KONSEP DASAR PENELITIAN
A.Esensi Penelitian
Sebagian besar orang menganggap penelitian hanya dilakukan di laboratorium dan meneliti dengan tabung-tabung reaksi, mikroskop dan lain sebagainya. Ada juga yang menganggap penelitian hanya dapat dilakukan oleh para professor, ahli, laboran. Anggapan tersebut tidak benar tetapi juga tidak salah. Yang dilakukan para ahli di dalam laboratorium memeriksa dan mengukur cairan-cairan dalam tabung reaksi tersebut merupakan suatu kegiatan penelitian, yaitu penelitian dalam bidang fisika, kimia atau biologi. Anggapan itu juga tidak benar karena penelitian tidak hanya dapat dilakukan oleh para professor, ahli dan para ilmuan saja. Semua orang dapat melakukan kegiatan penelitian, akan tetapi bobot dan kualitas penelitian akan berbeda-beda sesuai kepentingan dan lingkup penelitian.
Penelitian adalah rangkaian kegiatan ilmiah dalam rangka pemecahan suatu permasalahan dan berfungsi untuk mencarikan penjelasan dan jawaban terhadap permasalahan serta memberikan alternatif bagi kemungkinan yang dapat digunakan untuk pemecahan masalah[1]
Sebagai suatu kegiatan ilmiah, penelitian harus memiliki kerja ilmiah yaitu (a) bertujuan, (b) sistematik, (c) terkendali, (d) objektif, (e) tahan uji/verifiable.[2]
Penelitian memiliki tujuan, maksudnya sebuah penelitian tetap pada dan kerangka tujuan masalah yang hendak dicari pemecahannya. Penelitian harus memiliki tujuan yang jelas dan mendalami suatu permasalahan dengan lebih rinci. Apabila tidak demikian, maka penelitian tersebut akan menggeneralisasi dan menyulitkan peneliti itu sendiri dalam menyusun rencana dan langkah kerja maupun pembaca dalam memahami hasil penelitian.
Penelitian harus dilakukan secara sistematis, artinya tiap langkah-langkah kerja yang dilakukan harus sesuai dengan metodologi yang benar, tidak asal melangkah. Begitu pula dalam menyusun laporan penulisan.
B. Konsep Penelitian
Menurut Sutrisno Hadi sebagaimana dikutip oleh Cholid Narbuko dan Abu Ahchmadi dalam bukunya bahawa penelitian ditinjau dari sudut tertentu dapat digolongkan sebagai berikut:[3]
1. Penelitian ditinjau dari segi Tujuannya
Berdasarkan tujuannya, maka penelitian dapat dikategorikan sebagai berikut: penelitian eksploratif, penelitian developmental dan penelitian verifikatif.
a. Penelitian Eksploratif
Penelitian eksploratif adalah penelitian yang dilakukan oleh seorang atau kelompok dengan tujuan menggali secara luas tentang sebab-sebab atau hal-hal yang mempengaruhi terjadinya suatu kejadian. Seperti halnya di sebuah desa terjadi kematian penduduk yang merengut nyawa anak-anak di bawah umur. Dilihat dari segi penyebabnya kejadian tersebut kelihatan misterius dan mengerikan sehingga menarik perhatian pihak terkait. Melihat kejadian tersebut seorang dokter yang kebetulan bertugas di desa sebelah membentuk sebuah tim guna mengadakan sebuah penelitian dengan tujuan untuk menemukan penyebat terjadinya musibah yang memakan beberapa korban nyawa anak di bawah umur.[4]
b. Penelitian Developmental
Penelitian developmental atau penelitian pengembangan merupakan penelitian yang berorientasi pada pengembangan-pengembangan penelitian sebelumnya dengan upaya mengadakan sebuah pengujian, percobaan dan penyempurnaan sehingga akhirnya diharapkan lahirnya sebuah prototipe metode penyampaian dan pelaksanaannya.[5]Hampir di setiap perusahaan terdapat sebuah seksi yang disebut Research and Development (R & D) yang bertugas mengadakan penelitian dari hasil produk perusahaan itu sendiri yang mencoba menigkatkan kualitas mutu dalam skala kecil, dan apabila ternyata hasil penelitian tersebut lebih baik hasilnya maka dilakukan dengan skala yang lebih luas. Sebelum melakukan tindakan (penelitian) dengan skala yang lebih luas, peneliti harus mempunyai data konsumen yang valid sehingga dalam pelaksanaanya dapat terukur dengan cara sistematis. Terkadang seksi ini juga dikenal dengan sebutan Litbang (Penelitian dan Pengembangan) atau dengan kata lain operation research.
Objek penelitian pengembagan tidak hanya bidang perdagangan atau pengadaan produk akan tetapi juga di bidang pendidikan. Di bidang pendidikan penelitian pengembangan biasanya dimulai dengan identifikasi masalah pembelajaran yang ditemui di kelas oleh guru yang akan melakukan penelitian. Yang dimaksud masalah pembelajaran.dalam penelitian pengembangan adalah masalah yang terkait dengan perangkat pembelajaran, seperti silabus, bahan ajar, lembar kerja siswa, media pembelajaran, tes untuk mengukur hasil belajar, dsb. Perangkat pembelajaran dianggap menjadi masalah karena belum ada, atau ada tetapi tidak memenuhi kebutuhan pembelajaran, atau ada tetapi perlu diperbaiki, dsb. Tentunya tidak semua masalah perangkat pembelajaran akan diselesaikan sekaligus, satu masalah perangkat pembelajaran saja yang dipilih sebagai prioritas untuk diselesaikan lebih dulu.
Tahap berikutnya adalah mengkaji teori tentang pengembangan perangkat pembelajaran yang relevan dengan yang akan dikembangkan. Setelah menguasai teori terkait dengan pengembangan perangkat pembelajaran, peneliti kemudian bekerja mengembangkan draft perangkat pembelajaran berdasarkan teori yang relevan yang telah dipelajari. Setelah selesai dikembangkan, draft harus berulangkali direview sendiri oleh peneliti atau dibantu oleh teman sejawat (peer review).
Setelah diyakini bagus sesuai dengan yang diharapkan, draft tersebut dimintakan masukan kepada para ahli yang relevan (expert validation). Masukan dari para ahli dijadikan dasar untuk perbaikan terhadap draft. Setelah draft direvisi berdasar masukan dari para ahli, langkah berikutnya adalah menguji-coba draft tersebut. Uji-coba disesuaikan dengan penggunaan perangkat. Bila yang dikembangkan adalah bahan ajar, maka uji-cobanya adalah digunakan untuk mengajar kepada siswa yang akan membutuhkan perangkat tersebut. Uji-coba bisa dilakukan pada beberapa bagian saja terhadap sekelompok kecil siswa, atau satu kelas. Bila yang diuji-coba adalah silabus, maka uji-cobanya adalah terhadap guru yang akan menggunakan silabus tersebut. Kegiatan uji-cobanya adalah meminta guru menggunakan silabus untuk menyusun Rencana Program Pembelajaran (RPP).
Tujuan uji-coba adalah untuk melihat apakah perangkat pembelajaran yang dikembangkan dapat diterima atau tidak. Dari hasil uji-coba, beberapa bagian mungkin memerlukan revisi. Kegiatan terakhir adalah revisi terhadap draft menjadi draft akhir perangkat pembelajaran tersebut.
Menurut Akker (1999), ada 4 tahap dalam penelitian pengembangan yaitu :
1). Pemeriksaan pendahuluan (preliminary inverstigation).
Pemeriksaan pendahuluan yang sistematis dan intensif dari permasalahan mencakup:
· tinjauan ulang literatur,
· konsultasi tenaga ahli,
· analisa tentang ketersediaan contoh untuk tujuan yang terkait, dan
· studi kasus dari praktek yang umum untuk merincikan kebutuhan.
2). Penyesuaian teoritis (theoretical embedding)
Usaha yang lebih sistematis dibuat untuk menerapkan dasar pengetahuan dalam mengutarakan dasar pemikiran yang teoritis untuk pilihan rancangan.
3). Uji empiris (empirical testing)
Bukti empiris yang jelas menunjukkan tentang kepraktisan dan efektivitas dari intervensi.
4). Proses dan hasil dokumentasi, analisa dan refleksi (documentation,analysis, and reflection on process and outcome).
Implementasi dan hasilnya untuk berperan pada spesifikasi dan perluasan metodologi rancangan dan pengembangan penelitian.
c. Penelitian Verifikatif
Penelitian verifikatif ini adalah bentuk penelitian yang bertujuan untuk mengecek atau mengevaluasi kebenaran hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.[6]Sebagai sebuah contoh, sebut saja di Gerakan Pramuka Gugusdepan 963 Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Darul Ulum Pondok Pesantren Banyuanyar Pamekasan yang telah banyak menuai prestasi baik tingkat kecamatan, kabupaten/kota maupun tingkat regional Madura bahkan tingkat Jawa Timur. Prestasi tersebut bisa mereka raih karena mereka para pengurus mernerapkan kedisiplinan yang tinggi di kalangan peserta didik, baik dari segi proses latihan, pemahaman wawasan di bidang teks pram, sandi semaphore, morse, pemetaan, menaksir dan kedisiplinan dalam berbagai hal. Berdasrkan dokumentasi hasil prestasi tersebut menjadi pelecut motivasi bagi pengurus regenerasi Gerakan Pramuka Gugusdepan 963 Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Darul Ulum Pondok Pesantren Banyuanyar Pamekasan untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi tersebut, sehingga segala upaya dilakukan guna tercapainya prestasi yang telah diraih beberapa tahun sebelumnya bisa tercapai kembali. Terbukti, Pada tahun 2010 yang lalu Gerakan Pramuka Gugusdepan 963 Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Darul Ulum Pondok Pesantren Banyuanyar Pamekasan mendelegasikan 1 (satu) regu peserta didiknya dengan nama regu Garuda berkompetisi pada Lomba Tingkat (LT) III tingkat kabupaten dan berhasil meraih juara I yang kemudian berhak mewakili Kabupaten Pamekasan mengikuti Lomba Tingkat (LT) IV tingkat Jawa Timur di Surabaya dan berhasil menyabet sebagai regu terbaik kedua setelah Kota Surabaya. (lihat juga: tinjauan filosofis tentang kurikulum)
2. Penelitian ditinjau dari segi Tempatnya
Penggolongan penelitian menurut tempat pelaksanaannya, dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
a. Penelitian laboratorium
Penelitian jenis ini dilakukan dalam suatu tempat khusus untuk mengadakan studi ilmiah dan kerja ilmiah. Tujuan penelitian laboratorium untuk ilmu pengetahuan sosial ialah: mengumpulkan data, mengadakan analisa, mengadakan test, serta memberikan interpretasi terhadap sejumlah data, sehingga orang bisa meramalkan kecenderungan gerak satu gejala sosial dalam satu masyarakat tertentu. Laboratorium pengetahuan sosial ini memberikan bimbingan pada sejumlah ilmuwan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan untuk melakukan penelitian secara kooperatif. Objek penelitiannya, baik berupa masalah-masalah yang teoritis sifatnya maupun yang praktis, yang diteliti oleh satu tim ahli[7].
Laboratorium bahasa terdiri dari 2 kata yaitu laboratorium dan bahasa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Laboratorium mengandung pengertian suatu ruangan/tempat tertentu yang dilengkapi dengan peralatan untuk melakukan percobaan atau simulasi tertentu. Laboratorium Bahasa berarti suatu ruang yang dilengkapi peralatan tertentu untuk melakukan simulasi bahasa atau memperlancar kemampuan berbahasa seseorang. Bila dihubungkan konsep atau hakikat bahasa dengan laboratorium maka akan muncul pengertian bahwa laboratorium bahasa adalah suatu tempat untuk menyelidiki sistem dari suatu bahasa, menyelidiki / menganalisis unsur - unsur kaidah bahasa, dan menyelidiki / menganalisis lambang / isyarat / tanda bunyi suatu bahasa.
Penelitian laboratorium dapat juga disebut sebagai penelitian dasar (basic research) yang bertujuan untuk mengembangkan teori dan tidak dipergunakan yang langsung bersifat praktis atau penelitian yang dibuat untuk memberikan kontribusi kepada ilmu pengetahuan dan teorinya.[8]Istilah laboratorium ini digunakan karena sifatkan yang teliti, ketat dan terkontrol.Penelitian ini biasanya digunakan untuk meneliti sesuatu yang bersifat pengetahuan alam dalam hal ini biologi, kimia, fisika. Tetapi saat ini penelitian yang ada di laboraturium sudah mulai dari berbagai disiplin ilmu termasuk bahasa.
a. Penelitian Lapangan (Field Research)
Penelitian lapangan dilakukan dalam kancah kehidupan sebenarnya. Misalnya saja penelitian tentang kehidupan para guru, masalah religiusitas masyarakat desa, penelitian anak-anak pencandu narkoba, dan lain-lain. Penelitian lapangan pada hakekatnya merupakan metode untuk menemukan secara khusus dan realistis apa yang tengah terjadi pada suatu saat di tengah masyarakat. Jadi, mengadakan penelitian mengenai beberapa masalah aktual yang kini tengah berkecamuk dan mengekspresikan diri dalam bentuk gejala atau proses sosial.[9]
Penelitian semacam ini juga dikenal penelitian kancah yaitu penelitian yang paling sering dilaksanakan pada berbagai cabang ilmu pengetahuan, lebih khususnya ilmu sosial. Kancah disebut juga masyarakat yang dimaksud sebagai laboratorium “raksasa” yang penuh dengan seribu satu fenomena dan masalah yang tak kunjung habisnya. Kemajemukan masyarakat semakin kompleks, maka semakin banyak pula berbagai berbagai rentetan ragam persoalan yang dapat kita pelajari darinya. Masyarakat merupakan bagian terbesar dari berbagai bentuk penelitian yang telah dikembangkan dan karena kancah dihuni oleh masyarakat maka dapat dipastikan bahwa keseluruhan kegiatan penelitian masyarakat berhubungan erat dengan pranata dan budaya serta pengalaman hidup masyarakat, kelompok dan individu sebagai sebuah objek penelitian.
b. Penelitian Perpustakaan
Dalam penelitian ini mengunakan literatur dari penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya. Dan bertujuan untuk data / informasi dengan bantuan buku, naskah, dokumen, dll. Pada dasarnya data yang diperoleh dari penelitian perputakaan dijadikan sebagai dasar/ alat untuk praktik penelitian dilapangan.
Perpustakaan sebagai pusat informasi bisa dikelompokkan ke dalam beberapa jenis yang masing -masing mempunyai ciri dan penekanan fungsi yang berbeda.
1) Ada yang berfungsi untuk melayani kebutuhan informasi bagi segenap anggota masyarakat luas secara menyeluruh;
2) Ada yang berfungsi melayani kebutuhan informasi bagi kelompok masyarakat khusus, seperti masyarakat peneliti atau ilmuwan saja dan masyarakat sekolah saja;
3) Ada juga yang yang bertugas khusus melayani kebutuhan masyarakat dalam lingkungan organisasi khusus;
4) Tidak ketinggalan juga adalah perpustakaan keluarga atau perpustakaan pribadi, yakni perpustakaan yang ada di rumah kita sendiri atau sering disebut sebagai koleksi pribadi, bukan perpustakaan pribadi ; dan
5) Dalam beberapa tahun terakhir, tampak adanya kemunculan perpustakaan komunitas yang bentuknya bisa terintegrasi dengan toko buku, café, atau dengan kegiatan komersial lainnya. Para pengelola model perpustakaan seperti ini berusaha menggabungkan fungsi-fungsi pendidikan, pencerahan, sosial, dan bisnis secara terpadu (Yusuf, 2009:17)
3. Penelitian ditinjau dari segi Pendekatannya
Ditinjau dari segi pendekatannya sepertinya hampir sama dengan teknik pengumpulan data. Karena dalam pelaksanaan penelitian tujuan utamanya adalah mencari dan mendapatkan data sesuai kebutuhan peneliti yang terlebih dahulu dilakukan semacam analisis data sehingga data yang diinginkan oleh peneliti sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.[10]
Seringkali peneliti menggunakan waktu yang cukup lama dan proses –proses penelitian untuk meneliti sebuah gejala yang terus berlangsung. Penelitian semacam ini disebut dengan penelitian longitudional. Kasus semacam ini misalnya apabila peneliti ingin mengetahui perkembangan karier guru di sebuah sekolah/madrasah ternama, mulai ia mendaftar sebagai guru, diterima, bekerja dengan baik sebagai guru, sampai ia menduduki jabatan tertinggi sebagai kepala di sekolah/madrasah tersebut, hingga ia pensiun. Maka penelitian yang dilakukan harus dimulai sejak guru tersebut diterima di sekolah/madrasah sampai saat penelitian dilakukan, hingga guru yang bersangkutan benar-benar pensiun. Berturut-turut setiap tahun perkembangan karier guru tersebut dicatat. Kalua peneliti melakukan pencatatan awal pada bulan Juli dalam tahun tertentu maka pencatatan berikutnya juga harus dilakukan pada bulan yang sama, sehingga konsinya sama dan seterusnya setiap tahun dilakukan pencatatan tersebut, sampai pada tahun yang diinginkan.
Dalam kegiatan penelitian, waktu merupakan elemen penting dari setiap desain penelitian. baik sebagai satu kali riset atau beberapa riset. Dalam kasus yang pertama penelitian ini adalahterbatas pada waktu-periode tunggal, sedangkan dalam kasus terakhir penelitian dilakukan di lebih dari beberapa waktu periode.[11]
Pendekatan cross-sectional dan longitudinal. Sebuah studi cross-sectional adalah penelitian yang terjadi pada satu titik waktu.Sedangkan studi longitudinal adalah penelitianyang berlangsung dari waktu ke waktu. Dalam hal ini peneliti memiliki minimal dua (dan seringkali lebih). Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh William M. K. TrochimThe Research Methods Knowledge Base. Sebagai berikut:
Time is an important element of any research design, and here I want to introduce one of the most fundamental distinctions in research design nomenclature: cross-sectional versus longitudinal studies. A cross-sectional study is one that takes place at a single point in time. In effect, you are taking a slice or cross-section of what-ever it is you're observing or measuring. A longitudinal study is one that takes place over time - you have at least two (and often more) waves of measurement in a longitudinal design.[12]
a. Pendekatan Longitudinal (Pendekatan Bujur)
Pendekatan longitudinal merupakan pendekatan yang menggunakan satu kasus tetapi konsen terhadap waktu yang lama untuk mengetahui hasil atas perkembangan objek yang diteliti. Sebagai contoh, untuk mengetahui perkembangan kemampuan berfikir peserta didik di sekolah dasar bright kiddie, Wiyung, Surabaya. Sejak kelas 1 sampai kelas 6. Yang perlu diperhatikan disini adalah waktu pencatatan dilakukan. Jika peneliti melakukan pencatatan pada bulan juli maka pada tahun berikutnya harus mencatat pada bulan juli juga, hal ini diharapkan agar bisa diketahui secara intens atas perkembangan pola pikir peserta didik tersebut.
Pendekatan ini memang ada kebaikannya karena objek yang diamati sama, sehingga faktor-faktor intern individu tidak berpengaruh terhadap hasil. Kelemahannya, waktu penelitian sangat lama dan dikawatirkan dalam jangka waktu yang lama ini telah banyak perubahan kondisi karena perkembangan zaman.
Penelitian longitudinal biasanya lebih kompleks dan membutuhkan biaya lebih besar daripada penelitian cross-sectional, namun lebih andal dalam mencari jawaban tentang dinamika perubahan. Selain itu, penelitian longitudinal berpotensi menyediakan informasi yang lebih lengkap, bergantung pada operasionalisasi teori dan metodologi penelitiannya. Termasuk dalam rancangan penelitian longitudinal adalah cross-sectional berulang (repeated cross-sectional) atau time-series, rancangan prospektif, dan rancangan retrospektif.
b. Pendekatan Cross – Sectional (Pendekatan Silang)
Jenis penelitian ini berusaha mempelajari dinamika hubungan hubungan atau korelasi antara faktor-faktor risiko dengan dampak atau efeknya. Faktor risiko dan dampak atau efeknya diobservasi pada saat yang sama, artinya setiap subyek penelitian diobservasi hanya satu kali saja dan faktor risiko serta dampak diukur menurut keadaan atau status pada saat observasi.
Angka rasio prevalensi memberi gambaran tentang prevalensi suatu penyakit di dalam populasi yang berkaitan dengan faktor risiko yang dipelajari atau yang timbul akibat faktor-faktor risiko tertentu.
1). Kelebihan studi cross-sectional:
Kelebihan rancangan studi potong lintang adalah kemudahannya untuk untuk dilakukan dan murah, sebab tidak memerlukan follow-up. Jika tujuan penelitian “sekedar“ mendeskripsikan distribusi penyakit dhubungkan dengan paparan faktor-faktor penelitian, maka studi potong lintang merupakan rancangan studi yang cocok, efisien dan cukup kuat disegi metodologik. Selain itu seperti penelitian observasional lainnya, studi potong lintang tidak “memaksa” subjek untuk mengalami factor yang diperkirakan bersifat merugikan kesehatan (factor resiko). Demikian pula, tidak ada subjek yang kehilangan kesempatan memperoleh terapi yang diperkirakan bermanfaat, bagi subjek yang kebetulan menjadi control.
2). Kekurangan penelitian cross sectional :
a) Dibutuhkan subyek penelitian yang relatif besar atau banyak, dengan asumsi variable bebas yang berpengaruh cukup banyak.
b) Kurang dapat menggambarkan proses perkembangan penyakit secara tepat.
c) Faktor-faktor risiko tidak dapat diukur secara akurat dan akan mempengaruhi hasil penelitian.
d) Nilai prognosanya atau prekdisinya (daya ramal) lemah atau kurang tepat.
e) Korelasi faktor risiko dengan dampaknya adalah paling lemah bila dibandingkan dengan rancangan penelitian analitik yang lainnya.
f) Kesimpulan hasil penelitian berkaitan dengan kekuatan rancangan yang disusun sangat berpengaruh, umumnya kekuatan rancangan yang baik adalah sekitar 40%, artinya hanya sebesar 40% variable bebas atau faktor risiko mampu menjelaskan variable terikat atau dampak, sisanya yaitu 60% tidak mampu dijelaskan dengan model yang dibuat.
Contoh: penelitian tentang fluorosis yang dilakukan pada anak usia 10-12 tahun di Brazil yang tinggal di daerah yang belum memperoleh fluoridasi air minum.
4. Penelitian ditinjau dari segi bidang keilmuannya
Secara umum, ilmu-ilmu dapat dibedakan antara ilmu-ilmu dasar dan ilmu-ilmu terapan. Termasuk kelompok ilmu dasar, antara lain ilmu-ilmu yang dikembangkan di fakultas-fakultas MIPA (Mathematika, Fisika, Kimia, Geofosika), Biologi, dan Geografi. Kelompok ilmu terapan meliputi antara lain: ilmu-ilmu teknik, ilmu kedokteran, ilmu teknologi pertanian Ilmu-ilmu dasar dikembangkan lewat penelitian yang biasa disebut sebagai “penelitian dasar” (basic research), sedangkan penelitian terapan (applied research)menghasilkan ilmu-ilmu terapan.
Penelitian terapan (misalnya di bidang fisika bangunan) dilakukan dengan memanfaatkan ilmu dasar (misal: fisika). Oleh para perancang teknik, misalnya, ilmu terapan dan ilmu dasar dimanfaatkan untuk membuat rancangan keteknikan (misal: rancangan bangunan). Tentu saja, dalam merancang, para ahli teknik bangunanT tersebut juga mempertimbangkan hal-hal lain, misalnya: keindahan, biaya, dan sentuhan budaya. Catatan: Suriasumantri (1978: 29) menamakan penelitian dasar tersebut di atas sebagai “penelitian murni” (penelitian yang berkaitan dengan “ilmu murni”, contohnya: Fisika teori).
Pada perkembangan keilmuan terbaru, sering sulit menngkatagorikan ilmu dasar dibedakan dengan ilmu terapan hanya dilihat dari fakultasnya saja. Misal, di Fakultas Biologi dikembangkan ilmu biologi teknik (biotek), yang mempunyai ciri-ciri ilmu terapan karena sangat dekat dengan penerapan ilmunya ke praktek nyata (perancangan produk). Demikian juga, dulu Ilmu Farmasi dikatagorikan sebagai ilmu dasar, tapi kini dimasukkan sebagai ilmu terapan karena dekat dengan terapannya di bidang industri. Karena makin banyaknya hal-hal yang masuk pertimbangan ke proses perancangan/perencanaan, selain ilmu-ilmu dasar dan terapan, produk-produk perancangan/perencanaan dapat menjadi obyek penelitian. Penelitian seperti ini disebut sebagai penelitian evaluasi (evaluation research) karena mengkaji dan mengevaluasi produk-produk tersebut untuk menggali pengetahuan/teori “yang tidak terasa” melekat pada produk-produk tersebut (selain ilmu-ilmu dasar dan terapan yang sudah ada sebelumnya). Bila tidak melihat apakah penelitian dasar atau terapan, maka macam penelitian menurut bidang ilmu dapat dibedakan langsung sesuai macam ilmu. Contoh: penelitian pendidikan, penelitian keteknikan, penelitian ruang angkasa, pertanian, perbankan, kedokteran, keolahragaan, dan sebagainya (Arikunto, 1998: 11).[13]
Penelitian yang berkenaan dengan jenis spesialisasi dan interes, maka tentu saja bidang ilmu yang diteliti banyak ragam sesuai dengan siapa yang meneliti. Ragam penelitian ditinjau dari bidangnya adalah: penelitian pendidikan (lebih lanjut lagi pendidikan guru, pendidikan ekonomi, pendidikan kesenian), ketekhnikan, ruang angkasa, pertanian, perbankan, kedokteran, keolahragaan, dan sebagainya. Dalam pembahasan ini, penulis konsen membahas pada pendidikan, sejarah, politik dan sosial.
1. Bidang Pendidikan
Pendidikan merupakan proses usahasadar dan terencana untuk mewujudkan suasanabelajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,masyarakat, bangsa dan negara[14]
Penelitia terhadap pendidikan ini sudah penulis singgung pada pembahasan sebelumnya yaitu mengenai reseach and developmen. Dengan kata lain bahwa penelitia pendidikan ini merupakan suatu hal untuk mengembangkan dunia pendidikan dengan cara meneliti kurikulum, profil input peserta didik, profil output peserta didik, kompetensi guru, kelayakan sarana dan prasarana lembaga pendidikan dan kebijakan pemerintah yang berimplikasi pada pendidikan secara umum.
Dengan demikian, keterkaitan antara pendidikan dengan metode penelitian adalah satu hal yang tidak dapat dipisahkan jika kita berkehendak untuk memajukan pendidikan karena melalui proses penelitian ini persoalan – persoalan yang ada dalam pendidikan dipahami dan kemudian dipecahkan.[15]
2. Bidang Sejarah
Sejarah merupakan deskripsi yang terpadu dari keadaan-keadaan atau fakta-fakta masa lampau yang ditulis berdasarkan penelitian serta studi yang kritis dalam mencari kebenaran. Peneliti dapat menggunakan metode sejarah dalam penyelidikan yang kritis terhadap keadaan-keadaan, perkembangan, serta pengalaman dimasa lampau dan menimbang secara cukup teliti dan hati-hati tentang bukti validitas dari sumber sejarah, serta interpretasi dari sumber-sumber keterangan tersebut. [16]dengan demikian Penelitian sejarah adalah bahwayang memanfaatkan sumber-sumber sejarah seperti dokumen, tetap, dll untuk mempelajari peristiwa atau ide darimasa lalu.[17]
Dalam hal ini, penulis mengambil dari (Imre Lakatos: 1989) bahwa penelitian dibidang ini perlu di tipologikan terlebih dahulu yaitu sejarah ditinjau dari segi internal dan sejarah ditinjau dari segi eksternal yang secara pengambilan data sejarah internal dianggap sebagai pemenuhan data primer sedangkan sejarah eksternal merupakan pemenuhan data sekunder.[18]
3. Bidang Politik
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa politik (politics) adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu system politik (atau negara) yang menyangkut suatu proses menentukan tujuan-tujuan dari sestem tersebut dan melaksanakan tujuan itu. Untuk melaksanakan tujuan tersebut dapat dilakukan dengan kebijakan-kebijakan umum (public policies) yang menyangkut peraturan. Untuk melaksanakan kebijakan tersebut maka diperlukan kekuasaan (power) dan kewenangan (Authority).[19]Maka demikian politik ini dapat dimaknai sebagai proses untuk memperoleh kekuasaan.
Disisi lain, Politik dapat diartikan sebagai kenegaraan atau ketata negaraan, serta ada pula yang mengatakan bahwa politik merupakan suatu konstruk pemikiran yang bermuara pada kekuasaan. Dalam hal penelitian, ilmu politik dapat dipergunakan untuk mengkaji tentang ketata negaraan serta sesuatu yang berhubungan dengan kekuasaan. Hal ini menjadi menarik sehubungan dengan naluri seseorang untuk berkuasa sehingga latarbelakang, proses pengambila kebijakan dan dampak dari kebijakan penguasa tersebut dapat dipergunakan sebagai objek penelitian.
4. Bidang Sosial
Ilmu-ilmu sosial merupakan suatu pengetahuan yang bersifat umum, sistematik yang mana disimpulkan dalil-dalil tertentu terhadap hubungannya dengan manusia. Penelitian ini dapat dimaknai sebagai suatu proses yang dilakukan secara kritis dan terorganisir yang dilakukan secara terus-menerus dengan harapan mengadakan analisa dan memberikan interpretasi terhadap fenomena sosial yang mempunyai hubungan keterkaitan.[20]
Dalam hal ini, dapat juga dikatakan sebagai penelitian social yang mempunyai pengertian penelitian dalam gejala-gejala social yang menyangkut relasi social. Terhadab gejala-gejala tersebut diteliti apakah ada keteraturan di dalamnya. Dengan kata lain, apakah gejala-gejala tersebut bekerja menurut aturan atau hukum tertentu.[21]Tujuan tersebut hemat penulis adalah untuk menemukan hukum dan keteraturan di dalam system social serta untuk memecahkan masalah dalam gejala social tersebut.
Persoalan yang sering dihadapi oleh penelitian dalam ilmu sosial adalah kurangnya kemampuan prediksi dalam membuat ramalan terhadap masalah-masalah sosial. Tiap prediksi sosial selalu terbentur kepada inferesi[22]dari obyek-obyek penelitian sehigga kemungkinan dalam salah prediksi adalah sangat besar.
[1]Saifudin Azwar, Metode Penelitian (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), 1.
[2]Ibid, 2.
[3]Cholid Narbuko, Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT Bumi Aksara, cet-5, 2003 ), 41.
[4]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Prakteik(Jakarta: Rineka Cipta, 2010), 14-15.
[5]Consuelo G. Sevilla, Jesus A. Ochave, Twila G. Punsalan, Bella P. Regala, Gabriel G. Uriarte, Pengantar Metode Penelitian, terj. Alimuddin Tuwu (Jakarta: UI-Press, 1993), 81.
[8]J. R. Raco, Metode Penelitian Kualitatif, Jenia, Karakteristik dan Keunggulannya (........), 13
[9]Ibid,…
[10]Sugiono, Metodologi Penelitian Kuantitatif kualitatif dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2013), 224.
[11]C. R. Kotari, Methodology Methods And Techniques, 4
[13] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu pendekatan praktek. (Yogyakarta: Penerbit Rineka Cipta, 1998), 11.
[14] Lihat: BAB 1, Ketentuan Umum, Pasal 1. Undang - Undang Republik Indonesia (UURI) No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (sisdiknas), (Bandung: Citra Umbara, 2003), 3
[15]Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan(Bandung: Alfabeta, 2013), 6
[16]Moh. Nazir, Metode Penelitian, 48
[17]C. R. Kotari, Methodology Methods And Techniques, 4
[18]Imre Lakatos, The Methodology of Scienctific Research Programmes (New York: Cambride University Press, volume I, 1989), 118
[19]Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, Cet-20, 2002), 8
[20]Ibid,27
[21]Nan Lin, Foundations Of Social Reseach (New York: McGraw-Hill Book Campeny, 1976), 17
[22]Inferesi dalam kamus ilmiah populer dimaknai sebagai suatu kesimpulan yang diambil dari premis umum (deduksi) atau dari bukti faktual (induksi). Lihat: Pius A Partanto, M. Dahlan al Barry, Kamus Ilmiah Populer(Surabaya: Arkola, 2001), 261
Komentar
Posting Komentar