap susunan manapun dalam bahasa Arab. Susunannya tidak tersamai oleh apapun. Ia bukan syair, dan bukan pola prosa. Sejarah dibawah ini menjadi saksi:
1). Imam Baihaqy dalam Dala-ilun Nubuwwah menceritakan; intinya bahwa Walid bin Mughirah sebagai orang terkaya dan terpandai dari kalangan kafir Quraisy diminta Abu Jahal agar sebisanya membujuk, menandingi, atau mengalahkan Nabi Muhammad Saw. Akan tetapi setelah berdialog dengan Nabi, ia malah bicara dengan Abu Jahal:
Demi Allah ! ucapan (Muhammad) itu manis dan indah yang atas berbuah, dan yang bawah subur. Sungguh Al-Qur’an itu tinggi dan tidak ada yang melebihinya”. Mendengar ucapan walid seperti itu, Abu Jahal langsung menjawab: “Demi Allah, kaummu tidak rela dengan ucapanmu itu”.

2). Imam Muslim menceritakan yang intinya, bahwa Anis Al-Ghiffari ( saudara abu Dzarrin) datang ke Makkah bertemu dengan orang islam yang meyakini bahwa Nabi Muhammad sebagai utusan Allah. Menurut orang Islam itu, ia (Muhammad) oleh khalayak ramai dikatakan penyair, tukang tenung, dan tukang sihir. Setelah mendengar Al-Qur’an, maka Anis berkata:
“Aku telah mendengar ucapan tukang tenung, tetapi (Al-Qur’an) bukan ucapan mereka. Aku terapkan (Al-Qur’an) pada macam-macam bentuk sya’ir, tapi tidak ada persesuaiannya dengan salah seorangpun dari ahli sya’ir bahwa (Al-Qur’an) itu syair. Demi Allah, mereka adalah pendusta, dan (Muhammad) adalah orang yang benar”[21].

b.      Uslubnya yang aneh dan berbeda dengan semua uslub bahasa Arab.
Keindahan bahasa dan uslub Al-Qur’an. Al-Uslubul ‘Ajib (Uslubnya yang ajaib). Segi bahasa dan uslubnya sangat indah dan amat menarik merupakan kemukjizatan Al-Qur’an, karena memiliki kekhususan yang tinggi, sehingga amat mengherankan dan bahkan dapat melemahkan manusia yang mendengarkannya. Hal ini terbukti banyak orang masuk Islam karena hanya mendengarkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an. Uslub Al-Qur’an begitu menakjubkan dan berbeda dengan uslub manusia. Ia mempunyai keistimewaan antara lain:
1). Kelembutan Al-Qur’an secara lafzhiyah yang terdapat dalam susunan suara dan keindahan bahasanya seperti lafal اَلْاَلْباَبُ,اَلْاَكْواَبِ yang selalu diucapkan dalam bentuk jama’. Terhadap lafadz-lafadz tersebut , Al-Qur’an tidak pernah menyebut bentuk mufradnya. Sebaliknya ada lafadz yang selalu disebut mufradnya karena keindahannya[22], meskipun untuk menyebut banyak seperti firman Allah (QS. At-Thalaq:12)
c.       Keagungan sifatnya yang mustahil bagi makhluk untuk menandinginya
Al-Qur’an bersifat Ijaz (simple) yang indah, dan kemegahan ucapan yang luar biasa di luar kemampuan manusia. Seperti firman Allah SWT:[23]
Dari sebuah ayat tersebut, seorang gadis kecil yang berdialog dengan al-Ashmuiy berkata : ayat ini dengan ringkasnya telah mengumpulkan dua amar, dua nahi dan dua kabar gembira. Pendeknya pada setiap surat bahkan ayat, selalu menampakkan nuzhum, uslub dan keanggunan yang tak tertandingi.

d.      Kedalaman undang-undangnya lagi sempurna, melebihi semua undang-undang produk manusia.
Undang-undang Ilahy yang sempurna. Yang membuktikan bahwa Al-Quran itu mujiz atau menjadi mukjizat ialah karena kitab suci ini bisa memenuhi segala kebutuhan manusia, baik yang berupa petunjuk-petunjuk dalam berbagai segi kehidupan, ataupun berujud tuntunan dalam bermacam-macam peribadatan, maupun yang berbentuk benih-benih dalam beraneka disiplin ilmu pengetahuan disepanjang zaman. Hal ini tidak pernah terjadi di dalam kitab suci lain. Atau pun agama lain[24].
 Al-Qur’an menjelaskan pokok-pokok aqidah, hukum-hukum ibadah, norma-norma keutamaan dan sopan santun, undang-undang hukum ekonomi, politik, sosial dan kemasyarakatan. Al-Qur’an mengatur kehidupan individu, keluarga dan masyarakat[25].

e.       Selaras dengan pengetahuan-pengetahuan umum yang telah dipastikan kebenarannya.
Sejalan dengan ilmu pengetahuan modern. Diantara segi kemu’jizatan Al-Qur’an yaitu adanya beberapa petunjuk detail tentang sebagian ilmu pengetahuan umum yang telah dinyatakan lebih dahulu dalam Al-Qur’an, sebelum ditemukan oleh sains modern. Temuan-temuan ilmiah tak lain akan menguatkan kebenaran Al-Qur’an. Seperti firman Allah SWT:
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fushilat :53)[26]
f.       Memenuhi segala kebutuhan manusia (وَفاَؤُهُ بِحاَجَةِالْبَشَرِ)
Aspek ini sangat jelas dari Kemukjizatan Al-qur'an ( I’jazi al-Qur’an) datang dengan petunjuk-petunjuk yang sempurna, fleksibel dan luwes, memenuhi segala kebutuhan manusia, antara lain : perbaikan individu, perbaikan masyarakat, perbaikan aqidah, perbaikan ibadat, perbaikan akhlaq, perbaikan hukum dan politik, perbaikan urusan keuangan, perbaikan urusan perang, perbaikan kebudayaan ilmiah, dan pembebasan akal dan fikiran dari segala bentuk khurafat[27].
g.      Terhindar dari kontradiksi  (سَلاَمَتُهُ مِنَ التَّناَقُضِ)
Terhindar dari kontradiksi, berbeda dengan kata-kata manusia. Seperti firman Allah:
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. An-Nisa:82)[28].
h.      Kemukjizatan Al-Qur’an tampak dalam segi cara-caranya mengadakan perbaikan dan kemaslahatan-kemaslahatan bagi umat manusia.
Al-Qur’an menempuh cara yang sangat bijaksana sehingga amat mengherankan dalam mengarahkan umat menuju jalan kebaikan, kemaslahatan, dan kesejahteraan dalam berbagai segi kehidupan. Cara Al-Quran itu jelas berbeda dengan cara yang sering ditempuh manusia. Hal itu membuktikan bahwa cara Al-Qur’an itu bukan rekayasa Nabi Muhammad SAW, sehingga menunjukkan kemukjizatan Al-Qur’an. Suatu misal:
1). Cara Al-Qur’an melarang sesuatu barang/perbuatan ditempuh secara bertahap, sehingga mudah dikerjakan orang, setelah dia bisa menyesuaikan diri. Hal ini seperti cara Al-Qur’an mengharamkan minuman keras (khamar). Mula-mula ia (khamar) hanya disebutkan ada manfaat dan mudharatnya (ayat 219 surah Al-Baqarah). Setelah itu diturunkan  ayat 43 surah An-Nisa. Yakni, ayat yang melarang minuman keras (khamar) jika sudah dekat waktu shalat. Setelah umat bisa meninggalkan minuman keras itu, barulah diturunkan ayat 90 surah Al-Maidah, yang mengharamkan minuman keras secara tegas.
i.  Adanya ayat teguran
Di dalam Al-Qur’an terkadang terdapat ayat-ayat teguran, yang menegur kekeliruan pendapat Nabi Muhammad SAW. Kadang-kadang teguran itu secara tegas dan keras, kadang-kadang secara lunak dan lemah lembut.
Orang yang berpikiran sehat, tentu mengakui bahwa Al-Qur’an itu wahyu Allah SWT, bukan bikinan Nabi Muhammad SAW. Hal itu dibuktikan dengan adanya ayat-ayat teguran kepada Nabi tadi. Sebab, seandainya Al-Qur’an itu bikinan Nabi Muhammad sendiri, tentunya tidak mungkin di dalamnya ada teguran-teguran terhadap dirinya sendiri, bahkan orang itu biasanya cenderung akan selalu membela dirinya, bukan malah memperlihatkan kesalahan pribadi dan menegur dirinya sendiri[29].
Contoh teguran keras kepada Nabi Muhammad SAW ialah, seperti ayat 1-11 surah ‘Abasa
(1). Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling (2). Karena Telah datang seorang buta kepadanya (3)Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) (4) Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? (5). Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (6).Maka kamu melayaninya (7).Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman)(8). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran) (9).Sedang ia takut kepada (Allah) (10).Maka kamu mengabaikannya (11). Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan. (QS. Abasa : 1-11).

Dalam hal ini Prof DR. Nashruddin Baidan juga menjelaskan tentang segi kemukjizatan Al-Qur’an. Beliau membedakan kedalam dua kelompok besar. Pertama dari segi redaksi yang mencakup aspek susunan ayat demi ayat, surat demi surat dalam mushaf, serta penempatan suatu kata dan susunannya dalam kalimat, dan lain-lain.
Kedua  dari segi makna. Ini mencakup aspek makna atau semantik yang terkandung oleh ayat-ayat al-Qur’an seperti pemberitaan Al-Qur’an tentang hal-hal yang ghaib, baik pada masa lampau, sekarang, maupun yang akan datang. Demikian pula konotasi ayat-ayat Al-Qur’an mengisyaratkan kepada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semua itu merupakan mukjizat bagi Al-Qur’an yang tak dapat ditandingi oleh siapapun[30].





[1] Abdul Jalal, Ulumul Qur’an, ( Surabaya : Dunia Ilmu, 2012 ), 267.
[2] Dawud Al-Aththar, Mujaz ‘Ulum Al-Qur’an, diterjemahkan Afif Muhammad dan Ahsin Muhammad, 50.
[3] Ibid., 50.
[4] Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an, ( Bandung : Mizan, 1997),  23.
[5] Dawud Al-Aththar, Mujaz ‘Ulum Al-Qur’an, diterjemahkan Afif Muhammad dan Ahsin Muhammad, 51.
[6]Muhammad ‘Abd. Al-Azhim al-Zarqani, Manahil Irfan fi Ulum al-Qur’an, Isa al-Bab al-Halabi, 73-75
[7] Muchotob Hamzah, Studi Al-Qur’an Komprehensif, ( Yogyakarta : Gama Media, 2003 ), 212.
[8] Dawud Al-Aththar, Mujaz ‘Ulum Al-Qur’an, diterjemahkan Afif Muhammad dan Ahsin Muhammad, 51.
[9] Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an, 35.
[10] Muchotob Hamzah, Studi Al-Qur’an Komprehensif,  235.
[11] Abdul Jalal, Ulumul Qur’an, 272.
[12] Ibid., 272
[13]Ibid., 273
[14] Ibid., 213
[15]Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an, 37
[16]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan, 284
[17]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan, 396
[18] Muchotob Hamzah, Studi Al-Qur’an Komprehensif,  213
[19] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan, 411
[20]Abdul Jalal, Ulumul Qur’an, 282
[21] Ibid., 215.
[22] Ibid., 218
[23] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan, 412
[24]Abdul Jalal, Ulumul Qur’an, 284
[25] Ibid., 219
[26]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan, 477
[27] Ibid., 223
[28]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan, 77
[29]Abdul Jalal, Ulumul Qur’an, 290.
[30] Nashruddin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2005 ), 120.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANGGAPAN DASAR DAN HIPOTESIS

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP STUDI QURAN

AL- JARH WA AT-TA’DIL (ADIL DAN CACAT PERAWI HADIST)