KONSEP PENELITIAN
A. Pengantar
Perkembangan pengetahuan dewasa ini lebih borcorak pada empiric induktif, logika formal atau logika aristoteles[1]yang telah tumbang dan digantikan oleh logika yang dikembangkan oleh Leibniz (abad-17) John Stuart Mill (abad-19) dan Bertrand Russel (abad-20).[2]Mengingat dialektika (tesis, antithesis dan sistesis) Hegel bahwa sebuah kebenaran akan dibantah dengan kebenaran lain dan kemudian ada yang berusah untuk mencari benang merahnya.
Dasar utama dari teori Leibniz atas bantahannya adalah pembedaannya antara kebenaran factual dan kebenaran argumentatif. Materi kebenaran faktual diangkat dari pengamatan indrawi, sedangkan materi kebenaran argumentatif sangat dalam karena berangkat dari dua kapasitas dalam pengolahan materi yaitu kemampuan membuat analisis dan kemampuan membuat komparasi.
Mill dengan system logikanya berusaha untuk membangun tesis bahwa argumentasi disyaratkan berdasarkan pengamatan empiric, bukan berdasarkan pada kausalitas antar fakta. Hal ini dapat dikonklusikan bahwa kebenaran harus diuji berdasarkan realitas yang kita amati, atau berdasarkan argumentasi induktif.
Kemudian yang ketiga adalah Russel, pada mulanya penganut idealisme[3]dan pada perkembangannya ilsafat russel berubah menjadi pluralism ekstrim, yang menganggap bahwa dunia bukan merupakan suatu system yang rasional melainkan merupakan kumpulan dari fakta dan kejadian. Kejadian-kejadian itu mengikuti hukum-hukum tertentu dan menjadi tugas ilmu untuk menemukannya.[4]
Tesis ini menganggap bahwa sebuah kebenaran harus dapat di korespondensi sehingga dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini.
Disisi lain perkembangan pengetahuan didasari pada konsep penelitian empirik[5]-analisis. Hal ini ada sejak manusia mulai sadar akan kebenaran ilmu pengetahuan dengan konstruk pemikiran positivistik sekitar abad 17-an. Dan hal ini kemudian menjadi ilmu-ilmu alam direfleksikan secara filosofis sebagai pengetahuan yang sahih tentang kenyataan. Melalui rasionalisme dan empirisme, ilmu-ilmu alam itu mengembangkan konsep teori murni. Dengan mengambil sikap teori murni, ilmu-ilmu alam membebaskan diri dari kepentingan.[6]
Kemudian pada periode perkembangan dalam metodologi penelitian, seringkali dijelaskan bahwa pengetahuan akan metodologi ini baru mencapai puncak kemapanan pada akhir-akhir abad dewasa ini. Penulis beranggapan bahwa ketentuan bahwa ilmu ini dianggap sudah mapan jika dikategorikan sebagai sesuatu yang statis tetapi kenyataannya sampai kapanpun pengetahuan tentang proses masih akan terus berubah karena ini berlandaskan pada kemampuan seseorang untuk berfikir secara mendalam tentang proses pencarian kebenaran dari pengetahuan.
Saat ini, pencarian kebenaran[7]yang dianggap sebagai proses perkembangan ilmu pengetahuan mulai mendapatkan perhatian yang serius, terutama diberbagai perguruan tinggi sehingga untuk mengarahkan bagaimana pencarian pengetahuan (metodologi penelitian) tersebut bisa berjalan dengan maksimal dan tidak terjadi kesalahan dalam prosesnya.
Hemat penulis bahwa salah satu bentuk pencarian kebenaran yang saat ini berkembang adalah melalui metode penelitian. Hal ini berangkat dari sebuah problem yang berusaha untuk mencari solusinya secara sistematis dengan cara-cara yang telah ada dalam kajian metodologi penelitian.
Di bawah ini, akan dijelaskan mengenai jenis-jenis dari metode penelitian. Mulai berdasarkan dari tujuan, tempat, pendekatan dan keilmuannya dengan harapan memahami klasifikasi dari penelitian yang dimaksud. Serta sebagai landasan untuk mengetahui bahwa pencaria kebenaran ini merupakan suatu hal yang sangat nyata dan dalam dunia akademik dimana semua aktivitas berfikir sesuai dengan kebenaran yang ilmiah. Ibarat seorang pengemudi yang tahu akan jalan yang ditempuh sehingga berjalan dengan aman dan lancar.
Kemudian penulis mengutip dari pendapat Parson, 1946 sebelum menjelaskan masalah konsep-konsep dari penelitian. Penelitian adalah pencarian atas sesuatu (Inquiry) secara sistematis dengan menekankan bahwa pencarian tersebut merupakan berangkat dari sesuatu hal yang dapat dipecahkan[8]
B. Penelitian ditinjau dari segi Tujuannya
Sebelum membahas mengenai penelitian ditinjau dari segi tujuannya, maka penulis memberikan pengertian terlebih dahulu Tujuan dari penelitian yaitu dapat diartikan sebagai proses untuk mengetahui sesuatu yang pada tingkat tertentu dipercaya sebagai sesuatu yang benar. Serta bertitik tolak pada pertanyaan yang disusun dalam bentuk masalah penelitian.[9]Untuk menjawab pertanyaan tersebut disusun suatu jawaban sementara yang kemudian dibuktikan dalam penelitian empiris.
Penelitian dapat meliputi: penelitian eksploratif, penelitian developmental dan penelitian verifikatif.[10]
1. Penelitian Eksploratif
Penelitihan eksploratif merupakan penelitian yang bertujuan untuk menggali secara luas tentang sebab-sebab yang mempengaruhi terjadinya sesuatu. Sebagai contoh dalam sebuah perkuliahan seorang dosen memberikan pertanyaan kepada mahasiswanya tentang teori kebenaran dalam filsafat ilmu ternyata hampir semua mahasiswa tidak berani menatap wajah dari dosen tersebut. Dosen kemudian meneliti sebab-sebab dari fenomena yang ada di dalam kelas.
Dengan demikian metode eksploratif lebih menekankan pada metode studi kasus atau pendekatan mendalam untuk mencapai hubungan kausal dasar. Demikian Penelitian biasanya pergi jauh ke penyebab hal atau kejadian yang menarik bagi kita, menggunakan sangat kecil sampel dan sangat mendalam menyelidik perangkat pengumpulan data. Tujuan dari penelitian eksplorasi adalah pengembangan hipotesis bukan menguji data[11]
2. Penelitian Developmental
Penelitian developmental merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan penelitian sebelumnya dengan cara menguji, mencoba, dan menyempurnakan. Hampir disemua perusahaan sekarang terdapat badan tersendiri untuk mengembangkan usahanya dalam skala kecil dan besar, hal ini disebut sebagai Reseach and Developmend (R & D) dengan cara menganalisis hasil dari perusahaan tersebut dan dibanding dengan kebutuhan pasar.[12]
Dalam bidang pendidikan, borg and gall (1988) berpendapat bahwa penelitian dan pengembangan (Reseach and Developmend / R & D) mampu digunakan untuk mengembangkan atau memvalidasi produk-produk yang digunakan dalam pendidikan dan pembelajaran. Penelitian dan perngembangan merupakan jembatan dari penelitian yang bersifat dasar (basic research) dengan penelitian terapan (applied research), yang mana penelitian dasar bertujuan untuk menemukan pengetahuan yang secara praktis dapat diaplikasikan. Meskipun pada dasarnya penelitian terapan juga untuk mengembangkan produk. Reseach and Developmend (R & D) bertujuan untuk menemukan, mengembangkan dan memvalidasi produk.[13]
Penelitian Developmend (Perkembangan) dapat juga digolongkan sebagai penelitian yang dapat dilihat dari sifat permesalahannya. Ini sesuai dengan tugas penelitian itu untuk mmemberikan, menerangkan, meramalkan dan mengatasi permasalahan atau persoalan-persoalan[14]
3. Penelitian Verifikatif
Penelitian verifikatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk menguji kebenaran hasil penelitihan sebelumnya. Sebahai contoh, pada tahun 2010 terdapat penelitihan tentang manfaat rokok terhadap kecerdasan masyarakat di sebuah desa di kabupaten sidoarjo dan dihasilkan sebuah kesimpulan. Dua tahun kemudian, seorang peneliti lain mengadakan penelitian yang sama dengan tujuan menguji kebenaran hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.[15]
Dalam aplikasinya, penelitian developmend sulit dibedakan dengan penelitian eksploratif karena sama-sama mengkaji tentang sesuatu hal yang sudah ada serta kemiripan dalam proses pengambilan datanya maka hemat penulis yang membedakan adalah langkah selanjutnya setelah pengambilan kesimpulan dalam penelitian developmend adalah dengan mengembangkannya bukan selesai pada proses penyimpulannya.
C. Penelitian ditinjau dari segi Tempatnya.
Penulis beranggapan bahwa tipologi penelitian ditinjau dari segi tempatnya ada tiga yaitu penelitian yang ada di laboratorium, penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan.[16]
Mengadakan survey terhadap data yang ada merupakan langkah yang penting sekali dalam metode penelitian. Memperoleh informasi dari penelitian terdahulu harus dikerjakan dan tanpa memperdulikan apakah data yang dipergunakan adalah data primer atau sekunder. Apakah penelitian tersebut menggunakan penelitian laboratorium, kepustakaan atau lapangan.
1. Penelitian Laboratorium
Penelitian laboratorium merupakan penelitian yang dilakukan dalam ruangan tertutup, dimana seorang eksperimen dijauhkan dari variable pengganggu sebab dapat memengaruhi hasil dari pengujian hubungan sebab akibat.
Penelitian jenis ini dilakukan dalam suatu tempat khusus untuk mengadakan studi-ilmiah dan kerja ilmiah. Tujuan dari penelitian laboratorium untuk ilmu pengetahuan sosial ialah: untuk mengumpulkan data, mengadakan analisa, mengadakan test serta memberikan interpretasi terhadap sejumlah data, sehingga orang bisa meramalkan kecendrungan gerak dari satu gejala sosial dalam satu masyarakat tertentu. Objek penelitiannya, baik berupa masalah-masalah yang teoritis sifatnya maupun yang praktis, yang diteliti oleh satu tim ahli.
Laboratorium bahasa terdiri dari 2 kata yaitu laboratorium dan bahasa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Laboratorium mengandung pengertian suatu ruangan / tempat tertentu yang dilengkapi dengan peralatan untuk melakukan percobaan atau simulasi tertentu. Laboratorium Bahasa berarti suatu ruang yang dilengkapi peralatan tertentu untuk melakukan simulasi bahasa atau memperlancar kemampuan berbahasa seseorang. Bila dihubungkan konsep atau hakikat bahasa dengan laboratorium maka akan muncul pengertian bahwa laboratorium bahasa adalah suatu tempat untuk menyelidiki sistem dari suatu bahasa, menyelidiki / menganalisis unsur - unsur kaidah bahasa, dan menyelidiki / menganalisis lambang / isyarat / tanda bunyi suatu bahasa.
Penelitian laboratorium dapat juga disebut sebagai penelitian dasar (basic research) yang bertujuan untuk mengembangkan teori dan tidak dipergunakan yang langsung bersifat praktis atau penelitian yang dibuat untuk memberikan kontribusi kepada ilmu pengetahuan dan teorinya.[17] Istilah laboratorium ini digunakan karena sifatkan yang teliti, ketat dan terkontrol. Penelitian ini biasanya digunakan untuk meneliti sesuatu yang bersifat pengetahuan alam dalam hal ini biologi, kimia, fisika. Tetapi saat ini penelitian yang ada di laboraturium sudah mulai dari berbagai disiplin ilmu termasuk bahasa.
2. Penelitian Kepustakaan
Penelitian kepustakaan merupakan penelitian yang menggunakan analisis atas isi buku / analisis isi (content analysis)[18]. Penelitian ini akan menghasilkan kesimpulan tentang gaya bahasa buku, kecenderungan isi buku, tata tulys, lay-out, ilustrasi.
Menelusuri literatur yang ada serta menelaahnya secara tekun merupakan kerja dari penelitian kepustakaan. Survey terhadap data yang telah tersedia di perpustakaan dapat dikerjakan setelah masalah penelitian dipilih. Jika studi kepustakaan dipilih sebelum menentukan masalah yang akan diangkat, maka penelaahan kepustakaan termasuk memperoleh ide tentang masalah apa yang paling up to date untuk dirumuskan dalam penelitian.
Dengan mengadakan survey terhadap data yang telah ada, peneliti bertugas menggali teori-teori yang berkembang di bidang ilmu – ilmu yang berkepentingan, mencari metode-metode serta tekhnik penelitian, baik dalam pengumpulan data atau dalam menganalisa data, yang telah pernah digunakan oleh peneliti-peneliti terdahulu. Memperoleh orientasi yang lebih luas dalam permasalahan yang dipilih serta menghindari terjadinya duplikasi - duplikasi yang tidak diinginkan.
Studi literatur, selain dari mencari sumber data sekunder yang akan mendukung sebuah penelitian, serta perlu untuk mengetahui sampai sejauh mana ilmu yang berhubugan dengan penelitian itu berkembang. Dengan mengadakan stadi terhadap literatur yang telah ada maka. Peneliti juga dapat belajar tentang tekhnik-tekhnik kepenulisan karya ilmiah secara sistematis. Hal ini dapat berfungsi untuk mengungkapkan buah pikir yang akan membuat si peneliti lebih kritis dan analisis dalam mengerjakan penelitiannya sendiri.[19]
Dalam rangka menelusuri literatur yang ada dalam studi kepustakaan, maka peneliti harus lebih dulu mengenal perpustakaan secara lebih baik, termasuk sistem pelayanan, sistem penyusunan literatur dan klasifikasi buku yang dianut oleh perpustakaan tersebut.
3. Penelitian kancah atau lapangan
Penelitian kancah atau lapangan. Sesuai dengan namanya, penelitian ini mempunyai cakupan yang sangat luas termasuk sosial, pendidikan, politik, agama. Dibidang sosial, penelitian bisa dilakukan di pasar atau daerah tertentu sesuai dengan objek apa yang akan dikaji. Dibidang politik, penelitian bisa dilakukan di lembaga pemerintahan atau yang lain. Begitu juga aspek agama dan pendidikan, bisa diteliti sesuai dengan tujuan dan objek kajiannya.
Penelitian kancah atau lapangan ini, hemat penulis dapat dikatakan sebagai penelitian terapan (applied research) yang bertujuan untuk menerapkan, menguji dan mengevaluasi kemampuan suatu teori yang diterapkan untuk memecahkan suatu masalah. Jadi penelitian dasar yang telah penulis singgung di atas bertujuan untuk menemukan dan mengembangkan ilmu. Setelah ilmu tersebut dipergunakan maka selanjutnya penelitian tersebut akan menjadi penelitian terapan. [20]
Batasan yang diberikan LIPI adalah:
Penelitian terapan ialah setiap penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ilmiah dengan suatu tujuan praktis. Berarti hasilnya diharapkan segera dapat dipakai untuk keperluan praktis. Misalnya penelitian untuk menunjang kegiatan pembangunan yang sedang berjalan, penelitian untuk melandasi kebijakan pengambilan keputusan atau administrator.
Dilihat dari segi tujuannya, penelitian terapan berkepentingan dengan penemuan-penemuan yang berkenan dengan aplikasi dan sesuatu konsep-konsep teoritis tertentu.[21]
D. Penelitian ditinjau dari segi Pendekatannya
Penelitian ditinjau dari segi pendekata sebenarnya sangat erat hubungannya dengan tekhnik pengumpulan data. Karena kegiatan ini tidak lain adalah suatu proses pengadaan data primer untuk keperluan penelitian. Pengumpulan data merupakan kegiatan yang sangat penting dalam metode ilmiah, karena pada umumnya, data yang dikumpulkan digunakan untuk proses penelitian.[22]
Dalam kegiatan penelitian, waktu merupakanelemen penting dari setiap desain penelitian. baik sebagai satu kali riset atau beberapa riset. Dalam kasus yang pertama penelitian ini adalah terbatas pada waktu - periode tunggal, sedangkan dalam kasus terakhir penelitian dilakukan di lebih dari beberapa waktu periode.[23]
Pendekatan cross-sectional dan longitudinal. Sebuah studi cross-sectional adalah penelitian yang terjadi pada satu titik waktu. Sedangkan studi longitudinaladalah penelitianyang berlangsung dari waktu ke waktu. Dalam hal ini peneliti memiliki minimal dua (dan seringkali lebih). Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh William M. K. Trochim The Research Methods Knowledge Base. Sebagai berikut:
Time is an important element of any research design, and here I want to introduce one of the most fundamental distinctions in research design nomenclature: cross-sectional versus longitudinal studies. A cross-sectional study is one that takes place at a single point in time. In effect, you are taking a slice or cross-section of what-ever it is you're observing or measuring. A longitudinal study is one that takes place over time - you have at least two (and often more) waves of measurement in a longitudinal design.[24]
1. Pendekatan Longitudinal (Pendekatan Bujur)
Pendekatan longitudinal merupakan pendekatan yang menggunakan satu kasus tetapi konsen terhadap waktu yang lama untuk mengetahui hasil atas perkembangan objek yang diteliti. Sebagai contoh, untuk mengetahui perkembangan kemampuan berfikir peserta didik di sekolah dasar bright kiddie, Wiyung, Surabaya. Sejak kelas 1 sampai kelas 6. Yang perlu diperhatikan disini adalah waktu pencatatan dilakukan. Jika peneliti melakukan pencatatan pada bulan juli maka pada tahun berikutnya harus mencatat pada bulan juli juga, hal ini diharapkan agar bisa diketahui secara intens atas perkembangan pola pikir peserta didik tersebut.
Pendekatan ini memang ada kebaikannya karena objek yang diamati sama, sehingga faktor-faktor intern individu tidak berpengaruh terhadap hasil. Kelemahannya, waktu penelitian sangat lama dan dikawatirkan dalam jangka waktu yang lama ini telah banyak perubahan kondisi karena perkembangan zaman.
Penelitian longitudinal biasanya lebih kompleks dan membutuhkan biaya lebih besar daripada penelitian cross-sectional, namun lebih andal dalam mencari jawaban tentang dinamika perubahan. Selain itu, penelitian longitudinal berpotensi menyediakan informasi yang lebih lengkap, bergantung pada operasionalisasi teori dan metodologi penelitiannya. Termasuk dalam rancangan penelitian longitudinal adalah cross-sectional berulang (repeated cross-sectional) atau time-series, rancangan prospektif, dan rancangan retrospektif.
2. Pendekatan Cross – Sectional (Pendekatan Silang)
Berebda dengan pendekatan bujur, pendekatan ini tidak menggunakan subjek yang sama. Dalam waktu yang bersamaan, peneliti mengadakan pencatatan tentang perkembangan berpikir peserta didik sekolah dasar bright kiddie secara serentak, yaitu kelas 1 sampai kelas 6. Jelas, satu hal yang menguntungkan adalah bahwa datanya dengan cepat akan terkumpul. Dengan demikian datanya tidak tercidrai oleh pengaruh perubahan waktu karena waktunya bersamaan. Akan tetapi subjek yang berbeda-beda juga harus mendapatkan perhatian yang serius karena perkembangan seseorang atau kelompok satu tahun yang akan datang, mungkin ada perbedaan atau sangat berlawanan keadaannya dengan perkembangan kelompok yang lebih tua.
Dengan demikian, jika kita bandingkan dengan pengambilan data secara kontinu, maka pendekatan longitudinal menggunakan longitudinal method (menembak beberapa kali terhadap kasus yang sama) serta pendekatan cross – sectional (silang) menggunakan one- shot method (menembak satu kali terhadap satu kasus)[25]
E. Penelitian ditinjau dari segi bidang keilmuannya
Penelitian yang berkenaan dengan jenis spesialisasi dan interes, maka tentu saja bidang ilmu yang diteliti banyak ragam sesuai dengan siapa yang meneliti. Ragam penelitian ditinjau dari bidangnya adalah: penelitian pendidikan (lebih lanjut lagi pendidikan guru, pendidikan ekonomi, pendidikan kesenian), ketekhnikan, ruang angkasa, pertanian, perbankan, kedokteran, keolahragaan, dan sebagainya. Dalam pembahasan ini, penulis konsen membahas pada pendidikan, sejarah, politik dan sosial.
1. Dibidang Pendidikan
Pendidikan merupakan proses usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaranagar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara[26]
Penelitia terhadap pendidikan ini sudah penulis singgung pada pembahasan sebelumnya yaitu mengenai reseach and developmen. Dengan kata lain bahwa penelitia pendidikan ini merupakan suatu hal untuk mengembangkan dunia pendidikan dengan cara meneliti kurikulum, profil input peserta didik, profil output peserta didik, kompetensi guru, kelayakan sarana dan prasarana lembaga pendidikan dan kebijakan pemerintah yang berimplikasi pada pendidikan secara umum.
Dengan demikian, keterkaitan antara pendidikan dengan metode penelitian adalah satu hal yang tidak dapat dipisahkan jika kita berkehendak untuk memajukan pendidikan karena melalui proses penelitian ini persoalan – persoalan yang ada dalam pendidikan dipahami dan kemudian dipecahkan.[27]
2. Dibidang Sejarah
Sejarah merupakan deskripsi yang terpadu dari keadaan-keadaan atau fakta-fakta masa lampau yang ditulis berdasarkan penelitian serta studi yang kritis dalam mencari kebenaran. Peneliti dapat menggunakan metode sejarah dalam penyelidikan yang kritis terhadap keadaan-keadaan, perkembangan, serta pengalaman dimasa lampau dan menimbang secara cukup teliti dan hati-hati tentang bukti validitas dari sumber sejarah, serta interpretasi dari sumber-sumber keterangan tersebut. [28] dengan demikian Penelitian sejarah adalah bahwa yang memanfaatkan sumber-sumber sejarah seperti dokumen, tetap, dll untuk mempelajari peristiwa atau ide dari masa lalu.[29]
Dalam hal ini, penulis mengambil dari (Imre Lakatos: 1989) bahwa penelitian dibidang ini perlu di tipologikan terlebih dahulu yaitu sejarah ditinjau dari segi internal dan sejarah ditinjau dari segi eksternal yang secara pengambilan data sejarah internal dianggap sebagai pemenuhan data primer sedangkan sejarah eksternal merupakan pemenuhan data sekunder.[30]
3. Dibidang Politik
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa politik (politics) adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu system politik (atau negara) yang menyangkut suatu proses menentukan tujuan-tujuan dari sestem tersebut dan melaksanakan tujuan itu. Untuk melaksanakan tujuan tersebut dapat dilakukan dengan kebijakan-kebijakan umum (public policies) yang menyangkut peraturan. Untuk melaksanakan kebijakan tersebut maka diperlukan kekuasaan (power) dan kewenangan (Authority).[31]Maka demikian politik ini dapat dimaknai sebagai proses untuk memperoleh kekuasaan.
Disisi lain, Politik dapat diartikan sebagai kenegaraan atau ketata negaraan, serta ada pula yang mengatakan bahwa politik merupakan suatu konstruk pemikiran yang bermuara pada kekuasaan. Dalam hal penelitian, ilmu politik dapat dipergunakan untuk mengkaji tentang ketata negaraan serta sesuatu yang berhubungan dengan kekuasaan. Hal ini menjadi menarik sehubungan dengan naluri seseorang untuk berkuasa sehingga latarbelakang, proses pengambila kebijakan dan dampak dari kebijakan penguasa tersebut dapat dipergunakan sebagai objek penelitian.
4. Dibidang Sosial
Ilmu-ilmu sosial merupakan suatu pengetahuan yang bersifat umum, sistematik yang mana disimpulkan dalil-dalil tertentu terhadap hubungannya dengan manusia. Penelitian ini dapat dimaknai sebagai suatu proses yang dilakukan secara kritis dan terorganisir yang dilakukan secara terus-menerus dengan harapan mengadakan analisa dan memberikan interpretasi terhadap fenomena sosial yang mempunyai hubungan keterkaitan.[32]
Dalam hal ini, dapat juga dikatakan sebagai penelitian social yang mempunyai pengertian penelitian dalam gejala - gejala social yang menyangkut relasi social. Terhadab gejala - gejala tersebut diteliti apakah ada keteraturan di dalamnya. Dengan kata lain, apakah gejala - gejala tersebut bekerja menurut aturan atau hukum tertentu.[33]Tujuan tersebut hemat penulis adalah untuk menemukan hukum dan keteraturan di dalam system social serta untuk memecahkan masalah dalam gejala social tersebut.
Persoalan yang sering dihadapi oleh penelitian dalam ilmu sosial adalah kurangnya kemampuan prediksi dalam membuat ramalan terhadap masalah-masalah sosial. Tiap prediksi sosial selalu terbentur kepada inferesi[34] dari obyek-obyek penelitian sehigga kemungkinan dalam salah prediksi adalah sangat besar.
[1] Logika formil aristoteles berupaya menyusu struktur hubungan dalam relasi formil atar preposisi. Dalam bahasa psikologik, preposisi merupakan pendapat tetag hubungan antar konsep.
[2]Noeng Muhajir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Rake Sarasin, cet-2, 2002), 9
[3] Dalam idelisme hegel setiap fakta di dunia ini mempunyai hubungan satu sama lain, dan merupakan suatu system yang satu yaitu pandangan monistik. Ada hukum umum yang berlaku universal sehingga dianggap bahwa dunia sebagai suatu system yang rasioanl.
[4]Noeng Muhajir, Metodologi Penelitian,10
[5] Dalam penelitian yang akan penulis bahas juga selalu bersifat empiris dengan maksud terdapat hubungan antara fenomena-fenomena dengan kenyataan yang realistis bukan kenyataan yang bersifat metafisik. Bebagai contoh, hama tikus yang merajalela di sawah dan merusak tanaman karena dewi sri marah dan ulah manusia yang serakah. Penyebab dari hama tikus merajalela ini dicari penyebabnya bukan melalui kenyataan metafisik melainkan melalui kenyataan yang bersifat empiric yaitu sesuai dengan kenyataan. Lihat: Kerlinger. Fred N, Foundation Of Behavioral Reseach, (New York: Holt Renehart and Winston, 1973), 9
[6] Dari arus perkembangan filsafat sendiri lahir positivisme yang dirintis oleh agus comte (1798-1857) yang dianggap sebagai puncak pembersihan dari kepentingan dan awal dari cita-cita untuk memperoleh pengetahuan demi pengetahuan, yaitu teori yang dipisahkan dari praxis hidup manusia. Yang kemudian pada periode selanjutnya menelurkan ilmu sosiologi. Lihat: Budi Hardiman, Kritik Ideologi (Yogyakarta: Kanisius, 2009), 26
[7] Kebenaran ini berkaitan dengan proses dalam pencarian pengetahuan bukan dimaknai sebagai pengetahuan itu sendiri. Hal ini juga senada apa yang telah disampaikan oleh (Babbie: 1992), hakikat metode penelitian tidak terletak pada apa yang kita ketahui (pengetahuan) melainkan berkenaan dengan bagaimana cara mengetahui. Memang antara keduanya tidak dapat dipisahkan karena merupakan dua rangkaian system tapi jika dikaji lebih mendalam maka ini berkenaan dengan proses. Lihat: Babbie. Earl, The Practice Of Social Reseach, (Belmont: Wadsworth Publishing Campeny, 1992), 9
[8] Moh. Nazir, Metode Penelitian(Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003), 13
[9]Lihat: W. Gulo, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Grasindo, 2012), 56
[10] Cholid Narbuko, Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT Bumi Aksara, cet-5, 2003 ), 41
[11] C. R. Kotari, Methodology Methods And Techniques (Jaipur: New Age International Publishers, 2004), 4
[12] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: PT Rineka Capta, 2006),7-8
[13] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitati dan R & D, (Bandung: Alfabeta, 2012), 4-5
[15] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, 8
[16] Ibid, 10
[17] J. R. Raco, Metode Penelitian Kualitatif, Jenia, Karakteristik dan Keunggulannya (........), 13
[18] Content analysis berangkat dari aksioma bahwa studi tentang proses dan isi komunikasi merupakan dasar bagi semua ilmu social. Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi verbal. Lihat: Noeng Muhajir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Rake Sarasin, cet-2, 2002),68
[19] Moh. Nazir, Metode Penelitian (Jakarta: Galia Indonesia, 1999),111-112
[21] John W Best, Metodologi Penelitian Pendidikan, disunting oleh Drs. Mulyadi Guntur Waseso dan Drs. Sanafiah Faisal, (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), 35
[22] Penulis beranggapan bahwa kegiatan pengumpulan data merupakan prosedur yang sistematik dan standart untuk memperoleh data yang akan digunakan utuk penelitian. Dan hal ini bertujuan untuk menyelesaikan suatu masalah dalam sebuah penelitian
[23] C. R. Kotari, Methodology Methods And Techniques, 4
[25] Ibid, 8-9
[26] Lihat: BAB 1, Ketentuan Umum, Pasal 1. Undang - Undang Republik Indonesia (UURI) No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (sisdiknas), (Bandung: Citra Umbara, 2003), 3
[27] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan(Bandung: Alfabeta, 2013), 6
[28]Moh. Nazir, Metode Penelitian, 48
[29] C. R. Kotari, Methodology Methods And Techniques, 4
[30] Imre Lakatos, The Methodology of Scienctific Research Programmes (New York: Cambride University Press, volume I, 1989), 118
[31]Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, Cet-20, 2002), 8
[32] Ibid, 27
[33]Nan Lin, Foundations Of Social Reseach (New York: McGraw-Hill Book Campeny, 1976), 17
[34] Inferesi dalam kamus ilmiah populer dimaknai sebagai suatu kesimpulan yang diambil dari premis umum (deduksi) atau dari bukti faktual (induksi). Lihat: Pius A Partanto, M. Dahlan al Barry, Kamus Ilmiah Populer (Surabaya: Arkola, 2001), 261
Komentar
Posting Komentar