PERSYARATAN DAN PROSEDUR /LANGKAH –LANGKAH PENELITIAN


A.      Persyaratan Ilmiah
Sekilas tentang Apakah yang dimaksud dengan ilmiah? Yang dimaksud dengan metode Ilmiah adalah menggunakan metode dan prinsip-prinsip science, yaitu sistematis atau menggunakan metode penelitian yang mana hipotesis nya dirumuskan setelah dikumpulkan data yang obyektif secara sitematis serta dites secara empiris. Science  haruslah empiris yaitu didasarkan atas data yang diperoleh melalui observasi. Science juga harus bersifat sistematis dan mencoba melihat sejumlah observasi yang kompleks dalam hubungan yang logis[1]
Pada dasarnya penelitian sebagai system Ilmu pengetahuan, yakni memainkan peran penting dalam bangunan ilmu pengetahuan itu sendiri. Ini berarti bahwa penelitian telah tampil dalam posisi yang paling urgen dalam ilmu pengetahuan untuk melindunginya dari kepunahan. Dalam penelitianpun kemampuan untuk meng-upgrade ilmu pengetahuan yang membuat up-to-date dan canggih dalam aplikasi serta setiap saat dibutuhkan masyakat[2].  
Sebagaimana yang telah diketahui Ilmu pengetahuan berkembang sesuai dengan perkembangan kebutuhan manusia. Sedangkan kebutuhan manusia adalah sesuatu yang berkembang di dalam dan bersamaan dengan perkembangan kebudayaan. Maka dari itu  manusiapun selalu berupaya untuk menemukan prinsip-prinsip baru untuk mengantisipasi perubahan dan perkembangan kebutuhannya yang disebut dengan penelitian[3]
Penelitian yang mana menggunakan metode ilmiah (scientific method) disebut penelitian ilmiah (scientific research). Maka menurut pemakalah  penelitian ilmiah adalah suatu penyelidikan yang terorganisasi dengan menggunkan metode ilmiah. Dalam penelitian ilmiah akan selalu ditemukan dua unsur penting, yaitu unsur pengamatan dan unsur Nalar. Unsur pengamatan yakni  pengetahuan mengenai fakta-fakta tertentu yang diperoleh melalui kerja mata dengan penggunaan persepsi sedangkan unsur  Nalar adalah suatu kekuatan arti dari fakta-fakta, hubungan dan interelasi terhadap pengetahuan yang timbul.
Setelah melihat pemaparan tentang gambran penelitian maka menurut pemakalah bahwa penelitian adalah penyaluran rasa ingin tahu manusia terhadap sesuatu/masalah dengan melakukan tindakan tertentu (misalnya, memeriksa, menelaah, mempelajari dengan cermat/sungguh-sungguh) sehingga diperoleh suatu temuan berupa kebenaran, jawaban atau pengembangan ilmu pengetahuan. Terkait dengan ilmu pengetahuan dapat dikemukakan tiga tujuan umum penelitian yaitu[4]:
  1. Tujuan Eksploratif, tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan ilmu pengetahuan yang baru dalam bidang tertentu, yang mana ilmu yang akan diperoleh adalah belum pernah diketahui sebelumnya
  2. Tujuan Verifikasi,penelitian ini dilakukan untuk menguji suatu kebenaran ilmu pengetahuan yang sudah ada. Data tersebut diperoleh untuk membuktikan adanya keraguan terhadap suatu informasi atau ilmu pengetahuan tertentu
  3. Tinjauan pengembangan, penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan penelitian yang sudah ada sebelumnya.
Setelah memahami tujuan-tujuan dalam penelitian maka pemakalah pun memaparkan tentang unsur-unsur untuk mendapatkan kebenaran ilmiah. Dalam penelitian harus mengandung unsur keilmuan dalam  ativasinya. Penelitian yang dilaksanakan secara ilmiah harus : rasional,empiris dan sistematis. Berarti kegiatan penelitian didasarkan pada karakteristik keilmuannya  yaitu:
  1. Rasional : penyelidikan ilmiah Berarti kegiatan penelitian yang dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal, sehingga terjangkau oleh penalaran manusia.[5] Menurut rasio, sesuatu yang dikatakan benar harus dapat dibuktikan kebenarannya, demikian pula jika kita mengatakan salah harus dapat ditunjukkan dimana titik kesalahannya. Pengetahuan pada hakikatnya bersifat obyektif dan bisa diterima setiap orang, dengan keobjektifan  inilah yang menjadi telaah ilmu, yaitu untuk mencari kebenaran[6].
  2. Empiris : penyelidikan ilmiah yang  menggunakan cara-cara tertentu yang dapat diamati oleh orang lain. Yakni dapat di amati oleh indra manusia untuk mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan[7].Landasan penelitian empirik ada tiga yaitu[8] :
a.         Hal-hal yang bersifat empirik memiliki persamaan dan
b.         Hal-hal empirik akan selalu berubah-ubah sesuai dengan waktu.
c.         Hal-hal empirik tidak bisa secara kebetulan, melainkan ada penyebabnya (ada hubungan sebab akibat).
  1. Sistematis : penelitian dengan menggunakan proses ataupun langkah-langkah yang sstematis yang bersifat logis.
Jadi menurut hemat pemakalalah suatu kegiatan dikategorikan ilmiah apabila memenuhi unsur- unsur sebagai berikut[9]:
1.      Terhindar pengaruh-pengaruh yang membawa pemikiran subyektif
2.      Data yang diperoleh merupakan fakta yang ada dilapangan
3.      Jujur, tidak memutarbalikkan suatu fakta
4.      Berpijak dari segi obyektifitas
5.      Pelaksanaannya berpedoman pada langkah-langkah (step) tertendu secara sistematis dan analistis
6.      Pengolahan dan analistis berdasarkan pada fakta yang terkumpul
Jika dilihat dari semua keterangan diatas maka peneliti sependapat dengan Suharjono yang mana memberikan petunjuk kepada peneliti mengenai persyaratan penelitian yang baik yaitu dengan menggunakan istilah APIK singkatan dari Asli,Penting, Ilmiah dan konsisten[10].
1.      Asli, artinya bukan jiplakan dari atau menganti-ganti penelitian orang lain.
2.      Penting, artinya bahwa hasil penelitian itu bermanfaat dan dipandang penting bagi peningkatan mutu pendidikan dan ilmu pengetahuan
3.      Ilmiah, artinya mengikuti sistematika penelitian yang lazim berlaku.
4.      Konsisten, artinya ada keruntunan antara bagian yang satu dengan bagian yang lain..   
Penelitian akan dikatakan tidak ilmiah jika tidak menggunakan penalaran logis, tetapi menggunakan prinsip kebetulan, coba-coba,spekulasi. Cara-cara seperti ini tidak digunakan untuk mengembangkan suatu profesi ataupun keilmuan tertentu.  Suatu penelitian dikatakan baik, jika mengikuti cara-cara yang telah ditentukan serta dilaksanakan dengan adanya unsur kesengajaan bukan secara kebetulan. [11]Dengan ini maka pemakalah menyimpulkan bahwa segala bentuk penelitian haruslah mempunyai syarat agar menjadi sebuah penelitian ilmiah yakni yang sudah dipaparkan pemakalah diatas.  Seperti yang diungkapkan dalam bukunya sugiono yang mana mememaparkan bahwa suatu metode dikataka ilmiah apabila telah memenuhi 3 syarat yakni rasional,empiris dan sistematis. Selain ketiga hal tersebut terdapat pula persayaratan yakni tidak boleh subyektif, data pun harus jujur yakni yang ada dilapangan, dan merupakan hasil jerih payah sendiri alias bukan jiplakan.
B.       Langkah-Langkah Penelitian Ilmiah
Seperti yang telah pemakalah paparkan sebelumnya Pencarian ilmiah merupakan  suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan dengan menggunakan metode-metode yang diorganisasikan secara sistematis dalam mengumpulkan, menganalisis dan menginterpretasikan data.  Alur berpikir yang tercakup dalam metode ilmiah dapat dijabarkan dalam beberapa langkah yang mencerminkan tahap-tahap dalam kegiatan ilmiah.
Di dalam buku Suharsimi Arikunto di jelaskan terdapat 11 Prosedur/Langkah langkah penelitian yaitu[12].
  1. Memilih masalah
  2. Studi Pendahuluan
  3. Merumuskan masalah
  4. Merumuskan Anggapan Dasar
4a. Merumuska Hipotesis
  1. Memilih pendekatan
  2. (a) Menentukan Variable dan (b) Sumber data
  3. Menentukan dan menyusun instrumen
  4. Mengumpulkan data
  5. Analisis data
  6. Menarik kesimpulan
  7. Menulis laporan
Dari kesebelas langkah diatas maka pemakalah akan menguraikannya satu persatu:
  1. Langkah 1: Mamilih Masalah
Masalah dapat terjadi dikehidupan sehari-hari karena menjumpai hal-hal yang aneh atau didorong keinginan untuk meningkatkan hasil kerja. Suatu masalahpun terkadang  dapat diperoleh dari buku. Dan terkadang juga datang dari diri sendiri karena didorongan oleh keutuhan memperoleh jawabannya.Dengan demikian maka penelitian akan berjalan sebaik-baiknya karena peneliti menghayati dan mendalami masalahnya.
Permasalahan dalam suatu penelitian sering disebut dengan istilah problematika atau problem. Dan secara garis besar, peneliti mempermasalahkan fenomena atau gejala atas tiga jenis:
a.       Problem untuk mengetahui status dan mendeskripsikan fenomena yang terjadi. Sehubungan dengan jenis permasalahan ini terjadi penelitian deskriptif
b.      Problem untuk membandingkan dua fenomena atau lebih  dan yang biasa disebut problem komparasi.
c.       Problema untuk mencari hubungan antara dua fenomena
Di dalam problema korelasi terdapat  2 macam yaitu:
1)      Korelasi sejajar: misalnya korelasi antara kemampuan berbahasa inggris dan kesetiaan ingatan.
2)      Korelasi sebab-akibat, misalnya korelasi antara teriknya sinar matahari dan larisnya es mambo[13].
  1. Langkah ke 2 : Memilih Pendahuluan
Sebagaimana yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto dari  william :

if man is not aware of what has been learned in history, it is said he is bound to repeat the experiences” [14].

Dalam pemaparannya mengenai tentang masalah-masalah yang sering kita jumpai sekarang terkadang bukan seluruhnya masalah yang baru terjadi, tetapi banyak yang timbul dari masalah-masalah yang sudah lama dan sering muncul kembali dengan berbagai keunikannya.
Dalam teori pengumpulan data pada umumnya, maka sumber pengumpulan informasi untuk mengadakan studi pendahuluan ini dapat dilakukan pada 3 objek. ketiga objek tersebut ada yang ada yang berupa tulisan-tulisan dalam kertas (paper), manusia (person) atau tempat (place),  Atau bisa disingkat dengan tiga P[15]..
a.       Paper, dokumen, buku-buku,majalah atau bahan tertulis lainnya, baik berupa teori, laporan penelitian atau penemuan sebelumnya (findings). Studi ini juga disebut kepustakaan atau literatur studi.
b.      Person : bertemu, bertanya dan berkonsultasi dengan para ahli atau manusia sumber.
c.       Place; tempat, lokasi atau benda-benda yang terdapat di tempat penelitian
  1. Langkah 3 : merumuskan masalah
Adapun  pemakalah menjelasan permasalahan yang akan diteliti meliputi[16]:
a.       Penegasan judul
b.      Alasan pemilihan judul
c.       Problematika
d.      Tujuan penelitian
e.       Kegunaan hasil penelitian
Penjelasan tentang hal-hal diatas  selain dicantumkan dalam rancangan penelitian juga dituliskan pada permulaan laporan penelitian, yaitu pada bab pendahuluan.
  1. Langkah ke 4: Merumuskan anggapan dasar
Setelah merumuskan masalah selanjutnya adalah merumuskan masalah yang mana peneliti haruslah memberikan asumsi yang kuat tentang kedudukan permasalahannya yang mana diberinama asumsi atau anggapan dasar.  Anggapan dasar ini merupakan landasan teori didalam pelaporan hasil penelitian nanti.
Disni seorang peneliti perlu untuk merumuskan suatu anggapan dasar karena :
a.       Supaya ada dasar pijakan bagi masalah yang diteliti
b.      Untuk mempertegas variabel yang menjadi pusat perhatian
c.       Untuk menentukan dan merumuskan hipotesis.
Agar seorang peneliti mempunyai wawasan yang luas atau menjadi tahu terhadap sesuatu, haruslah mempunyai bermacam-macam cara, yakni yang akan dipaparkan oleh pemakalah dibawah ini:
a.       Dengan banyak membaca buku, surat kabar atau terbitan lain.
dalam hal ini pemakalah pengutip dari Sutrisno Hadi yang mengklasifikasikan bahan pustaka menjadi dua kelompok.
1)              Sumber umum : buku teks, ensiklopedi
2)              Sumber acuan khusus: buletin, jurnal periodikal(majalah-majah yang terbit periodik) disertasi, skripsi.
b.      Dengan banyak mendengar berita, ceramah dan pembicaraan orang lain.
c.       Dengan banyak berkunjung ketempat (terutama
d.      Dengan mangadakan pendugaan abstraksi berdasarkan perbendaharaan pengetahuan.
Dari pemaparaan tersebut dapat dikatakan bahwa asumsi dasar, postulat atau anggapan dasar  haruslah  didasarkan atas kebenaran yang diyakini oleh peneliti.
Dalam merumuskan suatu anggapan dasar bukanlah pekerjaan mudah. Untuk itu diperlukan latihan, Membiasakan dan banyak melihat contoh-contoh.
Contoh :
Diambil dari penelitian yang diadakan oleh Dra. Aswarni Sudjud dengan judul
“Studi tentang Murid Mengulang kelas di kelas III sekolah dasar dikecamatan Depok Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta, 1979-1980”.
  Anggapan dasarnya :
a.       Ada anak mengulang kelas dikecamatan Depok Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta.
b.      Prestasi belajar murid termasuk kelas III dan kelas IV SD bervariasi
c.       Latar belakang guru sekolah dasar berbeda-beda (pendidikan dan pengalaman mengajar)
d.      Latar belakang sosial murid seperti pendidiakn dan pekerjaan orang tua dan lain-lainnya berbeda-beda[17].
  1. Langkah ke 4a : Merumuskan Hipotesis.
Sulit seperti sebuah proses, perlu bagi siswa untuk melihat kebutuhan dasar hipotesis untuk memandu penelitian. Tanpanya, penelitian tidak akan terfokus, empiris yang tidak beraturan. Hasilnya bahkan tidak dapat dinyatakan sebagai fakta dengan makna yang jelas. Hipotesis adalah link (penyambung)  yang diperlukan antara teori dan investigasi yang mengarah pada penemuan penambahan pengetahuan[18].
Apabila peneliti telah mendalami permasalahan penelitiannya dengan seksama serta menetapkan anggapan dasar, maka lalu membuat suatu teori sementara, yang kebenarannya masih perlu diuji (dibawah kebenaran). Inilah hipotesis peneliti harus berpikir bahwa hipotesinya ini dapat diuji. Selanjutnya peneliti akan bekerja berdasarkan hipotesis ini. Peneliti mengumpulkan data-data yang paling berguna untuk membuktikan hipotesis. Berdasarka data yang terkumpul, peneliti akan menguji apakah hipotesis yang dirumuskan dapat naik status menjadi tesa, atau sebaliknya tumbang sebagai hipotesis, apabila ternyata tidak terbukti.
Pemakalah akan menyebutkan Bagaimana mengetahui kedudukan suatu hipotesis?
1)        Perlu diuji apakah data-data yang menunjukkan hubungan antara variabel penyebab dan variabel akibat?
2)        Adanya data yang menunjukkan bahwa akibat yang ada, memang ditimbulkan oleh penyebab itu.
3)        Adanya data yang menunjukkan bahwa tidak ada penyebab lain yang bisa menimbulkan akibat tersebut.
Apabila ketiga hal tersebut dapat terbukti, maka hipotesis yang dirumuskan mempunyai kedudukan yang kuata dalam penelitian.  Walaupun hipotesis ini sangat penting sebagai pedoman kerja dalam penelitian, namun tidak semua penelitian harus berorientasikan hipotesis. Jenis oenelitian eksploratif, survei atau kasus dan penelitian development biasanya justru tidak berhipotesis. Tujuan penelitian jenis ini bukan untuk menguji hipotesis tetapi memp[elajari gejala-gejala sebanyak-banyaknya.
Sehubungan dengan hal ini pemakalah mengutip dari G.E.R .Brurrough yang menyatakan bahwa berhipotesis (penelitian hipotesis) penting dilakukan bagi:
1)        Penelitian menghitung banyakknya sesuatu
2)        Penelitian tentang perbedaan
3)        Penelitian hubungan
Pada umumnya hipotesis dirumuskan untuk menggambarkan hubungan dua variabel akibat, namun demikian ada hipotesis yang menggambarkan perbandingan satu variabel dari dua sampel misalnya membandingkan perasaan takut antar penduduk pantai dan penduduk pegunungan terhadap gelombang laut.
Standar hipotesis yang baik yakni[19]:
a.         untuk mengambarkan apa yang terjadi kepada peneliti suatu kelakuan yang dalam keadaan bermasalah
b.         Digunakan sebagai dasar dari teori dan bukti ilmiah kelayakan tegas diuji
c.         Untuk menjadi ujian yang layak tidak bersifat umum
d.        Untuk menjadi singkat pada dan jelas
Hipotesis itu mempunyai kedudukan yang penting dalam penelitian maka diperlukan kemampuan untuk merumuskannya. Disini pula senada dengan pernyataan diatas pemakalah mengutip dari seorang ahli yang bernama Borg yang dibantu oleh temannya Gall (1979:61) yang mengajukan adanya persyaratan untuk hipotesis sebagai berikut:
1)        Hipotesis harus dirumuskan dengan singkat tetapi jelas
2)        Hipotesis harus menunjukkan adanya hubungan antara dua variabel atau lebih
3)        Hipotesis harus didukung oleh teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli atau hasil penelitian yang relevan.
Ada dua jenis hipotesis yang digunakan dalam penelitian:
a)        Hipotesis kerja atau disebut dengan hipotesis alternatif, disingkat dengan Ha. Hipotesis kerja menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y atau adanya perbedaan antara dua kelompok.
Contoh rumusan hipotesis kerja:
(1). Jika ............ maka..............
Contoh : jika orang banyak makan, maka berat badannya akan naik
(2). Ada perbedaan antara....... dan ....
Contoh :ada perbedaan antara penduduk kota dan penduduk desa dalam cara berpakaian,
(3). Ada pengaruh ................ terhadap.........
Contoh ada pengaruh makanan terhadap berat badan.
b)        Hipotesis Nol (null hipoteses) disingkat Ho.
Hipotesis nol juga sering disebut hipotesis statistik, karena biasanya dipakai dalam bentuk menelitian yang bersigfat statistik yaitu diuji dengan perhitungan statistik.
Hipotesis nul menyatakan tidak adanya perbedaan antara dua variabel atau tidak adanya pengaruh variabel X terhadap variabel Y. Dengan kata lain selisih variabel pertama dengan variabel kedua adalah nol nihil.
Contoh dari rumusan hipotesis nol
(1). Tidak ada perbedaan antara............ dengan.........
Contoh :  “tidak adan perbedaan antara mahasiswa tingkat I dan tingkat II dalam disiplin kuliah.
(2). Tidak ada pengaruh ...........terhadap .............
Contoh tidak ada pengaruh jarak dari rumah ke sekolah terhadap kerajinann mengikuti kuliah[20].
  1. Langkah ke 5 : Memilih pendekatan
Dalam hal memimilih pendekatan penelitian, maka dapat dibedakan atas beberapa jenis, tergantung dari sudut pandangnya:
a.       Jenis pendekatan menurut teknik sampling adalah:
1)   Pendekatan populasi
2)   Pendekatan sampel
3)   Pendekatan kasus
b.      Jenis pendekatan menurut timbulnya variasi :
1)   Pendekatan non eksperimen
2)   Pendekatan eksperomen
c.       Jenis pendekatan menurut model pengembangan atau model pertumbuhan :
1)   one shot” model yaitu model pendekatan yang menggunakan satu kali pengumpulan data pada “ suatu saat”
2)   Longitudinal model yaitu mempelajari berbagai tingkat pertumbuhan dengan cara “mengikuti” perkembangan bagi individu-individu yang sama
3)   Cros-section model yaitu gabungan antara model a dan b untuk memperoleh data yang lebih lengkap yang dilakukan dengan cepat.[21].
Ada beberapa ahli yang menekuni penelitian tindakan ini, namun dalam sajian ini dikemukakan pendapat tentang model penelitian tindakan antara lain kurt Lewin, Kemmin, Henry, Mc taggart, john Elliott, dan Hopkin. Ahli yang pertama kali menciptakan moodel penelitian tindakan adalah kurt lewin, tetapi yang sampai sekarang banyak dikenal adalah kemmis dan Mc taggart (1988).
Disini pemakalah mengutip Model yang dikembangkan oleh Kurt Lewin didasarkan atas konsep pokok yang juga sudah menunjukkan suatu langkah yaitu[22]:
a)        Perencanaan atau palaning.
b)        Tindakan atau acting
c)        Pengamatan atau obesrving dan
d)       Refleksi atau reflecting.
Antara keempat komponen tersebut menunjukkan sebuah siklus atau kegiatan berulang. Siklus  inilah yang sebetulnya menjadi salah satu ciri utama dari model penelitian tindakan  yaitu bahwa penelitian tindakan harus dilaksanakan dalam bentuk siklus, bukan hanya satu kali intervensi saja.
  1. 1. Langkah ke 6a  : Menentukan Variabel
Dalam hal ini pemakah mengutip dari pendapat Sutrisno Hadi yang  mendifinisikan variabel sebagai segala gejala yang sangat bervariasi misalnya jenis kelamin, karena jenis kelamin mempunyai variasi : laki-laki – perempuan. Gejala adalah objek penelitian, sehingga variabel adalah objek penelitian yang bervariasi.
Variabel dapat dibedakan atas kuantitatif dan kualitatif. Contoh kuantitatif misalnya luas kota, umur, banyak jam dalam sehari dan sebagainya. Contoh variabel kualitatif misalnya kemakmuran kepandaian.
Lebih jauh variabel kuantitatif diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu variabel diskrit dan variabel kontinum (discrete and continous[23]).
a.      Variabel dikrit disebut juga variabel nominal atau variabel kategorik Misalnya wanita-pria, hadir-tidak hadir, atas – bawah. Sedangkan angka-angka digunakan dalam variabel diskrit ini untuk menghitung yaitu banyaknya pria, banyaknya yang hadir dan sebagainnya. Maka angka dinyatakan sebagai frekuensi.
b.      Variabel kontinum :  variabel ini dipisahkan menjadi 3 variabel kecil:
1)      Variabel ordinal, yakni variabel yang menunjukkan tingkatan-tingkatan misalnya panjang, kurang panjang, pendek. Untuk sebutan lain adalah variabel “lebih kurang” karena yang satu mempuunyai kelebihan dibandingkan yang lainnya.
Contoh: ani terpandai, siti pandai, nono tidak pandai.
2)      Variabel Interval, yakni variabel yang mempunyai jarak, jika dibandingkan dengan variabel lain, sedang jarak itu sendiri dapat diketahui dengan pasti. Misalnya:
Suhu udara diluar 31 derajat celsius. Suhu tubuh kita 37 derajat celsius. Maka selisih suhu adalah 6 derajat celsius.
3)      Variabel ratio, yaitu variabel perbandingan.
Misalnya :
Berat pak karto 70 kg, sedangkan anaknya 35 kg. Maka pak karto beratnya dua kali berat anaknya.
  1. 2.Langkah ke 6b : Menentukan Sumber data
Dalam hal ini pemakalah mendefinisikan tentang apa yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Contoh, apabila peneliti menggunakan kuesioner atau wawancara dalam pengumpulan datanya,maka sumber data disebut responden, yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik pertanyaan tertulis maupun lisan.
Apabila peneliti menggunakan teknik observasi, maka sumber datanya bisa berupa benda gerak ataupun proses sesuatu. Begitupun dengan peneliti yang menggunakan dokumentasi, maka dokumen atau catatan yang menjadi sumber data, sedang isi catatan seubjek penelitian atau variabel penelitian.
Disini pemakalah merangkum sumber data yang telah diklasifikasikan menjadi 3 tingkatan huruf P[24]:
P= person, yakni sumber datanya dari manusia
P=place, yakni sumber datanya dari suatu tempat
P=paper, yakni sumber datanya berupa simbol simbol
Keterangan singkat dari pengertian  P diatas akan pemakalah uraikan dibawah ini
a.      Person,  yakni  sumber data yang mana dapat memberikan data berupa jawaban lisan melalui wawancara atau jawaban tertulis melalui angket.
b.      Place, yaitu sumber data yang menyajikan tampilan berupa keadaan diam dan bergerak.
c.       Paper, yaitu sumber data yang menyajikan tanda-tanda huruf,angka, gambar atau simbol-simbol lain. Dengan pengertiannya ini maka “paper” bukan hanya pada kertas tetapi dapat berwujud batu,kayu,tulang,daun lontar.yang cocok untuk penggunaan metode dokumentasi.
  1. Langkah ke 7 : Menentukan dan Menyusun Instrumen
Pada hakikatnya konsep sebuah instrumen dalam penelitian adalah alat ukur. Yang mana dengan instrumen penelitian maka dapat dikumpulkan data sebagai alat untuk menyatakan besaran atau persentase dalam bentuk kwantitatif atau kwalitatif. Sehingga dengan menggunakan instrumen yang dipakai tersebut berguna sebagai alat baik untuk mengumpulkan data maupun pengukurannya. Apabila Berbicara tentang jenis-jenis metode dan instrumen pengumpulan data maka tidak ubahnya dengan berbicara masalah evaluasi. Mengevaluasi tidak lain adalah memperoleh data tentang sesuatu dibandingkan dengan standar atau ukuran yang telah ditentukan. karena mengevaluasi adalah juga mengadakan pengukuran.
Dalam hal ini pemakalah akan memaparkan evaluasi yang akan digunakan, yang mana  dapat digolongkan menjadi dua macam yaitu[25]
a.       Tes
b.      Non test (bukan tes)
1)   Angket atau kuesioner
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden.
2)   Interviw
Adalah sebuh dialog yang dilakukan  oleh pewawancara. Untuk memperoleh informasi dari terwawancara.
3)   Observasi yaitu srbuah pengamatan
4)   Skala bertingkat adalah Skala bertingkat adalah ukuran subjektif yang dibuat berskala.
5)   Dokumentasi adalah barang-barang tertulis.
  1. Langkah ke 8 : Mengumpulkan Data
Pada hakikatnya Peneliti memerlukan data untuk menguji hipotesis. Data tersebut digunakan untuk menguji hipotesis. Bergantung dari masalah yang dipilih serta metode penelitian yang akan digunakan, maka teknik pengumpulan data akan berbeda-beda. Ada kalanya data adalah hasil pengamatan langsung terhadap perilaku manusia dimana peneliti secara partisipatif berada dalam kelompok orang-orang yang diselidiki[26].
Dalam mengumpulkan data maka pemakalah menjabarkan beberapa langkah-langkah yang perlu peneliti  lakukan yaitu :
a.       Terlebih dahulu Kita mengetahui dimana,bagaimana data itu kita peroleh, adapun hal ini telah terpikirkan waktu kita melihat variabel-variabel  yang ada dalam masalah dan hipotesis penelitian kita.
b.      Dalam menyusun instrumen sebagai alat untuk mengumpulkan data, serta menetapkan data yang diperlukan dan data yang tidak diperlukan. Semuanya telah kita susun dalam instrumen yang kita gunakan.
c.       Sudah memikirkan siapa-siapa yang jadi responden kita dan bagaiman cara menghubunginya.
d.      Mempersiapkan orang yang akan  membantu mengumpulkan data yang mana sudah dipersiapkan dengan melatih/ memberi petunjuk dalam melakukan tugasnya.
e.       Membuat  surat-surat izin untuk meneliti seseorang atau instansi tertentu.
f.       Jika semua sudah dilakukan. Mangecek jumlah data yang diperlukan, agar tidak terjadi kekurangan karena ada instrumen waktu pengisian tidak lengkap, tidak sempurna dan yang hilang dan sebagainnya.
g.      Setelah semua sudah kita lakukan, maka yang tak kalah pentingnya adalah biaya transportasi untuk pengumpulan data tersebut[27].
  1. Langkah ke 9 : Analisis Data
Dalam hal ini pemakalah menganggap Analisis data berarti membuat data mentah bermakna atau untuk menarik beberapa hasil dari data setelah perawatan yang tepat. “The null hipotesis'  diuji dengan bantuan analisis data untuk memperoleh beberapa hasil yang signifikan. Dengan demikian, analisis data menyajikan fungsi utama sebagai berikut[28]:
a.       Untuk membuatdata mentah bermakna,
b.      Untuk menguji hipotesis nol
c.       Untuk mendapatkan hasil yang signifikans
d.      Untuk menarik beberapa kesimpulan atau membuat generalisasi, dan.
e.       Untuk memperkirakan parameter
Data yang masih mentah yang telah dikumpulkan oleh peneliti tidak akan ada gunanya jika tidak dianalisa. Adapun Analisa data merupakan bagian yang amat penting dalam sebuah metode ilmiah, karena data tersebut dapat diberi arti dan makna yang berguna dalam memecahkan masalah penelitian. Data mentah yang telah dikumpulkan  perlu dipecah-pecahkan dalam kelompok-kelompok, sehingga data tersebut mempunyai makna untuk menjawab masalah dan bermanfaat untuk menguji hipotesa[29].
Adapun pemakalah menyebutkan terdapat pekerjaan analisis data meliputi 3 langkah yaitu[30].
a.       Persiapan 
b.      Tabulasi
c.       Penerapan data sesuai dengan pendeakatan penelitian.


  1. Langkah ke 10 : Menarik Kesimpulan
Penarikan kesimpulan harus didasarkan atas data, bukan atas angan-angan atau keinginan peneliti. Oleh karena itu penelitian harus tampak jelas hubungan antara problematik, hipotesis dan kesimpulannya. Dan apabila kesimpulan penelitian merupakan jawaban dari problematik yang dikemukakan maka isi maupun banyaknya kesimpulan yang dibuat juga harus sama dengan isi dan banyaknya problematik. Contoh
a.       Problematik
1)      Apakah orang tua murid di daerah pedesaan memberikan motivasi belajar yang sama dengan orang tua murid kota?
2)      Apakah ayah mempunyai peranan yang sama dengan ibu dalam memberikan motivasi belajar, baik dipedesaan maupun dikota?
b.      Hipotesis
1)      Orang tua murid daerah pedesaan memberikan motivasi belajar yang sama dengan orang tua dikota.
2)      Ayah dan ibu memberikan motivasi belajar yang sama besar kepada anak-anaknya, baik didaerah pedesaan maupun dikota.
c.       Kesimpulan penelitian
1)      Orang tua murid di daerah pedesaan tidak dapat memberikan motivasi belajar sebesar yang diberikan oleh orang tua dikota.
2)      Ada perbedaan yang signifikan antara ayah dan ibu di dalam memberikan motivasi belajar, baik bagi orang tua murid di daerah pedesaan maupun di kota[31].
  1. Langkah ke 11:  Menyusun Laporan
Dalam hal menyusun laporan hasil dari penelitian maka yang pertama harus diperhatikan dalah “sasaran”, kepada siapa laporaan hasil penelitian akan diberikan. Apakah ditujukan pada masyarakat akademis, sponsor ataukah pada masyarakat awam. Berdasarkan siapa pembaca dari hasil penelitian tersebut. Maka laporan hasil penelitian dibagi menjadi tiga macam[32]:

a.       Laporan ilmih berat
Yang di maksud adalah laporan yang disusun untuk masyarakat akademik. Contoh dari laporan ilmiah berat adalah  disertasi,skripsi. Dalam laporan ini diuraikan tentang metode penelitian digunakan, asumsi sebagaia titik tolak penelitian, juga banyak digunakan rumus-rumus statistik, rumus-rumus teori, tabel-tabel dan berbagai kurva.
b.      ilmiah ringan
yakni laporan ilmiah yang dijumpai pada suatu majalah ilmiah tertentu. Laporan semacam ini sifatnya adalah populer, tetapi mutu ilmiahnya masih terjamin.
c.       laporan ilmiah populer ringan
yakni laporan penelitian yang ditujukan pada masyarakat umum.laporan ilmiah ini terdapat pada surat kabar, ceramah-ceramah.
Dalam bab ini yang akan dijelaskan oleh pemakalah hanya pada tata cara laporan skripsi atau tesis. Contoh format laporan penelitian yang diajukan oleh Borg & Gall yang akan pemakalah paparkan di bawah ini[33]:
a.       bahan pendahuluan (preminary Materials)
1)        halaman judul
2)        pengantar kata
3)        daftar isi
4)        daftar tabel
5)        daftar gambar/ilustrasi atau diagram-diagram.
b.      Gambar laporan (body of the paper)
Bab I. Pendahuluan
1)      permasalahan
2)      Rumusan masalah
3)      Tujuan penelitian
Bab II. Penelaah kepustakaan/ Kajian Pustaka
1)      Penemuan yang lalu
2)      Teori yang mendasari
3)      Ringkasan dan kerangka pikir
4)      Hipotesis
Bab III. Metodelogi
1)      Pemilihan subjek, (populasi, sampel (cuplikan) dan teknik sampling (teknik pencuplikan)
2)      Desain dan pendekatan penelitian
3)      Pengumpulan data
Bab IV. Pelaksanaan Penelitian
1)      Validasi instrumen
2)      Pengumpulan dan penyajian data
3)      Analisis data
4)      Hasil analisis
Bab V. Hasil penelitian dan pembahasan
1)      Hasil penelitian
2)      Pembahasan
3)      Diskusi
Bahan Penunjang
1)      Kepustakaan
2)      indeks
Dalam hal ini pemakalah sependapat dengan persyaratan yang ada pada buku suharsimi ari kunto tentang persyaratan penelitian ilmiah, karena menurut hemat penulis bahwa apabila kita ingin melakukan penelitian ilmiah maka seharusnya penelitian itu asli dari diri kita sendiri dan harus rasional, sistematis yakni mengikuti prosedur yang ada. Dalam makalah ini pun pemakalah mencantumkan prosedur-prosedur yang harus dilakukan seorang peneliti agar menjadi penelitian ilmiah yakni yang meliputi 11 langkah diatas.



[1] Nasution, Metode Research (penelitian Ilmiah) (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 1.
[2] Burhan Bungin ,Metodologi Penelitian Kuantitatif (Jakarta: Kencana,2008), 3.
[3] Anton Bakker, Achmad Charris Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat (Yogyakarta: Kanisius 1990), 15.
[4] Juliansyah Noor, Metodologi Penelitian (Jakarta: kencana, 2012), 20.
[5] Sugiyono, Metode penelitan Kuantitatif Kualitatif  R&D (Bandung: Alfabet, 2009), 2.
[6] Mardalis, Metode Penelitian Suat Pendekatan Proposal (Jakarta:PT Bumi Aksara, 1995),17.
[7] Sugiyono, Metode penelitan Kuantitatif Kualitatif  R&D,2.
[8] Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif. (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1990), 13.
[9] Joko Subagyo, Metode Penelitian dalam teori dan praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2004),10.
[10] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Paktis (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), 72-73.
[11] Juliansyah noor,  Metodologi Penelitian, 18.
[12] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Paktis (Jakarta: Rineka Cipta, 2010)
[13]  Ibid., 74.
[14] Ibid., 85-86.
[15] Ibid., 85-86.
[16] Ibid.,93.
[17] Ibid.,104-105.
[18] William J.Goode,  Methode In Social Research, 57.
[19]Rokhim Yunus Karowi Al Azawi, Manhajul Bahsul Ilmi(Oman: Daru Ajlah ,2007),43.
[20] Ibid., 110-113.
[21] Ibid.,121-122.
[22] Ibid.,131.
[23] Ibid., 159-160.
[24] Ibid.,172.
[25] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Paktis,193.
[26]  Moh Nadzir, Metode Penelitian. (bandung: Ghalia indonesia ), 41.
[27] Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. 74-75.
[28] Yogesh Kumar Singh. Fundamental Of Research Metodology And Statistic (New Delhi: New age international, 2006), 222.
[29]  Moh Nazir,Metode Penelitian (Jakarta: GI, 1983),405.
[30] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Paktis, 278.
[31] Ibid., 385.
[32] Cholid Narbuko Dan Abu Achmadi, Metode Penelitian(Jakarta: Bumi Aksara.2009), 157-158.
[33] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Paktis, 397.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANGGAPAN DASAR DAN HIPOTESIS

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP STUDI QURAN

AL- JARH WA AT-TA’DIL (ADIL DAN CACAT PERAWI HADIST)