KISAH-KISAH (QASHASH) DALAM AL-QUR'AN
A. Pengertian Kisah-Kisah (Qashash) dalam Al Qur’an
Qasas al-Qur'an adalah pemberitaan Qur'an yang membahas tentang hal ihwal umat-umat yang telah lalu, nubuwat (kenabian) yang terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang terjadi. 3
Kata qasas merupakan bentuk masdar dari qassa, yaqussu, qasasan. Ia bermakna : urusan, berita, kabar, dan keadaan. Kata “al – qasas” juga berarti mencari atau mengikuti jejak. Pemaknaan seperti ini sebagaimana tercermin dalam Q.S. Al – Kahfi : 64
64. Musa berkata: "Itulah (tempat) yang kita cari". lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula
dan dalam Q.S A l – Qasas : 11
11. Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: "Ikutilah dia" Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya,
Ia juga berarti yang diikuti karena kebenarannya, sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam Q.S Ali Imran : 62
62. Sesungguhnya Ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan Sesungguhnya Allah, dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana .
62. Sesungguhnya Ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan Sesungguhnya Allah, dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana .
Dari serangkaian di atas, Qasas Al Quran adalah pemberitaan al – Quran tentang kedaan – keadaan umat terdahulu dan kenabian (nubuwat) terdahulu dan peristiwa – peristiwa yang telah terjadi.
B. Macam – macam Kisah dalam Al – Quran dan Karakteristiknya
1. Macam-macam Kisah-Kisah (Qashash) dalam Al Qur’an
Materi / isi kisah - kisah yang disampaikan dalam Al Quran menurut Mana’ul Quthan4 ada 3 macam:
a. Kisah para Nabi. Kisah ini mengandung ajakan kepada kaumnya, mukjizat – mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada mereka untuk memperkuat kenabian (kerasulannya), menghentikan orang – orang yang menentangnya, mengandung tahap – tahap perkembangan dakwah, balasan bagi orang – orang yang beriman dan yang mendustakannya. Misalnya kisah Nabi Nuh AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi MusaAS, Nabi Harun AS, Nabi IsaAS, dan Nabi Muhammad SAW.
b. Kisah – kisah yang berhubungan dengan peristiwa masa lalu dan orang – orang yang tidak dipastikan kenabiannya. Misalnya kisah orang yang keluar dari kampung halaman karena takut mati, kisah Talut dan Jalut, dua orang putera Adam AS, kisah Ashab Al – Kahfi, Zulkarnain, Qarun, orang – orang yang menangkap ikan pada hari Sabtu (ashab as – sabti), Maryam, Ashab al – ukhdud, ashab al – fil, dan lain lain
c. Kisah - kisah yang berhubungan dengan peristiwa – peristiwa yang terjadi di masa Nabi Muhammad SAW, seperti perang Badar, perang Uhud, (dalam surah Ali Imran), Perang Hunain dan Tabuk (dalam surah At – Taubah), perang Ahzab (dalam surah Al – Ahzab), hijrah, isra’ dan lain – lain.
Sedangkan menurut Abdul Djalal HA5, kisah-kisah dalam Al-Quran itu bermacam-macam, ada yang menceritakan para Nabi dan umat-umat dahulu, dan ada yang mengisahkan berbagai macam peristiwa dan keadaan, dari masa lampau, kini, ataupun masa yang akan datang.5
a. Kisah hal-hal ghaib pada masa lalu
Yaitu kisah yang menceritakan kejadian-kejadian ghaib yang sudah tidak bisa ditangkap oleh panca indera, yang terjadinya di masa lampau.
Contohnya seperti kisah-kisah Nabi Nuh, Nabi Musa, dan kisah Maryam, sebagaimana yang diterangkan dalam ayat 44 surah Ali Imran:
44. Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang kami wahyukan kepada kamu (Ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.
44. Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang kami wahyukan kepada kamu (Ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.
b. Kisah hal-hal ghaib pada masa kini
Yaitu kisah yang menerangkan hal-hal ghaib pada masa sekarang, (meski sudah ada sejak dulu dan masih akan tetap ada sampai masa yang akan datang) dan yang menyingkap rahasia orang-orang munafik.
Contohnya seperti kisah yang menerangkan tentang Allah SWT dengan segala sifat-sifat-Nya, para malaikat, jin, syetan, siksaan neraka, kenikmatan surga, dan sebagainya. Kisah-kisah tersebut dari dahulu sudah ada, sekarang pun masih ada dan hingga masa yang akan datang pun masih ada. Seperti dalam ayat 1-9 surah An-Naziat:
1. Demi (Malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras,
1. Demi (Malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras,
2. Dan (Malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut,
3. Dan (Malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat,
4. Dan (Malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang,
5. Dan (Malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)[1550].
6. (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncang Alam,
7. Tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua.
8. Hati manusia pada waktu itu sangat takut,
9. Pandangannya tunduk.
Contoh yang menerangkan kaum munafik, seperti dalam ayat 107 surah At-Taubah:
107. Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang Telah memerangi Allah dan rasul-Nya sejak dahulu[660]. mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." dan Allah menjadi saksi bahwa Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).
c. Kisah hal-hal ghaib pada masa yang akan datang
Yaitu kisah-kisah yang menceritakan peristiwa-peristiwa akan datang yang belum terjadi pada waktu turunnya Al-Quran, kemudian peristiwa tersebut betul-betul terjadi. Karena itu pada masa sekarang ini, berarti peristiwa yang dikisahkan itu telah terjadi.
Contohnya seperti kemenangan bangsa Romawi atas Persia, yang diterangkan ayat 1-4 surah Ar-Rum, dan seperti mimpi Nabi bahwa beliau akan dapat masuk Masjidil Haram bersama para sahabat, dalam keadaan sebagian mereka bercukur rambut dan yang lain tidak. Pada waktu perjanjian Hudaibiyah, Nabi gagal masuk Mekkah, sehingga diejek orang-orang Yahudi, Nasrani, dan kaum Munafik, bahwa mimpi Nabi itu tidak terlaksana. Maka turunlah ayat 27 surah Al-Fath:
27. Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan Sebenarnya (yaitu) bahwa Sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.
27. Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan Sebenarnya (yaitu) bahwa Sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.
Contoh lain seperti jaminan Allah terhadap keselamatan Nabi Muhammad SAW dari penganiayaan orang, meski banyak orang yang mengancam akan membunuhnya. Hal ini seperti ditegaskan dalam ayat 67 surah Al-Maidah:
67. Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
2. Karakteristik Kisah-Kisah (Qashash) dalam Al Qur’an
Al Qur’an tidak menceritakan kejadian dan peristiwa-peristiwa secara berurutan (kronologis). Sebuah kisah terkadang berulang kali disebutkan dalam al qur’an dan dikemukakan dalam berbagai bentuk yang berbeda. Disatu tempat ada bagian-bagian yang didahulukan, sedang di tempat lain diakhirkan. Demikian pula terkadang dikemukakan secara ringkas dan kadang-kadang secara panjang lebar.
Penyajian kisah-kisah dalam al Qur’an begitu rupa mengandung beberapa hikmah. Di antaranya, pertama, menjelaskan balaghah al Qur’an [1]dalam tingkat paling tinggi. Kisah yang berulang itu dikemukakan di setiap tempat dengan uslub yang berbeda satu dengan yang lain serta dituangkan dalam pola yang berlainan pula, sehingga tidak membuat orang merasa bosan karenannya, bahkan dapat menambah ke dalam jiwanya makna-makna baru yang tidak didapatkan di saat membacanya di tempat yang lain.
Kedua, menunjukkan kehebatan al Qur’an. Sebab, mengemukakan sesuatu makna dalam berbagai bentuk susunan kalimat di mana salah satu bentuk pun tidak dapat ditandingi oleh sastrawan arab, merupakan tantangan dahsyat dan bukti bahwa al Qur’an itu datang dari Allah. (Baca juga: Konsep Analisis Data Metode Penelitian)[
Ketiga, mengundang perhatian yang besar terhadap kisah tersebut agar pesan-pesannya lebih mantap dan melekat dalam jiwa. Hal ini karena pengulangan merupakan salah satu cara pengukuhan dan tanda betapa besarnya perhatian al qur’an terhadap masalah tersebut. Misalnya kisah Musa dengan Fir’aun. Kisah ini menggambarkan pergulatan sengit antara kebenaran dengan kebatilan.
Keempat, penyajian seperti itu menunjukkan perbedaan tujuan yang karenannya kisah itu diungkapkan. Sebagian dari makna-maknanya diterangkan di satu tempat, karena hanya itulah yang diperlukan, sedangkan makna-makna lainnya dikemukakan di tempat yang lain, sesuai dengan tuntutan keadaan.6
Pendapat tentang karakteristik Al-Quran juga disampaikan oleh Kadar M. Yusuf sebagai berikut.7
a. Kisah dalam Al-Quran selalu tidak tuntas dan detail.
b. Kisah dalam Al-Quran selalu terulang. Hal ini misalnya dapat dilihat kisah Adam dan Iblis. Kisah ini terulang dalam berbagai surah, yaitu Al-Baqarah (2), Al-A’raf (7), dan lain sebagainya. Demikian pula kisah Nabi Musa, ia terdapat dalam Al-Baqarah (2), Al-A’raf (7), dan Yunus (10).
c. Kisah Al-Quran selalu tidak menyebutkan tokoh dalam cerita, seperti kisah Ashabul Kahfi dan laki-laki yang ditemui oleh Nabi Musa di tepi pantai yang dijelaskan dalam surah Al-Kahfi.
d. Kadang-kadang kisah tidak dimulai dari awal persitiwa, tetapi mungkin dari pertengahan. Hal itu seperti yang terlihat dalam kisah penyembelihan sapi betina, untuk menentukan pelaku tindak kejahatan pembunuhan terhadap seorang anak orang kaya. Kisah ini terdapat dalam Surah Al-Baqarah (2) ayat 67.
Mufassiryang ingin menjelaskan makna Al-Quran dari aspek sejarah terkadang menemui kesulitan, terutama jika ingin menjelaskan nama tokoh dalam suatu kisah atau jika ingin menjelaskan suatu kisah dengan detail. Hal inilah yang menyebabkan masuknya cerita isra’iliyat dalam tafsir Al-Quran, dimana cerita yang bersumber dari ahlul kitab dijadikan sumber dalam menafsirkan ayat-ayat yang berbicara tentang kisah umat masa lalu.
C. Tujuan Kisah-Kisah (Qashash) dalam Al Qur’an
Sayyid Qutub8menjelaskan bahwa tujuan kisah dalam al-Qur’an adalah sebagai berikut.
1. Untuk menetapkan bahwa Al – Quran adalah benar – benar wahyu dari Allah dan Muhammad SAW adalah utusan Allah yang ummi, ia tidak pandai membaca, menulis dan tidak pernah belajar kepada pendeta Yahudi dan Nasrani, sebagaimana yang telah dituduhkan oleh orang – orang yang tidak menyukainya.
2. Untuk menerangkan bahwa semua agama Samawi sejak Nabi Nuh sampai kepada Nabi Muhammad SAW semuanya bersumber yang sama, yaitu Allah SWT. Dan semua umat yang beriman merupakan umat yang satu dan bahwa Allah SWT adalah Tuhan bagi semuanya. Hal ini sebagaimana termaktub dalam Q.S Al – Anbiyya’ : 48
48. Dan Sesungguhnya Telah kami berikan kepada Musa dan Harun Kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
3. Untuk menjelaskan bahwa agama samawi itu asasnya sama (satu), yaitu mentauhidkan Allah SWT sebagaimana termaktub dalam Q.S Hud : 50
50. Dan kepada kaum 'Ad (Kami utus) saudara mereka, Huud. ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. kamu hanyalah mengada-adakan saja.
4. Untuk menerangkan bahwa misi para nabi dalam berdakwah adalah untuk Allah dan sebutan kaumnya pun sama, serta bersumber dari yang sama. Secara konteks saat itu pun tidak memiliki perbedaan yang sangat signifikan, maka dari itu cara berdakwah mereka pun sama. Seperti tercantum dalam Q.S Hud : 25, 50, 52, dan 62
5. Untuk menjelaskan bahwa antara agama Nabi Muhammad SAW dan Nabi Ibrahim as khususnya, dan dengan agama Bani Israil pada umumnya terdapat kesamaan dasar serta memiliki hubungan yang erat. Hal ini sebagaimana tersirat dalam kisah Nabi Ibrahim, Musa, Isa dan lain – lain yang diulang – ulang ceritanya dalam al – Quran
6. Untuk mengungkapkan adanya janji pertolongan Allah kepada para NabiNya dan menghukum orang – orang yang mendustakannya. Seperi dalam Q.S Al – Ankabut : 14
14. Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya, Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.
7. Untuk menjelaskan adanya nikmat dan karunia Allah SWT kepada para nabi dan semua utusan dan orang – orang pilihanNya. Seperti kisah nabi Dawud, Ayyub, Ibrahim, Sulaiman, Maryam, Zakaria, Yunus, Musa, dan lain – lain
8. Untuk mengingatkan anak cucu Adam (Bani Adam) atas tipu daya syetan yang merupakan musuh yang abadi bagi manusia
D. Faedah Kisah-Kisah (Qashash) dalam Al Qur’an
Faedah ilmu ini diantaranya: menjelaskan dasar-dasar dakwah yang disampaikan para nabi, sebagai penguat hati seorang muslim, dan menarik perhatian pendengarnya.
Abdul Djalal menjelaskan bahwa beberapa faedah kisah dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut.9
1. Menjelaskan asas-asas dakwah menuju Allah dan menjelaskan pokok-pokok syari’at yang dibawa oleh para Nabi:
“Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (al Anbiya : 25)
2. Meneguhkan hati Rasulullah dan hati umat Muhammad atas agama Allah, memperkuat kepercayaan orang mukmin tentang menangnya kebenaran dan para pendukungnya serta hancurnya kebatilan dan para pembelanya.
“Dan semua kisah rasul-rasul yang kami ceritakan kepadamu, adalah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu; dan dalam surah ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Hud : 120)
3. Menyibak kebohongan ahli kitab dengan hujjah yang membeberkan keterangan dan petunjuk yang mereka sembunyikan dan menantang mereka dengan isi kitab mereka sendiri sebelum kitab itu diubah dan diganti. Misalnya firman Allah: “Semua makanan adalah halal bagi bani israil melainkan makanan yang diharamkan oleh israil (ya’kub) untuk dirinya sendiri sebelum taurat diturunkan. Katakanlah: (jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum taurat), maka bawalah taurat itu, lalu bacalah ia jika kamu orang-orang yang benar.” (Ali Imran :93)
4. Kisah termasuk salah satu bentuk sastra yang dapat menarik perhatian para pendengar dan memantapkan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya ke dalam jiwa. Firman Allah:
Sesungguhnya pada kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yangberakal.Al-Qur’an membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman” (Yusuf : 111).
5. Memperlihatkan kemukjizatan al-Quran dan kebenaran Rasulullah SAW di dakwah dan pemberitaannya mengenai umat-umat terdahulu atau keterangan-keterangan beliau yang lain. Seperti keterangan ayat 27 surah al-Fath.
6. Memperlihatkan para Nabi terdahulu dan kitab sucinya, serta mengabadikan nama baik dan jasanya. Seperti penjelasan ayat 111 surah Yusuf.
7. Menampakkan kebenaran al-Quran dan kisah-kisahnya. Seperti dijelaskan dalam ayat 13 surah al-Kahfi.
Artinya: Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya.
8. Menanamkan pendidikan akhlakul karimah dan mempraktikkannya, karena keterangan kisah-kisah yang baik itu dapat meresap dengan mudah ke dalam hati nurani. (Baca juga: Mantuq Mafhum dalam Qur'an)
E. Bantahan Terhadap Orientalis tentang Kisah-Kisah (Qashash) dalam Al Qur’an
Ada beberapa orientalis yang berpendapat bahwa kisah-kisah masa lampau yang dikemukakan Al-Quran diketahui Nabi Muhammad SAW dari seorang pendeta atau beliau jiplak dari kitab Perjanjian Lama. Pendapat ini jelas tidak benar dari banyak segi.
Pertama, Nabi Muhammad saw tidak pernah belajar pada siapapun. Memang pada masa kanak-kanak beliau pernah ikut berdagang pamanya ke Syam dan bertemu dengan rahib yang bernama Buhaira yang meminta pamannya agar member perhatian serius pada nabi karena dia melihat tanda-tanda kenabian pada beliau. Namun pertemuan ini pun hanya terjadi beberapa saat. Di sini kita bertanya, “kalau remaja kecil (Muhammad saw) belajar pada rahib itu, apakah logis dalam pertemuan singkat itu beliau memperoleh banyak informasi yang mendetail, bahkan sangat akurat?” tentu saja tidak.( Baca juga: Prosedur Penulisan Hasil Penelitian)
Ada juga seorang orientalis yang bernama Montgomery Watt yang berkata bahwa Nabi Muhammad saw belajar pada Waraqah bin Naufal. Menurutnya, Khadijah merupakan anak paman Waraqah bin Naufal, sedangkan ia merupakan agamawan yang akhirnya menganut agama Kristen. Tidak dapat disangkal Khadijah berada di bawah pengaruhnya dan boleh jadi Muhammad telah menimba sesuatu dari semangat dan pendapat-pendapatnya.
Kita mengakui kalau Waraqah beragama Kristen, tapi bahwa Muhammad datang belajar kepadanya adalah sesuatu yang tidak dapat diterima. Hal ini karena menurut pelbagai riwayat kedatangan beliau menemui Waraqah adalah setelah beliau menerima wahyu dan bukan sebelumnya. Di sisi lain, Waraqah berpendapat bahwa yang datang pada Nabi Muhammad saw di gua Hira itu adalah malaikat yang pernah datang pada Nabi Musa dan Isa a.s., dan beliau menyatakan bahwa seandainya hidup saat Muhammad dimusuhi kaumnya, niscaya dia akan membelanya. Jika demikian logiskah jika Nabi Muhammad saw belajar kepadanya setelah Waraqah mengakui kenabiannya?5
Tidaklah tepat jika dikatakan bahwa Nabi Muhammad SAW mempelajari Kitab Perjanjian Lama karena disamping beliau tidak dapat membaca dan menulis, juga karena terdapat sekian banyak informasi yang dikemukakan Al-Quran yang tidak termaktub dalam Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru, missal kisah Ashab Al-Kahfi. Kalaupun ada yang sama, seperti beberapa kisah nabi-nabi, namun dalam rincian atau rumusan terdapat perbedaaan-perbedaan.
Bahwa terjadi persamaan dalam garis besar bukan lalu merupakan bukti penjiplakan. Apakah jika seseorang pada puluhan tahun yang lalu melukis candi Borobudur, kemudian kini datang pula pelukis lain yang melukisnya – dan ternyata lukisan itu sama atau mirip dengan yang sebelumnya – apakah Anda berkata bahwa pelukis kedua menjiplak dari pelukis pertama?10
Nabi Muhammad saw sejak dini telah mengakui bahwa beliau adalah pelanjut dari risalah para nabi. Beliau mengibaratkan diri beliau dengan para nabi sebelumnya bagaikan seorang yang membangun rumah, maka dibangunnya dengan sangat baik dan indah, kecuali satu bata di pojok rumah itu. Orang-orang berkeliling di rumah tersebut dan mengaguminya sambil berkata, “Seandainya diletakkan bata di pojok rumah ini, maka Akulah (pembawa) bata itu dan Akulah penutup para nabi.” Demikian sabda Beliau yang diriwayatkan oleh Bukhari melalui Jabir bin Abdillah.11 2]
7Kadar M. Yusuf, Studi Al-Quran. (Jakarta: Amzah, 2012), 178.
8Sayyid Qutub, at-Taswir al-Fanny fi al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Kutub, t.t.), 118-125 dalam Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel, Studi Al Quran, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2011), 276-278.
9Abdul Djalal H.A. Ulumul Quran, 301-303.
10 Al-Biqa’i. Badzl An-Nushah wa Asy-Syafaqah li At-Ta’rif bi Shuhbah as-Sayyid Waraqah, dalam Risma Al Qomar, “Qashasul Qur’an”, http://rismaalqomar.wordpress.com/2010/04/29/qashashul-qur%E2%80%99an-kisah-kisah-dalam-al-quran/ ( 30-12-2013), 3.
11Dirangkum dari M. Quraish Shihab. Mukjizat Al-Quran. (Bandung: Mizan, 1998).Hlm. 206-212
Komentar
Posting Komentar