PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN DALAM QUR'AN (AMTHALIL QUR’AN)
Pengertian dan Rukun Amthali al-Qur’an
Amthali Qur’an / Perumpamaan-perumpamaan dalam qur'an adalah bagian dari Ulumul Qur’an yang sangat penting untuk di pahami. Amthali Qur’an adalah kajian yang berkonsentrasi pada perumpamaan-perumpamaan dalam ayat-ayat atau nash al-Qur’an. Pertama-tama pemahaman ini penulis merujuk pada makna kamus, amthal adalah bentuk jama’ dari mathal yang berarti perumpamaan. Demikian kamus Al-Munafir mengartikan istilah ini.[1]
Menurut bahasa, arti lafal Amtsal ada tiga macam :
a. Bisa berarti perumpamaan, gambaran, atau perserupaan.
b. Bisa diartikan kisah atau cerita, jika keadaanya amat asing dan aneh.
c. Bisa juga bearti sifat, atau keadaan atau tingkah laku yang mengherankan pula.
Sedangkan menurut istilah (terminologi), para ulama memberikan beberapa macam definisi Amtsalil Qur’an, antara lain sebagai berikut :
a) Ulama ahli ilmu adab mendefinisikan al-amthal / Perumpamaan-perumpamaan dalam qur'an , ialah menyamakan hal yang akan diceritakan dengan asal ceritanya (asal mulanya).
b) Istilah ulama ahli ilmu bayan mendefinisikan al-amthal, ialah ungkapan majaz/kiasan yang majmuk, dimana kaitan antara yang disamakan dengan asalnya adalah karena adanya persamaan/keserupaan.
c) Para ulama yang lain memberikan definisi mathal ialah mengungkapkan suatu makna abstrak yang dapat dipersonifikasikan dengan bentuk yang elok dan indah.[2]
Term al-amsal terdapat dalam Ulum Al-Qur’an, khususnya pengantar ilmu tafsir. Amsal adalah menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hal hukumnya dan mendekatkan sesuatu yang abstrak (ma’qul) denan sesuatu yang indrawi (konkret). Sayyid Quthb mengatakan, bahwa amthal dalam al-Qur’an merupakan sarana untuk menggambarkan kondisi bangsa-bangsa pada masa lampau dan untuk menggambarkan akhlaknya yang sudah sirna.[3]
Apabila memperhatikan mathal-mathal Qur’an yang disebutkan oleh para penggarang, kita dapatkan bahwa mereka mengemukakan ayat-ayat yang berisi penggambaran keadaan suatu hal dengan keadaan hal lain, baik penggambaran itu dengan cara isti’arahmaupun dengan tasybih sarih (penyerupaan yang jelas); atau ayat-ayat yang menunjukkan makna yang menarik dengan redaksi ringkas dan padat; atau ayat-ayat yang dapat dipergunakan bagi sesuatu yang menyerupai dengan apa yang berkenan dengan ayat itu. Sebab, Allah mengungkapkan ayat-ayat itu secara langsung, tanpa sumber yang mendahuluinya.[4]
Adapun ketentuan Amthalil Qur’an / Perumpamaan-perumpamaan dalam qur'an dianggap sah jika memenuhi kriteria syarat dan rukun;
a. Rukun mathal
Di dalam matsal seperti halnya di dalam tasbih, haruslah terkumpul tiga unsur, sebagai berikut :
1) Harus ada yang diserupakan (al-musyabbah), yaitu sesuatu yang akan diceritakan.
2) Harus ada asal cerita (al-musyabbah bih), yaitu sesuatu yang dijadikan tempat penyamaan.
3) Harus ada segi persamaan (wajhul musyabbah), yaitu arah persamaan antara kedua hal yang disamakan tersebut.
b. Syarat Sah Mathal
Para ahli bahasa Arab mensyaratkan sahnya amthal harus memenuhi empat syarat, sebagai berikut:
a) Bentuk kalimatnya harus ringkas
b) Isi maknanya harus mengena dengan tepat
c) Perumpamaannya harus baik
d) Kinayahnya harus indah.[5]
Baca juga:
Ilmu Qiraah dalam Qur'an
(Kemukjizatan Qur'an / I'jazil Qur'an)
(Mutlaq Muqoyyad dalam Qur'an).
Ilmu Qiraah dalam Qur'an
(Kemukjizatan Qur'an / I'jazil Qur'an)
(Mutlaq Muqoyyad dalam Qur'an).
Macam-Macam Amthalil Qur’an / Perumpamaan-perumpamaan dalam qur'an
Terdapat perbedaan pendapat dalam pembagiannya, Dr. Muhammad Alawi al-Maliki dalam zubdah al-Itqon, membagi amthal pada dua macam,amthal musharrah dan amthal kaminah,[6]. Pendapat yang lain, Dr. Jum’ah Ali Abdul Qodir, dalam kitabnya faidlu ar-Rahman fii uluumil qur’an membagi amthal menjadi tiga macam, amthalil musarrahah, amthalil kaminah, dan amthalil mursalah.[7] Dalam literatur yang lain Amthal di dalam al-Qur’an ada tiga macam; amthalil musarrahah, amthalil kaminah, dan amthalil mursalah.[8]
1. Amthal Musarrahah, ialah yang di dalamnya dijelaskan dengan lafaz masal atau sesuatu yang menunjukkan tasybih.[9]Amthal seperti ini banyak ditemukan dalam Qur’an dan berikut ini ada beberapa diantaranya :
a) Firman Allah mengenai orang Munafik;
17. perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
18. mereka tuli, bisu dan buta, Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar),
19. atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.
20. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. [QS. Al-Baqarah: 17-20]
b) Allah menyebutkan pula dua macam mathal, ma’i dan nari, dalam surat ar-Ra’d, bagi yang hak dan yang batil.
17. Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, Maka arus itu membawa buih yang mengambang. dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, Maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. [QS. al-Ara’d: 17]
2. Amthalil Kaminah, yaitu yang di dalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafaz tamsil (permisalan) tetapi ia menunjukkan makna-makna yang indah, menarik, dalam kepadatan redaksinya, dan mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindahkan kepada yang serupa dengannya.[10]Untuk masal ini mereka mengajukan sejumlah contoh, diantaranya;
a) Firman Allah mengenai sapi betina,
68. mereka menjawab: " mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina Apakah itu." Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu". [QS. Al-Baqarah:68]
b) Firman-Nya tentang nafkah,
67. dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. [QS. Al-Furqan:67]
3. Amthalil Mursalah, yaitu kalimat-kalimat yang bebas yang tidak menggunakan lafaz tasybih secara jelas. Tetapi kalimat-kalimat itu berlaku sebagai mathal.[11]Berikut ini contoh-contohnya ;
1. QS. Surat Yusuf: 51
51. raja berkata (kepada wanita-wanita itu): "Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?" mereka berkata: "Maha sempurna Allah, Kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya". berkata isteri Al Aziz: "Sekarang jelaslah kebenaran itu, Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan Sesungguhnya Dia Termasuk orang-orang yang benar."
2. QS. Surat an-Najm: 58
58. tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah.
Faedah-faedah Amthalul Qur’an / Perumpamaan-perumpamaan dalam qur'an
Ada beberapa faedah di dalamnya :
1. Menonjolkan sesuatu ma’qul (yang hanya bisa dijangkau akal, abstrak) dalam bentuk konkrit yang dapat dirasakan indra manusia, sehingga akal mudah menerimanya; sebab pengertian-pengertian abstrak tidak akan tertanam dalam benak kecuali jika dituangkan dalam bentuk indrawi yang dekat dengan pemahaman.
2. Menyingkapkan hakikat-hakikat dan mengemukakan sesuatu yang tidak tampak, seakan-akan sesuatu yang tampak.[12]
3. Mengumpulkan makna yang menarik lagi indah dalam ungkapan yang padat, seperti Amthal kaminah dan Amthal mursalah dalam ayat-ayat di atas.
4. Mendorong orang yang diberi mathal untuk berbuat sesuai dengan isi mathal, jika merupakan sesuatu yang disenangi jiwa.
5. Menjauhkan (tanfir), jika isi mathal berupa sesuatu yang dibenci jiwa .
6. Untuk memuji orang-orang yang diberi mathal.
7. Untuk menggambarkan (dengan mathal itu) sesuatu yang mempunyai sifat yang dipandang buruk oleh orang banyak.[13]
8. Amthal lebih berpengaruh pada jiwa, lebih efektif dalam memberikan nasehat, lebih kuat dalam memberikan peringatan, dan lebih dapat memuaskan hati. Allah SWT banyak menyebut amthal di dalam al-Qur’an untuk peringatan dan pelajaran.[14]
Demikian faedah amthal dalam al-Qur’an, diantara pelajaran yang terpenting bahwa al-Qur’an itu adalah berisi pelajaran tertinggi yang salah satu piranti pemahamannya sangat menekankan dan dekat sekali dengan aspek akal dan hati manusia, sehingga umat manusia dapat mengarungi dan mengambil mutiara dari al-Qur’an untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
[1] A. Munawir, Kamus Al-Munawir Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progresif,1997),1309
[2] Abdul Djalal H.A, Ulumul Qur’an, (Surabaya : Dunia Ilmu, 2000), 311
[3] Ahsin W. Al-Hafidz, Kamus Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta : Amzah, 2008), 24
[4] Manna’ Khalil al-Qattan,Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an, 403
[5] Abdul Djalal H.A, Ulumul Qur’an, 314
[6] Muhammad Alawi al-Maliki, Zubdah al-Itqon fii ulumil qur’an,(Makkah : Daar al-Syuruuq, 1983), 129
[7] Jum’ah Ali Abdul Qodir, faidlu ar-Rahman fii uluumil qur’an, (Kairo, Dar Thoba’ah Muhammadiyah, 1986), 25
[8] Dalam hal ini penulis menggunakan pijakan dengan tiga macam pembagian amthal
[9] Manna’ Khalil al-Qattan,Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an, 404
[10] Ibid, 406
[11] Ibid, 407
[12] Ibid, 409
[13] Ibid 410
Komentar
Posting Komentar