NABI MUHAMMAD SAW DALAM PERIODE MAKKAH (Pembentukan Peradaban Islam)
NABI MUHAMMAD SAW DALAM PERIODE MAKKAH
(Pembentukan Peradaban Islam)
![]() |
| Kaligrafi Bertulisan Muhammad |
Rasul Muhammad SAW. adalah seorang pemimpin agama dan pemimpin negara yang mempunyai kepribadian terpuji. Beliau adalah panutan terbaik (uswatun hasanah) bagi umat muslim di seluruh dunia Islam. Melaui organisasi dakwah Islamiyah, Rasulullah mampu mengubah jalannya sejarah dan mempengaruhi secara besar-besaran perkembangan penyiaran Islam dari masa jahiliyah (pra Islam) menuju masa peradaban Islam.
Dakwah Rasulullah SAW. periode Mekah-Madinah bertujuan membentuk pribadi muslim (di Mekah) bersifat majemuk sebagai unsur mutlak membangun pemerintahan Islam di Madinah dimana komunitas penduduk Madinah bersifat plural. Kemajemukan di Madinah tercermin dengan adanya perbedaan agama, suku, maupun golongan dan untuk mewujudkan toleransi antar sesama melalui organisasi dakwah Islamiyah. Keberhasilan Rasulullah dalam membangun pemerintahan ditandai dengan dibuatnya piagam Madinah sebagai Undang-Undang yang mengatur komunitas penduduk Madinah yang plural. Hal itu tidak terlepas dari upayanya dalam memperjuangkan dan mendawahkan Islam, sehingga beliau dikenal sebagai rasul yang amat disegani dan mendapatkan simpati dari umat Islam di Mekah –Madinah pada saat itu dan dunia Islam pada umumnya.
Sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita mengetahui sejarah Nabi Muhammad SAW. baik ketika beliau dalam berdakwah sampai hijrah ke Madinah dan diangkat sebagai Rasul. Oleh karena itu, kami mencoba untuk mengingatkan kembali akan sejarah dan perjalanan Nabi untuk selalu kita contoh dan kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Telah kita ketahui bersama bahwa umat Islam pada saat sekarang ini lebih banyak mengenal figur-figur yang sebenarnya tidak pantas untuk di contoh dan ironisnya mereka sama sekali buta akan sejarah dan kepribadian akan kehidupan Rasulullah SAW. Hal inilah yang menjadi latar belakang penulis menulis makalah dengan judul “Nabi Muhammad Periode Mekah; Pembentukan Peradaban Islam”.
Makalah yang kami susun ini akan menjelaskan perkembangan peradaban dalam periode Makkah ketika kelahiran Nabi Muhammad SAW. Peran-peran penting apa saja yang dibawa Nabi sehingga bisa merubah bangsa Arab yang jahiliyah menjadi bangsa yang Islamiah.Perubahan perkembangan peradaban apa saja yang terjadi dan yang patut kita ambil hikmah di balik itu semua.
B. Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW
Pada awal abad ke-7, terdapat dua kekuatan peradaban dunia, yakni peradaban Romawi Timur dan peradaban Persia, dua kerajaan besar yang mempunyai pengaruh penting pada perkembangan sejarah peradaban dunia. Dua kerajaan tersebut menjadi tetangga Arab, sementara pada saat itu, Arab sebagai tempat lahirnya perdaban Islam belum dikenal dalam sejarah dunia.
Peradaban Arab pra-Islam masih diwarnai penyembahan berhala yang dikenal dengan istilah paganisme.[1]Selain menyembah berhala, bangsa Arab pada zaman itu juga disebut sebagai zaman jahiliyah atau zaman kebodohan terhadap agama dan moralitas. Mereka suka berperang, saling berebut kekuasaan, berjudi, menganggap rendah kaum wanita dan lain-lain . Namun dibalik semua itu, bangsa Arab sejak dahulu memiliki sifat kesatria, setia kawan dan menepati janji.[2] Di tengah-tengah bangsa inilah Nabi Muhammad dilahirkan untuk menegakkan tonggak ajaran Islam.
Nabi Muhammad merupakan keturunan suku Quraish, suku yang paling disegani di Mekkah. Pada abad ke V Masehi suku Quraish merebut pimpinan Mekkah dan Ka’bah dari Khuzanah. Nenek moyang mereka bernama Qusai. Abdul Mutholib (497 M.) adalah cicit dari Qusai, dibawah pimpinannya, Mekkah menjadi lebih maju. Dia memiliki 5 anak laki-laki, salah seorang diantaranya bernama Abdullah yang meninggal pada tahun 570 M. Beberapa bulan kemudian, Aminah istri Abdullah melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Muhammad.
Nabi Muhammd lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal atau 20 Agustus 570 M.[3] Di usianya yang masih 6 tahun beliau telah menjadi yatim piatu. Kemudian, Muhammad kecil diasuh oleh Abdul Mutholib kakeknya, selama 2 tahun. Setelah Abdul Mutholib meninggal, hak asuh pun kemudian beralih ke pamannya, Abu Tholib.
Dari Abu Tholib-lah Muhammad belajar berdagang. Beliau sering diajak Abu Tholib berdagang ke negeri Syam. Setelah dewasa, Rasulullah SAW berusaha hidup mandiri untuk mencukupi kebutuhannya sendiri. Karena beliau dikenal sebagai pemuda yang rajin dan jujur, maka seorang janda bernama Khadijah binti Khuwalid, seorang bangsawan dan pedagang kaya memberi kepercayaan kepada beliau untuk membawa barang dagangannya ke negeri Syam. Perjalanan niaganya disertai oleh seorang pembantu Khadijah bernama Maisaroh. Beliau dipilih sebagai komisioner, lantaran sifat-sifat Rasulullah SAW, kepercayaan, kejujuran dan sifat dan pembawaannya baik, akhlak yang terpuji, oleh kaumnya beliau dikenal sebagai “al-Amin” (orang yang terpercaya). Beberapa waktu setelahnya, akhirnya Nabi Muhammad menikah dengan Khadijah. Beliau menikah pada usia 25 tahun, sementara Khadijah pada saat itu berusia 40 tahun.
Menginjak usianya yang semakin bertambah, Muhammad sering menghabiskan waktunya dengan berkhalwat di gua Hira sebagai rasa keprihatinan beliau terhadap bangsa Arab yang menyembah berhala. Di gua inilah beliau pertama kali menerima wahyu pertama, yakni surah al-Alaq 1-5. Wahyu inilah yang menandai bahwa Muhammad telah diangkat menjadi seorang Nabi. Pada waktu itu, Nabi Muhammad belum diperintahkan untuk menyeru kepada umatnya. Tak selang beberapa lama turun wahyu kedua yang memerintahkan Nabi Muhammad untuk berdakwah secara terang-terangan. Dalam hal ini dakwah Nabi Muhammad dibagi menjadi dua periode,[4]yaitu:
a. Periode Mekah, ciri pokok dari periode ini adalah pembinaan dan pendidikan tauhid.
b. Periode Madinah, ciri pokok periode ini adalah pendidikan sosial dan politik.
C. Nabi Muhammad pada Periode Mekkah
Islam pada periode Mekkah dikenal dengan Islam Tauhid dan disebarkan dengan sembunyi-sembunyi dan hanya diajarkan kepada kalangan kerabat dan sahabat Rasulullah SAW saja. Nabi Muhammad SAW, tidak membawa tugas untuk menghapuskan wahyu-wahyu sebelumnya, akan tetapi unuk memberikan konfirmasi kepada wahyu tersebut. Selain itu untuk menolak perubahan-perubahan yang telah terjadi dalam kitab-kitab suci sebelumnya. (Baca juga: Arab Pra Islam ditinjau dari Beberapa Aspek)
Beliau ditugaskan untuk memurnikan ajaran Nabi-Nabi sebelumnya dari pemalsuan-pemalsuan serta mengembangkan dan menyempurnakan, agar dapat sesuai dengan seluruh manusia pada segala zaman dan segala tempat.[5]
Firman Allah : Q.S. at-Taubah: 33:
Artinya : “Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (Q.S. At-Taubah: 33)
D. Strategi Dakwah Nabi
Pada masa periode Mekkah ini, dakwah Rasulullah terbagi menjadi dua proses, yakni proses dakwah secara diam-diam dan proses dakwah secara terang-terangan.
1. Proses dakwah secara diam-diam
Mula-mula Nabi Muhammad mengajarkan Islam atau berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Beliau hanya mengajarkan ke-Tauhidan kepada anggota keluarga dan kerabat terdekat. Namun tidak banyak diantara kerabat beliau yang menerima ajakan Nabi. Abu Thalib, paman beliau pun menyatakan tidak sanggup meninggalkan agama nenek moyang mereka, yakni menyembah berhala. Akan tetapi Abu Thalib tidak pernah menghalangi Rasulullah dalam mengajarkan Islam, bahkan beliau pun mengecam keras orang-orang yang menjadi penghambat dakwah Nabi.
Pada periode ini, tiga tahun pertama dakwah Islam dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Nabi mulai melaksanakan dakwah Islam di lingkungan keluarga, mula-mula istri beliau sendiri, yaitu Khadijah. Kemudian Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar dan lain-lain. Pada proses ini, tidak lebih dari 12 orang yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Mereka terkenal dengan julukan assa>biqu>n al-Awwalu>n[6] (orang-orang yang pertama kali masuk Islam), mereka adalah Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar as-Shiddiq, Zaid, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa’ad bi Abi Waqash, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan al-Arqam bin Abil Arqam, yang rumahnya di jadikan sebagai tempat berdakwah.
2. Proses Dakwah Secara Terang-terangan
Setelah tiga tahun berjalan dakwah Islam secara diam-diam, maka disuruhlah Nabi mengumumkan Islam dengan terang-terangan sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam surat asy-syu’ara’: 214. Berdasarkan ayat Allah tersebut Nabi Muhammad mengajak kaum keluarganya, Bani Hasyim untuk masuk Islam, akan tetapi mereka tidak menghiraukannya, bahkan pamannya Abu Lahab mencemooh Nabi Muhammad sehingga turunlah surat al-Lahab. Kemudian Rasulullah mengajak kaum Quraish untuk mengesakan Tuhan tiada sekutu bagi-Nya, berdasarkan ayat yang turun dalam surat al-Hijr: 94 mereka pun ada yang masuk Islam tetapi banyak pula yang menentanngnya.[7]
Setelah turun ayat ini, Rasulullah SAW, menyampaikan dakwahnya kepada seluruh lapisan masyarakat kota Mekah yang pluralistik, dari golongan bangsawan sampai golongan budak serta pendatang kota Mekah yang mempunyai agama berbeda dan berbagai suku. Untuk berdakwah secara terang-terangan ini, beliau mengambil bukit “shofa” sebagai tempat dakwahnya. Mula-mulanya beliau menyeru penduduk Mekkah lalu kemudian penduduk negeri yang lain. Dengan usahanya yang gigih. Hasil yang diharapkan mulai terlihat. Jumlah pengikut nabi yang tadinya hanya dua belasan orang semakin hari semakin bertambah. Mereka terutama terdiri dari kaum wanita, budak, pekerja dan orang-orang yang tidak punya. (Baca juga: Islam Dibawah Kekuasaan Monggol)
Dalam mensyiarkan Islam, Nabi melakukannya dengan strategi yang disesuaikan dengan peradaban dan cara berfikir bangsa Arab, yaitu:[8]
a. Nabi memperkenalkan tauhid kepada Allah sebagai pondasi kehidupan dalam arti yang menyeluruh. Ajaran tauhid ini tidaklah sebagai konsep dan sebatas bidang pengetahuan saja, tetapi tauhid yang fungsional dan terapan. Dalam arti, setelah seseorang beriman kepada Allah, maka sekaligus sikap keimanan tersebut diaplikasikan dalam bentuk kehidupan sehari-hari dan perjuangan membela agama Allah.
b. Nabi menggunakan strategi pentahapan yang jelas. Dimulai dari dakwah di lingkungan keluarga serta masyarakat sekitar yang mempunyai potensi untuk dapat dipergunakan dalam membantu dakwah. Seperti Beliau mengajak Ali putra pamannya, melibatkan Abu bakar sebagai mertua, mengawini Khadijah yang setia dan kaya, serta Umar sebagai pemimpin Quraish yang sangat disegani. Tahapan itu juga terlihat dalam bagaimana Beliau meyakinkan orang-orang secara sembunyi-sembunyi (bi al-sirr), kemudian secara terang-terangan (bi al-jahr) setelah keadaan dianggap memungkinkan untuk itu. Pentahapan itu juga dapat dilihat pada usaha-usaha beliau memba’iat mereka yang ingin bergabung dengan beliau, seperti tahapan perjanjian ‘Aqabah I yang diikuti oleh 12 orang dari Madinah, serta perjanjian ‘Aqabah II yang diikuti oleh 73 orang dari kota yang sama. Sehingga, dari pengikut yang sedikit tetapi kuat itu berkembang menjadi banyak seperti mata rantai.
c. Nabi mendayagunakan berbagai macam sumber potensi sahabat secara efektif. Sahabat yang mempunyai kekayaan lebih seperti Khadijah, Abu Bakar dan Utsman untuk mendanai dakwah. Mereka yang mempunyai pengaruh besar di kalangan Quraish seperti Umar bin Khattab dan Hamzah yang muslim, serta Abdul Munthalib dan Abu Thalib yang non-muslim, menyiapkan diri untuk menjadi perisai Nabi dari serangan musuh-musuh besarnya. Sebagian para sahabat yang mempunyai kelebihan intelektualitas seperti Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud dan Zaid bin Tsabit berkhidmat dalam pengembangan ilmu-ilmu agama (tafsir), serta Abu Hurairah menekuni periwayatan hadits-hadits Nabi. Meskipun demikian, mereka juga bersatu mengangkat senjata bersama Nabi manakala keadaan memaksanya, sebagaimana mereka ikut berhijrah ketika hal itu menjadi keputusan Nabi melalui musyawarah.[9]
E. Tantangan Dakwah Nabi
1. Faktor-faktor yang mendorong kaum Quraish menentang seruan Islam
Seruan kepada agama Islam mula-mulanya adalah secara rahasia, sebagaimana telah diterangkan di atas. Hal ini telah diketahui Quraish, akan tetapi dalam fase seruan dengan cara rahasia ini Quraish tidak memperdulikannya, karena mereka sungguh tidak mengira bahwa seruan itu akan hidup dan kuat, dan akan dianut oleh orang banyak. Kemudian setelah Rasulullah mulai menyeru dengan terang-terangan, maka kaum Quraish menyatakan tantangannya terhadap agama baru itu. Dan mereka coba hendak membunuh agama ini dengan cara apapun.
2. Fase-fase tantangan Quraish terhadap agama Islam
Pada permulaan Islam, kaum Quraish belumlah mencurahkan perhatiannya untuk menentang agama Islam. Mereka mengira bahwa seruan Muhammad itu hanya satu gerakan yang berapa lama tentu akan lemah dan lenyap dengan sendirinya. Akan tetapi, alangkah terkejutnya mereka melihat bahwa seruan itu dengan cepat telah memasuki rumah tangga mereka; dan hamba sahaya mereka yang dahulunya mereka anggap derajatnya tidak lebih dari harta benda, telah menerima dengan baik seruan yang baru itu. Karena itu, mereka cepat mencurahkan perhatian menentang.
Pertama sekali, mereka menghalangi hamba-hamba sahaya dan orang yang lemah. Kalau Muhammad bebas mengatakan apa yang diingininya, tetapi hamba-hamba sahaya menurut pandangan mereka tidaklah bebas atas jasmani dan rohani mereka sendiri. Karena itu Yasir dan puteranya ‘Ammar serta istrinya Sumaiyah, begitu juga Bilal, Khabab ibnul Aris dan lain-lain menderita siksaan yang berat, di luar perikemanusiaan.[10]
Akan tetapi Nabi sendiri pada fase ini tiada dapat mereka siksa, karena Bani Hasyimmempunyai kedudukan yang tinggi pada pandangan mereka. Dan Rasul sendiri mendapat penjagaan dari Abu Thalib paman beliau. Akan tetapi setelah seruan Nabi bertambah tersiar, dan beberapa orang bangsawan Quraish telah mulai memperkenankan seruan itu, maka pengaruh seruan itu semakin bertambah jelas.
Perlawanan kaum Quraish pun makin tambah menjadi-jadi pula. Perlawanan itu tidak hanya dihadapkan kepada hamba sahaya dan orang-orang yang lemah, tetapi, mulai pula dihadapkan kepada seluruh penganut-penganut agama baru itu. Malah Nabi sendiri pembawa agama baru itu, tiadalah lepas dan dikecualikan dari tantangan mereka. Nabi mereka tuduh mengadakan perpecahan antara orang-orang dengan keluarga dan hamba-hamba sahayanya, serta menghasut pemuda-pemuda yang menjadi pengikutnya, menghinakan nenek moyang mereka dan dewa-dewa yang mereka sembah. (Baca juga: Nabi Muhammad Periode Madinah)
F. KaumMuslimin Hijrah ke Habsyi
Keadaan kaum muslimin yang disiksa oleh kaum Quraish itu amat menyedihkan sekali. Mereka sangat menderita. Karena penderitaan mereka ini, maka terpikirlah oleh Rasulullah untuk mengirim mereka ke negeri lain, supaya mereka terhindar dari siksaan kaum Quraish. Dan dipilihlah negeri Habsyi, karena rasul mengetahui bahwa raja Habsyi itu seorang yang adil. Tidak pernah orang teraniaya di sana. Maka bulatlah fikiran Nabi akan mengirim pengikut-pengikutnya ke negeri Habsyi.
Peristiwa ini terjadi pada tahun kelima sesudah Nabi Muhammaddiutus menjadi Rasul. Rombongan pertama yang berangkat ke negeri Habsyi terdiri atas 10 orang laki-laki dan 4 orang perempuan. Akan tetapi jumlah itu makin bertambah banyak juga, hingga hampir seratus orang. Diantaranya Utsman bin ‘Affan beserta istri beliau Rukayah puteri Nabi, Zuber ibnu ‘Awwam, Abdurrahman ibnu ‘Auf, ja’far ibnu Abi Thalib dan lain-lain.[11]
Orang-orang ini mendapat penerimaan yang baik dan penghormatan yang besar dari Najasyi(Negus) raja Habsyi. Hingga tatkala kaum Quraish memohonkan kepada Najasyi agar mereka yang hijrah itu dikembalikan ke Makkah, permohonan itu tiada diterima oleh Najasyi. Malah kepada mereka yang telah meninggalkan tumpah darahnya itu, diperkenankan menetap di negeri Habsyi dengan aman dan sentosa.[12]
Semakin bertambahnya pengikut Rasulullah, semakin keras tantangan yang dilancarkan kaum kafir Quraish. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kafir Quraish menentang ajaran Islam, antara lain:
a. Persaingan berebut kekuasaan
Kaum Quraish tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan, atau antara kenabian dan kerajaan. Mereka mengira tunduk kepada agama Muhammad berarti tunduk kepada kekuasaan Abdul Muthalib. Sedangkan suku-suku bangsa arab selalu bersaingan untuk merebutkan kekuasaan dan pengaruh. Sebab itu bukanlah hal yang mudah bagi kaum Quraish untuk menyerahkan kepemimpinan kepada Muhammad karena menurut mereka berarti suku-suku bangsa arab akan kehilangan kekuasaan dalam masyarakat.[13]
b. Penyamaan antara kasta bangsawan dan kasta hamba sahaya
Bangsa arab hidup dengan sistem kasta, tiap-tiap manusia digolongkan dalam kelompok kasta yang tidak boleh dilampauinya. Tapi seruan nabi Muhammad memberikan hak yang sama kepada manusia, yang merupakan suatu dasar yang penting dalam agama Islam, agama Islam memandang sama antara hamba sahaya dengan tuannya.
c. Takut dibangkitkan dari alam kubur
Agama Islam mengajarkan bahwa pada hari kiamat manusia akan dibangkitkan dari dalam kuburnya dan semua amal perbuatan manusia akan di hisab, orang-orang yang berbuat baik maka Allah akan membalasnya dengan Surga akan tetapi orang yang berbuat jahat akan dibalas dengan Neraka. Kaum Quraish tidak dapat menerima agam Islam yang mengajarkan manusia akan dibangkitkan kembali sesudah mati.
d. Taklid kepada nenek moyang
Hal ini merupakan kebiasaan yang berurat akar pada bangsa Arab, sehingga sangat berat bagi mereka untuk meninggalkan agama nenek moyang dan mengikuti agama Islam.
e. Memperniagakan patung
Salah satu dari usaha orang Arab dahulu adalah memahat patung yang menggambarkan Latta, Uzza , Manna , dan Hubal. Patung-patung itu mereka jual kepada jamaah haji, mereka membelinya supaya mendapat berkat atau untuk kenang-kenangan. Tetapi agama Islam melarang menyembah,memahat, dan menjual patung. Oleh karena itu,saudagar-saudagar patung memandang agama Islam sebagai penghalang rezeki mereka, sehingga mereka menentang agama islam.
G. Peristiwa Bai’at Aqabah I dan Ke II
Pada tahun ke XI dari permulaan kenabian, merupakan suatu peristiwa yang tampaknya sederhana, tetapi yang merupakan titik awal lahirnya suatu era baru bagi Islam dan juga bagi dunia. Yaitu perjumpaan Rasulullah SAW dengan enam orang dari kabilah/suku Khazraj, Yatsrib (Madinah) di “Aqabah Mina” yang datang ke Makkah untuk ibadah haji. Secara bersama-sama mereka masuk ke “Aqabah Syi’ib” yang dekat dengan Aqabah Mina, dan sebagai hasil perjumpaan itu, enam tamu dari Yatsrib itu masuk Islam dengan memberikan kesaksian bahwa “Tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah”.
Sebab lain dari masuknya Islam kepada enam orang itu adalah sehubungan dengan mereka adalah penduduk Yatsrib, mereka bertetangga dengan orang-orang Yahudi yang kerap kali mereka menerangkan sifat-sifat Nabi terakhir yang akan datang. Kemudian mereka melihat sifat-sifat itu, akhlak yang terpuji dan selalu terpelihara serta menjadi panutan terbaik, serupa dengan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW yang mereka temui. Sementara itu kepada Nabi mereka menyatakan bahwa kehidupan di Yatsrib selalu dicekam oleh permasalahan yakni permusuhan antar golongan dan antarsuku khususnya Khazraj dengan suku Aus. Harapan meraka adalah semoga Allah mempersatukannya melalui Nabi, dan mereka juga berjanji kepada Nabi akan mengajak penduduk Yatsrib untuk masuk Islam.
Pada musim haji tahun berikutnya, tahun ke-12, dua belas orang laki-laki penduduk Yatsrib; 10 orang dari kabilah Khazraj dan 2 orang dari kjabilah Aus, datang menemui Nabi di tempat yanga sama di bukit Aqabah dan berkumpul di Aqabah Syi’ib. Mereka menerima dakwah Rasulullah Muhammad SAW. Kemudian mereka berbai’at (berjanji kepada Nabi bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berbuat zina, tdak akan berbohong dan tidak akan mengkhianati Nabi serta menjauhi perbuatan kebathilan/ kemungkaran lainnya. Kedua belas orang yang masuk Islam ini adalah merupakan “Bibit Anshar”dan kemudian Rasulullah SAW mengatakan bahwa jika bai’at ini dilaksanakan maka surga sebagai imbalanya, dan jika mengingkarinya maka siksa neraka adalah balasannya dan apalagi Allah menghendaki memberikan ampunan niscayalah ysng diterima itu terlepas dari pada siksaan “Bai’at ini dikenal dalam sejarah sebagai “Bai’at Aqabah Pertama”.[14]
Kemudian pada tahun ke-13, musim haji berikutnya sebanyak 73 orang penduduk Yathrib ; 62 orang dari kabilah khazraj dan 11 Orang dari kabilah Aus yang diantaranya terdapat dua orang wanita dari Arab Madinah, yang sudah memeluk agama Islam berkunjung ke Makkah untuk ibadah haji. Di samping itu mereka semua mengundang Rasulullah untuk hijrah ke Yatsrib dan menyatakan lagi pengakuan mereka bahwa Rasulullah SAW adalah Nabi dan pemimpin mereka. Nabi menemui tamu-tamunya itu ditempat yang sama dengan 2 tahun sebelumnya, Aqabah. Di tempat itu mereka mengucapkan bai’at bahwa mereka akan setia dan membela, melindungi Nabi sebagaimana mereka melindungi anak dan istrinya, ikut berjuang membela Islam dengan harta dan jiwanya, serta berusaha memajukan agama Islam dengan meyakinkan kepada kerabat-kerabatnya. Bai’at ini dikenal dengan “Bai’at Aqabah kedua ; Bai’at – Kubra”.[15]
Tekanan dari orang-orang kafir semakin keras terhadap gerakan dakwah Nabi Muhammad, terlebih setelah meninggalkan dua orang yang selalu melindungi dan menyokong Nabi Muhammad dari orang-orang kafir, yaitu Abu Thalib yang merupakan Paman beliau dan Istri beliau bernama Khadijah. Tahun ini merupakan keseduan bagi Nabi sehingga dinamakan Amul Khuzn.[16]Peristiwa ini terjadi pada tahun 619 M[17]dan bertepatan dengan tahun kesepuluh kenabian.
Karena mendapat berbagai tekanan, Rasulullah memutuskan untuk berdakwah ke Tha’if, daerah di luar Mekkah. Namun, yang diperoleh Nabi hanyalah penghinaan. Beliau dilempari batu kecil-kecil oleh penduduk setempat. Semua hal yang dialami Nabi dan kaumnya hampir membuat beliau putus asa. Untuk menguatkan hati beliau, Allah SWT mengisro’ mi’rajkan Nabi Muhammad.
Kemajuan dakwah Islam terjadi setelah peristiwa Isro’ Mi’roj. Hal ini ditandai dengan datangnya penduduk Yastrib (Madinah) untuk memeluk agama Islam. Satu persatu penduduk Yastrib berdatangan ke Mekkah. Mereka meminta Nabi agar berhijrah ke Yastrib, mereka akan membai’at Rasulullah sebagai pemimpin. Akhirnya Nabi Muhammad bersama kurang lebih 150 kaum muslimin hijrah ke Yastrib, yang kemudian nama daerah tersebut di ganti menjadi Madinah.[18]Peristiwa hijrahnya Nabi dari Mekkah ke Madinah di jadikan sebagai penanda awal dari kalender Islam, yakni tahun Hijriyah.[19]
DAFTAR PUSTAKA
Amin, Samsul, Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah, 2009.
Glubb, Sir John, A Short History of the Arab Peoples. New York: Dorset Press,1988.
Haezan, Muhammad, “Dakwah Rasulullah Dalam History Islam” Tesis—STAIN Surakarta, Surakarta, 2008.
Hakim, Moh. Nur, Sejarah dan Peradaban Islam. Malang: UMM Press, 2004.
Hasan, Ibrahim Hasan, Sejarah Dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Kalam Mulia, 2002.
Hitti, Philip K. Makers of Arab History. London: Harper and Row Publisher, 1968.
Lapidus, Ira M, A History of Islamic Societies. New York: Cambridge University Press, 1988.
Mufrodi, Ali, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta: Logos,1997.
Nizar, Samsul, Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana, 2008.
Shiddiqi, Nourrouzzamn, Jeram-Jeram Peradaban Muslim. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1990.
Sjadzali, Munawir, Islam dan Tata Negara. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1990
Syalabi, A., Sejarah & kebudayaan Islam. Jakarta: PT. Pustaka Al-Husna, 2003
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007.
[5] Muhammad Haezan, “Dakwah Rasulullah Dalam History Islam” (Tesis—STAIN Surakarta, Surakarta, 2008), 56.
[9] Moh. Nur Hakim, Sejarah dan Peradaban Islam, (Malang: UMM Press, 2004), 27-28.
[11] Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah Dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), 162.
[12] A. Syalabi, Sejarah & kebudayaan Islam, (Jakarta: PT. Pustaka Al-Husna, 2003), 77-82.
[13] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), 21.
[17] Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies (New York: Cambridge University Press, 1988), 26
[18] Amin, Sejarah Peradaban, 68
[19] Glubb, A Short History, 34

Komentar
Posting Komentar