PENGELOMPOKAN MAKKIYAH DAN MADANIAH DALAM QUR'AN
A. Pengertian Makki Dan Madani
![]() |
| (List Surah Makkiyah) |
Bagi sarjanah muslim modern seperti fazlur rahman, Al quran hanya bisa di pahami dengan tepat dan benar jika dilakukan dalam rangka (frame work) kronologis. Ia mengatakan bahwa pemahaman mengenai quranic sitzim leben atau frame work kronologi Al Quran tidak bisa dielakkan. Meskipun tentu saja terdapat usaha-usaha kaum muslim awal untuk mendalami suatu kronologis surat-surat Al Quran[2]. ada beberapa teori yang berbeda-beda, karena perbedaan orientasi yang menjadi dasar tinjauan masing-masing.
Baca juga:
Sumpah Allah Dalam Qur'an
Kemukjizatan Al-Quran
Studi Tafsir Ibnu Abbas
Sedikitnya ada empat teori dalam menentukan Pengelompokan Makkiyah dan Madaniah dalam Qur'an untuk memisahkan nama bagian Al Quran yang makki atau surah/ayat yang makiyah, dan mana bagian yang madani atau surah/ayat yang madaniyah.Teori-teori itu ialah sebagai berikut :
Sumpah Allah Dalam Qur'an
Kemukjizatan Al-Quran
Studi Tafsir Ibnu Abbas
Sedikitnya ada empat teori dalam menentukan Pengelompokan Makkiyah dan Madaniah dalam Qur'an untuk memisahkan nama bagian Al Quran yang makki atau surah/ayat yang makiyah, dan mana bagian yang madani atau surah/ayat yang madaniyah.Teori-teori itu ialah sebagai berikut :
1. Teori mulahadzahtul Makaanin Nuzuli (teori geografis)
Yaitu teori yang berorientasi pada tempat turun Al Quran/ tempat turun ayat.[3]
Teori ini berorientasi pada tempat turun ayat atau surah al Quran. Menurut teori ini, pengertian makiyah adalah ayat atau surah yang turun di makkah atau di sekitarnya, baik waktu turunnya sebelum Nabi saw melakukan hijrah maupun sesudahnya. Dan pengertian madaniyah adalah ayat atau surah yang turun di Madinah atau sekitarnya, baik waktu turunnya sebelum Nabi saw berhijrah maupun sesudahnya.
Maka termasuk kategori ayat atau surat makkiyah, bila ayat atau surah turun di mina, Arafah, hudaibiyah dan lain sebagainnya. Dan ayat atau surah madaniyah adalah ayat atau surah madaniyah adalah ayat atau surah dan turun dimadinah dan sekitarnya, termasuk ayat-ayat yang turun dibadar, sal, Uhud dan lainnya[4].
Kelebihan dari teori geografis ini ialah hasil rumusan pengertian makki dan madani ini jelas tegas. Jelas, bahwa yang dinamkan makki adalah ayat/surah yang turun di makkah. tetapi dinamakan makki, meski ayat/surah turun di makkah itu sesudah Nabi Hijrah ke madinah[5] dan karena teori ini menegaskan bahwa orientasi tempat sebagai pijakan ketentuan identitas ayat. Hal ini berbeda dengan rumusan teori lain yaitu teori historis, bahwa ayat/surah yang turun sesudah nabi hijrah itu dimasukkan kategori madani, meski turunnya di makkah atau disekitarnya
Namun kriteria tersebut, memiliki beberapa kelemahan antara lain; rumusannya tidak dapat dijadikan batasan, dan tidak definitif. Sebab rumusannya belum bisa mancakup seluruh karakter ayat Al Quran[6] . karena tidak seluruh ayat Al Quran ayat al Quran itu hanya turun di makkah dan sekitarnya atau madinah dan sekitarnya . kenyataannya, ada beberapa ayat yang turun diluar kedua daerah tersebut.
kalau yang kamu serukan kepada mereka itu Keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu Amat jauh terasa oleh mereka. mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: "Jikalau Kami sanggup tentulah Kami berangkat bersama-samamu." mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. (qs. Attaubah:42)
Apalagi kalau menurut hadits nabi Muhammad saw, riwayat ath-thabrani dari Abu Umamah yang tegas menjelakan,bahwa tempat turun Al Quran ini tidak hanya dikota makkah dan madinah melainkan di tiga kota : makkah,madinah dan syam Dengan demikian, teori geografis itu kelemahanya sangat kelihatan
2. Teori Mulahadzatul Mukhatabiin Fin Nuzuli (teori subjektif)
Yaitu teori yang berorientasi pada subyek siapa yang dikhitab/dipanggil dalam ayat. Jika subyeknya orang orang makkah maka dinamakan makiyah, dan jika subyeknya orang orang madinah maka ayatnya disebut madaniyah.
Menurur teori subyek ini, yang dinamakan Quran makki/surah/ayat makiyah ialah yang berisikan khitab/ panggilan kepada penduduk mekkah dengan memakai kata-kata “Yaa Ayyuha Naasu” (wahai manusia) , “Ya Ayyuhal Kafirun” (wahai orang-orang kafir), Yaa Bani Aadama (hai anak cucu Nabi Adam). Sebab, kebanyakan penduduk Makkah adalah orang orang yang kafir, maka dipanggil dengan wahai orang orang kafir atau wahai manusia, meski orang orang kafir dari lain-lain daerah ikut dipanggil juga.
Sedangkan yang dimaksud dengan Quran madani/surah dan ayat madaniyah ialah yang berisikan panggilan kepada penduduk madinah. Semua ayat yang dimulai dengan nida’ (panggilan) “Ya Ayyuhal Ladzina Amanuu” (wahai orang-orang yang beriman) adalah termasuk ayat/surah madaniyah. Sebab, mayoritas penduduk madinah adalah mukmin, sehingga dipanggil dengan wahai orang orang yang beriman, meski kaum mukmin dari daerah lain juga ikut terpanggil juga [7].
Teori ini didasarkan atas riwayat Abu Ubaidah dari makmum bin Mihran dalam kitab Fadail al Quran yang menjelaskan ;
Ayat yang memuat panggilan dengan “Ya Ayyuhannasu” atau “Ya Bani Adam” maka ia termasuk ayat maki, dan ayat yang menggunakan panggilan “ Ya Ayyuhalladzina Amanuu” maka ia adalah ayat Madani[8].
Kelebihan dari teori subjektif ini ialah rumusannya lebih mudah dimengerti. Sebab, dengan memakai criteria khitab atau nida’ lebih tampak dan lebih cepat kenal. Ayat yang dimulai dengan “Ya Ayyuhannasu” atau “Ya Ayyuhal Ladzina Kafaru” jelas menunnjukkan ayat makiyah, dan yang dimulai dengan “ Ya Ayyuhalladzina Amanuu” jelas menunnujukkan ayat madaniyah. Sebab memang sudah terkenal bahwa orang-orang Madinah adalah kebanyakan beriman.
Tetapi kelemahan dari teori subjektif ini lebih banyak dari pada teori-teori yang lain. Sedikinya teori ini mempunyai dua kelemahan sebagai berikut:
a. Rumusan pengertian tidak dapat dijadikan batasan/ definisi, karena tidak bisa mencakup seluruh ayat Al Quran. Sebab, dari seluruh ayat Al Quran 6236 ayat itu, yang dimulai dengan nida’ (panggilan) menurut penelitian penulis, hanya 511 ayat saja. Ini berarti jumlah ayat nida itu hanya 511/6236X100%= 8,19 saja. Jadi, masih lebih banyak yang tidak tercakup dalam rumusan teori ini (masih 91, 81) yang tidak dimulai dengan nida’ dari pada yang tercakup dalam teori dalam teori ini yang kurang dari 1/10 (sepersepuluh)
b. Rumusan kriterianya juga tidak dapat berlaku secara menyeluruh, bahwa semua ayat yang dimulai dengan “ya Ayyuhan Naasu” itu pasti makiyah dan seluruh ayat yang dimulai ; “Ya Ayyuhal Ladzina Amanu” itu tentu madaniyah. Karena itu, teori ini tidak mudah dipenggi dan tidak dapat dipertanggung jawabkan. Sebab, ternyata ada beberapa ayang dimulai dengan nida’ : ya Ayyuhan Nasu” itu bukan Makiyah, melainkan madaniyah,
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain , dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
Sebaliknya, ada pula beberapa ayat yang dimulai dengan nida’ : Ya Ayyuhal Ladzina Amanu” itu bukan madaniyah, melainkan Makiyah. Contohnya, seperti dalam Ayat Al Quran :
Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan (Q.S. Al-Hajj :77) [9]
3. Teori Mulahadzatu Zamanin Nuzuli (teori historis)
Teori ini berorientasi pada sejarah waktu turun ayat Al Quran. Menurut teori ini makkiyah adalah ayat atau surat yang turun sebelum nabi SAW berhijrah. Sedang Ayat Madaniyah adalah ayat atau surah yang turun sesudah nabi berhijrah[10]. Meski ayat-ayat itu diluar kota mekkah, seperti ayat-ayat yang turun di Mina, Arafah, Hudaibiyah ialah ayat-ayat yang turun setelah nabi Muhammad SAW hijrah ke madinah, meski turunnya di mekkah atau sekitarnya, seperti ayat-ayat yang diturunkan di badar, Uhud,Arafah dan Mekkah.
Teori historis ini berpegang pada dalil riwayat Abu Amr dan Utsman bin sa’id Ad Darimi.
Artinya :
“Al quran yang diturunkan di makkah dan yang diturunkan dalam perjalanann hijrah kemadinah sebelum Nabi Muhammad SAW sampai ke madinah adalah termasuk makki. Dan Al Quran yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dalam perjalanan perjalanan beliau setelah tiba di Madinah adalah termasuk Madani”
Kelebihan dari teori ini, dinilai para ulama sebagai teori yang benar, baik dan selamat. Sebab, rumusan teori ini mencakup keseluruhan ayat Al Quran, sehingga dapat dijadikan batasan/definisi. Memang tidak ada sedikitpun ayat/bagian Al Quran yang tidak tercakup dalam rumusan teori ini. [11]Sedang kelemahannya hanya terletak pada kejanggalan beberapa ayat atau surah al Quran yang nyata-nyata turun dimakkah, tetapi, karena sesudah hijrah, lalu ia dianggap Madaniyah[12].
4. Teori Mulahadzatu Ma Tadhammanat As-Suuratu (teori content analysis)
Teori ini berorientasi pada isi ayat al Quran. Menurut teori ini, ayat atau surah makkiyah adalah ayat atau surah yang memuat cerita umat dana para Nabi terdahulu, sedang ayat atau surah madaniyah berisi tentang hokum hudud,faraid, dan sebagainya .
Teori ini didasarkana pada riwayat riwayat sebagai berikut :
“semua surah yang memuat aturan-aturan ketentuan,maka ia termasuk surah madaniyah, dan semua surah yang memuat tentang peristiwa masa lampau, maka ia masuk kategori makkiyah[13]”
Kelebihan dari teori content analisis ini adalah bahwa kriterianya jelas sehingga mudah difahami, sebab gampang dilihat orang. Orang tinggal melihat saja tanda tanda tertentu itu, Nampak atau tidak dalam sesuatu surah/ayat, sehingga dengan demikian dia mudah menentukan.
Kelemahannya, pelaksanaan pembeda makiyah dan madaniyah menurut teori ini tidak praktis. Sebab, orang harus mempelajari isi kandungan masing masing ayat dahulu, baru bisa mengetahui kriterianya/kategorinya[14].
B. Faedah Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah
Dengan mengetahui Pengelompokan Makkiyah dan Madaniah dalam Qur'an ini akan banyak membwa hikmah dan faedah serta kegunaan yang bermacam macam, antara lain sebagai berikut [15]:
1. Mudah diketahui mana ayat yang turun lebih dahulu dan mana ayat yang turun belakangan dari kitab suci Al Quran.
2. Mudah diketahui mana ayat-ayat Al Quran yang hokum/ bacaannya telah dinask (dihapus dan diganti), dan mana ayat ayat yang menasakhkannya, khusus bila ada dua ayat yang menerangkan hokum sesuatu masalah, tetapi ketetapan hokumnya bertentangan yang satu dari yang lain. Dalam hal seperti itulah harus dicari mana ayat yang turun lebih dahulu yaitu mana yang makiayah, sehingga mungkin ayat itulah yang telah dihapus dan diganti hokum atau bacaannya oleh ayat yang turun kemudian atau madaniyah sebagai nasikh atau penghapus/ penggantinya[16].
مَا نَنْسَخْ مِنْ آَيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Ayat mana saja yang kamu nasakh kan, atau kamu jadikan ( manusia ) lupa kepadanya, kamu datangkan lebih baik dari padanya atau yang sebanding dengan nya, tiadakah kamu mengetahaui bahwa sesungguhnya Allah Maha kuasa atas segala sesuatu?. “ Q.S. al-Baqarah : 106
3. Mengetahui dan mengerti sejarah pensyariatan hokum hokum islam (taarikh Tasyri’) yang amat bijaksana dalam menetapkan peraturan-peraturan
4. Mengetahi hikmah disyariatkan sesuatu hokum (Hikmatut Tasyri). Sebab, dengan Ilmu Makki dan Madani dapat di ketahui tarikh tasyri’ yang dalam mensyariatkan hokum-hukum Islam itu secara bertahap, sehingga dapat pula diketahui mengapa sesuatu hokum itu diisyaratkan secara demikian. Contoh diharamkannya minuman keras, yang penetapan hukumnya itu secara bertahap. Mula mula hanya diterangkan ada bahayanya yang lebih besar dari pada manfaatnya,
5. Dengan mengetahui Ilmu Makki wal Madani yang dapat mengetahui hikmatut tasyri’ itu akan bisa menambah kepercayaan orang terhadap kewahyuan Al Quran, karena melihat kebijaksanaan dalam menetapkan hokum hokum ajarannya secara bertahap sehingga mudah di mengerti, dihayat dan diamalkan orang.
6. Meningkatkan keyakinan orang terhadap kesucian, kemurnian dan keaslian Al Quran, melihat bahwa hokum – hokum ajaranya ataupun bentuk tulisannya dan kata kata serta kalimatnya masih tetap orisinil, tidak berkurang atau bertambah satu huruf atau ketentuan satu huruf pun.
7. Mengetahui perbedaan dan tahap-tahap dakwah Islamiah. Tahap-tahap dakwah Islamiah yang diterang kan dalam ayat ayat makiyah adalah berbeda dengan isi dan ajaran dari ayat-ayat Madaniyah, seperti yang telah diterangkan dalam tanda tanda surah makiyah dan madaniyah diatas
8. Mengerti perbedaan ushlub-uslub (bentuk bahasa) Al Quran, yang dalam surah surah Makiyah berbeda dengan yang dalam surah surah makiyah. Sebab dalam surah surah makiyah yang ditunjukkan kepada orang oreang kafir Quraisy, yang banyak pakar ahli bahasa Arabnya memakai uslub singkat-padat, sedangkan dalam surah surah madaniyah yang ditujukan kepada penduduk Madinah yang hiterogen, yang banyak orang asing belum mengenal bahasa Arab, menggunakan ungkapan panjang-lebar agar mudah diserap mereka.
9. Dengan mengetahui Ilmu Makki dan Madani situasi dan kondisi masyarakat kota Makkah dan Madinah dapat diketahui, khususnya pada waktu turunnya ayat-ayat Al Quran.
10. Mengetahui sejarah hidup nabi melalui ayat-ayat Al-Qur’an, sebab turunnya wahyu kepada Rasulullah sejalan dengan sejarah dakwah dengan segala peristiwanya, baik pada periode Mekkah maupun Madinah, sejak permulaan turun wahyuhingga ayat terakhir diturunkan[17].
Demikian beberapa faedah mengetahui Ilmu Makki dan Madani menurut para ulama Ahli Ulumul Quran.
C. Ciri- Ciri Makiyah dan Madaniyah
Para ulama telah meneliti Pengelompokan Makkiyah dan Madaniah dalam Qur'an, dan menyimpulkan beberapa ketentuan analogi bagi keduanya, yang menerangkan ciri-ciri khas gaya bahasa dan persoalan-persoalan yang dibicarakannya.dari situ mereka dapat menghasilkan kaidah kaidah dengan ciri-ciri tersebut[18]. Dari keterangan para sahabat nabi dan tabi’in. dapatlah ketahui tanda-tanda dari surah-surah Makiyah ataupun Madaniyah[19].
- Tanda-tanda surat Makiyah
Sesuatu surah /ayat adalah Makkiyah kalau surah/ayat itu mempunyai tanda-tanda sebagai berikut[20]:
a. Dimulai dengan nida’ (panggilan): “Ya Ayyuhan Nasu” dan sebangsanya. Dalam seluruh Al Quran, bentuk nida’ tersebut aada 292 ayat atau 292/6236x100%=4,68%
b. Didalamnya terdapat lafal : “Kalla” Lafal tersebut terdapat dalam seluruh Al Quran ada 33 kali dalam 25 surah-surah dibagian akhir Mushhaf Utsman.
c. Didalamnya terpadat ayat-ayat sajdah (disunnahkan bersujud tilawah jika membaca), di dalam Al Quran ada 15 ayat sajdah.
d. Di permulaannya terdapat huruf-huruf tahajji (huruf yang terpotong-potong)
e. Di dalamnya terdapat cerita –cerita para Nabi dan umat-umat terdahulu, selain surah Al Baqoroh dan Al Maidah.
f. Di dalamnya berisi cerita-cerita terhadap kemusyrikan dan penyembahan penyembahan terhadap selain Alloh SWT.
g. Didalamnya berisi keterangan keterangan adat kebiasaan orang orang kafir dan orang orang musrik yang suka mencuri, merampok, membunuh, mengubur hidup hidup anak perempuan dan sebagainnya.
h. Didalamnya berisi penjelasan dengan bukti- bukti dan argumentasi dari alam ciptaan Alloh sSWT yang dapat menyadarkan orang orang kafir untuk beriman kepada Alloh SWT dan percaya kepada para rasul dan kitab-kitab suci,hari kiamat dsb
i. Berisi ajaran prinsip prinsip akhlak yang mulia dan pranata social yang tinggi, yang dijelaskan dengan sangat mengagumkan sehingga menyebabkan orang benci kepada kekafiran, kemusrikan ,kefasikan,kekasaran dsb. Dan sebaliknya, menarik orang untuk beriman, taat, setia,kasih saying,ikhlas, hormat dsb
j. Berisi nasihat nasihat petunjuk dan ibarat ibarat dari balik cerita yang dapat menyadarkan bahwa kekafiran, kedurhakaan dan pembangkangan umat itu hanya mengkiblatkan kehancuran dan kesengsaraan saja,
k. Setiap surat yang dibuka dengan surat surat pendek seperti Alif Lam Mim, Alif Lam Ra,Ha’ Mim’ dll. Adalah ayat makki kecuali surah Baqarah dan Al Imran. Sedangkan surah Ar Ra’d masih diperselisihkan.
- Tanda – tanda surah Madaniyah[21]
a. Di dalamnya berisi hokum hokum /hudud pidana, seperti tindak pidana pencurian. Perampokan, pembunuhan,penyerangan, perzinaan, kemurtadan dan tuduhan zina. Contohnya seperti surah-surah Al Baqoroh, An- Nisa, Al-Maidah,Asy- Syura dsb
b. Di dalamnya berisi hokum-hukum faraid (waris-mewarisi), baik warisan bagi dzawil furudh,dzawali arham atau dzawil arham atau dzawil ashabah. Contoh seperti surat Al Baqoroh, An Nisa’, Al Anfal, At Taubah dan Al Hajju.
c. Berisi izin jihad fisabilillah dan hokum hukumnya, seperti surah Al Baqarah, Al Anfal, At Taubah dan Al Hajju
d. Berisi keterangan mengenai orang orang munafik dan sifat sifat serta perbuatan-perbuatannya kecuali surah Al Ankabut. Contohnya: surah An Nisa’, Al Anfal, Al Ankabut, At Tubah, Al Fath, Al Hadidi, Al munafiqun dan At Tahrim.
e. Berisi hokum hokum ibadah seperti hokum sholat, zakat, puasa,haji dan sebagainya, contohnya : surah Al BAqorah, al Imran, An Nisa’, Al Maidah, Al Anfal, At Taubah, Al Hajju, An Nur dsb.
f. Berisi hokum hokum muamalah, seperti jual beli sewa menyewa, gadai,utang piutang dsb. Contohnya: surah Al Baqoroh, Al imran, An Nisa’, Al AMidah dll.
g. Berisi hokum hokum munakahat, baik mengenai nikah, talak ataupun mengenai hadhanah (pemeliharaan anak). Contoh seperti surah Al Baqarah, Al Imran, An Nisa’, Al Maidah, Annur, Al Mumtahanah, Ath-Thalaq dsb
h. Berisi hokum hokum kemasyarakatan, kenegaraan seperti soal permuswaratan, kedisiplinan, kepemimpinan, pendidikan,pergaulan dsb. Contohnya seperti surah Al Baqarah, Al Imran. Al maidah, Al Anfal, At Taubah, Al Hujurat dsb.
i. Berisi dakwa (seruan) kepada orang orang yahudi dan nasrani serta penjelasan akidah akidah mereka yang menyimpang, contohnya: Al Baqarah, Al imran, Al Fath, Al hujurat dsb
j. Berisi ayat ayat nida’ (panggilan) yang ditujukan kepada penduduk Madinah yang islam dan khitab (seruan) ya ayyuhal ladzina amanu”
k. Kebanyakan surat/ayatnya panjang panjang
D. Macam-macam makiyah dan madaniyah
Pada umumnya, para ulama membagi macam macam surah al Quran menjadi dua kelompok yaitu surah surah Makiyah dan Madaniyah. Mereka berbeda pendapat dalam menetapkan jumlah masing masing kelompoknya. Sebagian ulama mengatakan, bahwa jumlah surah makiyah ada 94 surah dan madaniyah 20 surah. Sebagian ulama lain mengatakan, bahwa jumlah surah surah makiyah ada 84 dan madaniyah ada 30 .
Perbedaan perbedaan pendapat para ulama itu dikarenakan adanya sebagian surah yang seluruhnya ayatnya makiyah atau madinyah dan ada sebagian surah yang tergolong makiyah atau madaniyah, tetapi, didalamnya berisi sedikit ayat yang lain statusnya. Karena itu maka surah surah Al Quran itu terbagi menjadi empat macam[22]
1. Surah surah makiyah murni
Yaitu surah surah makiyah yang saluruhnya ayat ayat nya juga berstatus makiyah semua, tidak ada satupun ayat yang madaniyah. Surah surah makiyah yang berstatus murni ini seluruhnya ada 58 surah, yang berisi 2.074 ayat contoh : surah Al Fatihah, Yunus, Ar Ra’du. Al Anbiy, Al Mu’minun. Al Anml, shad, Fathir dan surah surah yang pendek pendek pada juz 30 (kecuali surah An Nashr).
2. Surah surah madaniyah murni
Yaitu surah surah madaniyah yang seluruh ayat-ayatnya pun madaniyah semua tidak ada satupun yang makiyah. Surah-surah yang berstatus madaniyah. Contoh surah surah Al imran, An nisa’,An nur, Al Ahzab, Al Hujurat, Al Mumtahanah, Az Zalzalah
3. Surah surah makiyah yang berisi ayat-ayat madaniyah
Yaitu surah surah yang sebetulnya kebanyakan ayat ayat nya adalah makiyah, sehingga berstatus makiyah tetapi di dalamnya ada sedikit ayatnya yang berstatus madaniyah. Surah-surah yang demikian ini dalam Al Quran ada 32 surah yang terdiri dari 2699 ayat contonya: surah Al Anam, Al A’raf,Hud, Yusuf, Ibrahim, Al Furqan, Az Zumar, Asy-Syura, Al-Waqiah dsb.
4. Surah surah madaniyah yang berisi ayat ayat Makiyah
yaitu surah-surah yang kebanyakan ayat ayatnya berstatus madaniyah. Surah surah yang demikian ini dalam Al Quran hanya ada 6 surah, yang terdiri dari 726 ayat yaitu surah Al baqarah, Al maidah, Al Anfal, At Taubah, Al hajju, dan surah Muhammad.
Dari 4 macam kelompok- kelompok surah-surah Al Quran tersebut terkumpul 114 surah dan 6236 ayat, yaitu jumlah seluruh isi Al Quran. 58 surah + 18 surah +32 surah +6 surah = 6236.
Kesimpulan
Yang dimaksud dengan Pengelompokan Makkiyah dan Madaniah dalam Qur'an ialah bagian-bagian kitab suci Al Quran, di mana ada sebagiannya termasuk makki dan ada yang termasuk madani. Sedikitnya ada empat teori dalam menentukan criteria untuk memisahkan nama bagian Al Quran yang makki atau surah/ayat yang makiyah, mana bagian yang madani atau surah/ayat yang madaniyah. Dan terdapat banyak Teori yang melatar belakangi pemaknaannya.
Adapun Faedah yang dapat di petik dalam Mengetahui Pengelompokan Makkiyah dan Madaniah dalam Qur'an adalah : Mudah diketahui mana ayat yang turun lebih dahulu dan mana ayat yang turun belakangan dari kitab, Mudah diketahui mana ayat-ayat Al Quran yang hokum/ bacaannya telah dinask (dihapus dan diganti), dan mana ayat ayat, Mengetahui dan mengerti sejarah pensyariatan hokum hokum islam (taarikh Tasyri’) dalam menetapkan peraturan-peraturan , Mengetahi hikmah disyariatkan sesuatu hokum (Hikmatut Tasyri), Meningkatkan keyakinan orang terhadap kesucian, kemurnian dan keaslian Al Quran, Mengetahui perbedaan dan tahap-tahap dakwah Islamiah, Mengerti perbedaan ushlub-uslub (bentuk bahasa) Al Quran, Dengan mengetahui Ilmu Makki dan Madani situasi dan kondisi masyarakat kota Makkah dan Madinah dapat diketahui, khususnya pada waktu turunnya ayat-ayat Al Quran, Mengetahui sejarah hidup nabi melalui ayat-ayat Al-Qur’an
Dalam suatu surat terdapat pula suatu tanda-tanda dari surat tersebut sehingga memudahkan kita untuk mengidentifikasinya. Yakni sebagai berikut:Dimulai dengan nida’ (panggilan): “Ya Ayyuhan Nasu” dan sebangsanya, Didalamnya terdapat lafal : “Kalla”, Didalamnya terpadat ayat-ayat sajdah,Di permulaannya terdapat huruf-huruf tahajji, Di dalamnya terdapat cerita –cerita para Nabi dan umat-umat terdahulu,, Di dalamnya berisi cerita-cerita terhadap kemusyrikan dan penyembahan penyembahan terhadap selain Alloh SWT, Di dalamnya berisi keterangan keterangan adat kebiasaan orang orang kafir dan orang orang musrik,Didalamnya berisi penjelasan dengan bukti- bukti dan argumentasi dari alam ciptaan Alloh SWT, Berisi ajaran prinsip prinsip akhlak yang mulia dan pranata social yang tinggi, Berisi nasihat nasihat petunjuk dan ibarat ibarat dari balik cerita yang dapat menyadarkan bahwa kekafiran, kedurhakaan dan pembangkangan umat, Setiap surat yang dibuka dengan surat surat pendek seperti Alif Lam Mim, Alif Lam Ra,Ha’ Mim’
Adapun tanda dari surah Madaniyah yakni : Di dalamnya berisi hokum hokum /hudud pidana, seperti tindak pidana pencurian, Di dalamnya berisi hokum-hukum faraid (waris-mewarisi), baik warisan bagi dzawil furudh,dzawali arham atau dzawil arham atau dzawil ashabah, Berisi izin jihad fisabilillah dan hokum hukumnya, seperti surah Al Baqarah, Al Anfal, At Taubah dan Al Hajju, Berisi keterangan mengenai orang orang munafik dan sifat sifat serta perbuatan-perbuatannya kecuali surah Al Ankabut, Berisi hokum hokum ibadah seperti hokum sholat, zakat, puasa,haji dan sebagainya, Berisi hokum hokum muamalah, seperti jual beli sewa menyewa, gadai,utang piutang dsb, Berisi hokum hokum munakahat, baik mengenai nikah, talak ataupun mengenai hadhanah (pemeliharaan anak), Berisi hokum hokum kemasyarakatan, kenegaraan seperti soal permuswaratan, kedisiplinan, kepemimpinan, pendidikan,pergaulan dsb, Berisi dakwa (seruan) kepada orang orang yahudi dan nasrani serta penjelasan akidah akidah mereka yang menyimpang, Berisi ayat ayat nida’ (panggilan) yang ditujukan kepada penduduk Madinah yang islam dan khitab (seruan) ya ayyuhal ladzina amanu” ,Kebanyakan surat/ayatnya panjang panjang
Dalam hal ini makiyah dan madaniyah terbagi atas:
1. Surah surah makiyah murni
- Surah surah madaniyah murni
- Surah surah makiyah yang berisi ayat-ayat madaniyah
- Surah surah madaniyah yang berisi ayat ayat Makiyah
[1] Tarikh Al Ya’qubiy, uz 11, 35.
[2] Rosihon Anwar, Ulumul Quran (Bandung: Pustaka Setia,2007), 101.
[3] Abdul Djalal,Ulumul Quran (Surabaya: Dunia Ilmu,2000), 78.
[4] Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Studi Al Quran (Surabaya: IAIN SA Press, 2012), 94.
[5] Abdul Djalal, Ulumul Quran,79.
[6] Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Studi Al Quran, 96.
[7]Ibid.,80-81.
[8] Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Studi Al Quran, 99.
[9]Ibid.,83.
[10] Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Studi Al Quran, 97.
[11]Abdul Djalal, Ulumul Quran, 85.
[12] Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Studi Al Quran, 97.
[13]Ibid., 102.
[14]Abdul Djalal, Ulumul Quran, 87.
[15]Ibid.,101-104.
[16] Sam’ani Sya’roni, Tafkirah Ulum al-Qur’an ( Pekalongan : Al-Ghotasi Putra, 2011 ), 71.
[17] Mudzakir, Study-study Ilmu-ilmu Al-Qur’an (Jakarta: PT.Pustaka Litera Antar Nusa, 1992), 82.
[18]Manna’ Kholil Al-Qottan, Studi Ilmu-ilmu Quran (Surabaya: Litera Antarnusa ,2013)
[19] Abdul Djalal, Ulumul Quran, 89.
[20]Ibid.,89-96.
[21]Abdul Djalal, Ulumul Quran, 97-98.
[22]Ibid.,99.

Komentar
Posting Komentar