STUDI PENDAHULUAN DALAM PENELITIAN

 Studi Pendahuluan dalam Penelitian
Memahami studi pendahuluan bisa dilakukan dengan dua perspekstif. Pertamastudi pendahuluan sebagai langkah awal atau kerja awal menelusuri atau menjelajah masalah penelitian untuk mempertajam masalah yang diteliti. Kedua, studi pendahuluan berdasarkan hasil tulisan atau karya peneliti berupa bab pendahuluan, termasuk teori-teori tentang penulisan bab pendahuluan.
Pemahaman berdasarkan perpektif pertama bisa ditelusuri diantaranya dari wawasan Suharsimi Arikunto dalam bukunya Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktik. Wawasan Arikunto ini menekankan pada proses kerja sebelum penelitian benar-benar dilakukan. Studi pendahuluan dalam pengertian Arikunto ini dilakukan untuk memudahkan penelitian. Studi pendahuluan akan membawa peneliti tahu lebih jauh memahami masalah yang akan diteliti, kontruksi teori yang diperlukan, strategi apa yang dimanfaatkan dan keterkaitan dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang sudah dilakukan peneliti lain. Peneliti menjadi paham apakah penelitiannya samaatau berbeda dengan penelitian terdahulu, bisa jadi penelitian terdahulu sudah menemukan masalah tetapi belum menemukan jawaban. Dengan demikian peneliti baru bisa meneruskan dengan metode baru, atau menemukan jawaban masalah yang sebelumnya tidak ditemukan penelitian terdahulu dengan perspektif  yang berbeda.[5]
Studi pendahuluan akan mengantarkan peneliti pada eksplorasi atau penjelajahan masalah yang lebih jauh sehingga ia bisa memahami peta masalah yang diteliti dalam konstelasi keilmuan. Pada titik inilah, peneliti berada pada awal penemuan masalah penelitian sebagai proyeksi untuk meneruskan penelitiannya dan mencari cara yang digunakan untukmerancangnya.[6] Titik awal yang menjadi proyeksi tersebut akan menggiring peneliti mendalami konteks masalah penelitiannya, mempertajam masalahnya, tujuan sekaligus mendalami kegunaan penelitiannya.
Agar menjadi lebih jelas, pemahaman studi pendahuluan sebagai perspektif proses kerja perlu dilengkapi dengan perspektif hasil. Yaitu, memahami studi pendahuluan berdasarkan sistematika penulisan ilmiah termasuk dari teori-teori yang menjelaskan tentang pendahuluan dalam karya ilmiah. Perspektif ini memaknai studi pendahuluan dari sudut sistematika penelitian yang telah tertulis baik dalam proposal maupaun laporan penelitian. Untuk membedakan dari perspektif pertama, selanjutnya disebut “pendahuluan”, tanpa “studi”. Dalam asumsi penulis, sebagian besar isi penduhuluan yang menjadi sistematika karya ilmiah itu adalah penuangan tertulis dari studi pendahuluan.
Perspektif ini secara langsung akan memberikan contoh nyata dari para peneliti yang telah melakukan penelitian dan menuliskannya menjadi bab pendahuluan dalam laporan penelitian mereka. Dalam literatur penulisan laporan penelitian, ada istilah textual mentoring.[7] Yaitu: belajar dari teks bacaan yang bisa dimanfaatkan menjadi cara belajar atau model menulis laporan bagi seorang peneliti.
Dalam berbagai penjelasan tentang penulisan laporan ilmiah, pembahasan tentang pendahuluan itu juga diteorikan. Jack R. Fraengkel dan Norman E. Wallen menerangkannya dalam kaitan dengan penulisanproposal penelitian. Bagi keduanyaproposal mengkomunikasikan niat peneliti, tujuan apa yang diniatkan peneliti, seberapa pentingnya penelitian itu berikut langkah-langkah terencana melaksanakan penelitian tersebut. Dalam proposal, masalah penelitian dikaji, pertanyaan dan hipotesis dinyatakan, variabel-variabel diidentifikasi dan istilah-istilah dijelaskan. Proposal dengan demikian, adalah rencana penelitian yang tertulis. Proposal menyatakan dengan detail apa yang dimau peneliti dalam penelitiannya[8]. Untuk bisa mengkomunikasikan itu semua dengan shohih, tidak pelak, studi pendahuluan perlu dilakukan. Hasil studi pedahuluan itulah yang ditulis untuk menyusun pendahuluan.
Sebagai kerangka awal, pendahuluan adalah langkah awal untuk membuat keputusan tentang isu, topik agar menjadi masalah yang akan diteliti. Keputusan yang harus didasarkan pada strategi dengan mempertimbangkan pada ketersediaan waktu, keterjangkauan data, sumber-sumber pendukung yang tersedia baik manusia maupun benda tidak terkecuali data semacam apa yang akan dianalisis.[9]
Pemahaman Fraenkel musti dilegkapi dengan pemahaman Moh Nazir. Menurut  wawasan Nazir, pendahuluan menjelaskan tentang masalah penelitian, ruang lingkup termasuk pentingnya penelitian baik secara teoritis maupun praktis. Di dalam pendahuluan, peneliti juga menguraikan langkah-langkah strategis yang akan ditempuh dalam memecahkan masalah. Pendahuluan ini adalah bab depan  dalam laporan penelitian[10].
Bagaimana menuliskannya? McMillan memberikan penjelasannya. Menurutnya, pendahuluan selalu memuat  pernyataan tentang masalah penelitian. Masalah itu awalnya bersifat umum selanjutnya menfokus menjadi khusus. Pernyataan yang bersifat umum dipaparkan di awal laporan. Pernyataan yang khusus, sementara itu diuraikan di akhir-akhir paragraf[11].
Dalam penulisan proposal dan laporan penelitian, keduanya sama-sama diawali dengan bab pendahuluan. Bedanya, laporan penelitian menguraikan apa yang sudah dikerjakan alih-alih rencana yang akan dilakukan sebagaimana dalam proposal. Laporan penelitian mencakup hasil aktual dari penelitian berikut hasil diskusi dan kajian tentang hasil-hasil tersebut.
Mengingat studi pendahuluan adalah ancangan awal atau proyeksi tentang bagaimana masalah penelitian itu akan diteliti, maka sebelum menuangkannya dalam proposal,studi pendahuluan sudah bisa dilakukan. Selama proses menyusun proposal pun, studi pendahuluan juga bisa terus berlangsung untuk mengoreksi, menvalidasi isi dan materi dan masalah penelitian yang sedang dikaji dan akan diteliti.
Dalam tahapan penelitian, Beberapa penulis menempatkan studi pendahuluan dilakukan sebelum merumuskan masalah. Andi Prastowo berpendapat bahwa studi pendahuluan dilakukan setelah seorang peneliti menemukan masalah dan berminat kuat untuk mengkajinya.[12]Sementara bagi pemakalah studi pendahuluan bisa terus dilakuan bersamaan penemuan masalah dan  bisa dilakukan sampai pada penulisan proposal penelitian selesai ditulis. Bukankah selama itu, semua peneliti terus melakukan pengkajian, mengoreksi, mengedit, mereview semua aspek penelitian sebelum ia beraksi melakukan proses penelitian.

Aspek-Aspek dalam Studi Pendahluan
Dengan melakukan studi pendahuluan, seorang peneliti akan memiliki ancangan yang jelas tentang keberlanjutan masalahpenelitiannya. Ancangan penelitian memberi koridorpeneliti menelusurimasalah penelitiannya itu agar bisa ditarik dalam garis disiplin keilmuannya menjadi lebih jelas dan terbuka. Berdasar pengetahuannya pada masalah, peneliti bisa mengembangkannya agar masalah tersebut terkontruksi menjadi lebih kongkrit, spesifikdan akurat.
Untuk itu, studi pendahuluan membutuhkan panduan atau arah. Panduan itu bisa berupa kerangka yang mensistematisasi peneliti dalam menuangkan gagasan dan ide tentang masalah dalam alur penulisan yang runtut dan sistematis. Alur penulisan yang runtut dan sistematis mengharuskan peneliti bisa menulis kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf menjadi teks yang padu dan berkaitan. Sistematika pendahuluan dalam bab awal proposal atau laporan penelitian itu bisa menjadikerangka berpikir atau nalar peneliti yang melakuan studi pendahuluan terhadap masalah yang diteliti.
Pemahaman ini mengandaikan bahwa, studi pendahuluan dilakukan ketika peneliti telah menangkap sebuah fenomena sebagai masalah sampai mengatarkannya pada perumusan masalah. Untuk bisa mengantarkan sampai pada masalah penelitian  yang terumuskan secara jelas dan lugas, ada aspek-aspek yang dilibatkan dan dijabarkan dalam studi pendahuluan oleh peneliti. Aspek-aspek itu adalah aspek masalah, aspek sumber daya pendukung dan aspek literer.
Sebagaimana dijelaskan Arikunto, tiga ranah yang disasar dalam studi pendahuluan adalah: 1) kajian literatur, 2) kajian pada orangatau pihak yang bisa mendukung, dan 3) kajian pada tempat[13]. Kajian pada literatur adalah upaya menelaah karya, tulisan yang telah ditulis peneliti terdahulu. Kajian pada orang, sementara itu, menanyakan orang-orang yang dianggap kompeten atau memiliki otoritas keilmuan yang bisa memberi bantuan untuk memudahkan penelitian yang sedang dirancang. Yang perlu digarisbawahi, studi literatur maupun kajian pada orang yang bisa mendukung penelitian adalah pemilihan pada literatur yang sebidang searea keilmuan atau satu disiplin keilmuan dan memilih orang yang ahli di bidang itu harus diprioritaskan. Misalnya, masalah yang diteliti adalah kebijakan kurikulum pendidikan agama. Maka tidak pelak, literatur-literatur yang dikaji dan orang atau pihak yang diteliti berkaitan, berdekatan, dan memahami isu, masalah kebijakan pendidikan agama Islam.
Mengkaji tempat penelitian juga tidak kalah penting. Seberapa strategis tempat itu, seberapa unik dan khas tempat itu berkaitan dengan masalah penelitian, akan terkuak dengan mengkaji tempat itu.Mengkaji tempat selain memberikan data-data primer juga memberikan wawasan pada peneliti tentang strategi yang dilakukan di tempat itu. Tempat yang akan dituju penelitian apakah tempat itu mudah, sulit dijangkau akan terpetakan dengan melakukan studi pendahuluan pada tempat.
Di zaman teknologi digital sekarang ini, tidak kalah penting dari tiga sasaran yang dikemukakan oleh Arikunto di atas, adalah mengeksplorasi dunia melalui akses internet. Akses internet sangat adekuat membantu peneliti melakukan studi pendahuluan. Tentu saja kemampuan akses internet dan tingkat kemelekan pada dunia digital tersebut sangat mempengaruhi efektifitas pemanfatan sumber-sumber digital di dunia maya.
Dengan akses internet peneliti akan diringankan dari segi biaya. Ases internet tentu lebih murah sekaligus dapat melengkapi studi pendahuluan yang dilakukan secara langsung. Pemanfatan internet juga meniscayakan kecepatan dalam memperoleh data. Akses internet dalam rangka mendukung kajian pustaka juga mampu menampilkan data yang terbaca dan siap di-print out. Tidak berhenti pada batas ini, internet juga mampu menyediakan data secara simultan. Contoh,  seorang peneliti ingin meneliti efek games online bagi perilaku remaja. Dengan internet, peneliti tersebut bisa menelusuri konsep games online, perilaku dan remaja sekaligus. Borg menyebut keuntungan akses internet itu dengan: 1) biaya murah (low cost), 2) kecepatan (speed), 3) keterbacaan (provide printout), dan 4) jangkauan yang simultan (permit simultanious search)[14]

Keterkaitan Studi Pendahuluan dengan Masalah Penelitian
Aspek-aspek dalam studi pendahuluan itu akan semakin bermakna jika memiliki daya guna atau jika diumpamakan tarian, bisa dikoreografikan[15] secarakohesif dan padu dengan masalah penelitian. Kohesif dan padu artinya ada keterkaitan dan tidak terpisah-pisah. Artinya, semua aspek  dalam studi pendahuluan merupakan alur pemikiran atau gagasan yang padu dan sepadan dan tidak berdiri sendiri-sendiri. Semuanya membentuk menjadi entitas kesatuan yang mempertegas masalah penelitian. Untuk mempertegas koreaografi aspek-aspek studi pendahuluan, sistematika bab pendaduluan bisa dimanfaatkan.
Dengan demikian, latar belakang atau kontekstualisasi masalah penelitian harus dikuakkan dan dipaparkan. Tidak berhenti pada tahap ini, tujuan penelitian dan manfaat penelitian juga bermanfaat mengarahkan studi pendahuluan bisa ditemukan seiring dengan semakin fokusnya masalah penelitian yang dikaji. Keterkaitan studi pendahuluan dengan masalah dalam penelitian dapat dindikasikan dengan: 1) studi pendahuluan menjadi langkah awal atau ancangan menelaah masalah, sekaligus, 2) menyesuaikan dengan kerangka yang mensistematisasi masalah dalam penelitian ilmiah.
Studi pendahuluan kemudian harus bisa memberi manfaat peneliti dalam melokalisir masalah penelitiannya, gagasan dan materi yang diperlukan dalamorganisasi bab pendahuluan. Dalam rangka itu, sistematika pendahuluan dalam laporan penelitian: skripsi, tesis, disertasi atau makalah untuk jurnal ilmiah perlu dipahami. Sistematika lazimnya terdiri: 1) latar belakang masalah 2) masalah penelitian, 3) tujuan penelitian, 4) manfaat penelitian. Dengan memahami sistematika ini, studi pendahuluan bisa diarahkan. Maka di satu sisi studi pendahuluan yang dilakukan peneliti, paling tidak bisa memberi asupan isi atau materi yang dibutuhkan untuk mendukung kompoisisi pendahuluan. Di sisi lain, memahami sistematika melokalisir arah studi pendahuluan yang dilakukan sekaligus menjadi penunjuk keterkaitan aspek-aspek studi pendahiluan dengan masalah.
Berdasar uraian ini, maka memahami organisasi ide, sistematisasi pendahuluan dalam proposal atau laporan penelitian berikut pedomannya juga menjadi penting untuk melengkapi pemahaman yang  komprehensif pada studi pendahuluan yang dilakukan peneliti.
Moh. Nazir, dengan mengutip  P.V Young, memaparkan sistematika penulisan laporan ilmiah dalam ilmu-ilmu sosial. Sistematika pendahuluan yang ia tawarkan memuat masalah penelitian, ruang lingkup penelitian, pentingnya penelitian. Dalam penelitian masih menurut Nazir, dipaparkan cara mengorganisir materi-materi dalam laporan[16]. Sistematika tersebut bisa saja berbeda-beda antara perguruan tinggi yang satu dengan yang lain. Masing-masing perguruan tinggi bisa jadi memiliki pedoman penulisan laporan ilmiah yang berbeda[17]. Dalam penulisan makalah, tesis dan disertasi, IAIN Sunan Ampel Surabaya juga memilliki pedomanya sendiri.[18] Perbedaan itu terdapat pada urutan sub judul atau penanmaan sub judul. Namun demikian perbedaan itu tetap saja membuat subtansi aspek-aspek yang sama.
Sistematika penulisan pendahuluan dalam makalah pada jurnal ilmiah juga berbeda dari pendahluan pada tesis dan disertasi. Pendahuluan dalam penulisan makalah jurnal ilmiah dimampatkan jauh lebih singkat daripada sistematika tesis dan disertasi. Namun fungsinya sama, yaitu  mengantarkan pembaca pada masalah dan inti penelitian.
Penulisan pendahuluan boleh berbeda. Akan tetapi aspek-aspek yang mendasari dalam studi pendahuluan akan selalu sama, yaitu:  masalah yang ditemukan, kajian literer, diskusi dengan ahli, sumber daya pendukung dalam studi pendahuluan. Sama terutama dalam kaitannya dengan merasionalisasi masalah menjadi rumusan masalah. Aspek-aspek ini lalu didadayagunakan dengan kriteria ilmiah agar menjadi sistematika pendahuluan berupa: latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan tinjauan pustaka.
Latar belakang adalah titik tolak pembahasan yang berupaya merasionalisasi mengapa masalah penelitian itu ada dan dimunculkan peneliti. Dengan latar belakang, peneliti mengkomunikasikan bahwa masalah yang diteliti memang urgen, signifikan dan relevan. Dengan membaca latar belakang, sebelum mencerna rumusan masalah, pembaca diajak memikirkan masalah dengan tidak kehilangan konteks masalah. Ulasan dalam latar belakang masalah tidak lain adalah upaya kontekstualisasi masalah penelitian. Latar belakang yang baik menjelaskan dengan tajam dan tepat tentang di mana letak masalahnya dan bagaimana masalah itu terjadi. Dengan memberikan latar belakang, peneliti mengantarkan pembaca pada masalah yang akan diteliti.
Masalah penelitian adalah masalah yang akan dicari jawabannya melalui penelitian. Dalam proyek penelitian ilmiah, masalah penelitian dirumuskan dengan kalimat tanya. Menggunakan kalimat tanya merupakan cara yang efektif merumusan masalah penelitian agar lebih jelas dan spesifik. Masalah bisa jadi ada segala sesuatu yang menyangkut ketikapuasan sesorang, kesulitan yang dihadapi, jarak antara yang diinginkan dengan realitas nyata yang dihadapi atau kondisi yang harus diubah, atau sesuatu yang tidak berfungsi dengan baik adanya. Namun agar masalah ilmiah bisa dinilai baik, ada beberapa kriteria. Menurut Jack R. Fraenkel dan Norman E Wallen ada empat kriteria pertanyaan dikategorikan baik, yaitu: feasible (terjangkau), clear (jelas), significant(bermakna), etichal(sesuai etika).[19]
Sebuah masalah dalam penelitian dikatakan terjangkau jika bisa diinvestigasi berdasarkan pertimbangan keterjangkauan waktu, tenaga dan biaya. Masalah penelitian dikatakan jelas, jika pembaca atau masyarakat sepakat tidak bahwa mereka merasa kebingungan dengan kata kunci yang digunakandalam rumusan masalah tersebut. Masalah penelitian akan menjadi bermakna, jika masalah yang didukung peneliti itu memberi akan kontribusi bagi pengembangan keilmuan. Di samping itu sebuah masalah menjadi sesuai etika, jika tidak berdampak pada kerusakan psikologi, fisik dan lingkungan jika dilakukan penelitian[20].
Tujuan penelitian menyatakan pembahasan atau upaya menjawab masalah penelitian. Tujuan penelitian juga menyatakan dengan kalimat lugas yang memberi kerangka akan arah penelitian. Dengan menyatakan tujuan penelitian akan tergambar ketertarikan peneliti pada bidang yang ditekuni dan itu dianggap penting.
Dalam pendahuluan juga dijelaskan pentingnya penelitian terhadap masalah yang diangkat peneliti. Pentingnya penelitian itu biasa diistilah dengan manfaat penelitian. Manfaat penelitian baik secara teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis maksudnya penelitian tersebut memberi kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, memperkaya teori atau memberikan sudut pandang dan perspektif baru yang belum dihasilkan penelitian-penelitiansebelumnya. Satu misal, penelitian tentang perilaku negatif siswa dengan orang tua yang sibuk berkarir. Hasil penelitian terdahulu menjelaskan bahwa anak-anak menjadi generasi parentless. Perilaku buruk mereka ditunjukkan dengan cara mengisi waktu kosong dengan banyak melihat TV dan bermain games. Mereka menjadi generasi yang egois punya inisiatif bersosial dengan tetangga. Mereka hanya akrab dengan sesama teman tanpa banyak peduli dengan tetangga sekitar mereka. Hasil penelitian menjelaskan sikap itu terbentuk karena lemahnya pendampinganorang tua. Mereka memiliki orang tua, tetapi perhatian orang tua yang lemah, abai, sibuk dengan urusan bisnis,karir dan kerja, menjadikan anak mereka terlantar. Penelitian berikutnya melihat subjek yang sama tetapi dengan mengkajidari sudut relasi teman sebaya atau pertemanan mereka. Ternyata, perilaku negatif yang ditunjukkan anak-anak tersebut, itu tidak sajakarena faktor parentless, tetapi teman-teman sebaya dan sepermaian yang cenderung berperilaku sama memperkuat perilaku negatif.
Manfaat secara praktis, sementara itu, manfaat yang bisa ditindaklanjuti dalam praktik baik oleh institusi untuk membuat kebijakan yang lebih baik atau praktisi untuk melakukan best practice. Sebagai contoh, masih soal anak-anak yang berperilaku negatif dalam memanfaatkan waktu luang. Bagi sekolah atau pranata pendidikan lain, berdasarkan hasil penelitain tersebut, akan mengembangkan program atau kebijakan yang mengarahkan atau meminimilasi perilaku negatif tersebut dengan mengadakan parenting class, atau mendesain kegiatan siswa agar bisa memanfatatkan waktu libur mereka dengan lebih baik.
Untuk mendapatkan gambaran tentang masalah perilaku negatif anak-anak sebagaimana diuraikan di atas dan peneliti bisa melanjutkan pada penelitian, peneliti tidak bisa perlu melakukan studi pendahuluan.
Sebuah contoh nyata dilakukan seorang guru bahasa Indonesia yang ingin meningkatkan kemampuan menulis drama pada siswanya dan ia terinspirasi dengan iklan-iklan di TV, maka ia membuat judul Penelitian Tindakan Kelas (PTK): Pemanfaatan Iklan Drama sebagai Upaya Peningkatan Kompetensi Menulis Drama pada Siswa Kelas VII SMP Al Hikmah Surabaya. Ia menyusun pendahuluan sebagai berikut.
Latar Belakang
Kompetensi atau keterampilan berbahasa adalah tujuan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di jenjang pendidikan menengah. Di jenjang pendidikan menengah, kompetensi berbahasa lebih utama diajarkan daripada penguasaan ilmu bahasa (linguistik). Dalam pembelajaran kompetensi berbahasa ada empat kompetensi berbahasa, yaitu: membaca, menulis, menyimak dan berbicara. Dalam kurikulum, pembelajaran empat kompetensi berbahasa itu dibingkai dalam dua aspek, yaitu aspek kebahasaan dan aspek kesusasteraan (Standar Kompetensi Kurikulum 2004 Dinas). Di antara empat aspek itu, menulis adalah kegiatan yang memiliki tantangan yang lebih tinggi.
-----
Maka untuk memecahkan kebuntuan tentang sedikitnya, atau minimnya kebiasaan menulis, termasuk menulis naskah drama, penelitian ini berusaha mencari solusi dengan menggunakan unsur drama yang ada dalam iklan. Dari sekian banyak iklan komersial atau iklan kemasyarakatan yang ditayangkan TV, ada unsur-unsur drama yang terkandung di dalamnya. Unsur-unsur drama itu misalnya: dialog, tokoh, pesan atau isi cerita[21].

Rumusan Masalah
  Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah: Bagaimana pembejaran iklan drama dapat meningkatkan kompetensi menulis naskah drama pada siswa kelas VII-L SMP Al Hikmah?

Tujuan

Tujuan karya tulis ini adalah: Menjelaskan pembelajaran dengan memanfaatkan drama iklan sebagai upaya peningkatan kompetensi menulis naskah drama siswa kelas VII-L SMP Al Hikmah.

Pendahuluan di atas sudah jadi. Namun bisa diperkirakan alur skema yang dilakukan guru peneliti sebelum menghasilkan pendahuluan di atas adalah sebagai berikut. Sang guru menemukan masalah: kesulitan siswa yang diajar dalam menulis naskah drama. Ia lalu mencari menggali ide, mencari literatur teori tentang drama dan teknik-teknik menulis. Ia pun mereka-reka mencari jalan yang efektif dan mudah tentang cara memberi perlakuan agar masalah miskin menulis di kalangan siswanya itu diatasi. Ia menemukannya dari iklan drama. Setelah menemukan kesamaan unsur-unsur iklan drama dengan drama pada umunya, yaitu dialog dan pemeranan, mulailah ia merumuskan masalah dengan istilah-istilah kunci untuk membuat kalimat tanya. Langkah-langkah ini tidak lain adalah studi pendahuluan.
Contoh skema lain bisa kita telusuri dari penulisan pendahuluan dari jurnal yang berbeda dari sistematika penulisan tesis dan disertasi. Dalam penulisan makalah untuk jurnal ilmiah, pendahuluan ditulis tanpa sub bab. Pendahuluan dalam jurnal penulisan jurnal ilmiah dikembangkan menjadi rangkaian demi rangkaian teks pragraf yang mengantar pembaca pada masalah penelitian.
Berikut contoh satu paragraf dari pendahuluan sebuah makalah di Jurnal IslmicaIAIN Sunan Ampel. Pendahuluan sebuah makalah berjudul Ortodoksi Sufisme K.H Shalih Darat, karya Ali Mas’ud. Makalahnya di jurnal tersebut adalah hasil edit dari disertasi S3-nya di kampus yang sama.
Pendahuluan
K.H. Shalih darat merupakan intelektual muslim pada abad ke-19 M. Ia memiliki perhatian serius terhadap keberlanjutan sufisme di Jawa. Pemikiran sufistik Shalih Darat –yang kemudian dikenal dengan ortodoksi sufisme- lebih identik dengan tasawuf puritan sebagaimana yang diinisiasikan oleh generasi awal salafisme sperti Ibnu Taimiyah. Shalih Darat sangat gigih  menolak praktik-praktik ritual Islam lokal walaupun ia juga sangat dekat dengan arus pemikiran sunii amali seperti yang diusung Abu Hamid Al Ghazali[22].

Ali Masud mengawali paragrafnya dengan memetakan kontradisi atau ketegangan sikap sufistik yang ditempuh KH. Salih Darat. Ketegangan antara arus Ibnu Taimiyah di satu sisi dengan arus Imam Al Ghazali di sisi lain. Pendahuluan yang ditulis Ali Masud dalam jurnal itu pasti berbeda dengan pendahuluan yang ditulis dalam versi disertasi doktoralnya.
Sekali lagi perlu ditandaskan pendahuluan di atas sudah menjadi makalah. Namun, berdasarkan pendahuluan yang disusun Ali Mas’ud di atas, bisa dilacak alur skema kerjanya sebelum pendahuluan di atas tertulis menjadi laporan penelitian. Terlebih dahulu, ia menemukan fenomena pemikiran sufi K.H Shalih Darat. Ia tertarik dan meminatinya. Lalu ia meletakkanya pemikirannya itu dalam konstelasi pemikiran sufi. Ia bandingkan dengan pendulum pemikiran Islam dari Gazali sampai Ibnu Taimiyah. Dari mana ia bisa mendapatkan data awal? Studi pendahluan berupa pelacakan riwayat hidup K.H Shalih Darat sampai pada pengkajian pada pemikirannya, diteruskan dengan memetakan pemikiran sufi dalam Islam. Dengan itu, ia berhasil memotret peta awal pemkiran K.H Shalih Darat dalam konstelasi pemikiran sufi. Itu semua adalah alur skema studi pendahuluan.
Untuk melakukan studi pedahuluan, di antara langkah-langkah yang bisa dilakukan adalah: 1) menemukan dan atau menentukan masalah masalah, 2) melokalisir atau mempertajam pemahaman tentang masalah baik dengan mengeksplorasi pada data primer yang ada di lapangan, maupun mendalami dari teori, buku, tulisan tentang masalah itu. 3) merumuskan masalah. 4) menemukan tujuan dan pentingnya masalah itu untuk diteliti 5) megorganisasi ide, pikiran, gagasan atau temuan agar menjadi sistematis.[23]
Langah-langkah ini bisa terus diperbaiki dan dikoreksi bersamaan dengan penulisan proposal Selagi proposal penelitian belum selesai, langkah-langkah studi pendahuluan masih terbuka untuk terus dilakukan dan diperbaiki untuk memperbaiki rencana penelitian. Salah satu contoh memperbaiki, misanya, sebagai peneliti awal seringkali kita terpengaruh dengan teori besar. Saat melakukan kajian pustaka dan menemukan teori-teori yang telah mapan, kita akan mudah mengekor. Padahal sebagai peneliti kita punya kewenangan untuk mengembangkan buah pemikiran secara otentis dan kristis asal sesuai dengan asas ilmiah.




[1]Departemen Pendidikan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, eidisi ketiga (Jakarta: Balai Pustaka, 2000), 231.
[2]Longman Dictionary of Contemporary English for Advanced Leaner, fifth edistion (Edinburg: Pearson Education Limited, 2009), 925.
[3]Joan Hardjono, Environmental Crisis in Java, Prisma, No. 39 Maret 1986 (Jakarta: LP3ES 1986), 3.
[4]James H. McMilland memakai istilahinitial reearch problem itu dalam sub judulnya Refining the Research Problem dalam bab Locating and Reviewing Related Literature. James McMilland, Educational Research: Fundamental for Consumers, fifth edition (Pearson Education, 2011), 56.
[5]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), 82-86.
[6] Soal eksplorasi dan penemuan sebagaimana dikutip Suharsimi Arikunto dari Winarno Surakhmad menemukan relevansinya. Ibid.
[7]Christine Pearson Casanave, “Writing Up Your Research”, Juanita Heigham and Robert A. Croker (ed.), Qualitative Research in Applied Linguistics: A Practical Introduction (Palgrave Macmillan, 2009), 289.
[8]Jack R Fraenkel and Norman E. Wallen, How to Design and Evaluate Research in Education (McGraw Hill Companies 2009), Fourthedition, 609.
[9]Strategi penelitian ini diterangkan dalam Andy Barnad, Terry Burgess and Mike Kirby, As Level and A Level  Sociology (Cambridge 2004),. 61.
[10]Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Bandung: Alvabeta 2003), hal 478.
[11] James H. McMillan, Educational Research:Fundamentals for The Consumers, 20
[12]Andi Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian (Jogjakarta: Ar Ruz Media, 2011), 98.
[13]Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, 82-86
[14]Walter R. Borg, Applying Educational Researh: A Practical Guide for Teachers, (Longman, 1981), 35.
[15]Istilah koreografi dalam penelitian ilmiah ini dinukil dari pengistilahan Judith Hamera, “Performance Ethnography”, Norman K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln (ed.), The Sage Handbook of Qualitative Research (Sage Publication, 2011), 317.
[16] Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia 2002), 478
[17]M. Riduan memberikan contoh-contoh sisitematika proposal yang bebeda-beda antarberbagai perguruan tinggi di Indonesia. M. Riduan, Teknik dan Metode Penulisan Proposal, (Bandung: Alfabeta 2012),
[18]Buku Pedoman Penulisan Makalah, Proposal, Tesis, dan Disertasi Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya (Surabaya: Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2011), 1-2.
[19] Jack R Fraenkel and Norman E. Wallen, How to Design and Evaluate Research in Education, 609.
[20]Jack R. Fraenkel dan Norman E. Wallen, How to Design and Evaluate Research in Education, 30.
[21]Dukutip dari Penelitian Tindakan Kelas karya Fauridah yang diajukan untuk mengikuti Lomba LKIG LIPI 2012 (Tidak terbit).
[22]Ali Masud, “Ortodoksi Sufisme K.H. Shalih Darat”, Islamica Vol.7, No. 1 (Surabaya: Pascasarjana IAIN Sunan Ampel, September 2012), 24-25.
[23]Walter R. Borg, Applying Educational Research: A Practical Guide for Teachers, 12.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANGGAPAN DASAR DAN HIPOTESIS

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP STUDI QURAN

AL- JARH WA AT-TA’DIL (ADIL DAN CACAT PERAWI HADIST)