RUMUSAN MASALAH DALAM PENELITAIN
A. Latar Belakang Masalah
Kegiatan meneliti bukanlah pekerjaan yang ringan. Meneliti harus mempunyai masalah penelitian untuk dipecahkan. Setelah menemukan masalah untuk diteliti, Peneliti juga membuat studi pendahuluan. Tahapan berikutnya Peneliti harus merumuskan masalah penelitan. Hal ini dimaksudkan agar kegiatan meneliti nantinya dapat fokus pada masalah tertentu dan pada masalah-masalah yang berkaitan dengan masalah penelitian yang dibutuhkan.
Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian, sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan suatu hal atau fenomena, untuk memisahkan kemenduaan, untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. Karenanya, peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya, dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut.
Tujuan lain dari pemecahan dan perumusan masalah adalah untuk mencari sesuatu dalam rangka pemuasan akademis seseorang, memuaskan perhatian serta keingintahuan seseorang akan hal-hal yang baru, meletakkan dasar untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya ataupun dasar untuk penelitian selanjutnya, memenuhi keinginan sosial dan menyediakan sesuatu yang bermanfaat.
B. Konsep Perumusan Masalah Penelitian
Konsep berarti ide umum, pengertian, pemikiran, rancangan, rencana dasar.[1]Menurut penulis pengertian tersebut yang mendekati kecocokan dalam pembahasan ini bahwa konsep perumusan masalah berarti rancangan atau rencana dasar dalam pembuatan rumusan masalah.
Merumuskan masalah merupakan langkah ketiga yang sebelumnya memilih masalah dan studi pendahuluan. Berikut ini bagan yang menunjukkan langkah-langkah penelitian :
| Langkah 1 Memilih Masalah |
| Langkah 2 Studi Pendahuluan |
| Langkah 3 Merumuskan Masalah |
| Langkah 4 Merumuskan Anggapan Dasar |
| Langkah 4 a Hipotesis |
| Langkah 5 Memilih Pendekatan |
| Langkah 6 a Menentukan Variabel |
| Langkah 6 b Menentukan Sumber Data |
| Langkah 7 Menentukan dan Menyusun Instrumen |
| Langkah 9 Analisis Data |
| Langkah 8 Menentukan Sumber Data |
| Langkah 10 Menarik Kesimpulan |
| |
Bagan di atas menjelaskan tentang langkah-langkah penelitian dari mulai proses memilih masalah sampai pada penyusunan laporan hasil penelitian. Begitu banyak tahapan-tahapan yang harus dilalui peneliti supaya penelitiannya menghasilkan manfaat yang diharapkan dan rumusan masalah merupakan langkah ketiga setelah peneliti memilih masalah dan melakukan studi pendahuluan.
Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi. Menurut Stonner (1982 : 257) seperti yang dikutip oleh Sugiyono yang berjudul “Metode Penelitian Bisnis” bahwa masalah-masalah dapat diketahui bila :[2]
a. Terdapat penyimpangan antara pengalaman dan kenyataan.
Misalnya : Pengalaman di dalam mempelajari didaktik metodik di bangku kuliah berbeda ketika terjun langsung ke sekolah yang kurang disiplin.
b. Terdapat penyimpangan antara apa yang telah direncanakan dengan kenyataan.
Misalnya : Guru sudah merencanakan jumlah tatap muka dalam 1 semester akan tetapi di tengah-tengah semester waktu tatap muka tersebut terkurangi karena ada rapat atau suatu hal yang lain.
c. Ada pengaduan.
Misalnya : Adanya kondisi kelas yang sering kosong dikarenakan seringnya tidak masuk guru.
d. Ada kompetisi.
Adanya saingan atau kompetisi sering dapat menimbulkan masalah besar, bila tidak dapat memanfaatkan untuk kerja sama. Sebagai contoh : Dalam pendidikan, lembaga-lembaga pendidikan yang selama ini unggul di dalam negeri, akan timbul masalah setelah ada perguruan tinggi asing yang beroperasi di Indonesia. Contoh lain, perusahaan POS dan Giro merasa mempunyai masalah setelah ada biro jasa lain yang menerima titipan surat, titipan barang, ada hand phone yang dapat digunakan untuk SMS, internet, e-mail.
Sebelum seorang penelitian dapat merumuskan suatu masalah untuk penelitiannya, maka ia lebih dahulu harus mengidentifikasikan dan memilih masalah itu. Walaupun masalah yang ada cukup banyak, tetapi cukup sulit bagi si peneliti untuk memilih masalah mana yang akan dipilihnya untuk penelitiannya. Sehingga penting kiranya peneliti memperhatikan ciri-ciri masalah yang baik itu seperti apa.
Masalah yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut :[3]
1) Masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian.
2) Masalah yang dipilih harus mempunyai fisibilitas.
3) Masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti.
Yang dimaksud masalah harus mempunyai nilai penelitian yaitu mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. Adapun yang dimaksud dengan masalah harus fisibel adalah masalah tersebut dapat dipecahkan. Ini berarti :
a. data serta metode untuk memecahkan masalah harus tersedia
b. biaya untuk memecahkan masalah, harus dalam batas-batas kemampuan
c. waktu untuk memecahkan masalah harus wajar
d. biaya dan hasil harus seimbang
e. administrasi dan sponsor harus kuat
f. tidak bertentangan dengan hukum dan adat
Sedangkan yang dimaksud masalah itu harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti sendiri adalah masalah yang dipilih sekurang-kurangnya masalah itu menarik bagi si peneliti dan cocok dengan kualifikasi ilmiah si peneliti.
Menurut Fraenkel dan Wallen (1990 : 22) seperti yang dikutip Sugiyono di dalam bukunya yang berjudul “Metode Penelitian Bisnis”, mengemukakan bahwa masalah penelitian yang baik adalah :
a. Masalah harus feasible, dalam arti masalah tersebut harus dapat dicarikan jawabannya melalui sumber yang jelas, tidak banyak menghabiskan dana, tenaga dan waktu.
b. Masalah harus jelas, yaitu semua orang memberikan presepsi yang sama terhadap masalah tersebut.
c. Masalah harus signifikan, dalam arti jawaban atas masalah itu harus memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu dan pemecahan masalah kehidupan manusia.
d. Masalah bersifat etis, yaitu tidak berkenaan dengan hal-hal yang bersifat etika, moral, nilai-nilai keyakinan dan agama.
Menurut Tuckman (1988) seperti yang dikutip Sugiyono di dalam bukunya yang berjudul “Metode Penelitian Bisnis” dinyatakan bahwa rumusan masalah yang baik adalah yang menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih (menurut Sugiono tidak harus), dinyatakan dalam bentuk kalimat tanya, atau alternatif yang tetapi secara implisit mengandung pertanyaan. Misalnya tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan apakah ada hubungan antara .... dengan .....[4]
Setelah masalah diidentifikasi, dipilih, maka perlu dirumuskan. Perumusan ini penting, karena hasilnya akan menjadi penuntun bagi langkah-langkah selanjutnya. Di antara hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun rumusan masalah adalah sebaiknya masalah dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya, rumusan itu padat dan jelas dan memberi petunjuk tentang mungkinnya mengumpulkan data guna menjawab pertanyaan yang terkandung dalam rumusan itu.[5]
Sebagai contoh bentuk rumusan masalah adalah :
- Apakah mengajar dengan metode diskusi lebih berhasil daripada mengajar dengan metode ceramah?
- Apakah mahasiswa yang tinggi nilai ujian masuknya juga tinggi indeks prestasi belajarnya?
Di buku yang berbeda diterangkan bahwa dalam merumuskan masalah harus dilakukan dalam kondisi berikut :
a. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan.
b. rumusan hendaklah jelas, dan padat.
c. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah.
d. rumusan masalah harus merupakan dasar dalam membuat hipotesa.
e. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian.[6]
C. Bentuk-bentuk Rumusan Masalah Penelitian
Rumusan masalah berbeda dengan masalah. Jika masalah itu berarti kesenjangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi, sedangkan rumusan masalah itu merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data. Namun terdapat kaitan erat antara masalah dan rumusan masalah, karena setiap rumusan masalah penelitian harus didasarkan pada masalah.
Ada 3 bentuk rumusan masalah yaitu : bentuk masalah deskriptif, komparatif dan asosiatif. Berikut penjelasannya tentang masing-masing bentuk rumusan masalah tersebut.[7]
a. Rumusan Masalah Deskriptif
Rumusan masalah Deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri baik hanya satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri). Contoh rumusan masalah deskriptif : “Seberapa tinggi efektivitas kebijakan Manajemen Berbsis Sekolah di Indonesia?” atau “Seberapa tinggi minat baca dan lama belajar rata-rata per hari murid-murid sekolah di Indonesia?”. Peneliti yang bermaksud mengetahui efektifitas kebijakan MBS dan minat baca dan lama belajar rata-rata per hari murid-murid sekolah di Indonesia adalah merupakan contoh penelitian deskriptif.
b. Rumusan Masalah Komparatif
Rumusan masalah komparatif adalah rumusan masalah penelitian yang membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda. Contoh rumusan masalah komparatif seperti ini “Adakah perbedaan prestasi belajar antara murid dari sekolah negeri dan swasta?” (variabel penelitian adalah prestasi belajar pada dua sampel yaitu sekolah negeri dan swasta) atau “Adakah perbedaan, motivasi belajar dan hasil belajar antara murid yang berasal dari keluarga Guru, Pegawai Swasta dan Pedagang?” (dua variabel tiga sampel).
c. Rumusan Masalah Asosiatif
Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan masalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Ada tiga bentuk hubungan yaitu : hubungan simetris, hubungan kausal, dan interaktif/resiprocal/timbal balik.
Contoh rumusan masalah yang menunjukkan hubungan simetris seperti “Adakah hubungan antara rumah yang dekat rel kereta api dengan jumlah anak?”. Contoh tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa hubungan simetris adalah suatu hubungan antara dua variabel atau lebih yang kebetulan munculnya bersama.
Contoh rumusan masalah yang menunjukkan hubungan kausal, seperti ini”Adakah pengaruh pendidikan orang tua terhadap prestasi prestasibelajar anak?” (Pendidikan orang tua variabel independen dan prestasi belajar variabel dependen). Contoh tersebut dapat ditarik pengertian bahwa hubungan kausal adalah hubungan yang menunjukkan sebab akibat.
Contoh hubungan interaktif/resiprocal/timbal balik, seperti ini “Hubungan antara motivasi dan prestasi belajar anak SD di Kecamatan A.” Contoh tersebut dapat dipahami bahwa motivasi mempengaruhi prestasi tetapi juga prestasi dapat mempengaruhi motivasi. Contoh lain : “Hubungan antara kecerdasan dengan kekayaan”. Kecerdasan dapat menyebabkan kaya, demikian juga orang yang kaya dapat meningkatkan kecerdasan karena gizi terpenuhi.
D. Penelaahan Kepustakaan
Langkah selanjutnya, setelah merumuskan masalah adalah penelaahan kepustakaan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui berbagai hal yang sudah diteliti dengan tuntas sehingga terhindar dari pengulangan-pengulangan yang tidak perlu dan dapat diketahui kesulitan-kesulitan apa yang dialami oleh para peneliti terdahulu, sehingga peneliti saat ini lebih siap untuk menghadapinya.
Menurut Sutrisno Hadi (1991) seperti yang dikutip oleh Ida Bagoes Mantra di dalam bukunya yang berjudul “Filsafat Penelitian dan Metode Penelitian Sosial” bahwa untuk memilih daftar pustaka peneliti hendaknya berpedoman kepada tiga hal ini, yaitu : relevansi, kemutakhiran dan adekuasi. Relevansi yang dimaksud adalah adanya keterkaitan erat antara pustaka dengan masalah penelitian. Sedangkan kemutakhiran yang dimaksud adalah sumber-sumber pustaka terbaru untuk menghindari teori-teori atau bahasan yang sudah kedaluwarsa. Di samping sumber itu harus mutakhir, juga harus relevan bagi masalah yang sedang diteliti. Jadi, sumber-sumber pustaka hendaklah berkaitan langsung dengan masalah yang sedang diteliti, dan inilah yang dimaksud adekuasi.[8]
E. Pentingnya Perumusan Masalah di dalam Penelitian
Seperti yang telah penulis paparkan di awal bahwa merumuskan masalah di dalam proses penelitian itu sangat penting, karena rumusan masalah itu akan menjadi penuntun pada proses-proses penelitian selanjutnya dan sebagai acuan atau kontrol apabila mengalami kebuntuhan dan perluasan pempenelitian.
Rumusan masalah menjadi sesuatu yang penting, karena dengan adanya rumusan masalah tersebut membatasi masalah yang akan diteliti atau dibahas. Merumuskan masalah memang sukar, akan tetapi penting dilalui karena membantu peneliti menyelesaikan penelitiannya. Sebagai contoh rumusan masalah adalah seperti rikut : “Studi tentang hubungan antara minat guru terhadap profesinya dengan penghargaan siswa terhadap guru di SMA Negeri VI Majalengka tahun 1973”.
Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam merumuskan masalah adalah sebagai berikut :
a. Peneliti hendaknya senantiasa menyadari bahwa perumusan masalah dalam penelitiannya didasarkan atas upaya menemukan teori dari-dasar sebagai acuan utama.
b. Prinsip yang berkaitan dengan maksud perumusan masalah, maksudnya menunjang upaya penemuan dan penyusunan teori substantif, yaitu teori yang bersumber dari data.
c. Prinsip hubungan faktor, maksudnya fokus sebagai sumber masalah penelitian merupakan rumusan yang terdiri atas dua atau lebih faktor yang menghasilkan tanda-tanya atau kebingungan. Faktor-faktor itu dapat berupa konsep, peristiwa, pengalaman atau fenomena.
d. Fokus sebagai wahana untuk membatasi studi
e. Prinsip yang berkaitan dengan kriteria inklusi-eksklusi
f. Prinsip yang berkaitan dengan bentuk dan cara perumusan masalah, ada 3 bentuk perumusan masalah a) secara diskusi, maksudnya dalam bentuk pernyataan secara deskriptif namun perlu diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan penelitian, b) secara proposisional, maksudnya secara langsung menghubungkan faktor-faktor dalam hubungan logis dan bermakna, c) secara gabungan, maksudnya terlebih dahulu disajikan dalam bentuk diskusi, kemudian ditegaskan lagi dalam bentuk proposisional
g. Prinsip sehubungan dengan posisi perumusan masalah, maksudnya posisi disini tidak lain adalah kedudukan untuk rumusan masalah di antara unsur-unsur penelitian lainnya. Unsur-unsur penelitian lainnya yang erat kaitannya dengan perumusan masalah ialah latar belakang masalah, tujuan, dan acuan teori dan metode penelitian
h. Prinsip yang berkaitan dengan hasil penelaahan kepustakaan
i. Prinsip yang berkaitan dengan penggunaan bahasa
F. Prosedur Merumuskan Masalah
Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih, maka langkah berikutnya adalah merumuskan masalah. Adapun langkah-langkah perumusan masalah adalah seperti berikut ini :
Langkah 1 : Tentukan fokus penelitian. Misalnya kita fokus meneliti pengaruh metode diskusi terhadap pemahaman peserta didik. Jadi, peneliti harus berfokus pada bagaimana metode diskusi dan bagaimana pemahaman peserta didik.
Langkah 2 : Cari berbagai kemungkinan faktor yang ada kaitan dengan fokus tersebut yang dalam hal ini dinamakan subfokus. Misalnya memahami bagaimana penerapan metode diskusi yang baik dan menentukan alat ukur untuk mengetahui pemahaman peserta didik.
Langkah 3 : Dari antara faktor-faktor yang terkait adakan pengkajian mana yang sangat menarik untuk ditelaah, kemudian tetapkan mana yang dipilih. Misalnya faktor yang terkait berupa macam-macam metode diskusi maka adakan kajian mendalam tentang hal itu.
Langkah 4 : Kaitkan secara logis faktor-faktor subfokus yang dipilih dengan fokus penelitian.[9] Misalnya dikaitkan tentang teori macam-macam diskusi dengan penerapan metode diskusi terhadap pemahaman peserta didik.
Apabila penulis berikan contoh kongkrit tentang empat langkah di atas, maka seperti keterangan di bawah ini :
Langkah 1 : sebelum menetapkan fokus penelitian seorang peneliti harus memiliki topik penelitian terlebih dahulu. Misalnya topik penelitiannya adalah kegiatan bebas seks di kalangan remaja. Berdasarkan topik tersebut fokus penelitiannya adalah kegiatan bebas seksual.
Langkah 2 : peneliti tertarik ingin meneliti berbagai kemungkinan penyebab terjadinya kegiatan bebas seks dikalangan remaja. Berdasarkan hal itu peneliti mencari berbagai kemungkinan terjadinya kegiatan bebas seks tersebut. Faktor-faktor berupa sub-sub fokus tersebut adalah : pengaruh film porno, cinta muda, pengaruh lingkungan remaja, nilai etika moral dan agama yang longgar, kebebasan pergaulan remaja, pengaruh kehidupan malam di cafe, kebiasaan nonton kegiatan seks di internet dan tidak adanya pendidikan seksual di rumah atau sekolah. Upaya mencari berbagai faktor subfokus itu didasarkan pada hasil penelaahan kepustakaan, media massa, cerita dengan para remaja.
Langkah 3 : Ke delapan faktor atau subfokus yang tersebut pada langkah 2 menarik untuk diteliti, namun peneliti hanya ingin meneliti ketujuh faktor yang disebutkan pertama, sedang yang terakhir yaitu tidak adanya pendidikan seksual di rumah dan sekolah tidak diteliti.
Langkah 4 : Langkah ini adalah mengaitkan setiap faktor yang dipilih dengan fokus penelitian. Dengan demikian maka rumusan masalah penelitian tersebut dapatlah dilakukan. Namun demikian karena ada dua cara perumusan masalah tentu saja selaku peneliti memilih antara cara diskusi atau proposisional. Selain itu, dalam penelitian-penelitian yang umum digunakan pertanyaan-pertanyaan : apakah, bagaimana, dan mengapa. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, maka peneliti memilih cara proposisional. Dengan demikian rumusan masalah penelitian menjadi :
1.) Di kalangan remaja yang melakukan kegiatan bebas seks apakah mereka biasanya menonton film porno?
2.) Bagaimana peranan cinta muda pada kehidupan bebas seks di kalangan remaja?
3.) Bagaimanakah peranan cinta muda dalam kegiatan bebas seks dikalangan remaja?
4.) Apakah kegiatan bebas seks dikalangan remaja itu dilakukan karena adanya pengaruh lingkungan pergaulan remaja?
5.) Bagaimanakah peran etika moral dan agama dikalangan remaja yang melakukan kegiatan bebas seks?
6.) Apakah pengaruh kehiduan malam di cafe bagi remaja berakibat pada kehidupan bebas seks mereka?
7.) Bagaimana kebiasaan bermain internet dengan menonton kegiatan seks berakibat pada kehidupan seks bebas dikalangan remaja
Menurut Sumadi (1989), tidak ada aturan umum mengenai cara merumuskan masalah, namun dapat disarankan hal-hal berikut :
1. redaksi perumusan masalah hendaknya berupa kalimat tanya
2. substansinya hendaklah menunjukkan pemahaman yang padat dan jelas
3. menautkan hubungan antara dua atau lebih variabel
4. hendaklah memberikan petunjuk tentang mungkinnya mengumpulkan data guna menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam rumusan itu.[10]
Ada hal yang perlu diingat dalam merumuskan masalah, di antaranya masalah ilmiah tidak boleh merupakan pertanyaan-pertanyaan etika atau moral karena tidak bisa dijawab secara ilmiah. Misalnya : “Perlukah kepemimpinan organisasi secara demokrasi?” atau “Bagaimanakah sebaiknya mengajar mahasiswa di perguruan tinggi?”.
G. KESIMPULAN
1. Konsep perumusan masalah penelitian yang pertama kali diperhatikan adalah memilih masalah yang baik dengan mengacu pada ciri-ciri masalah yang baik, yaitu : masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian, masalah yang dipilih harus mempunyai fisibilitas, masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti.
2. Merumusan masalah dalam penelitian itu sangat penting karena akan menjadi penuntun pada proses-proses penelitian selanjutnya dan sebagai acuan atau kontrol apabila mengalami kebuntuhan dan perluasan penelitian.
3. Prosedur atau cara merumuskan masalah penelitian dapat mengacu pada hal-hal berikut yang disarankan oleh para ahli, yaitu :
1. redaksi perumusan masalah hendaknya berupa kalimat tanya
2. substansinya hendaklah menunjukkan pemahaman yang padat dan jelas
3. menautkan hubungan antara dua atau lebih variabel
4. hendaklah memberikan petunjuk tentang mungkinnya mengumpulkan data guna menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam rumusan itu.
4. Bentuk rumusan masalah terbagi menjadi 3, yaitu :
1. Rumusan masalah deskriptif, yaitu suatu rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri baik hanya satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri). Contoh rumusan masalah deskriptif : “Seberapa tinggi efektivitas kebijakan Manajemen Berbsis Sekolah di Indonesia?”. Keingintahuan peneliti untuk mengetahui efektifitas kebijakan MBS di sekolah merupakan contoh penelitian deskriptif.
2. Rumusan masalah komparatif, yaitu rumusan masalah penelitian yang membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda. Contoh rumusan masalah komparatif seperti ini “Adakah perbedaan prestasi belajar antara murid dari sekolah negeri dan swasta?” (variabel penelitian adalah prestasi belajar pada dua sampel yaitu sekolah negeri dan swasta).
3. Rumusan masalah asosiatif, yaitu rumusan masalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Rumusan masalah asosiatif ini terdapat tiga bentuk hubungan yaitu :
1) Hubungan simetris, yaitu suatu hubungan antara dua variabel atau lebih yang kebetulan munculnya bersama. Contoh : Adakah hubungan antara rumah yang dekat rel kereta api dengan jumlah anak?
Contoh judul penelitiannya : Hubungan antara rumah yang dekat rel kereta api dengan jumlah anak.
2) Hubungan kausal, yaitu hubungan yang bersifat sebab akibat. Jadi ada variabel independen(variabel yang mempengaruhi) dan dependen(variabel yang dipengaruhi).
Contohnya : Adakah pengaruh pendidikan orang tua terhadap prestasi prestasi belajar anak?
Maka judul penelitiannya berupa “Pengaruh pendidikan orang tua terhadap prestasi-prestasi belajar anak di SD Kabupaten Sidoarjo”.
3) Hubungan interaktif, yaitu hubungan yang saling mempengaruhi. Di sini tidak diketahui mana variabel independen dan dependen.
Contohnya : Hubungan antara kecerdasan dan kekayaan. Disini tidak diketahui apakah kecerdasan menyebabkan kaya karena mudah mendapatkan kerja ataukah kekayaan menyebabkan kecerdasan karena gizi yang terpenuhi.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta : PT Rineka Cipta, 2006
J. Moleong Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2010
Kusmana Suherli, Merancang Karya Tulis Ilmiah, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2012
Mantra Bagoes Ida, Filsafat Penelitian dan Metode Penelitian Sosial, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004
Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, Jakarta : PT Bumi Aksara, 1999
Nazir, Metodologi Penelitian Pendidikan Agama Islam, Bogor : Ghalia Indonesia
Sugiono, Metode Penelitian Bisnis, Bandung : CV. Alfabeta, 2002
_______, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D, Bandung : CV. Alfabeta, 2010
Suryabrata Sumadi, Metodologi Penelitian, Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2005
[1] Pius A Partanto, M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, hal. 362.
[2] Sugiono, Metode Penelitian Bisnis, (Bandung : Alfabeta 2002), 26.
[3] Nazir, Metode Penelitian, hal 112.
[4] Sugiono, Metode Penelitian Bisnis, (Bandung: Alfabeta 2002), 28.
[5] Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada 2006), 17.
[6] Nazir, Metode Penelitian, hal 143.
[7] Sugiyono,Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D,(Bandung : Alfabeta 2010), hal 56-60.
[8] Ida Bagoes Mantra, Filsafat Penelitian dan Metode Penelitian Sosial, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar 2004), 54-55.
[9] Lexy J. Moleong, Metodelogi Penelitian Kualitatif, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2010), 119.
[10] Ida Bagoes Mantra, Filsafat Penelitian dan Metode Penelitian Sosial, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004) , 49.
Komentar
Posting Komentar