KONSEP MASALAH PENELITIAN
A. Definisi Masalah Penelitian
Mahasiswa semester ahir terkadang merasa kesulitan dalam hal mencari masalah penelitian. Terutama pada saat akan membuat sebuah karya ilmiah. Sering mengangkat sebuah Judul akan tetapi bingung terhadap permasalahan yang ada dalam judulnya sendiri. Beda dengan sudut pandang lain, ia selalu menemukan masalah dalam setiap kehidupan sehariannya, seperti masalah mahasiswa ketika tidak bisa bayar spp, masalah sepedah motor mogok, masalah ketika diputus oleh sang pacar, masalah keluarga dan lain-lain. Yang tanpa dicari-cari pasti masalah itu akan muncul dengan sedirinya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa permasalahan penelitian berbeda dengan permasalahan hidup, meskipun sama-sama membingungkan.
Pengertian masalah dalam penelitian berbeda dengan masalah dalam pengertian sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari masalah atau problem dijadikan sebagai masalah seseorang yang dihadapi dalam kehidupannya sehari-hari. Namun dalam penelitian maslah diartikan sebagai pertanyaan yang belum ada jawabannya, yang diajukan atau yang dilemparkan untuk mendapat jawaban.[1]
Masalah atau disebut juga problem adalah suatu pertanyaan yang mengawali suatu tindakan penelitian. Proses mencari jawaban dari permasalaahn hanya bisa dilakukan melalui proses penelitian. Dengan demikian suatu permasalahan muncul sebelum kegiatan proses penelitian itu dilakukan.[2]Sehingga berangkat dari masalah yang ditemukan seorang peneliti berhasrat untuk melakukan sebuah penelitian dengan menggunakan metode dan prosedur penelitian yang sesuai dengan masalah yang diangkat. Dengan adanya penelitian itu dapat dimungkinkan seluruh masalah akan terjawabkan seluruhnya dan ditemukan solusinya. Jawaban yang didapatkan dari penelitian itu bisa kita jadikan sebuah teori baru yang muncul dari permasalahan yang baru.
Dapat kita simpulkan kalau yang dinamakan masalah yaitu ketidaksesuaian antara idealitas dan realitas. Ketidaksesuaian itu dapat ditemukan dari adanya kesenjangan yang muncul antara kondisi ideal dengan kondisi riil yang dihadapi.[3]Dengan merasakan adanya kesenjangan yang ada dalam anggapan peneliti terhadap adanya sebuah realita yang singkron terhadap teori yang ada akhirnya timbul dalam benak sang peneliti untuk lebih jauh memahami dan mencari solusi terhadap realitas yang tidak sesuai dengan teori-teori atau idealitas yang ada.
Menurut Musfiqon ada dua masalah jika dikaitkan dengan penelitin, yaitu masalah akademik dan masalah biasa. Klasifikasi masalah ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Masalah Biasa
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang pastinya sering menjalani masalah yang datang tanpa diduga. Yang tanpa dicari atau dirumuskan namun tapi harus segera diselesaikan. Permasalahan seperti itu tidak diperlukan metode tertentu serta analisis dan langkah-langkah ilmiah yang mendalam dalam menyelesaikannya. Misalnya saat berangkat kuliah tiba-tiba mahasiswa mengalami kemacetan dijalan karena ada kecelakaan pengendara, sehingga mengakibatkan mahasiswa terlambat masuk satu jam, padahal jam kuliah itu waktunya dosen yang killer, yang mengakibatkan bimbang untuk memutuskan masuk dengan konsekuensi dapat kemarahan dosen atau memilih untuk absen. Dalam kasus ini tidaklah sulit dalam penyelesaiannya, tidak perlu metode ilmiah untuk menelitinya dan tidak layak untuk diteliti.
2. Masalah Akademik
masalah adademik beda dengan masalah biasa separti yang ada diatas. Secara umum indikator masalah akademik antara lain; datangnya perlu dicari dan ditemukan peneliti, tingkah kesulitan masalahnya lebih rumit dan kompleks, perlu metode tertentu untuk menyelesaikannya, hasil reflective thingking atas fenomena sosial, bersifat ilmiah dan faktual.
Untuk memunculkan masalah akademis bisa dilakukan berbagai cara, seperti muncul dari kegelisahan seorang peneliti. dari adanya kegelisahan dalam benak peneliti, ia akan berusaha sekuat pikiran untuk mencari-cari asumsi yang timbul dari sumber masalah itu. Inilah yang dinamakan reflective thingking, yaitu peneliti melakukan proses berpikir tentang suatu gejala, fenomena atau fakta yang kemudian ditarik sebuah entry point dari masalah tersebut sehingga memunculkan masalah penelitian.[4]Masalah akademik seperti inilah yang layak diteliti. Menggunakan pengetahuan dasar, metode ilmiah dan dianalisis secara mendalam permasalahan yang didapatkan dapat dijabarkan untuk dicarikan solusinya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap permasalahan pasti timbul dari adanya kesenjangan antara idealitas dan realita, namun tidak semua permasalahan yang timbul dari kesenjangan itu layak semuanya untuk diteliti.
Masalah yang layak diteliti biasanya bersumber dari masalah keilmuan. Artinya setiap masalah yang mana hasilnya itu dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, melalui langkah-langkah ilmiah yang dapat dideskripsikan analisanya secara akademik. Beda dengan masalah biasa, yaitu masalah yang dialami oleh seseorang dalam kehidupan sehari-hari yang mana hasil dari solusinya/penelitiannya tidak ada hubungan sama sekali dengan teori-teori akademik.
Adapun tanda-tanda Masalah yang layak diteliti (recearchable) dan masalah yang tidak layak untuk diteliti (unrecearchable) menurut Musfiqon adalah sebagai berikut;
Problem researchable:
1. Tidak bermakna ganda,
2. Dapat diuji secara empiris,
3. Relevan dengan teori,
4. Metode dapat dioperasionalkan,
5. Penting untuk diteliti,
6. Adanya ruang dan waktu,
7. Fasilitas dan dana
Problem Unrecearchable:
1. Bermakna ganda’
2. Tidak dapat diuji secara empiris
3. Tidak releven dengan teori,
4. Metode tidak dapat dioperasionalkan,
Dari tanda-tanda masalah di atas dapat kita ketahui bahwa setiap masalah yang layak diteliti itu cenderung bersifat tegas, akurat, kemanfaatannya general dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk melakukan penyelesaian. Sedangkan masalah yang tidak layak diteliti itu cenderung bersifat simple, bermanfaat pada indifidual dan dalam tempo yang singfklat dapat diselesaikan.
Biasanya masalah yang diteliti masuk pada kategori masalah akademis. Di dalam masalah ada unsur relevansi dengan teori, empiris, dan penting untuk diteliti. Selain itu dalam memilih masalah, peneliti perlu mempertimbangkan ketersediaan ruang, waktu, dana dan fasilitas yang diperlukan untuk menyelesaikan. Sehingga aspek-aspek seperti inilah yang perlu diperhatikan oleh peneliti untuk menyelesaikan masalah-masalah menjadi lebih efektif dan efesien.
B. Sumber Permasalahan Penelitian
Untuk mengangkat permasalahan dari sebuah tema dalam penyusunannya dilakukan secara terencana dengan memenuhi harapan yang lebih sistematis untuk menghindari segala kemungkinan yang akan menimbulkan ketidakseimbangan atau ketimpangan yang terjadi. Menurut Bergt Ganstafsson “sebaiknya Rumusan masalah itu mengarah pada masalah(study kasus) masyarakat, karena tujuan penelitian itu dilakukan adalah untuk penuntasan sebuah masalah yang dihadapi masyarakat dalam sebuah kasus”.[6] Karena timbulnya masalah itu dari masyarakat dan untuk masyarakat.
Permasalahan dapat dirumuskan dari bermacam-macam sumber:[7]
1. Teori
Teori yang dapat dijadikan sebagai sumber penelitian, yaitu teori yang dapat dijadikan tolak ukur menguji kebenaran hipotesa atau ingin mencari hal lain dengan operasi awal adalah teori tersebut. Dalam masalah seperti ini teori dalam penelitian tertentu berubah menjadi hipotesis. Sumber teotitis ini mencakup berbagai teori dan konsep hasil penelaahan buku-buku.
2. Dokumen
Dokumen yang dimaksud disini biasanya bisa berupa dokumen pribadi seseorang atau sebuah catatan yang menggambarkan suatu peristiwa dianggap penting pada sebuah momen, dibuat secara pribadi, dan ada juga dokumen tentang catatan atau data pribadi yang menggambarkan suatu peristiwa atau kejadian maupun dokumen pribadi lainnya yang tidak disimpan secara pribadi melainkan berada pada file-file intansi dan sebagainya.
3. Pengalaman Pribadi
Pengalaman pribadi bersumber dari inspirasi yang dapat dirumuskan menjadi permasalahan penelitian. Yang sengaja dari awal diciptakan atau dapat pula karena serangkaian tindakan sehari-hari yang yang merupakan tindakan rutin, baik untuk kepentingan pribadi atau bukan.
4. Tingkah laku Manusia
Tingkah laku manusia yang menarik dan menimbulkan penasaran untuk dicari kebenaran ilmiahnya juga dapat dijadikan sebagai sumber masalah. Meskipun secara sepintas dapat diketahui bahwa kegiatannya merupakan tindakan wajar.
Pengamatan sepintas terhadap tindakan manusia dapat memancing inspirasi atau sumber ide dari masalah yang akan diteliti. Pengamatan ini dapat dilengkapi dengan sarana seperti TV, gambar-gambar, poster dan sebagainya ataupun dapat dilakukan secara langsung tanpa sarana apapun.
5. Hasil penelitian, seminar, kegiatan ilmiah lainnya
Sumber permasalahan juga bisa dimunculkan dari kegiatan yang dilakukan untuk membahas dan membicarakan permasalahan yang sudah ada bahkan membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang telah dipecahkan.
C. Jenis-jenis Permasalahan
Didalam penelitian, permasalahan penelitian sering juga disebut dengan istilah problema atau problematik. Secara garis besar, peneliti mempermasalahkan fenomena atau gejala dengan tiga jenis:
1. Problema untuk mengetahui status dan mendeskripsikan fenomena. Sehubungan dengan jenis permasalahan ini, terjadilah penelitian deskriptif (termasuk di dalamnya survei), penelitian historis, dan filosofis.
2. Problema untuk membandingkan dua fenomena atau lebih (problema komparasi).
Dalam penelitian ini peneliti harus bisa menklarifikasi antara permasalahan dan perbedaan fenomena, selanjutnya mencari arti atau manfaat dari adanya persamaan dan perbedaan yang ada.
3. Problema untuk mencari hubungan antara dua fenomena(Problema korelasi)
Ada dua macam korelasi, yaitu:
a. Korelasi sejajar, misalnya korelasi antara kemampuan berbahasa inggris dan kemampuan berbahasa arab.
b. Korelasi sebab akibat, misalnya korelasi antara teriknya sinar matahari dan larisnya es degan. [8]
Setelah mengetahui status problema yang dimunculkan dari fenomena-fenomena yang ada, seorang peneliti bisa membandingkan fenomena tersebut untuk dikorelasikan antara keduanya. Baik menggunakan korelasi sejajar yakni dua fenomena yang searah dan tidak terdapat hubungan sebab akibat dari keduanya, ataupun menggunakan korelasi sebab akibat yang mana antara kedua fenomena terdapat hubungan timbal-balik atau sebab akibat.
Jenis-jenis permasalahaan tersebut biasanya dijadikan dasar dalam merumuskan suatu judul dalam penelitian. Apabila peneliti bermaksud mengetahui keadaan status sesuatu mengenai apa dan bagaimana, berapa banyak, sejauh mana, dan sebagainya, maka penelitiannya bersifat deskriptif, yaitu menjelaskan atau menerangkan suatu peristiwa yang terjadi.
Sebagai contoh jenis penelitian ini misalnya, apabila peneliti ingin mengetahui berapa jumlah penduduk usia sekolah di suatu daerah, bagaimana pendapat para guru tentang kegiatan supervisi yang sekarang ini berlangsung, seberapa jauh buku paket penghapusan EBTA dan sebagainya. Dengan permasalahan penelitian ini maka judul penelitian dapat dirumuskan sebagai “Studi deskriptif tentang. . . . .”, “Penelitian tentang pendapat. . . .”, “Tanggapan masyarakat terhadap . . . .” dan seterusnya.
Dalam melakukan perbandingan status dua fenomena atau lebih, peneliti selalu memandang dua fenomena atau lebih, ditinjau dari persamaan dan perbedaan yang ada. Namun yang sering terjadi peneliti membandingkan dua fenomena terhadap suatu standar. Misalnya tinggi mana lulusan SMP XI dengan SMP XV. Lebih baik mana prestasi belajar antara kelas IV A dengan kelas IV B. dengan demikian maka judul penelitiannya berbunyi “Penelitian komparasi antara . . . . dengan . . . .. ”.
Suatu jenis komparatif yang sering dipertanyakan oleh para mahasiswa adalah penelitian kausal-komparatif (Causal Comparatif Reseach). Jenis penelitian ini digunakan apabila peneliti ingin mengetahui kemungkinan akibat dari suatu kejadian yang tidak dapat dilakukan dengan suatu eksperimen. misalnya saja peneliti ingin memperkirakan akibat gagar otak. Dalam hal seperti ini peneliti hanya mencari subyek yang telah ada, lalu dibandingkan dengan anak lain yang ciri-cirinya diperkirakan sama. Apabila dimungkinkan, peneliti dapat mengadakan eksperimen terhadap binatang, kemudian kemudian kesimpulannya dianalogkan ke manusia.
Untuk mengkorelasikan dua buah fenomena, yaitu yang sejajar atau yang sebab-akibat menurut Borg dan Gall dalam banyak hal sama dengan penelitian kausal komparatif, dan dalam kenyataanya koefesien korelasi biasanya dihitung dari data penelitian kausal komparatif.[9]
Adapun perkara yang harus diperhatikan untuk memilih masalah penelitian menurut Kotharidalam Research Methodology adalah sebagai berikut:
1. Subyek permasalaahan tidak boleh terlalu berlebihan, yakni harus dipilih secara normal,
2. Subyek masalah yang dipilih seharusnya tidak bertentangan dengan peneliti,
3. Masalah yang terlalu sempit atau terlalu samar perlu dihindari, dan
4. Subyek masalah yang dipilih untuk penelitian harus ada keakraban dan layak sehingga bahan penelitian terkait sumber penelitian dapat dijangkua dengan mudah.
5. Subyek permasalahan yang terpenting adalah kualifikasi dan pendidikan yang cukup dari peneliti,
Keenam prasarat diatas harus dipahami oleh para calon peneliti supaya masalah penelitian yang diangkat itu berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
D. Mengkritisi Masalah Penelitian
Langkah seorang peneliti setelah menjabarkan latar belakang mengangkat sebuah tema yang akan diteliti yaitu menentukan permasalahan yang akan diteliti. Yang mana rumusan masalah itu dimunculkan dari fenomena-fenomena yang ada dari sebuah tema. Dalam penentuan masalah penelitian diambil dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari benak seorang peneliti untuk dicarikan solusi/jawabannya.
Terkadang dalam suatu pertanyaan juga diperlukan metode dan prosedur yang sangat rumit sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan penyelidikan atasnya. Selain itu kadang juga terdapat kesulitan dalam menemukan bahan atau material yang diperlukan, sehingga memperlambat untuk melakukan tindak penelitian. Pada kasus ini tentu saja pertanyaan tersebut sebaiknya tidak perlu dikembangkan menjadi suatu rumusan permasalahan. Sebenarnya disekeliling kehidupan manusia banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang berpotensi untuk dapat dijadikan penelitian. Namun untuk menjadikan sebuah rumusan yang bermanfaat dalam penyelidikan bukanlah suatu pekerjaan yang ringan.[11]Diperlukan pngalaman yang luas, pemahaman yang tinggi, dan langkah-langkah yang ilmiah untuk menarik sebuah permasalahan penelitian. Bagi orang yang sudah terbiasa dalam hal penelitian mungkin dengan mudahnya karena sudah terbiasa untuk memunculkan sebuah masalah penelitian. Tetapi bagi yang jarang melakukan penelitian atau baru pertama kalinya meneliti, ia pasti meras kebingungan untuk menetapkan sebuah masalah penelitian yang pas dan sesuai dengan tema yang ia angkat. Mungkin ada puluhan pertanyaan yang ada dalam tema itu, tetapi ia belum mampu memunculkan satu Rumusan masalah yang tepat.
Sebenarnya masalah yang layak untuk diselidiki tidak terbatas jumlahnya. Namun saja seorang calon peneliti sering kali mengalami kesulitan untuk menemukan masalah yang cocok baginya. Memang ada kesulitan dalam menemukan topik yang tepat itu.[12]Itu adalah kelemahan peneliti yang masih pemula, yang kurang paham terhadap cara penetapan sebuah masalah penelitian yang bagus.
Oleh karena itu bagi peneliti yang masih pemula harus memperhatikan pertimbangan-pertimbangan, baik pertimbangan pribadi maupun pertimbangan praktis, misalnya:
1. Apakah masalah itu sesuatu yang baru, manarik, serta dapat menimbulkan rasa ingin tahu pada calon?
2. Apakah masalah itu sesuai dengan jurusan, kemampuan, dan latar belakang pendidikannya?
3. Apakah masalah memerlukan alat-alat khusus dan kondisi kerja yang dapat dipenuhi oleh calon?
4. Apakah dengan metode tertentu dapat dikumpulkan data yang diperlukan?
5. Apakah calon dapat menanggung segala pembiayaanya?
6. Apakah penelitian itu mengandung bahaya, ancaman, atau resiko lainnya?
7. Apakah calon dapat menyelesaikannya dalam waktu yang tersedia?[13]
Apabila seorang peneliti sudah memahami ke tujuh pertanyaan diatas dan dapat melaksanakannya, maka dia dapat merumuskan masalah penelitian dengan baik dan mudahnya.
Adapun dalam persiapan perumusan masalah harus memperhatiakan ketersediaan bahan, metode dan prosedurnya yang sesuai sebab hanya dengan hal tersebut dapat dilakukan penelitian yang cermat dan seksama atasnya.[14]Untuk memaksimalkan dalam pembuatan masalah penelitian perlu adanya kriteria-kriteria permasalahan yang baik.
Adapun kriteria yang bersifat ilmiah yang perlu diperhatikan, yang pada pokoknya mensyaratkan agar masalah penelitian itu memberi sumbangsih kepada perkembangan pengetahuan antara lain:
1. Hendaknaya masalah itu berhubungan dengan konsep-konsep yang pokok atau hubungan antara konsep-konsep yang pokok.
2. Hendaknya masalah itu dapat mengembangkan atau memperluas cara-cara menentukan suatu teori.
3. Hendaknya masalah itu dapat memberi sumbangan kepada pengembangan metodologi penelitian dengan menemukan alat, teknik, atau metode baru.
4. Hendaknya masalah itu memenfaatkan konsep-konsep, teori, atau data dan teknik dari disiplin-disiplin ilmu yang bertalian.
5. Hendaknya masalah itu dituangkan dalam desain yang cermat dengan uraian yang teliti mengenai variable-variabelnya serta menggunakan metode-metode yang sesuai.[15]
Ketika seorang peneliti sudah menela’ah kelima kriteria di atas, maka masalah yang diuraikan akan terlihat jelas dan sesuai dengan tema yang diangkat.
E. Syarat Perumusan Masalah
Untuk membuat sebuah rumusan masalah yang baik perlu memerhatikan langkah-langkah serta persyaratan masalah yang dirumuskan. Dalam merumuskan masalah dapat diperhatikan adanya beberapa syarat dengan mempertimbangkan kemampuan peneliti, daya nalar serta cocok dengan bidang kemampuannya. Syarat dimaksud pada umumnya dilakukan dengan memenuhi kondisi simple Antara lain sebagai berikut:[16]
1. Dirumuskan dalam bentuk pertanyaan,
2. Dirumuskan dalam susunan kalimat yang sederhana dan mengurangi penggunaan istilah belum baku,
3. Dirumuskan secara singkat, jelas dan padat, tidak menimbulkan kerancauan pengertian,
4. Perumusan masalah harus mencerminkan keinginan yang hendak dicari,
5. Perumusan tidak mempersulit dalam pencarian data lapangan terutama terhadap data langka,
6. Rumusannya dapat dipakai sebagai dasar dalam perumusan hipotesa, untuk menjaga kemungkinan keinginan dari peneliti lain yuang hendak menguji permasalahan tersebut,
7. Karena permasalahan dapat dijadikan dasar dalam penyusunan judul maka perumusannya harus dapat direfleksikan ke dalam judulnya.
Untuk mempermudah mencari data atau menganalisa data supaya terhindar dari kerincauan, maka seorang peneliti jangan mengambil suatu permasalahan yang bersifat umum atau terlalu luas pembahasannya. Jangan pula mengambil permasalahan yang terlalu singkat atau sempit untuk dibahas. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas sebuah karya penelitian.
Berikut ini diantara contoh permasalahan yang terlalu luas, diantaranya:
1. Sekolah menengah atas,
2. Praktik mengajar,
3. Pengajaran bahasa asing,
4. Managemen keuangan,
5. Pendidikan formal,
6. Budaya Indonesia.[17]
Tema permasalahan diatas sangatlah terlalu luas untuk dibahas, ini malah menjadikan kebingungan tersendiri kepada peneliti tentang seberapa jauh menjabarkan sebuah tema yang diangkat. Misalkan “Bimbingan Penyuluhan” sangat luas untuk diteliti karena tidak ada batasan masalah ruang dan waktu atau kehususan dalam tema itu. Semisal tema itu diganti menjadi “Bimbingan dan penyuluhan siswa SMK 15 tentang larangan/bahaya narkoba dan obat-obatan terlarang”, maka masalah ini bisa meruncing terhadap suatu kasus yang dapat diteliti, lebih mudah untuk dianalisis dan dipahami oleh pembaca. Contoh lain “Peranan menggunakan metode tamtsil terhadap keberhasilan praktik mengajar Sejarah Islam”. Ini dapat disempitkan lagi dengan memberikan batasan tempat ataupun waktu.
Adapun permasalahan yang terlalu sempit juga kurang baik bila digunakan sebagai tema dalam penelitian. Misalkan “Pengajaran bahasa inggris pada siswa kelas XI SMK dengan menggunakan alat bantu kalkulator”, “hubungan Pendidikan moral siswa STM terhadap nilai mata pelajaran Kewarganegaraan”. Kedua contoh diatas sangatlah singkat untuk diangkat menjadi permasalahan dalam penelitian, karena batasan masalahnya terlalu singkat dan sempit. Ini akan menjadi sebuah tema permasalahan yang baik jika peneliti mau menggunakan batasan masalah yang sesuai dengan standar penelitian yang dilakukan serta hasil penelitiannya dapat dimanfaatkan secara general.
Tema masalah juga akan terlihat tidak terlalu bagus jika masalah yang diangkat itu mengandung emosi, prasangka, atau unsur-unsur yang tidak ilmiah. Misalnya: “Pengalaman-pengalaman saya yang menarik sebagai guru SD di Pedalaman Kalimantan” atau “suka duka mahasiswa ITB selama KKN di Jawa Barat.”Masalah untuk tesis atau disertaasi harus dirumuskan secara obyektif dengan pembatasan tertentu. Misalnya, Tes Masuk sebagai prediksi untuk keberhasilan secara obyektif dengan pembatasan tertentu, misalnya “Tes masuk sebagai prediksi untuk keberhasilan belajar di Perguruan Tinggi” atau “Perubahan status wanita Indonesia sesudah kemerdekaan”.[18]Sehingga rumusan yang dipakai bebas dari emosi dan keinginan. Tidak pula diungkapkan suatu sikap yang tidak ilmiah.
F. Karakteristik Permasalahan Penelitian
Permasalahan yang ada harus dapat diklasifikasi, selanjutnya dalam merumuskan masalah dapat diangkat sebagai masalah yang dapat diteliti, biasanya mempunyai karakteristik sebagai berikut:[19]
1. Permasalahan tersebut terkadang bisa dirasakan oleh orang-orang yang terlibat dalam suatu bidang yang sama, misalnya permasalahan dalam kelembagaan, model-model mengajar, dan lain-lain
2. Permasalahan tersebut sering ditemukan dan secara signifikan ditemui oleh orang-orang yang terlibat,
3. Permasalahan tersebut dapat diukur dengan alat ukur penelitian, seperti skala nominal, ordinal, interval, dan rasio,
4. Permasalahan tersebut dapat diteliti, lantaran dapat diungkap kejelasannya melalui tindakan koleksi data dan kemudian dianalisis,
5. Permasalahan tersebut memberi kontribusi yang signifikan, lantaran memiliki nilai guna dan manfaat baik pada tataran teoritis yang berkaitan erat dengan perkembangan ilmu pengetahuan maupun pada tataran praktis dalam kehidupan sehari-hari.
6. Permasalahan tersebut didukung oleh data empiris yakni dapat diukur baik secara kuantitatif ataupun secara empiris yang memberikan hubungan erat antara fakta kontruk suatu fenomena, disamping mendudukkan pada suatu variable yang harus didasarkan pada hukum positif, empiris dan terukur.
7. Sesuai dengan keinginan dan kemampuan peneliti, hal ini penting karena memberikan motivasi dan kekayaan motivasi dan kepercayaan diri pada peneliti di lapangan akan berhasil, karena data yang ada di lapangan kemudian peneliti memiliki kemampuan untuk dikumpulkan sehingga dapat dianalisis sampai hasil penelitian dapat diperoleh.
Adapun setiap masalah yang hendak dirumuskan menjadi rumusan masalah belum merupakan jaminan bahwa masalah itu layak atau sesuai untuk diteliti. dalam mengidendifikasi sebuah tema biasanya penulis mampu menemukan beberapa masalah untuk dirumuskan. Dari masalah-masalah itu kemudian dipertimbangkan dan diteliti mana yang lebih layak untuk dijadikan sebagai rumusan masalah penelitian dan layak untuk diteliti.
Pertimbangan untuk memilih atau menemukan apakah masalah itu layak atau tidak maka perlu dilihat kriteria-kriteria sebagai berikut:[20]
1. Dapat dipecahkan dengan menggunakan metode empirik atau masuk akal (rasio) dan dapat mengisi research gap,
2. Secara umum hal itu merupakan masalah yang kritis dan mendesak untuk segera dipecahkan,
3. Masalah itu menerik dan/atau menjadi fokus perhatian masyarakat saat itu,
4. Masalah itu memiliki nilai teoritik dan praktik, dalam arti lain memiliki manfaat yang luas dan berlaku dalam waktu yang relative lama dan memungkinkan regeneralisasi,
5. Mencari atau menguji sesuatu dalam rangkan pemuassan akademis seseorang, yaitu memiliki ketajaman dalam definisi dari konsep-konsep utama.
6. Memuaskan perharian serta keingintahuan seseorang akan hal-hal baru,
7. Meletakkan dasar untuk memecahkan beberapa penelitian sebelumnya,
8. Memenuhi keinginan social dan berhubungan dengan problem empiris,
9. Menyediakan sesuatu yang bermanfaat atau praktis,
10. Mempunyai batasan-batasan yang jelas,
11. Berbobot bimensi operasionalnya, baik dimensi waktu, tempat dan dimensi Magister.
12. Dapat di hipotesiskan,
13. Memiliki sumber data yang jelas seandainya bisa diisi ulang,
14. Dapat atau memiliki alat ukur yang jelas,
15. Seandainya dianalisis dapat digunakan teknik-teknik analisis yang jelas,
16. Pertimbangn dari arah (obyektifitas),
17. Pertimbangan dari calon peneliti (bubyektifitaas), meliputi; biaya, waktu, alat-alat, bekal dan metode.
Sehingga jika terdapat rumusan masalah yang tidak sesuai dengan kriteria-kriteria di atas maka rumusan masalah tersebut tidak layak untuk dijadikan sebagai Masalah penelitian.
KESIMPULAN
Penelitian dilakukan karena ada masalah penelitian. Suatu masalah tidak dapat dijadikan masalah penelitian kalau masalah tersebut dapat dijawab dengan “yah” atau “tidak”. Masalah penelitian tidak pernah berdiri sendiri melainkan selalu terkait, terdapat kontelasi dengan faktor-faktor lain. Misalnya, latar belakang politik, historis, ekonomi, sosial, dan budaya.
Masalah penelitian secara umum dapat diartikan sebagi suatu kesenjangan (Gap) antara yang seharusnya dengan apa yang terjadi tentang sesuatu hal, atau antara kenyataan yang ada atau terjadi dengan yang seharusnya ada atau terjadi serta antara harapan dan kenyataan. Pada hakikatnya masalah penelitian adalah segala bentuk pertanyaan yang perlu dicari jawabannya, atau segala bentuk rintangan dan hambatan atau kesulitan yang muncul pada bidang tertentu. Kemudian dirumuskanlah masalah-masalah itu untuk diidentifikasi dan pecahkan agar menjapat sebuah solusi yang tepat dengan menggunakan metode-metode ilmiah.
Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006
Best, John. W., Metodologi Penelitian Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional, 1982
Echols, John M., Kamus Inggris Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia, 2003
Ghony, Djunaidi dan Fauzan Al-Mansur, Metodologi Penelitian Pendidikan, Malang: UIN Malang Press, 2009
Gustafsson, Bengt, Good Reasearch Practice, Sweden: CM-Grappen AB, 2011
Kothari, Reseach Metodology(metthods and technique), New Delhi: New Age International Publisher.
Masyhuri, dan Zainuddin, Metodologi Penelitian Pendekatan Praktis dan Aplikasi, Bandung: PT. Rafika Aditama, 2008
Musfiqon, Panduan Lengkap Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: PT.Prestasi Pustakaraya, 2012
Nasution, Metode Research(Penelitian Ilmiah, Jakarta: Bumi Aksara, 1996
Soewarji, Yusuf, Pengantar Metodologi Penelitian, Jakarta: Mitra Wacana Media, 2012
Subagyo, Joko, Metode Penelitian dalam Teori dan Praktik, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004
Widi, Restu Kartiko, Asas Metodologi penelitian, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010
Yousda, Ine I. Amirman, Penelitian dan Statistik Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1993
[1] Soewarji, Yusuf, Pengantar Metodologi Penelitian, Jakarta: Mitra Wacana Media, 2012, 83
[2] Djunaidi Ghony dan Fauzan Al-Mansur, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Malang: UIN Malang Press), 2009, hal. 47
[3] Musfiqon, Panduan Lengkap Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: PT.Prestasi Pustakaraya), 2012, hal. 33
[4] Ibid, hal. 35
[5]Ibid, hal 36
[6]Bengt Gustafsson, Good Reasearch Practice, Sweden: CM-Grappen AB, 2011
[7] Joko subagyo, Metode Penelitian dalam Teori dan Praktik, (Jakarta: PT. Rineka Cipta), 2004, hal. 80
[8] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: PT. Rineka Cipta), 2006. Hal. 35
[9] Ibid, hal. 36
[10]Kothari, Reseach Metodology(metthods and technique), New Delhi: New Age International Publisher.26
[11] Restu Kartiko Widi, Asas Metodologi penelitian (Yogyakarta: Graha Ilmu), 2010, hal. 140
[12] Nasution, Metode Research(Penelitian Ilmiah) (Jakarta: Bumi Aksara), 1996, 16
[13] Ibid, hal. 16
[14] Restu Kartiko Widi, Asas Metodologi penelitian (Yogyakarta: Graha Ilmu), 2010, hal. 140
[15] Nasution, Metode Research(Penelitian Ilmiah)(Jakarta: Bumi Aksara), 1996, 17
[16]Joko subagyo, Metode Penelitian dalam Teori dan Praktik, (Jakarta: PT. Rineka Cipta), 2004, hal. 82
[17]Nasution, Metode Research(Penelitian Ilmiah)(Jakarta: Bumi Aksara), 1996, 18
[18]Ibid, hal. 19
[19]Djunaidi Ghony dan Fauzan Al-Mansur, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Malang: Malang Press), 2009, hal. 49
[20] Masyhuri, dan Zainuddin, Metodologi Penelitian Pendekatan Praktis dan Aplikasi, (Bandung: PT. Rafika Aditama), 2008, 65
Komentar
Posting Komentar