Pengertian Al-Qur'an
Umat Islam menyakini bahwa al-Qur’an merupakan kitabullahyang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantara Malaikat Jibril, al-Qur’an juga merupakan pedoman hidup dan sumber inspirasi bagi umat manusia.
1. Pengertian Al-Qur’an
a. Secara bahasa (etimologi)
Lafad al-Qur’an menurut as-Syafi’i (150-204 H) ditulis dan dibaca tanpa hamzah “"قرن dan tidak diambil dari kata lain adalah nama yang khsus digunakan untuk Kitab Suci yang diberika kepada Nabi Muhammad, sebagaimana nama Injil dan Taurat yang digunakan khusus untuk kitab-kitab Allah yang diberikan masing-masing kepada Nabi Isa dan Nabi Musa.
Al-Asy’ari (w.324 H), berpendapat bahwa lafadz al-Qur’an tidak mengunakan hamzah yang diambil dari lafadz "قرن yang artinya menggabungkan. Hal ini disebabkan surat-surat dan ayat-ayat al-Qur’a>n digabungkan dan dihimpun dalam satu mushaf.[1]
Az-Zujaj, pengarang kitab ma’anil Qur’an (w. 311 H) berpendapat bahwa lafadz diambil dari kata القرءyang berarti penghimpunan, hal ini disebabkan karena didalam al-Qur’an memuat kumplan kisah-kisah, amar ma’ruf nahi ala mungkar, perjanjian-perjanjian, ancaman-ancaman dan juga al-Qur’an merupakan kitab penyempurna dan mengimpun intisari dari kitab-kitab sebelumnya.[2]
Dari berbagai pendapat tersebut, menurut subhi salih bahwa pendapat yang paling kuat adalah lafazd al-Qur’an itu masdar dan sinonim dari lafadz qiro’ah[3], sebagaimana yang terterah dalam surat al-Qiyamah ayat 17-18:
“Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.”
Baca juga:
Kisah Israiliyat dalam Penafsiran Al-Quran
Pengertian dan Ruang Lingkup Studi Qur'an
Sejarah Pengkodifikasian dan Percetakan Al-quran
Kisah Israiliyat dalam Penafsiran Al-Quran
Pengertian dan Ruang Lingkup Studi Qur'an
Sejarah Pengkodifikasian dan Percetakan Al-quran
b. Secara teminologi (istilah)
1. Menurut Ali as-Shobuni[4], al-Qur’an adalah:
"كَلَامُ اللهِ المُعْجِزُ المُنَزَّلُ على خَاِتمِ الانبيآءِ والمرسلينَ بِوَاسِطَةِ الآمينِ جبريلَ عليه السلامُ المكتوبُ في المصاحِفِ المنْقُوْلُ الينا بالتَّوَاتُرِ المُتَعَبَّدُ بتِلاوتهِ المبْدُوْءُ بسورة الفاتحةِ المُخْتَتَمُ بسورةِ النّاسِ"
“Firman Allah yang memiliki kemukjizatan, yang diturunkan kepada Nabi‑Nya yang terakhir (Muhammad SAW.), melalui al-Amin Jibril, yang ditulis pada mushaf, diriwayatkan sampai kepada kita secara mutawatir, membacanya bernilai ibadah, dimulai dengan surat Al‑Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas”. [5]
2. Menurut as-Syaukani(w.1250 H):
"الكلام المنزل على الرسول, المكتوب فى المصاحف ,المنقول الينا نقلا متواترا" ثم اختار ان يقال"هو كلام الله على محمد التلوّ المتواتر"
“Kalam Allah yang diturunkan kepada rasullah, yang ditulis dalam mushaf yang sampai kepada kita dengan cara mutawatir” atau bisa juga “ al- Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi muhammad dengan cara mutawatir”.[6]
Dari definisi di atas tentang Pengertian Al-Qur'an terdapat lima bagian penting dalam al-Qur’an :
1. Al-Qur'an adalah firman Allah SWT (QS 53:4), wahyu yang datang dari Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung. Maka firman-Nya (al-Qur'an) pun menjadi mulia dan agung juga, yang harus diperlakukan dengan layak, pantas, dimuliakan dan dihormati.
2. Al-Qur'an adalah mu’jizat. Manusia tak akan sanggup membuat yang senilai dengan al-Qur'an, baik satu mushaf maupun hanya satu ayat.
3. Al-Qur'an itu diturunkan ke dalam hati Nabi SAW melalui malaikat Jibril AS (QS 26:192). Hikmahnya kepada kita adalah hendaknya al-Qur'an masuk ke dalam hati kita. Perubahan perilaku manusia sangat ditentukan oleh hatinya. Jika hati terisi dengan al-Qur'an, maka al-Qur'an akan mendorong kita untuk menerapkannya dan memasyarakatkannya. Hal tersebut terjadi pada diri Rasululullah SAW, ketika al-Qur'an diturunkan kepada beliau. Ketika A’isyah ditanya tentang akhlak Nabi SAW, beliau menjawab: Kaana khuluquhul qur’an; akhlak Nabi adalah al-Qur'an.
4. Al-Qur'an disampaikan secara mutawatir. Al-Qur'an dihafalkan dan ditulis oleh banyak sahabat. Secara turun temurun al-Qur'an itu diajarkan kepada generasi berikutnya, dari orang banyak ke orang banyak. Dengan cara seperti itu, keaslian al-Qur'an terpelihara, sebagai wujud jaminan Allah terhadap keabadian al-Qur'an. (QS 15:9).
5. Membaca al-Qur'an bernilai ibadah, berpahala besar di sisi Allah SWT. Nabi bersabda: “Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf, tetapi Alif satu huruf, laam satu huruf, miim satu huruf dan satu kebaikan nilainya 10 kali lipat” (al-Hadist). [7]
Dalam berbagai definisi Pengertian Al-Qur'an yang diungkapkan oleh para ulama’ diatas, sikap pemakalah sendiri sepakat terhadap pendapat yang dikemukakan oleh pakar ushul fiqh, fiqh dan bahasa arab bahwa Al-Qur}a>n adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad, yang lafadz-lafadznya mengandung mukjizat, membacanya mempunyai nilai ibadah, yang diturunkan secara mutawatir, dan yang ditulis pada mushaf, mulai dari awal surat al-Fatihah sampai akhir surat An-Nas”.
B. Perbedaan Al-Qur’an dengan Hadist
Pada pembahasan yang lalu telah disinggung tentang pengertian al-Qur’an. Al-Qur’an adalah sumber hukum yang pertama bagi umat Islam, sedangkan sumber Islam yang kedua adalah Hadist. Hadist menurut bahasa “etimologi” adalah baru lawan dari lama (qodim), dan yang dimaksud dengan hadist adalah setiap apa-apa yang dinukil, serta disampaikan oleh manusia baik itu kata-kata yang diperoleh melalui pendengaranganya atau wahyu, baik dalam keadaan terjaga maupun dalam keadaan tertidur.[8]
Sedangkan pengertian hadist menurut istilah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad baik berupa perkataan, perbuatan maupun ketetapan Nabi.[9]
Hadist terbagi menjadi dua yakni hadist nabawi dan hadist kudsi. Kudsi secara bahasa adalah suci. Hadi>st kudsi adalah hadist yang dinisbatkan kepada yang maha suci yakni Allah ta’ala.[10]
Sedangkan menurut istilah adalah hadist yang oleh Nabi disandarkan kpada Allah. Maksudnya Nabi meriwayatkan bahwa ini adalah kalam Allah, rasul menjadi perawi kalam Allah ini dengan lafadz dari nabi sendiri. Bila seseorang meriwayatkan hadist kudsi, maka ia meriwayatkan dari Rasul dengan disandarkan kepda Allah.[11] Baca juga:
Perbedaan antara al-Qur’an dengan hadist kudsi sebagai berikut:
Al-Qur’an | Hadist Kudsi |
1. Al-Qur’an diturunkan dengan lafadz dan maknanya dari Allah | Hadist kudsi maknanya saja dari Allah, sedangkan lafadznya dari nabi. |
2. Penisbatan al-Qur’an hanya kepada Allah, seperti Allah ta’ala berfirman. | Penisbatan hadsit kudsi terkadang langsung dinisbatkan kepada Allah, dan tekadang dinisbatkan kepada Nabi, seperti dikatakan Rasul mengatakan seperti apa yang diriwayatkan tuhanya. |
3. Al-Qur’an dinukil seluruhnya secara mutawatir, sehinggah kepastinya sudah mutlaq. | Hadist kudsi kebanyakan adalah hadist ahad, adakalanya shahih, terkadang hasan dan terkadang dhoif pula. |
4. Al-Qur’an merupakan mukjizat. | Hadist kudsi bukan merupakan mukjizat. |
5. Membaca al-Qur’an adalah ibadah, oleh karena itu al-Qur’an dibaca didalam shalat. | Hadist kudsi tidak disuruh membacanya didalam shalat, Allah memberi pahala kepada pembaca hadist kudsi secara umum saja. |
[1] H. Masfuk Zhudi, Pengantar Ulumul Qur’an, (Surabaya: Karya Abditama, 1997), cet 7, hlm 1-2
[2] Fadh bin Abdurrahman ar-Rumi, Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: Titian Ilahi, 1997), Cet. 1, hlm 40
[3] H. Masfuk Zhudi, Pengantar Ulumul Qur’an, hlm 2
[4] M. ‘Ali al-Shabuni, al-Tibyan, Menurutnya definisi ini merupakan kata sepakat antara para ahli al-Qur’an dan ahli Ushul Fiqh. Lihat juga M. ‘Ali al-Shabuni, Pengantar Studi al-qur’an, (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1984), hlm 19
[6] Cha>zim sa’id chaidar, Ulumul Qur’an bayna al-Burhan wl al-itqan, (Madinah Munawarah: Maktabah ad-dar Az-Zaman, 2006), hlm 23
[7] Fadh bin Abdurrahman ar-Rumi, Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: Titian Ilahi, 1997), Cet. 1, hlm 41-42
[8] Manna>’ Khali>l al-Qatta>n, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, ( Jakarta, Litera Antar Nusa, 2009), Cet 2, Hlm 23
[9] Muhammad Tucha>n, Taisiru Mushtholah Hadist, ( Surabaya, Al-Hidayah, t.t) hlm 15
[10] Muhammad Tucha>n, Taisiru Mushtholah Hadist, Hlm 127
[11] Manna>’ Khali>l al-Qatta>n, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Hlm 25

Komentar
Posting Komentar