METODOLOGI PENELITIAN
| Metode Penelitian |
Dalam perkembanganya August Comte (1798-1857) melahirkan positivisme, positivisme adalah puncak pembersian pengetahuan dari kepentingan dan awal pencapaian cita-cita untuk memperoleh pengetahuan demi pengetahuan yaitu teori yang dipisahkan dari praxis hidup manusia. Posistivisme menganggap pengetahuan mengenai fakta objektif sebagai pengetahuan yang sahih.
Baik Bacon maupun Comte melahirkan sebuah metodologi dalam ilmu pengetahuan. Perdebatan tentang metodologi pernah terjadi antara penganut Neo-Kantianisme dan aliran Barat daya atau Madzhab Baden. Perdebatan ini sangat mengalami perdebatan yang sangat panas hinggah perdebatan ini disebut Methodenstreit (perdebatan tentang metode).
Suatu Methodenstreit lebih lanjut terjadi pada tahun 1909 dan 1914 dalam pertemuan Verein Fur Sozialpolitik. Perdebatan itu berkisar pada masalah syrat-syarat kemungkinan suatu ilmu ekonomi dan ilmu sosial yang bersifat normative, sehinggah perdebatan tersebut disebutWerturteilsstreit (perdebatan mengenai nilai), perdebatan kembali terjadi pada rentan antara 1961-1965 pada sutu kongres yang diadakan di Tubingen, pada pertemuan tersebut Sir Karl Raimund Popper diundang untuk membuka diskusi mengenai logika, pemaparan dari Raimund Popper kemudian mendapat sebuah tanggapan dari seorang tokoh mazdhab Frankfrut, Theoder W. Adorno, yang mana antara Raimund Popper dan Adorno sudah sejak semula menjadi jelas bahwa pendapat keduanya saling bertentangan.
Meskipun kedua kubu tidak berhasil mencapai titik temu, melalui Positivismusstreit, akan tetapi pandangan Mazhab Frankfrut mulai dikenal lebih luas dalam public akademis Jerman. Apa yang mereka tawarkan adalah sutu pendasaran epistemologis dan metodelogis bagi ilmu-ilmu tentang masyarakat sebagai lawan dari pemahaman positivistic atas ilmu-ilmu tersebut, sebagaimana yang lazim pada saat ini.[1]
Pada pembahasan kali ini, akan dibahas tentang Pengertian Metodologi Penelitian, Penelitian Ilmiah, Urgensi sebuah penelitian dan karya Ilmiah.
A. Pengertian Metodologi penelitian
Penelitian merupakan salah satu syarat untuk menjadikan sebuah penemuan menjadi ilmiah, dalam proses penelitian, para peneliti membutuhkan berbagai metode dalam melaksanakan penelitianya. Sebuah metode yang dipilih berhubungan erat dengan prosedur, alat serta desain penelitian yang digunakan.
Menurut J.R Raco kata “metode” berdeda dengan “metodologi”, kata metodelogi berasal dari bahasa Yunani ‘methodologia’ yang berarti ‘teknik’ atau ‘prosedur’. Metedologi sendiri merujuk kepada alur pemikiran umum atau menyeluruh (general logic) dan gagasan teoritis (theoretic prespectives) suatu penelitian, sedangkan metode menunjukkan pada tekni yang digunakan dalam penelitian seperti survey, wawancara dan observasi.[2]
Sedangkan kata penelitian berasal dari kata inggris ‘research’. Research berasal dari kata re yang berarti “kembali” dan to search yang berarti ‘mencari’. Dengan demikian arti sebenarnya dari research atau riset adalah mencari kembali.
Menurut Hilway (1956), penelitian tidak lain dari suatu metode studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang sangat hati-hati dan sempurnah terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut.
Parsons (1946), penelitian adalah pencarian atas sesuatu (inquiry) secara sistemis dengan penekanan bahwa pencarian ini dilakukan terhadap masalah-masalah yang dapat dipecahkan.
Dewey (1936), penelitian adalah tranformasi yang terkendalikan atau terarah dari suatu yang dikenal dalam kenyataan-kenyataan yang ada padanya dan hubunganya.
Woody (1927), penelitian merupakan sebuah metode untuk menemukan sebuah kebenaran yang juga merupakan sebuah pemikiran kritis (critical thinking), penelitian meliputi pemberian definisi dan redefinis terhadap masalah, memformulasikan hipotetis atau jawaban sementara, membuat kesimpulan dan sekurang-kurangnya mengadakan pengujian yang hati-hati atas semua kesimpulan untuk menemukan apa yang cocok dengan hipotetis.[3]
Penelitian merupakan sebuah observasi yang mendalam yang tentang sebuah kenyataan-kenyataan yang didasarkan pada kaidah-kaidah umum yang memungkin untuk diteliti lagi pada masa akan datang, penelitian merupakan kegiatan penelitian yang teratur yang disandarkan pada suatu pengetahuan yang memungkinkan untuk sampai padanya, memeriksa keabsahanya dengan uji ilmiah. Penelitian bisa juga diartikan cara untuk studi, yang mana dengan cara tersebut memungkinkan untuk sampai kepada hal-hal yang rumit, penelitian dilakkan dengan cara general dan menyeluruh untuk mengumpulkan data-data dan dalil-dalil yang memungkinkan untuk ditinjau kembali.[4]
Dari berbagai definisi penelitian diatas dapat diambil benang merah bahwa penelitian adalah pencarian atas sesuatu (inqiury) secara sistematis dan dengan sangat hati-hati sehingga ditemukan pemecahan yang tepat dalam suatu masalah. Dalam sebuah penelitian terkandung cirri-ciri tertentu, yakni adanya suatu pencarian, penyelidikan atau investigasi terhadap pengetahuan baru, atau sekurang-kurangnya sebuah pengetahuan baru atau interpretasi (tafsiran) baru dari pengetahuan yang timbul.
Kembali ke pengertian metode penelitian, penelitian dengan mengunakan metode ilmiah (scientific method) disebut penelitian ilmiah (scientific research), dalam penelitian ilmiah ini ada unsur penting yaitu observasi (pengamatan) dan unsur nalar.
Senada dengan J.R Raco, C. R Khotari membedakan antara metode penelitian dan metodelogi penelitian. C. R Khotari mengungkapkan bahwa metode penelitian mengacu pada perilaku dan instrument yang digunakan dalam memilih dan membangun teknik penelitian. Sedangkan metodologi penelitian adalah yang secara sistematis untuk memecahkan masalah dalam sebuah penelitian. Dalam hal ini metodelogi dipahami sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana penelitian dilakukan secara ilmiah, dalam artian mempelajari berbagai cara langkah-langkah peneliti mempelajari masalah penelitian, hal ini dianggap perlu karena bagi seorang peneliti tidak hanya mengetahui teknik penelitian tertentu, tetapi ia juga mengetahui metode atau teknik yang relevan dalam sebuah penelitian[5]
Terlepas dari perbedaan antara metode dan metodelogi, Rane Descartes[6], merumuskan empat kaidah-kaidah pokok tentang sebuag metode. Pertama, tidak menerima apapun sebagai sesuatu yang benar kecuali tidak mengetahuinya secara jelas bahwa itu memang benar, artinya dengan cara hati-hati sebuah penyimpulan terlalu cepat. Kedua, memilih satu persatu kesulitan dan kemudian menjadikanya bagian-bagian kecil untuk lebih memudahkan penyelesainya. Ketiga, berfikir secara runtut, mulai dari obyek-obyek yang paling sederhana dan paling mudah dikenali, lalu meningkat setahap demi setahap sampai pada masalah yang paling rumit. Keempat, membuat perincian yang yang selengkap mungkin dan memeriksa sedemikian menyeluruh sampai yakin tidak ada yang terlupakan/terlewatka.[7]
Moh. Nazir menyebutkan ada 6 kriteria dalam metode ilmiah yakni : (1) berdasarkan fakta (2) bebas dari prasangka (3) mengunakan prinsip-prinsip analisa (4) mengunakan hipotesa (5) mengunakan ukuran objektif dan (6) mengunakan teknik kuantifikasi.[8]
Penulis beranggapan bahwa perbedaan antara kata “metode” dan metodelogi sekiranya tidak perlu dibegitu perdebatkan, yang lebih penting (menurut hemat penulis) dalam sebuah penelitian adalah mengetahui cara dan teknik agar sebuah penelitian tersebut bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
B. Penelitian Ilmiah
Penelitian Ilmiah dalam terminologi bahasa Arab di istlahkan dengan “al-Bahstul al-Ilmiah” kata Ilmu[9]berasal dari kata Ilm, secara bahasa ilmu berarti mencari sesuatu hingga sampai kepada hakikatnya, sedangkan menurut istilah adalah sekumpulan fakta-fakta, teori-teori dan metode-metode penelitian yang digunakan untuk referensi ilmiah[10]
Hubungan antara ilmu dengan penelitian merupakan suatu keterkaitan, penelitian merupakan suatu unit pengembangan ilmiah, sedangkan ilmu merupakan satu unit pengetahuan, sedangkan pengetahuan lebih luas cakupanya dari pada ilmu, dan ilmu lebih luas cakupanya dari pada penelitian. Hubungan ilmu dengan penelitian adalah sebuah keterkaitan, jika sesuatu hal bukan merupakan ilmu maka tidak akan diteliti, jika tidak diteliti maka tidak distudy (dipelajari).[11]
Ahmad Badar mendefinisikan penelitian ilmiah bisa dilihat dari segi konseptual dan bisa dilihat dari segi operasional. Definisi penelitian ilmiah dari segi konseptual ialah mengunakan pemahaman-pemahaman untuk memperjelas pemahaman yang lain, dalam definisi ini, penelitian ilmiah merupakan kemampuan berfikir dengan cara tersendiri atau kemampuan untuk memecahkan sebuah masalah. Sedangkan definisi operasional penelitian ilmiah adalah menutup atau sampai kepada cela-cela suatu permasalahan sehinggah terdapat kesamaan antara teori dengan pemikiran dan kesamaan empiris.[12]
W Gulo mengungkapkan bahwa penelitian ilmiah merupakan proses bertanya-menjawab, memperhatikan pristiwa-peristiwa empiris dalam kerangka berfikir teoritis tertentu. W Gulo, mengutip Kerlinger dalam mendefinisikan penelitian ilmiah sebagai berikut:
“Scientific research is systematic, contolld, empirical, and critical investigation of hypothetical proposition about the presumed relations among natural phenomena.”[13]
Pada definisi tersebut menjelaskan bahwa proses penelitian ilmiah pertama adalah menyusun hipotesis tentang hubungan yang terdapat dalam fenomena-fenomena. Ada empat kriteria yang perlu dipenuhi dalam suatu penelitian ilmiah, yaitu ;
1. Penelitian dilakukan secara sistematis, prosesnya dilakukan dari satu tahap ketahap yang lain.
2. Penelitian dilakukan secara terkendali.
3. Penelitian dilakukan secara empiris. Masalah-msalah yang akan diteliti adalah masalah yang bersifat empiris. Semua konsep penelitian harus berhubungan secara operasinal dalam dunia nyata.
4. Penelitian bersifat kritis. Kritis disini berarti ada tolak ukur (Kriteria) yang dipakai untuk menentukan sesuatu yang dapat diterima, baik secara eksplisit maupun implisit.
![]() |
| Proses Penelitian Ilmiah |
Sebagaimana yang oleh gulo ungkapkan, bahwa Penelitian ilmiah sebagai proses bertanya-menjawab, bermula dari pertanyaan dan berakhir pada sebuah jawaban, tetapi antara bertanya dan menjawab membutuhkan ada sebuah proses yang menentekukan mutu sebuah jawaban, proses tersebut dilakukan secara deduktif dan induktif, sistematis, terkendali, empiris dan kritis. Jawaban dari sebuah penelitian harus bisa menjawan dari gejala-gejala empiris yang terjadi. Oleh karena itu penelitian haruslah melalui proses ilmiah, dengan kata lain proses sebuah penelitian agar bisa menjadi sesuatu yang ilmiah haruslah disusun dengan cara logis rasional dan dipihak lain harus aktual.
Babbie mengungkapkan bahwa ciri sebuah pengetahuan ilmiah sebagai berikut:
Science is sometimes characterized as logico-empirical. This ungainly term carries an important message: As we noted earlier, the two pillars of science are logic and observation. That is, a scientific understanding of the world must both make sense and correspond to what we observe. Both elements are essential to science.[14]
Dari penuturan Babbie tersebut, ilmu pengetahuan didunia ini mempunyai dua pilar penting yaitu logic rasional dan pengamatan empiris, karena ditopang kedua pilar tersebut maka ilmu pengetahuan haruslah bersifat logic-empiric.
![]() |
| Timbangan Ilmu Pengetahuan |
Dengan pendekatan ilmiah manusia berusaha memperoleh kebenaran ilmiah, yaitu kebenaran yang dapat dipertanggung jawaban secara rasional dan empiris. Kebenaran semacam ini dapat diperoleh dengan metoda ilmiah (scientific method). Kunjojo, mengutip pendapatnya Johnson (2005), Metoda ilmiah dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu dengan mengunakan metode deduktif dan induktif.
a. Metode deduktif melibatkan tiga langkah sebagai berikut:
1. Menyatakan hipotetis (berdasarkan teori dan letelatur penelitian)
2. Mengumpulkan data dan menguji hipotesisi
3. Membuat keputusan untuk menerima atau menolak hipotesis
b. Metode induktif, metode ini juga melibatkan tiga langkah:
1. Observasi
2. Mencari pola tentang apa yang dimati
3. Membuat generalisasi tentang apa yang terjadi.[15]
Adapaun dalam ranah prakteknya, Suharsimi Arikunto mengungkapkan
ada 11 langkah dalam sebuah penelitian, kesebelas langkah tersebut sebagai berikut:
1. Memilih masalah.
2. Studi pendahuluan.
3. Merumuskan masalah.
4. Merumuskan anggapan dasar.
4a. Merumuskan Hipotesis
5. Memilih pendekatan.
6. Menentukan variable dan sumber data
7. Menetukan dan menyusun instrument.
8. Mengumpulkan data
9. Analisis data
10. Menarik kesimpulan.
11. Menulis laporan
Langkah ke-1 sampai ke- 6 mengisi kegiatan pembuatan rancangan penelitian. Langkah ke-7 sampai ke-10 merupakan pelaksanaan penelitian dan langkah yang terakhir pembuatan laporan.[16]
Pengertian dari Ruang lingkup adalah Batasan. Sebagaimana bahasan yang telah lalu, metodologi penelitian ialah ilmu tentang metode-metode yang akan digunakan dalam melekukan suatu penelitian. Ruang lingkup metode penelitian sangat beragam, penelitian dapat juga didasarkan pada daerah atau area penelitian yang didukung oleh ilmu tertentu, seperti filsafat, sosiologi, psikologi dan sebagainya. (Baca Juga : Prosedur Penelitian)
Untuk memperjelas sebuah metode penelitian, Moch Nazir mengelompokan dalam lima kelompok umum sebagai berikut.
a) Metode sejarah
b) Metode deskripsi
c) Metode Eksperimental
d) Metode Graunded Research.
e) Metode penelitian Tindakan
1. Metode Sejarah
Moch Nazir mengutip pendapatnya Nevins (1933) Sejarah adalah pengetahuan yang tepat terhadap apa yang telah terjadi, sejarah adalah deskriptif yang terpadu dari keadaan-keadaan atau fakta-fakta masa lampau yang ditulis berdasarkan penelitian serta studi kritis untuk mencari kebenaran. Penelitian dengan mengunakan metode sejarah penyelidikan yang kritis terhadap kedadan-keaadaan, perkembangan, serta pengalaman dimasa lampau dan menimbang secara cukup teliti dan hati-hati tentang bukti validitas dari sumber sejarah serta interpretasi dari sumber-sumber keterangan tersebut.
Adapun cirri-ciri metode sejarah sebagai berikut:
a. Metode sejarah lebih banyak mengantungkan diri pada data yang diamati orang lain di masa-masa lampau.
b. Data yang digunakan lebih banyak tergantung pada data primer dari pada data sekunder.
c. Metode sejarah mencarai data secara lebih tuntas serta menggali informasi yang lebih tua yang tidak diterbitkan ataupun yang tidak dikutip dalam bahan acuan yang standar.
d. Sumber data harus dinyatakan secara definitive, baik nama pengarang, tempat dan waktu.
2. Metode diskripsi
Penelitian ini ruang lingkupnya lebih luas dan lebih terperinci dari pada penelitian ekspolatif. Dikatakan demikian karena kita meneliti tidak hanya masalahnya sendiri, tetapi juga varibel-variabel yang berhubungan dengan masalah itu.[17]
3. Metode Eksperimental.
Eksperimen adalah observasi dibawah kondisi buatan, dimana kondisi tersebut dibuat dan diatur oleh si peneliti, dengan demikian, penelitian eksperimental adalah penelitian yang dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap objek penelitian serta adanya control. Tujuan dari penelitian eksperimental adalah untuk menyelidiki ada ada-tidaknya hubungan sebab akibat.[18]
4. Metode Graunded Research.
Graunded research adalah suatu metode penelitian yang mendasarkan diri kepada fakta dan mengunakan analisa perbandingan bertujuan untuk mengadakan generalisasi empiris, menetapkan konsep-konsep, membuktikan teori dan mengembangkan teori dimana pengumpulan data dan analisa data berjalan pada waktu yang bersamaan.[19]
5. Penelitian Tindakan
Metode penelitian tindakan adalah suatu penelitian yang dikembangkan bersama-sama antara peneliti dan decision maker tentang variable-variabel yang dapat dimanipulasi dan dapat segera digunakan untuk menentukan kebijakan dan dan pembangunan. Peneliti dan decision maker bersama-sama menentukan masalah, membuat serta desai serta melaksanakan program-program.[20]
Manfaat sebuah penelitian mengandung 2 manfaat, manfaat teoritis dan manfaat praktis. Manfaat teoritis adalah Penelitian yang meragukan dari sebuah teori tertentu disebut penelitian veriikatif, keraguan terhadap suatu teori muncul ketika suatu teori bersangkutan tidak bisa lagi menjelaskan peristiwa-peristiwa actual yang dihadapi. Pengujian terhadap teori dilakukan melalui penelitian empiris dan hasilnya bisa menolak atau mengukuhkan atau merevisi teori yang bersangkutan. Demikianlah teori harus berkembang terus melalui penelitian, dan dengan demikian ilmu pengetahuan berkembang terus tanpa batas. Itulah sebabnya penelitian ditempatkan pada dharma kedua pada perguruan tinggi sebagai lembaga yang mengelolah ilmu pengetahuan.
Pada sisi lain penelitian juga bersifat untuk memecahkan masalah-masalah praktis, mengubah lahan yang kering menjadi lahan yang subur, mengubah cara kerja supaya supaya lebih efisien dan mencarikan sebuah solusi pada sutu permasalahan yang berkembang dimasyarakat dan mendapatkan pemecahanya dengan melalui penelitian ilmiah, hampir semua lembaga dimasyarakat baik itu lembaga swasta mapun lembaga pemerintah menyadari manfaat ini dengan menempatkan penelitian dan pengembangan sebagai bagian integam dalam bagian mereka. Manfaat penelitian ilmiah seperti ini dinamakan Manfaat Praktis dalam sebuah penelitian.[21]
D. Karya Ilmiah
Setelah melakukan tahapan-tahapan dalam sebuah penelitian, maka pada tahap akhir dari sebuah laporan penelitian adalah membuat karya ilmiah. Karya ilmiah adalah dokumen tertulis atau prosa yang ditulis berdasarkan metode ilmiah tentang berbagai hal mengenai alam kodrat, karya tulis tentang ilmu gaib dan sesuatu yang bersifat fiktif itu bukan termasuk pengertian ilmiah. Karya tulis dalam bidang sastra sering bersifat non ilmiah atau bukan ilmiah, karena materi pembicaraanya bersifat absrak. Perlu digaris bawahi kata non itu tidak bukan berarti tidak. Karya tulis tentang lam kodrat dan segala hal mengenai bidang sosial pun mungkin tidak ilmiah, bila metodologi penulisanya tidak ilmiah serta materi pembicaraanya tidak diperoleh secara ilmiah.[22]
Karya ilmiah merupakan salah satu sarana yang sangat penting dalam penyebaran ilmu dan teknologi. Berkat membaca sebuah karya tulis ilmiah tantang bidang yang ditekuni, tidak jarang seseorang tidak jarang seseorang meningkatkan keaktifan dalam bidang tersebut, bahkan sering juga terdengar bahwa karya tulis ilmiah seseorang dijadikan landasan pemerintah untuk menentukan sebuah kebijakan. (Baca juga: Konsep Masalah Penelitian)
Maksud dan tujuan suatu karya tulis ilmiah adalah penting karena hal ini menjadi dasar penulisan. Suatu makalah yang baik mempunyai dua tujuan: 1) harus secara lengkap dan jelas menguraikan prosedur yang diikuti dan hasil yang diperoleh. 2) harus menempatkan hasil kedalam suatu prespektif dengan jalan mengaitkanya dengan perkembangan ilmu sekarang dan dengan jalan menginterpretasikanya dengan studi lanjut.[23]
Untuk memperluas cakrawala maksud karya lulis ilmiah sutu tulisan menyajikan sebuah informasi, dan informasi tersebut harus berupa observasi, teori, hipotesis, dan temuan. Dengan menyajikan informasi demikian seseorang (ilmuan) lain tertarik dengan apa yang disajikan oleh penulis dengan observasi, eksperimen dan pemikiran penulis. (Baca juga: Penyusunan Rumusan masalah pada Penelitian)
Sebelum peneliti membuat laporan karya ilmiah, peneliti harus melakukan penelitian terlebih dahulu, baik berupa survai, studi kasus, penilaian, maupun metode-metode penelitian yang lainya. Dalam kegiatan tersebut peneliti harus mengumpulkan data atau informasi dari lapangan dengan mengunakan cara atau alat untuk mengumpulkan data seperti wawancara, angket, observasi, kemudian mengolah data agar dapat ditafsirkan untuk menjawab masalah penelitian dan dapat menarik kesimpulan, setelah itu mebuat laporan penelitian.[24]
Ada tiga kriteria dalam penulisan karya ilmiah yakni kriteria konseptual, prosedural, dan kriteria teknikal.
1. Kriteria konseptual
Ilmuan mula-mula berpandangan bahwa kriteria ilmiah itu terdiri dari fakta, teori dan postutat, fakta diuji dan secara absolute benar dan tidak akan berubah, teori harus didukung dengan sekurang-kurangnya dengan satu fakta ilmia, postulat, harus secara langsung didukung oleh oleh sekurang-kurangnya satu fakta ilmiah.
Jujun Suriasumantri menyatakan seorang harus mengkaji anatomi, yaitu dengan mempersoalkan postulat, asumsi dan prinsip. Postulat adalah anggapan mengenai hakikat wujud yang tidak perlu didemontrasikn atau diuji tetapi dianggap benar, postulat digunakan untuk kerangka berfikir, selain merumuskan yang didasarkan pada suatu dasar teori yang ada, maka sesorang dapat menyusun postulatnya sendiri. Selain itu bahwa asumsi adalah sebuah anggapantentang realitas dimana teori itu akan diterapkan.
Contoh dari kriteria ini adalah perubahan dapat dikurur, perubahan dapat dipahami sebagai pemikiran rasional, menurut empirisme benda itu perlu diobservasi dan diukur, pengumpulan data itu tidak boleh bias, hipotetis harus dapat diuji.
Dari uraian diatas, dapatlah disimpulkan bahwa dari segi kriteria konseptual, sutu karya tulis ilmiah hanya memenuhi persyratan apabila mempersoalkan postulat, asumsi, teori dan prinsip dalam tulisanya.[25]
2. Krtiteria prosedural
Para ilmuan telah menyusun format untuk makalah ilmiah secara berurutan, makalah ilmiah terdiri dari:
a. Judul
b. Abstrak
c. Pendahuluan
d. Materi dan metode
e. Temuan/hasil
f. Diskusi/ pembahasan
g. Kepustakaan yang dikutip
Dengan berpedoman pada format ini para ilmuan memelihara secara konsisten dan efisien dengan komunitas ilmiah. Urutan yang sangat logi ini dapat diapliksikan pada semua bentuk tulisan ilmiah cara efektif untuk mengikutinya adalah dengan jalan menjawab empat pertanyaan berikut
1) Apa masalahnya? Jawaban anda adalah pendahuluan.
2) Bagaimana anda meneliti sebuah maslah? Jawaban anda adalah materi dan metode.
3) Apa yang anda temukan? Jawaban anda adalah hasil temuan.
4) Apa makna dari temuan itu? Jawaban anda adalah pembahasan/diskusi.[26]
3. Kriteria teknikal
Gaya penulisan karya penulisan itu sama, yaitu singkat, akurat dan tidak mengunakan berbunga-bunga, mudah dipahami dan isinya memperbolehkan pembaca untuk dapat memproduksi apa yang ditulis.
Walapun bukan merupakan formula, jumlah halaman perlu diperhatikan, jumlah halaman dapat digunakan pegangan sebagai berikut:
a) Abstrak dan pendahuluan 1 halaman.
b) Materi dan metode 3 halaman.
c) Hasil/temuan 4 halaman
d) Pembahasan 3-4 halaman
e) Kepustakaan 1-2 halaman.
Dari segi teknik, saran-saran dibawah ini akan bermanfaat bagi penulis karya ilmiah, yang dikemukakan sebagi berikut.
· Tulislah dengan jelas dan singkat
· Hindari slang atau jargon
· Hindari kata-kata pasif
· Ikuti format karya tulis ilmiah
· Gunakan kata ganti orang pertama, mislanya kami berkesimpulan…..
· Hindari pengunaanj pandangan sendiri
· Singkatan agar diperjelas terlebih dahulu pada permulaaan
· Gunakan judul atau sub judul pada setiap komponen.[27]
Kesimpulan
Metodologi penelitian adalah cara yang sistematis untuk memecahkan masalah dalam sebuah penelitian. Dalam hal ini metodelogi dipahami sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana penelitian dilakukan secara ilmiah, dalam artian mempelajari berbagai cara langkah-langkah peneliti mempelajari masalah penelitian.
Kerlinger dalam mendefinisikan penelitian ilmiah sebagai berikut: “Scientific research is systematic, contolld, empirical, and critical investigation of hypothetical proposition about the presumed relations among natural phenomena.”
Moch Nazir mengelompokan metode penelitian dalam lima kelompok umum sebagai berikut. (1)Metode sejarah, (2)Metode deskripsi, (3)Metode Eksperimental, (4) Metode Graunded Research., (5)Metode penelitian Tindakan
Manfaat penelitian, ada manfaat teoritis dan manfaat praktis, manfaat teoritis adalah penelitian bisa menolak, mervisi, atau menambahi penelitian yang sebelumnya.
Sedangkan manfaat praktis dalam sebuah peneliatian adalah salah satunya untuk memecahkan sebuah permasalahan tertentu.
Daftar Pustaka
Budi Hardiman, F, Kritik Ideologi Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas. Yogyakarta: Kanisusu, 2009.
Babie, Earl, The Paractis of Social Research, Balmoft, wodsworth Publising Company.
Badar, Ahmad, Usul al-Bathsul al-Ilmii wa Munaahijihi, Kairo, Maktabah Akademia, 1987.
D. Brotowidjoyo, Muhayyat, Metodologi Penelitian dari Penulisan Karangan Ilmiah, Yogyakarta: Liberty, 1991.
Descartes, Rene, Diskursus and Metode, Yogyakarta, Ircisod, 2012.
Gulo, W. Metode Penelitian, Jakarta: Grasindo, 2010.
Husain Aqil, Aqil, Falsafah Manahiji al Bahsti al Ilmii, Maktabah Makbuli, 1999.
Judir, Masyu, Manhajiyah al-Bahtsi, Malakah Abyad t.k, tt.
J Moleang Ma. Lexy, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Rosda Karya: 2009.
Khotari, C.R. Researsch Methedologi, New Delhi, New Age International, 2004.
Kunjojo, Metodologi Penelitian, Kediri: universitas nusantara PGRI, 2009.
Muhammad Salam Munasiyah, Amin, Qowaid al-Batshu al-Ilmii wa Manaahijihi, Maktabah Wathoniyah, 1995.
Nazir, Moh. Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988.
Raco, JR. Metode Penelitian Kulitatif Jenis Karakteristik dan Keunggulanya, Jakarta: Grasindo, 2010.
Sudjana, Nana Menyusun karya tulis ilmiah untuk memperoleh angka kredit, Bandung: sinar baru, 1992.
[1] F. Budi Hardiman, Kritik Ideologi Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas.(Yogyakarta: Kanisusu, 2009), 29-32.
[2] JR. Raco, Metode Penelitian Kulitatif Jenis Karakteristik dan Keunggulanya, (Jakarta: Grasindo, 2010),1.
[3] Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988), 13.
[4] Amin Muhammad Salam Munasiyah, Qowaid al-Batshu al-Ilmii wa Munaahijihi,(Jiddah, Maktabah Wathoniyah, 1995),17.
[5] C.R. Khotari, Researsch Methedologi,( New Delhi, New Age International, 2004), 7-8.
[6] filusuf pada era modern yang mencetuskan paham rasionalisme.
[7] Rene Descartes, Diskursus and metode, (Yogyakarta, Ircisod, 2012), 51.
[8] Moh. Nazir, Metode Penelitian, 42
[9] Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan, sedangkan pengetahuan lebih luas cakupanya dari pada ilmu. Karena didalam sebuah pengetahuan terdapat ilmu dan selain ilmu, untuk membedakan antara ilmu dan bukan ilmu dalam sebuah pengetahuan dengan melihat kaidah-kaidah metodelogi dan pemikiran. Jika sebuah pengetahuan cocok dengan kaidah-kaidah metodelogi dan pemikiran maka itu adalah ilmu, dan apabila tidak cocok dengan kaidah-kaidah metodelogi dan pemikiran, maka bukan ilmu.( Lihat Amin Muhammad Salam Munasiyah, Qowaid al-Batshu al-Ilmii, hlm 15)
[10] Masyu Jaidir, Manhajiyah al-bahtsi, (malakah abyad t.k, tt ), 4.
[11] Aqil Husain Aqil, Falsafah manahiji al Bahsti al Ilmii (maktabah makbuli, 1999), 25-26.
[12] Ahmad Badar, Usul al-Bathsul al-Ilmii wa Munaahijihi, (Kairo, Maktabah Akademia, 1987), 39.
[13] W. Gulo, Metode Penelitian, ( Jakarta: Grasindo, 2010), hlm 16.
[14] Earl Babie, The Paractis of Social Research, (balmoft , wodsworth Publising company), 8.
[15] Kunjojo, Metodologi penelitian, (Kediri, universitas nusantara PGRI ,2009), 6.
[16] Suharsimi Arikunto, Prsedur penelitian suatu pendekatan Praktek, (Jakarta, Rineka Cipta, 2006), 22.
[17] Moh. Nazir, Metode Penelitian, 54-55.
[18] Ibid 74.
[19] Ibid 88.
[20] Ibid 94.
[21] W. Gulo, metode penelitian, 21.
[22] Muhayyat D. Brotowidjoyo, Metodologi Penelitian dari Penulisan Karangan Ilmiah (Yogyakarta: Liberty, 1991), 92.
[23] W. Gulo, metode penelitian, 21.
[24] Nana Sudjana, Menyusun karya tulis ilmiah untuk memperoleh angka kredit, (Bandung: sinar baru, 1992) 35.
[25] Lexy J Moleang Ma. Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Rosda Karya: 2009), 372-373.
[26] Ibid, 373-374
[27] Ibid, 375.



Komentar
Posting Komentar