Pembuka dan Penutup Surah dalam Al-Qur'an (Fawatih Al-Suwar wa al-Khawatim)

A.      Pengertian Fawatih Al-Suwar wa al-Khawatim
Ada beberapa pendapat yang memasukkan unsur bahasa Arab sebagai definisi al-Qur’an
Shaikh Mahmud Shaltut mendefinisikan Al-Qur’an sebagai lafadz{ Arab yang diturunkan pada Rasulullah secara mutawatir.
االلّفظ العربي المنـزل على نبينا محمّد صلى الله عليه وسلّم المنقول البينا با لتّواتر
Lafaz{ Arab yang diturunkan kepada Nabi Muh{ammad SAW dan disampaikan kepada kita secara mutawatir.[1]

Pendapat yang lain dikemukakan oleh Muh{ammad Sa’i>d Ramad{a>n Al-Bu>t{i>:
الّلفظ العرا بي المعجز الموحي به الى محمّد صلّى الله عليه وسلّم المتعبد بتلا وته والوا صل الينا عن طريق التواتر
lafadz{ Arab yang mu’jiz yang diwah{yukan kepada Nabi (Muh{ammad) SAW, yang membacanya dianggap Ibadah, dan sampai kepada kita dengan cara mutawa>tir.” [2]

 Menurut Abdul Wahab Khallaf[3], Al-Qur’an adalah:

القرآن هو كلام الله الذي نزّل به الروح الامين على قلب رسول الله محمد ابن عبد الله بألفاظه العربية ومعانيه الحقه، ليكون حجة للرسول على أنّه رسول الله، ودستوراً للناس يهتدون بهداه، وقربة يتعبدون بتلاوته. وهو المدون بين دفتي المصحف، المبدوء بسورة الفاتحة، المختوم بسورة الناس، المنقول الينا بالتواتر كتابة ومشافهة جيلا عن جيل محفوظا من أي تغيير او تبديل مصداق قول الله سبحانه فيه " إنّا نحن نزلنا الذكرى وإنا له لحافظون".
“Kalam Allah yang diturunkan dengan perantara malaikat Jibril ke dalam hati Rasulullah Muhammad ibnu Abdullah dengan bahasa Arab yang makna-maknanya benar supaya menjadi bukti bagi Rasul tentang kebenarannya sebagai utusan Allah, menjadi aturan bagi manusia yang menjadikannya sebagai petunjuk, dipandang beribadah membacanya, dan ia dibubukan di antara  dua lembar mushaf, diawali dengan surah al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas, disampaikan kepada kita secara mutawattir baik secara tertulis maupun hafalan dari generasi ke generasi dan terpelihara dari segala perubahan dan penggantian, sejalan dengan kebenaran firman Allah S.W.T “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya”. (Baca juga: Telaah Analisis Tafsir Al-Washit)

Menurut Prof. Dr. Amin Suma, setidaknya ada 14 ayat secara tersirat maupun tersurat menunjukkan bahwa Al-Qur’anditurunkan dalam bahasa Arab, keempat belas ayat tersebut yaitu : [4],
(QS. 12  Yusuf: 2), (QS 13 Ar-Ra’d: 37), (QS 14 Ibrahim : 4), ( QS 16 An Nahl 103), (QS. 19  Maryam: 97), (QS 20 Thaha : 113), (QS 21 Al-Anbiya’: 107),  (QS. 34  Saba’: 28), (QS 39 Al_zumar : 23), (QS 41 Fushshilat: 3),  (QS 42 Al-Syura’ : 7), (QS 43 Al-Zukhruf: 3),  (QS. 44 Al-Dukhan: 58) dan (QS 46 Al-Ahqaf : 12) 
diantara ayat-ayat tersebut sebagai berikut :


إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Alquran dengan memakai bahasa Arab (agar kalian) hai penduduk Mekah (memahaminya) memahami makna-maknanya (QS. 12  Yusuf: 2),

,
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُول إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمه لِيُبَيِّن لَهُمْ فَيُضِلّ اللَّه مَنْ يَشَاء وَيَهْدِي مَنْ يَشَاء وَهُوَ الْعَزِيز الْحَكِيم
Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan memakai bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi pelajaran dengan terang kepada mereka, supaya mereka dapat memahami apa yang disampaikannya. (Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa) di dalam kerajaan-Nya (lagi Maha Bijaksana.) di dalam tindakan-Nya. (QS 14 Ibrahim : 4)

وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا وَلَئِنْ اِتَّبَعْت أَهْوَاءَهُمْ بَعْد مَا جَاءَك مِنْ الْعِلْم مَا لَك مِنْ اللَّه مِنْ وَلِيّ وَلَا وَاقٍ
Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur'an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab.  Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah (QS 13 Ar-Ra’d: 37)

وَلَقَدْ نَعْلَم أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمهُ بَشَر لِسَان الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيّ وَهَذَا لِسَان عَرَبِيّ مُبِين
Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: "Sesungguhnya Al Qur'an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)". Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa Ajam, sedang Al-Qur’anadalah dalam bahasa Arab yang terang ( QS 16 An Nahl 103)
Memang ada beberapa kosakata dari Al-Qur’anyang terambil dari bahasa lain sebagaimana  Prof. Dr. Quraish Shihab berpendapat bahwa ayat-ayat Al-Qur’antersusun dengan kosakata bahasa Arab kecuali hanya sedikit dari kosakata serapan dari bahasa lain (ajam) akibat akulturasi. [5]
Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan diatas maka dapat dikatakan bahwa ada lima faktor penting dari definisi Al-Qur’an[6]
1.       Al-Qur’anadalah kalam Allah
2.       Al-Qur’anadalah mu’jizat
3.       Al-Qur’anditurunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan lafadz Arab melalui malaikat Jibril
4.       Al-Qur’andisampaikan secara mutawatir
5.       Membaca Al-Qur’anbernilai ibadah
Dan salah satu unsur penting dari definisi Al-Qur’anadalah bahasa Arab, hal ini untuk menegaskan bahwa Al-Qur’anmemang diturunkan dalam bahasa Arab, lebih tepat lagi Bahasa Arab Dialek Quraisy. [7]
B. Sejarah Bahasa Arab sejak dahulu sampai turunnya Al-Qur’an
Menurut Prof. Dr. Komaruddin  Hidayat ,  secara  garis  besar  terdapat 3  (tiga) teori [8] yang  membahas  tentang asal-usul  bahasa, yaitu : 
1.   Teologis, Pendukung teori teologis  mengatakan,  manusia  bisa  berbahasa  karena  anugerah  Tuhan, pada mulanya Tuhan mengajarkan kepada Adam selaku nenek moyang seluruh manusia.
2.   Naturalis,  Pendukung teori yang bersifat naturalis, beranggapan bahwa  kemampuan  manusia  berbahasa  merupakan  bawaan  alam, sebagaimana kemampuan untuk melihat, mendengar maupun berjalan.
3.   Konvensionalis,  pendukung teori konvensional berpandangan bahwa bahasa pada  awalnya  muncul  sebagai  produk  sosial.  Ia  merupakan  hasil konvensi yang disepakati dan kemudian dilestarikan oleh masyarakat. 
Bahasa Arab (اللغة العربية al-lughah al-‘Arabīyyah, atau secara ringkas عربي ‘Arabīy) oleh para ahli bahasa dianggap sebagai salah satu keluarga bahasa afroasia dan digolongkan dalam rumpun bahasa semit. [9]
Istilah Semit ini diambil dari kata Syem, yaitu salah satu keturunan Nabi Nuh. Penggunaan istilah semit ini lebih pas kalau digunakan dalam istilah rumpun bahasa, bukan nama etnis atau ras tertentu. [11] Seperti bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia yang dimasukkan kedalam rumpun bahasa Mongol.
Para sejarawan berbeda pendapat tentang tempat kelahiran bangsa semit , secara garis besar beberapa ahli[12] berpendapat sebagai berikut :
1.       Babilonia (pendapat : Von Kremer, Guide, Hommel)
2.       Semenanjung Arabia (pendapat : Sprenger, sayce, De Goeje, Brockelman)
3.       Afrika (Pendapat : Noeldeke)
4.       Amuru (Pendapat : AT. Clays)
5.       Armenia (Pendapat : John Peaters)
6.       Selatan Semenanjung Arab (Pendapat : John Philky)
7.       Eropa (Pendapat : Ungnand)
Melihat pendapat yang beragam diatas, dari kalangan ahli sejarah tetap meyakini bahwa kaum semit adalah bangsa arab di Arabia, hal ini menurut pendapat Philips K Hitti didasarkan atas kesamaan fisik, adat istiadat dalam kehidupan, cara berfikir dan bahasa masih tetap sama sepanjang catatan sejarah. [13]
Sedangkan kalau dilihat berdasarkan atas kajian komparatif bahasa Assyiria, bahasa Babilonia, bahasa Ibrani, bahasa Aramaik, bahasa Arab dan Etiopia semuanya dianggap berasal dari rumpun yang sama yaitu bahasa Semit[14] . Diantara persamaan tersebut yaitu :
1.      Akar kata kerja terdiri dari tiga huruf
2.      Hanya mengenal dua penunjuk waktu (telah dan sedang (akan)
3.      Unsur-unsur kosakata mirip : Kata Ganti Orang, Kata benda hubungan keluarga, jumlah dan nama anggota tubuh tertentu.
Secara garis besar, bahasa-bahasa Semit dapat digolongkan sebagai berikut :

Hampir semua bahasa pada grafis diatas kini sudah punah, hanya bahasa arab yang masih hidup. Gelombang migrasi dari Jazirah arab ke Sabit Subur yakni orang Akkad dan Amurru pada kira-kira 3000-1800 SM menyebarkan bahasa Akkad ke suluruh wilayah ini, bahasa ini di pakai sebagai bahasa percakapan penduduk pribumi Mesir sampai kira-kira 1400 SM. Pada 1200 SM, Bahasa Aram menggantikan bahasa Akkad dan berkembang kedalam beberapa dialek khas di tiap subwilayahnya. Bahasa Aram kemudian menggantikan bahasa kanaan begitu juga bahasa daerah seluruh wilayah ini sampai dengan datangnya Pada Abad 7 masehi. Bahasa Arab kemudian menggantikan bahasa Aram di seluruh Asia Barat termasuk didalamnya Syiria,Palestina,Arab Saudi, Irak.  Sebagaimana yang kita ketahui bahwa bangsa Arab sendiri terbagi menjadi tiga kelompok besar, salah satunya adalah Arab ‘Ariba atau Arab Baidah (orang arab yang telah punah) mungkin telah bermigrasi keselatan, mereka membentuk kerajaan salah satunya rajanya yaitu Ya’rub bi Qahtan raja arab selatan. Orang-orang arab selatan sendiri di sebut Al ‘Arab Al Mu’arribah berbaur dengan orang arab utara Al ‘Arab Musta’riba, orang arab utara sendiri mempelajari bahasa arab dari orang lain. Orang arab utara merupakan keturunan Ismail putra pertama Ibrahim, yang hidup di Mekkah dan membangun Ka’bah. [16] Air zamzam, mata air itulah yang membuat tempat itu sebagai permukiman yang dihuni pertama kali oleh kabilah Jurhum. Ismail kemudian menikah dengan suku Jurhum penduduk pribumi wilayah ini yang berbahasa arab,  Ismail yang sebelumnya berbahasa Ibrani belajar bahasa arab kepada orang-orang Jurhum yang berbahasa Arab tentunya berbeda dengan bahasa Arab yang kita kenal dewasa ini. Kedua bahasa ini kemudian berakulturasi membentuk bahasa Arab yang akhirnya di pergunakan oleh penduduk Hijaz saat Al-Qur’anditurunkan. [17] Hasil naturalisasi Ismail dengan penduduk pribumi inilah, akhirnya mempunyai dua belas anak melahirkan sub-sub kelompok yang banyak, [18] berkembang menjadi beberapa dialek Arab Qurays. (Baca juga: Kisah Israiliyah dalam Penafsiran)     
Orang-orang Arab Utara baru mengembangkan budaya tulis menjelang Masa Muhammad. [19] Al ‘Arab Al Mu’arribah merupakan orang Arab Utara termasuk Hijaz, Nejed, Nabasia, Palmyra dari keturunan Ismail melalui Adnan mengalami Naturalisasi di tanah Arab. Orang Nabasia bahasa lisan (Percakapan sehari-harinya menggunakan bahasa Arab, sedangkan budaya tulisnya orang-orang Nabasia mengunakan bentuk tulisan kursif yang konon berasal dari bahasa Aramaik. Tulisan Nabthi  inilah akhirnya berkembang menjadi Tulisan Arab yang digunakan oleh Al-Qur’anhinggak dewasa ini, dengan bukti-bukti arkeologi sebagai berikut [20]:
1. Inskripsi Um Al Jimal(250-271 M) Syiria.
2. Inskripsi Imru Al Qois Nammarah (328 M) Syiria
3. Inskripsi Zabad (511-512 M) Efrat Aleppo
4. Inskripsi Huran (568-569 M) Luja, Harran                    
 Kota Mekkah berada di bawah kekuasaan satu kelompok bangsawan Arab, yaitu kabilah Quraisy. Tugas mereka menjaga Baitullah, menjamu jamaah haji, memakmurkan Masjidil Haram, dan menguasai perdagangan. Kedudukan penting kabilah Quraisy tentu saja ikut mempengaruhi dialek lainnya. Semua suku Arab menjadikan Bahasa Arab Quraisy sebagai bahasa induk bagi bahasa-bahasa mereka. [21]
Mengingat kedudukan dan kekuasaan kabilah Quraiys, dialek mereka tentulah menjadi berkembang dengan adanya kontak-kontak tersebut. Dan nampaknya dialek Quraiys yang telah berkembang pesat telah menjadi model di sebagian besar kawasan  Barat Laut Semenanjung Arab. Hal ini merupakan suatu kenyataan yang sejalan  dengan kepentingan bersama dan nilai-nilai  yang mengikat berbagai kabilah Arab secara keseluruhan.
Penyatuan kabilah-kabilah  dan dialek-dialeknya tampak dengan jelas dari bahan-bahan sastra yang terdapat pada masa itu, khususnya puisi. Watak seni masyarakat Arab biasanya dituangkan dalam media ungkapan dalam bentuk  syair, mereka dianugerahi kefasihan mengungkapkan jati diri melalui prosa dan puisi. Di festival sastra yang diadakan di Mekkah dan kawasan-kawasan  lain di sekitarnya, terutama sekali di pasar Ukaz. Orang-orang  dari berbagai kabilah membawa serta penyair-penyair mereka di samping barang dagangan mereka. [22]
Penyair-penyair dari berbagai kabilah ikut serta dalam perlombaan puisi, Muncullah istilah mu’allaqat yang berarti puisi-puisi yang digantungkan. Penulisan puisi-puisi Jahiliyah  ini telah memberikan  pengaruh yang amat  besar terhadap perkembangan puisi-puisi Arab selama berabad-abad berikutnya. Karya-karya puisi Jahiliyah dianggap sebagai lambang  keindahan dan kesempurnaan dalam berbahasa, baik dari segi bentuk ataupun isinya. [23] Ketika itu Bangsa Arab memiliki fasahah dan balagah sedemikian tinggi, Bahasa Arab mencapai puncaknya, karena dianggap memiliki unsur-unsur kesempurnaa dan kehalusan, dan disaat itulah Al-Qur’anditurunkan. [24] (Baca juga: Am Khas dalam Al-Qur'an)
             





[1]Mahmud Syaltut, al-Islam ‘Aqidah wa Syari’ah.
[2] Richard Bell, Introduction to the Qur’an (Edinburgh: Edinburgh University Press, 1970), 22
[3] Abd. Wahab Khallaf Ilmu ushul fiqh, (Surabaya: Haromain, 2004), 23
[4] Amin Suma , Ulumul Quran,  (Jakarta : Rajawali Pers , 2013) , 24
[5] M Quraish Shihab , Mukjizat Al-Qur’an,(Bandung: Mizan. 1998), 89
[6] Fadh bin Abdurrahman Ar-Rumi, Ulumul Qur’an, 41-42
[7] Manna>’ Khal i>l al-Qatta>n, Studi Ilmu-ilmu Qur’an , terj Drs. Mudzakkir AS (Bogor: Litera Antar Nusa, 2013), 373

[8] Komarudin Hidayat,  Memahami Bahasa Agama, (Jakarta : Paramadina, 1996), 28
[9] Subhi Al Shalih, Dirasat Fi Fiqh Al lughoh,1989,  47
[10] Bernard Comrie, Einsaiklopedia Bahasa Utama Dunia, ed et al. (Kuala Lumpur : Dewan Bahasa,1999), 3
[11] Philips K Hitti, History The Arabs, terj Cecep Lukman dan Dedi Slamet Riyadi (Jakarta : Serambi Ilmu, 2013), 11,15
[12] Prof. Dr. M.M. Al-A‘zamî, The History of The Qur’ânic Text from Revelation to Compilation (edisi Indonesia), terj: Sohirin Solihin, dkk., (Jakarta : GIP, 2005), 15
[13] Hitti, History The Arabs , 10
[14] Hitti, History The Arabs , 11
[15] Comrie, Einsaiklopedia Bahasa Utama Dunia, 3
[16] HR. Taufiqurrochman, MA, Leksikologi Bahasa Arab, (Malang : UIN-Malang, 2008) , 10
[17] Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah Kebudayaan Islam, terj H.A. Bahauddin (Jakarta : Kalam Mulia, 2002), 19
[18] Ibid, 10
[19] Hitti, History The Arabs , 109
[20] Ilham Khoiri R, Al-Qur’an Dan Kaligrafi Arab, 1999, 57
[21] al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an,  225
[22] Hitti, History The Arabs , 117
[23] Ibid , 116-118
[24] al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’a>n,  380

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANGGAPAN DASAR DAN HIPOTESIS

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP STUDI QURAN

AL- JARH WA AT-TA’DIL (ADIL DAN CACAT PERAWI HADIST)