PENYUSUNAN HIPOTESIS PENELITIAN
![]() |
| penyusunan Hipotesis Penelitian |
A. Hipotesis
Langkah berikutnya setelah peneliti menetapkan anggapan dasar melalui pemikiran, renungan yang mendalam, serta analisis yang tajam, adalah penyusunan hipotesis penelitian.
Untuk mempermudah pemahaman pengertian hipotesis, dipandang perlu membahas terlebih dahulu tentang pemecahan masalah. Menurut Sutrisno Hadi dalam Arikunto seorang peneliti dalam memecahkan permasalahan tidak hanya satu kali jalan, tetapi diselesaikan segi demi segi. Jawaban tiap segi itu didapat dari penelitian.
Sebenarnya ada dua hal jawaban terhadap suatu permasalahan ditinjau dari taraf pencapaian:
1. Dicapai melalui membaca.
Jawaban permasalahan melalui membaca, menghasilkan kebenaran pada tataran teoritik
2. Dicapai melalui penelitian.
Jawaban permasalahan melalui penelitian, dengan menganalisis data hasil penelitian menghasilkan kebenaran pada tataran praktik.
Terkait penjelasan di atas maka hipotesis merupakan jawaban yang masih bersifat sementara terhadap suatu permasalahan penelitian, sampai terbukti kebenarannya melalui analisis data yang terkumpul.
Suharsimi Arikunto menjelaskan bahwa hipotesis berasal dari 2 penggalan kata hypoyang berarti di bawah dan thesa yang berarti kebenaran. Sehingga secara etimologi hipotesis berarti kebenaran yang masih ada di bawah, kebenaran sementara, kebenaran yang masih perlu diuji
Cholid Narbuko dan Abu Ahmadi mengemukakan pendapat bahwa hipotesis berasal dari hipo yang berarti kurang atau lemah dan tesis atau thesis yang berarti teori yang disajikan sebagai bukti. Jadi hipotesis merupakan teori yang masih lemah kebenarannya sehingga harus dibuktikan kekuatan kebenarannya. Hipotesis yang merupakan teori yang masih lemah kebenarannya, setelah terbukti kebenarannya maka menjadi teori.[1]
Dari dua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hipotesis merupakan kebenaran sementara, kebenaran yang masih ada di bawah, kebenaran yang masih lemah, sehingga perlu diuji kebenarannya melalui proses penelitian.
Dalam perumusan hipotesis yang benar sangat dipengaruhi oleh pengetahuan peneliti tentang berbagai teori yang ada terkait hal yang akan diteliti. Semakin luas pengetahuan dan pengalaman peneliti semakin baik hipotesis yang dirumuskan.
Saifuddin Azwar mengemukakan bahwa penyusunan hipotesis penelitian yang benar harus memenuhi ciri-ciri sebagai berikut.
1. Hipotesis dinyatakan dalam bentuk pernyataan deklaratif, bukan bentuk kalimat pertanyaan
2. Pernyataan deklaratif dari hipotesis, mengenai hubungan dua variabel atau lebih.
3. Hipotesis harus dapat diuji. Hal ini berarti hipotesis bisa menggambarkan pengukuran variabel-variabel yang ditetapkan, dan bisa menggambarkan prediksi hubungan antara variabel-variabel.[2]
Berdasar kriteria di atas berikut diberikan contoh yang belum merupakan hipotesis.
“Benarkah prestasi murid di sekolah ditentukan oleh tingkat kecerdasan?”
“Penyakit buta warna merupakan penyakit turunan yang diturunkan secara genetis”
Beberapa contoh berikut merupakan hipotesis.
“Semakin tinggi tingkat penghasilan karyawan akan mempertingggi jatah uang makan”
“Keikutsertaan murid pada bimbingan belajar akan meningkatkan prestasi hasil belajar”
Terkait bahwa hipotesis harus bisa menjelaskan hubungan antar variabel, Sukidin dan Mundir menerangkan hal tersebut sebagai berikut. Hubungan antara variabel-variabel bisa berupa hubungan sebab akibat, hubungan korelasi, dan hubungan perbandingan. Hubungan sebab akibat misalnya penelitian tentang pengaruh dari suatu prosedur, material dan perlakuan.[3] Hubungan korelasi, misalnya penelitian yang mencari hubungan suatu hal dengan hal lain, sebagai contoh hubungan pertambahan tinggi badan dengan kesehatan anak usia 0-3 tahun. Hubungan yang berikutnya adalah hubungan perbandingan, misalnya membandingkan kematangan kepribadian antara anak perempuan dan anak laki-laki pada usia 3-6 tahun.
Selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah keobyektifan pengujian hipotesis. Peneliti tidak boleh memanipulasi data untuk mendukung penerimaan hipotesisnya. Maka peneliti dapat bersikap terhadap penyusunan hipotesis penelitian yang disusun sebagai berikut.
1. Peneliti menerima keputusan ditolaknya hipotesis karena memang tidak terbukti.
2. Peneliti mengganti hipotesis saat penelitian berlangsung, bila ternyata data yang terkumpul tidak mendukung pembuktian hipotesis. Bila diputuskan mengambil alternatif kedua ini, maka penulis harus memaparkan proses penggantian ini dalam laporan akhir hasil penelitian.[4]
Sukidin dan Mundir menyimpulkan bahwa kriteria atau ciri-ciri hipotesis yang baik adalah sebagai berikut.
1. Hipotesis masuk akal.
2. Hipotesis menjelaskan hubungan antar variabel-variabel.
3. Hipotesis dapat diuji.
4. Hipotesis mengikuti penemuan-penemuan studi terdahulu.
5. Hipotesis mempunyai daya penjelas/eksplanasi yang rasional.
6. Hipotesis konsisten dengan pengetahuan yang sudah ada.
7. Hipotesisdinyatakan sesederhana dan seringkas mungkin.[5]
Jadi banyak hal yang harus dicermati oleh peneliti dalam menyusun hipotesis, sehingga hipotesis yang dirumuskan mempunyai kedudukan kuat dalam penelitian.
Baca Juga:
B. Jenis-jenis Hipotesis
Trochim dalam bukunya “The Research Methods Knowledge Base” menjelaskan jenis-jenis hipotesis dibagi dua kelompok, kelompok pertama hipotesis yang menggambarkan hubungan antara variabel yaitu hipotesis alternatif dan hipotesis nol. Sedangkan hipotesis yang berdasarkan arah anggapan dasar yaitu hipotesis satu arah (one-tailed hypothesis)danhipotesis dua arah (two-tailed hypothesis). Berikut penjelasannya.[6]
1. Hipotesis Alternatif dan Hipotesis Nol
Menurut Trochim dalam suatu kajian yang mempelajari hubungan antara dua variabel, maka terdapat dua jenis hipotesis; yang pertama adalah yang menggambarkan anggapan dasar yang dibuat; dan yang kedua adalah yang menggambarkan dampak lain yang mungkin. Sebagai contoh, variabel yang dikaji adalah X dan Y dan diperkirakan terhadap hubungan antara X dan Y. Pada kasus ini, maka hanya ada satu dampak/outcome lain yang mungkin, yaitu tidak ada hubungan antara X dan Y.
Biasanya penyusunan hipotesis penelitian yang menggambarkan anggapan dasar yang dibuat disebut hipotesis alternatif dan hipotesis lain yang mungkin terjadi disebut hipotesis nol. Hipotesis alternatif biasanya diberi notasi HA atau H1; sedangkan hipotesis nol diberi notasi H0 (dibaca: Ha nol) atau Ho (dibaca Ha o). Jadi pada contoh di atas bisa dituliskan:
H1 : terdapat hubungan antara variabel X dan Y
H0 : tidak ada hubungan antara X dan Y.
2. Hipotesis Satu Arah (One-tailed Hypothesis) dan Hipotesis Dua Arah (Two-tailed Hypothesis)
Berdasarkan arah anggapan dasar yang dibuat, maka menurut Trochim, penyusunan hipotesis penelitian dibedakan menjadi dua, yaitu one-tailed dan two-tailed hypothesis. Jika anggapan dasar yang dibuat menuju pada satu arah, maka hipotesis nol adalah: tidak ada perbedaan antara anggapan yang dibuat dengan anggapan dasar pada arah yang berkebalikan. Hal seperti ini disebut hipotesis satu arah (one-tailed hypothesis). Sebagai ilustrasi, seseorang sedang meneliti dampak pemberian insentif bagi pekerja PT ABC yang hadir tepat waktu dan peneliti percaya dampaknya adalah menurunkan jumlah pekerja hadir tidak tepat waktu.
Dua hipotesis yang dibuat dalam kasus ini adalah:
Ho:pemberian insentif bagi pekerja yang hadir tepat waktu tidak mengakibatkan perubahan yang nyata pada jumlah pekerja yang hadir tidak tepat waktu, atau menyebabkan kenaikan jumlah pekerja yang hadir tidak tepat waktu.
Hipotesis nol ini diuji melawan hipotesis alternatif, HA:
HA: pemberian insentif bagi pekerja yang hadir tepat waktu berdampak pada penurunan jumlah pekerja yang hadir tidak tepat waktu.
![]() |
| Gambar 1. One-tailed Hypothesis |
Sumber: William M.K. Trochim. The Research Methods Knowledge Base
Gambar 1 menunjukkan ilustrasi di atas secara grafis. Hipotesis alternatif – yakni anggapan dasar bahwa pemberian insentif bagi pekerja yang hadir tepat waktu berdampak pada penurunan jumlah pekerja yang hadir tidak tepat waktu- tampak pada ilustrasi tersebut. Hipotesis nol berada pada dua kondisi lain yang mungkin: tidak ada perbedaan; atau menaikkan jumlah yang hadir tidak tepat waktu. Gambar tersebut memperlihatkan distribusi perbedaaan jumlah hadir tidak tepat waktu. Istilah one-tailed merujuk pada ekor dari distribusi dari variabel akibat.
Jika anggapan dasar yang dibuat tidak menuju pada satu arah, maka disebut sebagai two-tailed penyusunan hipotesis penelitian. Sebagai contoh, ditinjau suatu kajian tentang pemberian obat pada penderita depresi. Obat ini diujicobakan pada hewan percobaan, tetapi belum diujikan pada manusia. Berdasarkan teori dan riset terdahulu, diyakini bahwa obat tersebut akan memberikan pengaruh, tetapi belum cukup kepercayaan untuk menduga arahnya dan mengatakan bahwa obat tersebut akan menurunkan depresi, karena ada informasi lain yang mengatakan bahwa obat tersebut menimbulkan efek samping yang memperburuk keadaan. Pada kondisi ini, pernyataan hipotesis adalah:
Ho: pemberian obat ABC dengan dosis 300mg/hari tidak memberikan perubahan yang
nyata pada depresi
Hipotesis ini akan diuji melawan hipotesis alternative:
HA: pemberian obat ABC dengan dosis 300mg/hari memberikan perubahan nyata pada depresi.
Gambar 2 menunjukkan anggapan dasar two-tailed pada kasus ini.
Sumber: William M.K. Trochim. The Research Methods Knowledge Base
Pada gambar 2 tampak bahwa istilah two-tailed merujuk pada distribusi variabel dampak (outcome variable).
[1] Cholid Narbuko dan Abu Ahmadi. Metodologi Penelitian. (Jakarta:PT Bumi Aksara, 2008), 28.
[2] Saifuddin Azwar. Metode Penelitian, cetakan delapan (Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar, 2007), 49-50.
[3] Sukidin dan Mundir. Metode Penelitian Membimbing dan Mengantar Kesuksesan Anda dalam Dunia
Penelitian, cetakan pertama (Surabaya: Penerbit Insan Cendekia, 2005), 128.
[5] 12Sukidin dan Mundir. Metode Penelitian Membimbing dan Mengantar Kesuksesan Anda dalam Dunia
Penelitian, 127.


Komentar
Posting Komentar