“PENYUSUNAN RUMUSAN MASALAH PENELITIAN”
A. Signifikansi Pembahasan Rumusan Masalah Penelitian
Perumusan masalah adalah hulu dari kegiatan penelitian. Permasalahan yang menjadi focus penelitian muncul apabila ada “kesenjangan atara teori (what should be) dengan kenyataan yang dijumpai (what is). Pada tahapan perumusan masalah berisi tentang masalah-masalah yang hendak dipecahkan melalui penelitian
Dalam penjabaran ini sepintas menunjukkan kepada kita bahwa proses penelitian berangkat dan dipengaruhi oleh sebuah kondisi yang memungkinkan seorang peneliti menemukan jalan keluar, atau setidaknya meminimalisir agar permasalahan tersebut tidak melebar luas.
Tentunya masalah-masalah yang dihasilkan itu tidak lepas dari latar belakang masalah yang dikemukakan pada bagian pendahuluan[3].Oleh sebab itu, dalam kegiatan penelitian sedikit bisa kami sampaikan akan signifikansi proses perumusan masalah, diantaranya:
- Perumusan masalah merupakan langkah awal yang menentukan bagi penyusunan mata rantai atau langkah-langkah berikutnya.
- Perumusan masalah merupakan penunjuk bagi kerangka teoritis yang dikembangkan untuk penyusunan hipotesis, termasuk bagaimana hipotesa dikembangkan dan dirumuskan.
- Perumusan masalah memberikan arah dalam operaionalisasi hipotesis penelitian, sehingga memperjelas variable-variabel penelitian.
- Perumusan penelitian juga memberi petunjuk tentang rancangan penelitian yang akan dipakai, baik yang menyangkut subyek penelitian (populasi), sample dan pemilihan instrument atau pengembangan metode atau alat pengukuran penelitian.
- Dengan perumusan penelitian yang baik, peneliti dapat mengetahui detail penelitian yang akan dilakukan. Apakah penelitian itu akan berjalan lancar atau menghadapi kendala.
- Dari rumusan masalah dapat diketahui konfirmasi ketepatan judul dan tujuan penelitian yang ditetapkan.
- Dari rumusan masalah dapat diketahui seberapa jauh penelitian yang dilakukan berkaitan dengan bobot dan orisinalitasnya.
Berikutnya, terdapat beberapa kriteria rumusan masalah yang kuat, umunya menyangkut tiga aspek yaitu: (a) aspek substansi, (b) aspek formulasi, dan (c) aspek teknis.
1) Pada aspek substansi atau isi permasalahan. Ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu: masalah bobot dan masalah orisinalitas.
· Masalah bobot atau nilai kegunaanya. Aktualitas atau bobot masalah setidak-tidaknya dapat didekati dengan melihat kemanfaatan atau kegunaan pada tiga hal, yaitu apakah dengan terjawabnya permasalahan, penelitian akan mempunyai arti bagi perkembangan substansi ilmu (kegunaan teoritik), mempunyai arti bagi perkembangan metodologis dan memiliki kegunaan praktis.
· Masalah orisinalitas penelitian. Maksudnya bahwa permasalah penelitian belum terjawab oleh teori maupun penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya.
2) Aspek formulasi rumusan permasalah penelitian, setidaknya ada dua hal yang memerlukan perhatian, yaitu:
· Rumusan hendaknya diajukan dalam bentuk pertanyaan yang jelas, tajam dan akurat menyangkut inti permasalahan yang dikehendaki.
· Rumusan mempermasalahkan hubungan antar dua variable atau lebih, namun kreteria ini tidak mutlak sifatnya.
3) Aspek teknis, perlu diperhatikan masalah kelayakan penelitian itu sendiri. Maksudnya mungkinkah permasalahan yang dirumuskan dapat dijawab secara empirik, sehingga untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu adanya pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
· Pertimbangan peneliti, yaitu mengenai bekal pengetahuan dasar yang berkaitan dengan obyek penelitian yang dihadapi, adanya motivasi, tersedianya waktu yang cukup, dan kerampilan peneliti.
· Pertimbangan metodologik, maksudnya sejauhmana pemahaman teoritik dan kemampuan praktis di bidang metodologi telah atau dapat dikuasi oleh peneliti.
· Pertimbangan tersedianya fasilitas dan prasarana penelitian, yang meliputi bahan, biaya, peralatan dan sebagainya.
Sebagai peneliti, ketentuan-ketentuan diatas perlu diperhatikan, ini disebabkan karena dalam proses perumusan masalah sering terjadi beberapa kesalahan, sehingga permasalahan penelitian susah untuk dipecahkan.
Hal ini terjadi disamping peneliti kurang memperhatikan rambu-rambu dalam kegiatan penelitian, disisi lain ia kurang memberikan porsi perhatian yang lebih pada tahap perumusan masalah, akibatnya masalah menjadi terlampau luas dan tidak fokus, atau bahkan masalah terlampau sempit dan atau masalah mengandung emosi, prasangka, serta unsur-unsur yang tidak ilmiah.
Dengan demikian, setelah seorang peneliti menemukan masalah dan mengidentifikasinya, dilanjutkan dengan kegiatan perumusan masalah yang titik tekannya menyangkut tiga hal mendasar dibawah ini:
1. Rumusan masalah tercermin dalam bentuk kalimat tanya yang jelas[4]
2. Rumusan masalah jelas ruang lingkupnya, menggambarkan kondisi dan isi sebuah masalah[5].
3. Rumusan masalah hendaknya memberi petunjuk tentang proses pengumpulan data guna menjawab pertanyaan yang tersusun dalam rumusan masalah.[6]
B. Definisi Rumusan Masalah
“Well begun half done”. Kalimat tersebut kurang lebih memiliki arti, awal yang baik itu ibarat menyelesaikan setengah dari sebuah aktifitas/pekerjaan. Kalimat ini tentu sudah sangat akrab sekali di telinga kita, diucapkan oleh filsuf terkenal, Aristoteles[7]. Lantas, apa kaitannya kalimat diatas dengan proses perumusan masalah dalam kegiatan penelitian?
Seperti kita ketahui, perumusan masalah adalah satu dari sekian tahapan awal yang tidak boleh dianggap remeh dalam kegiatan penelitian. Sebagai sebuah tahapan, ia menempati posisi yang amat penting sekali. Tanpa memperhatikan tahapan ini, kegiatan penelitian menjadi tidak bermakna.
Hanya saja, disini perlu digarisbawahi bahwa rumusan masalah berbeda dengan masalah. Sebagaimana sudah disebutkan dimuka, kalau masalah itu bisa diartikan sebagai bentuk kesenjangan antara yang diharapkan dengan apa yang terjadi, maka rumusan masalah itu merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data, berdasarkan kaidah-kaidah penelitian[8].
Perumusan masalah atau research questions atau disebut juga sebagai research problem, problem formulation, diartikan sebagai suatu rumusan yang mempertanyakan suatu fenomena, baik dalam kedudukannya sebagai fenomena mandiri, maupun dalam kedudukannya sebagai fenomena yang saling terkait di antara fenomena yang satu dengan yang lainnya, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat. Dalam bahasa yang lain disebutkan bahwa:
“A research problem can belong to one of the following two categories – it can belong to the category in which there can be relationships between various variables or it may belong to the other category, which is based on nature. In the beginning, it is important for a researcher to find out the general interest or the subject matter, which he wants to study[9].”
Saking pentingnya sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa rumusan masalah adalah pondasi dari bangunan penelitian (research problem is like the foundation of building).[10]
Berdasarkan uraian diatas, penulis mengambil perumpamaan bahwa rumusan masalah adalah ibarat kompas yang mampu menuntun, membimbing dan mengarahkan seorang peneliti dalam mensukseskan kegiatan penelitiannya.
C. Fungsi Rumusan Masalah
Sebuah kaidah ditetapkan tidak berangkat dari ruang yang kosong, demikian juga dengan perumusan masalah, ia menjadi salah satu tahapan pentingan dalam penelitian mengingat di dalamnya terkandung beberapa fungsi yang melekat, antara lain:
1. Sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau dengan kata lain berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitian itu menjadi ada dan dapat dilakukan.
2. Sebagai pedoman, penentu arah atau fokus dari suatu penelitian. Perumusan masalah ini tidak berharga mati, akan tetapi dapat berkembang dan berubah setelah peneliti sampai di lapangan.
3. Sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan oleh peneliti, serta jenis data apa yang tidak perlu dan harus disisihkan oleh peneliti. Keputusan memilih data mana yang perlu dan data mana yang tidak perlu dapat dilakukan peneliti, karena melalui perumusan masalah peneliti menjadi tahu mengenai data yang relevan dan data yang tidak relevan bagi kegiatan penelitiannya.
4. Dengan adanya perumusan masalah penelitian, maka para peneliti menjadi dapat dipermudah di dalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel penelitian.
D. Prinsip-Prinsip Perumusan Masalah
Prinsip-prinsip perumusan masalah disajikan berdasarkan pada kajian seputar perumusan masalah. Prinsip-prinsip ini amat berguna bagi peneliti sebagai panduan dalam proses perumusan masalah itu sendiri. Diantara prinsip perumusan masalah yang menjadi bahasan disini adalah:
1. Prinsip yang berkaitan dengan teori dasar
2. Prinsip yang berkaitan dengan maksud perumusan masalah
3. Prinsip hubungan faktor
4. Focus sebagai wahana untuk membatasi studi
5. Prinsip yang berkaitan dengan kriteria inklusi-ekslusi
6. Prinsip yang berkaitan dengan bentuk dan cara perumusan masalah (secara diskusi, gabungan dan proporsional).
7. Prinsip yang berhubungan dengan posisi perumusan masalah
8. Prinsip yang berlaku dengan telaah pustaka
9. Prinsip yang berhubungan dengan penggunaan bahasa
Prinsip-prinsip tersebut diatas tidak berlaku mutlak harus dipakai secara keseluruhan, ia bisa berlaku fleksibel sesuai kebutuhan peneliti, mengingat yang mengetahui detail rumusan masalah dan objek yang diteliti adalah yang bersangkutan.[11]
Namun demikian, meski prinsip diatas tidak berlaku mutlak pemakaiannya seorang peneliti tetap harus memperhatikan beberapa diantaranya dengan maksud agar penyusunan rumusan masalah penelitiannya memiliki landasan yang jelas. (Baca juga: Konsep Masalah Penelitian)
E. Syarat-Syarat Perumusan Masalah
Mengkaji proses perumusan masalah tidak semudah yang dibayangkan. Sebagai peneliti, kegiatan merumuskan masalah tidak bisa dilakukan dengan serampangan. Untuk itu, agar penyusunan rumusan masalah memiliki bobot yang baik dan terukur, beberapa syarat dalam perumusan masalah dibawah ini perlu dipertimbangkan, yaitu:
1. Memiliki batasan yang jelas
2. Memiliki bobot dimensi operasional dari masalah tersebut
3. Dapat dihipotesiskan
4. Dapat diukur
5. Dapat diuji
6. Berangkat dari sebuah pengamatan fenomena
7. Memungkinkan bagi peneliti untuk mendapatkan data dan mengklarifikasinya
Syarat-syarat perumusan masalah diatas beberapa diantarannya melekat pada model penelitian kualitatif, dan beberapa lagi yang lain melekat pada model penelitian kuantitatif. Dengan demikian, makin kita pahami bahwa kegiatan rumusan masalah menjadi sangat fundamental sekali untuk diperhatikan.
Selain berfungsi sebagai kompas dalam dunia penelitian, tugas merumuskan masalah setidaknya juga merupakan sebuah ketrampilan yang dimiliki oleh seseorang (peneliti). Hal ini didasarkan pada kondisi dimana tidak setiap peneliti mampu meramu dan menyuguhkan rumusan masalah penelitiannya dengan baik dan berbobot. Tidak sedikit diantara mereka (khususnya peneliti pemula) mengalami hambatan dalam proses perumusan masalah ini. (Baca juga: Studi Pendahuluan)
F. Prosedur atau Langkah Perumusan Masalah
Setelah prinsip-prinsip diatas kita bahas, berikutnya adalah langkah-langkah perumusan masalah yang seyogyanya perlu diperhatikan oleh seorang peneliti. Diantara prosedur atau langkah yang dimaksud antara lain:
1. Menentukan fokus penelitian
2. Menentukan sub fokus penelitian (dalam tahap ini, peneliti harus menemukan kemungkinan faktor lain yang muncul dan mendukung bagi langkah-langkah penelitiannya)
3. Melakukan kajian diantara faktor yang terkait, menelaah dan memilih factor yang paling menarik
4. Mengaitkan secara logis antar faktor dengan focus penelitian.
Pada bagian lain, Suharsimi Ari Kunto menjabarkan bahwa perumusan masalah dapat dilakukan dengan cara merumuskan judul selengkapnya. Artinya, meskipun tidak secara langsung dinyatakan dalam bentuk pertanyaan, dari suatu judul peneliti sudah bisa mengetangahkan rumusan masalah dalam penelitiannya[12].
G.Ragam Pertanyaan dalam Perumusan Masalah
Berikut ini adalah beberapa ragam pertanyaan dalam perumusan masalah, antara lain sebagai berikut:
1) Pertanyaan manajemen adalah pertanyaan yang mencerminkan suatu keputusan yang harus dibuat seorang manajer dan merupakan masalah yang menyebabkan penelitian dilakukan.
Suatu pertanyaan yang menunjukkan pertanyaan manajemen seperti misalnya, bagaimana meningkatkan kualitas SDM guru dan karyawan di lemabaga pendidikan yang ia pimpin ?
2) Pertanyaan penelitian (research question) yaitu suatu pertanyaan yang menekankan pada fakta dan pengumpulan informasi/data. Sebagai contoh kalimat pertanyaan dengan model ini adalah terkait dengan kegagalan lembaga pendidikan dalam meningkatkan kualitas/mutu pengajarannya, dapat diajukan beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut:
· Faktor utama apa yang menyebabkan kegagalan lembaga pendidikan “A” dalam meningkatkan kualitas pengajaran yang diselenggarakannya ?
· Bagaimana efisiensi dan efektifitas belajar mengajar di lemabaga ini ?
3) Pertanyaan penyelidikan (investigation question) merupakan pernyataan yang harus dijawab peneliti untuk dapat menanggapi pernyataan umum secara memuaskan. Tujuannya adalah untuk mengambil pertanyaan penelitian yang lebih umum dan merincinya menjadi pertanyaan–pertanyaan yang lebih detail. Pertanyaan penyelidikan terkait dengan pertanyaan penelitian tersebut di atas dapat diajukan:
· Bagaimana kedudukan masyarakat berkaitan dengan pengelolaan lembaga pendidikan di area ia tinggal?
· Sejauh mana masyarakat ikut andil dalam pengelolaan lembaga pendidikan tersebut?
· Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi masyarakat ikut andil ?
· Sejauh mana masyarakat tahu mengenai pola pengelolaan lembaga pendidikan tersebut ?
4) Pertanyaan pengukuran (measurement question) biasanya terdapat dalam survey. pertanyaan pengukuran adalah pertanyaan yang sebenarnya diajukan kepada responden. Biasanya bentuk pertanyaan ini muncul dalam quesioner.[13]
H. Rumusan Masalah yang Baik
Adalah Frankel dan Wallen yang mengemukakan bahwa rumusan masalah yang baik adalah yang disandarkan pada masalah penelitian, meliputi:
1. Feasible. Artinya, masalah tersebut harus dapat dipecahkan dengan prinsip efektif dan efisien (tidak banyak keluar tenaga, dana dan waktu)
2. Jelas. Artinya, semua orang memiliki persepsi sama tentang masalah yang diteliti
3. Signifikan. Artinya, hasil dari penelitian yang dilakukan memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan.
4. Bersifat etis[14]. Artinya, menghindarkan dari hal-hal yang berpotensi menimbulkan kontroversial yang akhirnya makin menambah masalah, baik bagi peneliti lebih-lebih bagi kehidupan bermasyarakat. Etis ini kaitannya dengan moralitas, system kepercayaan dan atau nilai-nilai keyakinan beragama.
Sedangkan Tuckman menambahkan bahwa rumusan masalah yang baik adalah yang menyatakan adanya keterkaitan antar variable yang tercermin dalam uraian pertanyaan yang lugas, padat dan jelas.
Dengan demikian, bisa ditegaskan bahwa menyusun permumusan masalah selain perlu memperhatikan pada redaksi/uraian pertanyaan yang padat dan jelas, disisi lain juga perlu diperhatikan factor eksternal yang pada prosesnya bisa memberikan dampak/akibat bagi kegiatan yang penelitian yang ia lakukan. (Baca juga: Islam dan Peradaban )
I. Bentuk-Bentuk Rumusan Masalah
Bentuk-bentuk rumusan masalah mewakili jenis permasalahan yang menjadi objek penelitian. Adapun bentuk rumusan masalah yang umum dibagi atas tiga macam, antara lain :
1. Permasalahan deskriptif. Rumusan permasalahannya menggambarkan corak penelitian deskriptif. Model rumusan ini menggambarkan permasalahan yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan satu, dua varibel atau lebih namun tidak untuk membandingkannya. Misalnya, bagaimanakah sikap masyarakat terhadap model penilaian kurikulum 2013 ?
2. Permasalahan komparatif
Dari sisi artinya jelas, komparative bermakna membandingkan. Dalam hal ini, rumusan masalah dalam penelitian comparative mengetengahkan perbandingan antara dua variable atau lebih. Contoh, adakah perbedaan disiplin kerja pegawai negeri dan pegawai swasta ? sejauh manakah tingkat kepuasan masyarakat dengan model penilaian naratif dibandingkan dengan model penilaian kuantitatif?
3. Permasalahan asosiatif
Permasalahan asosiatif diuraikan dalam pertanyaan yang bersifat menghubungkan dua variable atau lebih. Dalam hal ini terdapat tiga bentuk permasalahan asosiatif, 1) simetris, 2) kausal dan 3) timbal balik.
Contoh rumusan masalah asosiatif dalam pola yang simetris adalah, adakah hubungan antara banyaknya semut di pohon dengan manisnya buah? atau, adakah hubungan antara sering berziarah kubur dengan tingginya tingkat kelulusan siswa? adakah hubungan antara do’a yang dilafalkan bisyirri dengan tingkat kekhusyukkannya? dan lain sebagainya.
Berikutnya, contoh rumusan masalah dalam pola hubungan kausal (sebab akibat), seperti: adakah pengaruh system ranking dengan budaya kompetititf belajar siswa? Seberapa jauh pengaruh tata ruang kelas terhadap motivasi belajar siswa ?
Terkahir, rumusan masalah dengan pola interaktif dan timbal balik, tergambar dalam contoh, hubungan motivasi dengan prestasi. Adakah hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi yang diperoleh siswa? atau sebaliknya, adakah hubungan prestasi dengan motivasi belajar siswa? Contoh lain, adakah hubungan antara kekayaan dengan kecerdasan seseorang? Pun pula sebaliknya, adakah hubungan antara kecerdasan dengan kekayaan seseorang?.
Dua hal tersebut saling berhubungan, mengingat orang yang kaya memiliki kesempatan luas untuk terus belajar dan mengasah potensinya. Seterusnya, orang yang memiliki kecerdasan juga memiliki kesempatan untuk memperoleh penghasilan yang tinggi dan menjadi kaya karenanya[15].
Akhirnya, diatas itu semua hemat penulis dimanapun rumusan masalah penelitian ditempatkan dan dalam pola apa, sebenarnya tidak terlalu penting dan tidak akan mengganggu kegiatan penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti, karena yang penting adalah bagaimana kegiatan penelitian itu dilakukan dengan memperhatikan rumusan masalah sebagai pengarah dari kegiatan penelitiannya.
Artinya, kegiatan penelitian yang dilakukan oleh siapapun, hendaknya memiliki sifat yang konsisten dengan judul dan perumusan masalah yang ada. Laporan yang didapat dari suatu kegiatan penelitian, hendaknya kembali mengacu pada judul dan permasalahan penelitian yang telah dirumuskan.
J. Analisis Perumusan Masalah
Kegiatan perumusan masalah tidak sekedar memaparkan masalah dalam bentuk pertanyaan yang kemudian akan dijawab oleh seorang peneliti. Akan tetapi, ada hal lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan dalam proses perumusan masalah, yakni menganailisisnya. Analisis masalah ditetapkan untuk mengukur hal sebagai berikut:
1. Apakah masalah tersebut telah menghubungkan dua faktor atau lebih dan bagaimanakah penyajiannya ?
2. Apakah rumusan masalah tersebut dipisahkan dari tujuan penelitian atau digabungkan ?
3. Apakah uraian yang diajukan berbentuk deskriptif atau disertai pertanyaan ?
4. Apakah pertanyaannya diuraikan secara khusus atau hanya dinyatakan secara implisit ?
5. Apakah fokus dinyatakan secara tegas sebagai pembatasan study ia termasuk dalam masalah penetian ?[16]
Lima pertanyaan diatas menjadi panduan peneliti untuk mengetahui sejauh mana kualitas rumusan masalah yang telah ia susun. Analisis rumusan masalah ini sangat berguna untuk mempertajam dan memperjelas arah penelitian hingga pada tahap penyusunan laporan penelitian.
DAFTAR BACAAN
Drs. Sumadi Suryabrata, BA., MA., Ed.S., P.hd, Metodologi Penelitian (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005)
Prof.,Dr. Lexy J. Moeloeng, MA, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010)
Prof. Ida Bagus Mantra, P.hd, Filsafat Penelitian dan Metode Penelitian Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004)
Dr. Mardalis,Metode Penelitian; Suatu Pendekatan Proposal (Jakarta: Bumi Aksara, 1999)
William Trochim, James P Donnelly, The Research Methodes Knowledge Base, 25
http//www.ehow.com, How Identify Research Problem ?
Prof. Dr. Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: CV. Alfabeta)
Mahsun, Metode Penelitian Bahasa (Jakarta: PT. Raja Grafindo Pesada)
I Ketut Rahyuda, I Gusti Wayan Murjana Yasa dan Ni Nyoman Yuliarmi. Buku Ajar: Metodologi Penelitian (Denpasar: Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, 2004)
Dr. Sugiono, Metode Penelitian Bisnis (Bandung: CV Al Vabeta, 2002)
Dr. Suharsimi Ari Kunto, Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta)
[1] Drs. Sumadi Suryabrata, BA., MA., Ed.S., P.hd, Metodologi Penelitian (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), 12
[2] Prof.,Dr. Lexy J. Moeloeng, MA, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), 92
[3] Mahsun, Metode Penelitian Bahasa (Jakarta: PT. Raja Grafindo Pesada), 38
[4] Prof. Ida Bagus Mantra, P.hd, Filsafat Penelitian dan Metode Penelitian Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), 49
[5] Dr. Mardalis, Metode Penelitian; Suatu Pendekatan Proposal (Jakarta: Bumi Aksara, 1999), 39
[6] Sumadi Suryabarata, Metodologi Penelitian …….., 17
[7]William Trochim, James P Donnelly, The Research Methodes Knowledge Base, 25
[9] http//www.ehow.com, How Identify Research Problem ?
[10] Scott Smith, Ph.D., Formulation a Research Problem (ArticleResearch Problem: 5 Ways to Formulate the Research Problem, February 28, 2012)
[11]Prof. Dr. Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian ….., 118
[12] Dr. Suharsimi Ari Kunto, Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta), 40
[13]I Ketut Rahyuda, I Gusti Wayan Murjana Yasa dan Ni Nyoman Yuliarmi. Buku Ajar: Metodologi Penelitian (Denpasar: Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, 2004)
[14] The Dream Team’s (Article Problem Formulation; a Problem will be Defined is a Problem half Solved) t.t.
[15] Dr. Sugiono, Metode Penelitian Bisnis(Bandung: CV Al Vabeta, 2002), 30
[16] Prof. Dr. Lexy Moelong, Metodologi Penelitian ………, 110
Komentar
Posting Komentar