Perbedaan Bahasa Al-Qur’an, Taurat, dan Injil
Taurat Kitab suci orang-orang yahudi, setidaknya oleh mereka sendiri disebut TeNakh menggunakan bahasa Ibrani salah satu rumpun dari bahasa semit. Persis seperti Bible (Old Testament) milik orang Kristen, perbedaannya hanya dari segi urutan saja. [1]
Bible (Old Testament) yang diklaim bahasa aslinya bahasa Ibrani (Hebrew) telah musnah, sehingga tidak ada naskah asli dari Perjanjian Lama. Meskipun begitu, menurut Isrâ’il Wilfinson, dalam bukunya Târîk al-Lughât al-Sâmiyyah (History of Semitic Language), seperti yang dikutip Prof. Al-A‘zamî,
ternyata bahasa asli PL itu tidak disebut Ibrani. Bahasa pra-pengasingan (pre-exilic language) yang digunakan oleh Yahudi adalah dialek Kanaan dan tidak dikenal sebagai Bahasa Ibrani. Orang-orang Funisia (atau lebih tepatnya, orang-orang Kanaan) menemukan alfabet yang benar pertama kali ± 1500 S.M.[2] Kosakata bahasa Ibrani terdiri dari kata-kata konkret, yaitu kata-kata yang berkaitan dengan indra penglihatan, pendengaran, peraba, perasa, dan penciuman. Dengan demikian, kata-kata ini memberikan gambaran mental kepada para pendengar atau pembaca. Karena karakter kata-katanya yang konkret ini, beberapa pakar mengatakan bahwa bahasa Ibrani kurang memiliki istilah-istilah abstrak. Selain itu Bahasa Ibrani karakternya ringkas. Sebagai perbandingan, bahasa Aram, salah satu bahasa Semitik yang paling mirip dengan bahasa Ibrani, memiliki gaya bertutur yang lebih lamban, berputar-putar, dan menggunakan banyak kata. Oleh karena itu dalam penerjemahan, kelemahan bahasa Ibrani di tutupi dengan memberikan kata-kata tambahan agar lebih hidup. [3]
ternyata bahasa asli PL itu tidak disebut Ibrani. Bahasa pra-pengasingan (pre-exilic language) yang digunakan oleh Yahudi adalah dialek Kanaan dan tidak dikenal sebagai Bahasa Ibrani. Orang-orang Funisia (atau lebih tepatnya, orang-orang Kanaan) menemukan alfabet yang benar pertama kali ± 1500 S.M.[2] Kosakata bahasa Ibrani terdiri dari kata-kata konkret, yaitu kata-kata yang berkaitan dengan indra penglihatan, pendengaran, peraba, perasa, dan penciuman. Dengan demikian, kata-kata ini memberikan gambaran mental kepada para pendengar atau pembaca. Karena karakter kata-katanya yang konkret ini, beberapa pakar mengatakan bahwa bahasa Ibrani kurang memiliki istilah-istilah abstrak. Selain itu Bahasa Ibrani karakternya ringkas. Sebagai perbandingan, bahasa Aram, salah satu bahasa Semitik yang paling mirip dengan bahasa Ibrani, memiliki gaya bertutur yang lebih lamban, berputar-putar, dan menggunakan banyak kata. Oleh karena itu dalam penerjemahan, kelemahan bahasa Ibrani di tutupi dengan memberikan kata-kata tambahan agar lebih hidup. [3]
Sedangkan New Testament (Gospel, Injil) mengunakan bahasa Yunani, ini bertentangan dengan bahasa Yesus yaitu Ibrani, kemungkinan besar Yesus sebagai manusia di bumi menggunakan salah satu bentuk bahasa Ibrani dan salah satu dialek bahasa Aram. Bahasa Aram ada yang menyebutnya bahasa Syiria atau Suryani merupakan satu bentuk bahasa Semitik kuno yang masih serumpun dengan bahasa Ibrani dan pada awalnya digunakan oleh orang Aram. Bahasa Aram maupun Ibrani termasuk dalam keluarga bahasa Semitik Barat Laut. Walaupun jauh berbeda dengan bahasa Ibrani, bahasa Aram yang berkerabat ini mempunyai huruf-huruf yang sama namanya dengan huruf-huruf dalam bahasa Ibrani. Seperti bahasa Ibrani, bahasa Aram ditulis dari kanan ke kiri, dan pada mulanya tulisan bahasa Aram bersifat konsonantal (hanya memiliki konsonan). Namun, bahasa Aram yang digunakan dalam Alkitab belakangan dibubuhi penanda bunyi vokal oleh kaum Masoret, sebagaimana yang mereka lakukan dengan teks Ibrani. Bahasa Aram terpengaruh karena kontaknya dengan bahasa-bahasa lain. Dalam bahasa Aram Alkitab tidak saja terdapat berbagai nama tempat dan nama diri yang berasal dari bahasa Ibrani, bahasa Akad, dan bahasa Persia, tetapi juga terlihat ada pengaruh bahasa Ibrani dalam istilah keagamaan, pengaruh bahasa Akad khususnya dalam istilah politik dan finansial, dan pengaruh bahasa Persia dalam istilah yang berkaitan dengan urusan politik dan hukum. Selain tulisannya sama, infleksi verba, nomina, dan pronomina bahasa Aram mirip dengan bahasa Ibrani. Kata kerjanya mempunyai dua keadaan yaitu telah dan akan. Bahasa Aram menggunakan kata benda dalam bentuk tunggal, dualis, serta jamak dan dalam dua jenis, maskulin dan feminin. Bahasa ini berbeda dengan bahasa-bahasa Semitik lain termasuk bahasa Arab yang banyak menggunakan bunyi vokal a, dan karena hal-hal lain juga, seperti banyak menggunakan konsonan-konsonan tertentu, misalnya ddaripada z dan t daripada sh. [4]
Meskipun berasal dari rumpun yang sama, dan dari beberapa segi mempunyai kesamaan, ternyata bahasa Arab sebagai bahasa Kitab Suci Al-Qur’andikenal memiliki banyak kelebihan dibanding yang lain, kelebihan-kelebihannya adalah sebagai berikut :
1. Sejak zaman dahulu kala hingga sekarang bahasa Arab itu merupakan bahasa yang hidup. Pesan-pesan Allah dalam al-Qur’an merupakan ajaran yang berlaku untuk sepanjang masa. Untuk itu al-Qur’an mesti diungkapkan dalam bahasa yang memiliki kemampuan untuk mempertahankan dirinya dan sekaligus dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman.
2. Bahasa Arab adalah bahasa yang lengkap dan luas untuk menjelaskan tentang keduniaan dan keakhiratan. Sebagaimana firman Allah SWT :
وإنه لتنـزيل رب العالمين. نزل به الروح الأمين. على قلبك لتكون من المنذرين.
بلسان عربي مبين.
“Sesungguhnya al-Qur’an itu diturnkan oleh Tuhan semesta alam. Dibawa turun oleh Ruhul Amin (Jibril), ke dalam hatimu-Muhammad- agar kamu menjadi salah seorang yang memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang mampu untuk menjelaskan”. QS Asyuara’ [ ] 192-195
Dari ayat di atas, dapat dipahami bahwa bahasa Arab dipilih karena dipandang mampu untuk menjelaskan dan mengungkapkan makna-makna firman Allah swt. Pesan-pesan Allah sarat dengan nilai-nilai luhur, baik tentang ibadat, syariat dan masalah kehidupan manusia lainnya. Di sini, bahasa Arab mampu mengungkapkan makna-makna tersebut secara teliti, karena ia amat kaya dengan kosakata untuk mengungkapkan berbagai bidang kehidupan manusia yang sulit diungkapkan dengan bahasa-bahasa lain .
3. Bentuk-bentuk kata dalam bahasa Arab mempunyai tasrif (konjungsi), yang amat luas hingga dapat mencapai 3000 bentuk perubahan, yang demikian itu tak terdapat dalam bahasa lain. [5] Pesan-pesan Allah tentang syariat merupakan ajaran yang elastis, sesuai dengan segala zaman dan tempat sehingga perlu diungkapkan dengan bahasa yang memiliki elastisitas yang tinggi. Di sini bahasa Arablah satu-satunya bahasa di dunia yang memenuhi syarat itu. Sebagai contoh akar kata ع ، ل ، م dapat diubah-ubah bentuknya menjadi: علم ، يعلم ، علم ، اعلم ، عالم ، معلوم ، عليم ، علماء ، علام ، معالم dan banyak lagi. Perubahan bentuk kata seperti ini tidak ada dalam bahasa lain di manapun.
Baca juga:
( Konsep Metode Jadal dalam Al-Qur'an)
( Kisah-Kisah dalam Qur'an)
(Pembuka dan penutup Surat)
B. Bukti Al-Qur’an Bersifat Universal
( Konsep Metode Jadal dalam Al-Qur'an)
( Kisah-Kisah dalam Qur'an)
(Pembuka dan penutup Surat)
B. Bukti Al-Qur’an Bersifat Universal
Dalam bahasa Arab kata الدِّيْن العَالَمِيُّ mempunyai padanan arti dalam bahasa Indonesia agama yang universal. Kata universal diambil dari bahasa latin, universum, bararti alam semesta/dunia. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia kata Universal atau Universil :mempunyai arti Umum; yang meliputi (berlaku di, terdapat di) seluruh dunia. [6]
Yang di maksud dengan Al-Qur’anBersifat Universal. Sebagaiman yang Al-Qur’anjelaskan :
قُلْ يَا أَيّهَا النَّاس إِنِّي رَسُول اللَّه إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
(Katakanlah,) pembicaraan ini ditujukan kepada Nabi saw. ("Hai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua (َQS.7 Al-‘Ara>f 158).
وَمَا أَرْسَلْنَاك إِلَّا رَحْمَة لِلْعَالَمِينَ
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS.21 Al-Anbiya:107).
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَان عَلَى عَبْده لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, (ََQS.25 Al-Furqan:1).
وما أرسلناك إلا كافة للناس بشيرا ونذيرا ولكن أكثر الناس لا يعلمون
Kami tidak mengutus kamu (wahai Muhammad) melainkan kepada manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya (ََQS.34 Saba’:28).
Dari beberapa ayat diatas maka Universalitas Al-Qur’andapat diartikan bahwa Al-Qur’antidak ditujukan kepada kelompok tertentu saja, ras tertentu, warna kulit tertentu, Pembicaraan Al-Qur’antidak hanya ditujukan kepada muslim saja, tetapi juga termasuk orang kafir, musyrik, ahli kitab termasuk umat yahudi dan nasrani. [7] Berbeda dengan para nabi sebelumnya, Nuh misalnya, hanya diutus kepada kaumnya (QS. 7: 59), Hud kepada kaumnya (QS. 7: 65), Nabi Isa AS kepada bangsa Israil QS [61]: 6, Nabi Sholeh AS kepada Kaum Tsamud QS [27] : 45, Nabi Luth kepada kaumnya (QS. 7: 80), Nabi Syu‘aib kepada kaumnya (QS. 7: 85), sedangkan Nabi Muhammad SAW diutus bagi umat manusia di seluruh dunia dan untuk segala zaman. [8] Al-Qur’anbisa diaplikasikan sampai akhir zaman. [9] Karena Tidak ada nabi lain setelah Nabi Muhammad SAW.
Universalitas Al-Qur’an juga berarti bahwa Ajaran yang terkandung di dalam Al-Qur’anmencakup segala aspek kehidupan. [10] Prinsip-prinsip universal dalam Al-Qur’anbisa dijadikan pijakan untuk menjawab tantangan zaman, dengan cara melakukan kontekstualisasi penafsiran secara terus menerus agar dapat menjawab Problem-problem sosial keagamaan di era kontemporer .[11]
H.A.R Gibb pernah mengatakan “Islam is indeed much more than a system of theology, it is a complete civilization.” (Islam sesungguhnya lebih dari sekadar sebuah agama, tetapi ia adalah suatu peradaban yang sempurna).[12] G.H. Jansen juga pernah menyatakan bahwa Islam bukanlah sekedar agama , tetapi suatu cara hidup total mencakup agamawi dan duniawi, Islam itu suatu keyakinan dan system peribadatan . Ia adalah suatu system hukum yang luas dan menyeluruh. [13]
Bahkan al –Buthi secara garis besar merangkum kemu’jizatan Al-Qur’an Selain secara bahasa, kandungan isi Al-Qur’an- lah yang merupakan mu’jizat . [14]
Al-Qur’anmemiliki pokok-pokok kandungan : akidah, syariah(ibadah dan muamalah), ahklak, kisah-kisah dan dasar ilmu pengetahuan, Al-Qur’anbersifat universal, yaitu antisipatif terhadap segenap permasalahan kehidupan senantiasa melihat kondisi riil di masyarakat, sebagaimana Al-Qur’anyang diturunkan secara berangsur-angsur adalah dalam rangka karena dua faktor yaitu : 1. Sebagai jawaban atas pertanyaan yang muncul 2. Menetapkan hukum atau permasalahan yang sedang terjadi[15] , Al-Qur’an bersifat universal antara lain bisa kita lihat di dalam Al-Qur’an melalui kontekstualitas isi kandungannya diantaranya sebagai berikut :
1. Tentang HAM misalnya selaras dengan Al-Qur’an :
a. Hak Persamaan dan Kebebasan (QS. Al-Isra : 70, An Nisa : 58, 105, 107, 135 dan Al-Mumahanah : 8).
b. Hak Hidup (QS. Al-Maidah : 45 dan Al - Isra : 33).
c. Hak Perlindungan Diri (QS. al-Balad : 12 - 17, At-Taubah : 6).
d. Hak Kehormatan Pribadi (QS. At-Taubah : 6).
e. Hak Keluarga (QS. Al-Baqarah : 221, Al-Rum: 21, An-Nisa 1, At-Tahrim :6).
f. Hak Keseteraan Wanita dan Pria (QS. Al-Baqarah : 228 dan Al-Hujurat : 13).
g. Hak Anak dari Orangtua (QS. Al-Baqarah : 233 dan surah Al-Isra : 23 - 24).
h. Hak Mendapatkan Pendidikan (QS. At-Taubah : 122, Al-Alaq : 1 - 5).
i. Hak Kebebasan Beragama (QS. Al-kafirun : 1 - 6, Al-Baqarah : 136 dan Al Kahti : 29).
j. Hak Kebebasan Mencari Suaka (QS. An-Nisa : 97, Al Mumtaharoh : 9).
k. Hak Memperoleh Pekerjaan (QS. At-Taubah : 105, Al-Baqarah : 286, Al-Malk : 15).
l. Hak Memperoleh Perlakuan yang Sama (QS. Al-Baqarah 275 - 278, An-Nisa 161, Al-Imran : 130).
m. Hak Kepemilikan (QS. Al-Baqarah : 29, An-Nisa : 29).
a. Bekerja (mencari rizki/kekayaan) QS Ibrahim:32-34, Al-Mulk : 15, Al-A’raf : 10. Al Jumuah : 10
b. Sumber Daya Alam, hewani dan Hayati QS An-Nahl :5,66,68-69, 67, Kekayaan Laut QS An-Nahl : 14, Pertambangan QS Al-Hadiid : 25, Al_kahfi 96-97
c. Perdagangan , QS Al-Baqarah : 275
d. Pengadaan Barang, Pangan QS Al-Baqarah : 168, Pakaian QS Al-A’raf : 26, Peternakan QS Thoha : 54, Perikanan QS Al-Maidah : 96
a. Pengentasan Kemiskinan, QS Al-Maa’uun 1-2
b. Pelestarian lingkungan, QS Shaad: 27, Al Baqarah : 30
c. Gizi Dan Kesehatan, QS Al-A’raf :4, An-Nahl : 4-5,66,69, Al-Waqiah 68, Asshaaffaat : 66.
d. Kesehatan Ibu dan Anak, QS AthThalaaq : 6, Al-Baqarah: 233
B. Al-Qur’ansebagai mu’jizat Nabi Muhammad SAW dan Seluruh Umat Islam
Mu’jiza t المعجزة bentuk muannats dari kata المعجز Al-mu’jiz mudzakkar. Istilah mu’jiz dan mu’jizat lazim disebut juga al-‘ajib العجيب, mempunyai arti sesuatu yang ajaib. Sering disebut juga امر خارق للعادة ,artinya sesuatu yang luar biasa. [19]
Didalam Kamus al-mu’jam al-wasith, mukjizat diartikan sebagai :
Merupakan sesuatu yang luar biasa yang ditampakkan oleh Allah SWT di tangan Nabi untuk memperkuat kenabiannya.
Sedangkan menurut Manna’ Khal il al-Qattan, mukjizat diartikan sebagai :
Merupakan sesuatu yang luar biasa dengan diadu (dipertandingkan), selamat dari perlawanan.
Secara garis besar Mu’jizat dapat dibagi dalam dua bagian pokok, yaitu mu’jizat yang bersifat material indrawi lagi tidak kekal, dan mu’jizat immaterial, logis, lagi dapat dibuktikan sepanjang masa. Mu’jizat nabi-nabi terdahulu diantarnya hanya bisa kita lihat dalam sejarah yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Seperti Nabi Ibrahim yang selamat dari api QS Al-Anbiya’ [21] : 68-69, Nabi Musa yang merubah tongkat menjadi ular QS Al-Baqarah [2]: 60, Nabi Isa yang bisa menyembukan orang buta QS Ali Imron [3] : 34. kesemuanya merupakan jenis pertama. Mu’jizat mereka bersifat materi indrawi, Jadi mukjizat nabi-nabi terdahulu terbatas pada lokasi tempat nabi tersebut berada, dan berakhir dengan wafatnya masing-masing nabi.[22]
Berbeda dengan mu’jizat terbesar Nabi Muhammad SAW, kemu’jizat Al-Qur’an, sifatnya bukan indrawi atau material, namun dapat dipahami oleh akal. Karena sifatnya demikian maka ia tidak dibatasi oleh suatu tempat atau masa tertentu. Mu’jizat Al-Qur’andapat dijangkau oleh setiap orang yang menggunakan akalnya di mana dan kapan pun. Perbedaan tersebut disebabkan oleh dua hal pokok.[23]
Pertama, para nabi sebelum Muhammad SAW ditugaskan untuk masyarakat dan masa tertentu. Oleh karena itu, Mu’jizat mereka bersifat regional. Berbeda dengan nabi Muhammad SAW yang diutus untuk seluruh umat manusia hingga akhir zaman.
Kedua, manusia mengalami proses dinamisasi pemikiran. Umat para nabi terdahulu amat membutuhkan bukti kebenaran, yang harus sesuai dengan tingkat pemikiran mereka. Ketika itu bukti tersebut harus demikian jelas dan langsung terjangkau oleh indra mereka. Tetapi setelah manusia mulai menanjak ke tahap kedewasaan berpikir, maka bukti yang bersifat indrawi tidak dibutuhkan lagi.
Jadi membuktikan kebenaran suatu ajaran dengan menggunakan bukti-bukti yang bersifat indrawi, tidak membantu mereka yang telah memiliki kemampuan rasional. Maka, sangat wajar jika—sejak turunnya al-Qur’an—Allah SWT tidak lagi memaparkan bukti kebenaran kerasulan Muhammad SAW dalam bentuk indrawi.
Al-Qur’an sebagai mu’jizat tidak hanya ditujukan untuk menantang yang ragu, tetapi lebih dimaksudkan sebagai anugerah Allah Kepada Nabi-Nya SAW sekaligus rahmat bagi umat Islam, agar mau berpikir,merenung, meneliti dan menggali tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di alam semesta. Sebagaimana telah ditunjukkan dalam al-Qur’an sampai akhir zaman.
[1] Michael Keene, Agama-agama Dunia, terj: F.A. Soprapto, (Jakarta :Kanisius, 2006), 44
[2] Al-A‘zamî, The History of The Qur’ânic Text from Revelation to Compilation , 259.
[9] Yusuf Al-Qaradhawi, Pengantar Kajian Islam, terj. Setiawan Budi Utomo,Lc, (Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 1997)
[10] Ibid, 186
[12]Badri Yatim, 2002, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada), 2
[13]G. H. Jansen, Islam Militan, (Bandung: Pustaka Bandung, 1980), 20
[15]Umar Shihab, Kontekstualitas Al Quran, (Jakarta: Pustaka Penamadani, 2005), 187
[16]M Ismail Yusanto, Bisnis Islami, (Jakarta: GIP, 2002), 17-18
[17]Quraish, Membumikan Al-Quran, 286-295
[18]Umar, Kontekstualitas Al-Quran, 218-210
[22] Quraish. Mukjizat Al-Quran, 35 – 36.
[23] ibid, 36 – 38.

Komentar
Posting Komentar