STUDI PENDAHULUAN

PENDAHULUAN
            Mahasiswa pecinta alam (MAPALA) akan melakukan ekspedisi menjelajah alam, salah satu agendanya adalah mendaki gunung dengan ketinggian dan kecuraman yang sangat menantang, tujuannya adalah hanya sekedar menancapkan dan mengibarkan sang saka (bendera kebanggaan Indonesia merah putih), kata hanya sekedar bagi kalangan tertentu mungkin tidak ada guna dan manfaatnya, tapi bagi MAPALA tersebut merupakan tujuan mulia yang prestisius. Kegiatan tersebut taruhannya adalah nyawa, dengan demikian analisa dan pengamatan yang mendalaman, tak-tik stategi yang jitu, kondisi alam pada saat itu juga menjadi pertimbanagan agar tidak terjadi sesuatu yang fatal yang tidak diinginkan, sebagai langkah awal sebelum menempuh perjalanan. Mereka tidak hanya sekedar berbekal mental saja, tapi fisik dan finansial mesti dipersiapkan dengan matang, agar berhasil tujuan yang hendak dicapai.

Analogi kegiatan MAPALA di atas sudah sangat gamblang dan cukup untuk menggambarkan, bahwa seorang peneliti dalam bidang keilmuan mesti melakukan kajian mendasar dan strategis sebelum melakukan tahap-tahap penulisan sebagai bentuk laporan yang tersistematis. Analisa masalah, tempat, waktu dan fasilitas bahkan biaya mesti harus diperhitungkan dengan matang. Dalam kajian ini sangat diperlukan adanya data-data atau penelitian terdahulu yang bisa mendukung proses penyelesaian penelitian, dari penelitian terdahulu tersebut kemudian bisa mengetahui faktor-faktor yang menghambat dan yang mendukung proses penyelesaian penelitian.[1]Tidak kalah pentingnya tujuan umum melakukan penelitian tersebut harus jelas pada tahap ini sebelum digambarkan tujuan yang lebih khusus dalam bentuk karya tulis Ilmiah.
            Lingkungan perguruan tinggi, institut maupun universitas beserta semua akademisi lainnya, merupakan lembaga dimana para praktisi (stake holders) yang berada didalamnya punya tanggung jawab moral dan memiliki fungsi untuk mengembangkan keilmuan (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi / IPTEK). Berbagai cara dapat dilakukan untuk meningkatkan dan memajukan IPTEK termasuk salah satunya adalah melalui proses penelitian. Penelitian ilmiah yang memiliki validitas data yang konkrit dan terpercaya.
            Langkah awal kajian studi pendahuluan dalam sebuah penelitian tidak pernah terlepas dari kegelisahan peneliti terhadap masalah yang diamati. Masalah adalah merupakan dasar untuk memulai suatu penelitian.[2]Penelitian yang akurat berawal dan berasal dari adanya fenomena unik dalam masyarakat (masalah) yang kemudian dikaji secara mendetail, sehingga menghasilkan teori ataupun konsep yang baru. Setiap permasalahan yang dihadapi pasti ada suatu sebab yang mengakibatkannya (hubungan kausalitas), penyebab permasalahan, cara sikap dan mengatasinya itulah yang kemudian bisa dijadikan sebagai konsep dan kemudian bisa dikembangkan lagi dengan pengkajian dan pengamatan yang lebih mendalam sehingga menghasilkan sebuah teori yang benar dan akurat.
            Henys dan Berkowits (1949) dalam Moh. Nazir menyatakan, mereka membagi pengamatan pemecahan masalah dalam 12 kategori: (1) penetapan tujuan, yaitu tujuan yang hendak dicapai oleh peneliti terhadap masalah yang akan diteliti (2) pencarian keterangan, yaitu mencari dan mendapatkan gambaran dan informasi secara mendasar dari suatu maslah  (3) pengajuan pemecahan, yaitu solusi yang ditawarkan pada masalah yang akan diteliti (4) pemberian pengembangan, yaitu memberikan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi sebagai dampak dari permasalahan yang di angkat (5) kesetujuan, yaitu persetujuan antara pihak peneliti dengan yang diteliti (6) memberi ikhtisar, yaitu memberikan gambaran singkat yang mencakup makna dari masalah yang hendak diteliti (7) pengajuan masalah, yaitu mengajukan masalah yang berkembang dari masalh yang akan diteliti (8) pemberian keterangan (9) pencarian pengembangan (10) penolakan (11) mencari ikhtisar (12) pengarahan diluar masalah.[3]
            Setiap penelitian pasti didahului dengan masalah-masalah yang berkembang di masyarakat. Penulisan ilmiah (penelitian ilmiah) pasti diawali dengan menjabarkan permasalahan sebelum masuk pada pembahasan dan pengamatan yang lebih mendetail. Tidak mungkin penulis bisa melakukan penelitian tanpa adanya penjabaran dari masalah yang sudah disampaikan sebagai pendahuluan atau sebagai sebabnya.
            Namun demikian, tidak semua masalah dapat dijadikan sebagai objek penelitian, terutama karena terbatasnya para pelaksana maupun biaya, sehingga butuh perencanaan yang matang. Disamping kedua hal yang pokok di atas yang menjadi bahan pertimbangan, juga perlu dipikirkan apakah hasil penelitian itu akan bermanfaat bagi masyarakat saat ini ataukah penelitian dapat dilaksanakan sampai tuntas. Sebagai contoh misalnya, mungkin seorang peneliti tertarik untuk meneliti mengapa kaum pria dan wanita Indonesia banyak yang memilih untuk berpakaian gamis atau jubah. Namun setelah diketahui jawabannya, apakah manfaatnya bagi masyarakat? Mungkin hanya berguna bagi perusahaan pakaian jubah maupun gamis itu saja ataukah ada faktor yang esensi bagi masyarakat. Contoh kedua, peneliti akan meneliti jumlah orang yang datang ke jawa dari luar pulau atau bahkan luar negeri (pendatang) dengan berbagai tujuan yang berbeda-beda pastinya, keudian dirinci kedalam jumlah orang yang menetap, pendatang (berkunjung dalam waktu singkat atau hijrah selamanya), kemudian mendata semua dalam pembagian suku masing-masing pendatang maupun penduduk pribumi kedalam suku-suku bangsa. Dari penelitian seperti ini apakah bisa dilakukan dengan mudah dan terjangkau, terlebih diketahui bahwa pulau jawa itu sangat luas, jawa timur, jawa tengah maupun jawa barat. Maka kemudian yang menjadi pertanyaan itu apakah data itu bisa didapat dalam waktu yang relatif singkat atau sebaliknya, membutuhkan banyak waktu dan biaya atau sebaliknya.
            Kedua contoh terkemuka di atas sudah mencakup beberapa contoh yang lain bagi seorang peneliti yang akan meneliti suatu masalah. Kesukaran dan hambatan-hambatan dalam hal persediaan tenaga peneliti, uang, sarana dan pra saranabeserta bahan-bahan yang dibutuhkan, menjadi kajian yang teramat penting dari proses awal dari penelitian. Pertimbangan lainnya juga dalam menetukan masalah dalam penelitian yaitu apakah kita menginginkan penelitian yang bersifat mendasar (basic research) yaitu penelitian yang memakan waktu yang lama dan membutuhkan biaya beserta tenaga yang tinggi, sedangkan hasilnya belum segera bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, atau sebaliknya apakah mengadakan penelitian dalam pemilihan masalah yang bersifat terapan (applied research) yaitu penelitian yang tidak memerlukan biaya yang terlampau tinggi dan mempunyai tujuan praktis sehingga hasilnya dapat direkomendasikan menjadi solusi dari maslah yang terjadi pada masa kekinian dan dibutuhkan masrakat.[4]Lebih terperincinya lagi kemudian akan disampaikan dalam pembahasan yang penulis tulis dalam makalah ini.
            Kajian studi pendahuluan sangat penting sebagai suatu kran untuk mengupas permasalahan secara mendetail dan mendasar. Studi pendahuluan juga merupakan bagian yang sangat penting untuk diketahui dalam proses awal dalam penelitian.
            Dari latar belakang singkat di atas, maka dalam makalah ini penulis akan mengangkat salah satu fokus kajian dari metodologi penelitian dalam hal ini adalah studi pendahuluan yang terdiri dari pokok pembahasan sebagai berikut:
1.      Menjelaskan konsep studi pendahuluan
2.      Menganalisis tentang cakupan studi pendahuluan yang berkaitan dengan masalah penelitian
3.      Menganalisis keterkaitan antara aspek yang terdapat dalam lingkup studi pendahuluan yang berkaitan dengan masalah penelitian
Dari pembahasan di atas, maka penulis berharap bisa memberikan sumbangsih pemikiran dan data yang valid untuk kemudian dibahas lebih mendalam lagi dalam proses diskusi ilmiah, sehingga kelemahan yang terdapat dalam makalah ini dapat di perbaiki dan ditingkatkan kembali.







PEMBAHASAN

1.      Definisi dan Fungsi Studi Pendahuluan
Ada dua kata penting dalam pembahasan makalah ini, untuk diketahui terlebih dahulu sebelum pembahasan yang lebih jauh, yaitu kata “studi” dan kata “pendahuluan”, sehingga dari definisi ini harapannya bisa memahami alur dan maksud dalam pembahasan makalah ini yang mendetail dan terarah. Studi berarti penelitian ilmiah; kajian; telaahan, sedangkan pendahuluan berarti sesuatu yg mula-mula dilakukan atau permulaan, pendahuluan juga bermakna pembukaan atau kata pengantar dari sebuah pidato (buku, karangan, dan lain-lain)[5]. Dengan demikian studi pendahuluan itu adalah, pengkajian dan penelusuran awal dari sebuah masalah yang akan diteliti sebelum melakukan penelitian lebih jauh.
Beberapa fungsi dari studi pendahuluan diantaranya adalah: Pertama, memperjelas masalah yang akan dihadapi dalam penelitian dari aspek historis, hubungannya dengan ilmu yang lebih luas, situasi dewasa ini, dan kemungkinan-kemungkinan yang akan datang dan lain-lainnya. Kedua, mengetahui dengan pasti apa yang akan diteliti. Ketiga, mengetahui dimana dan kepada siapa informasi dapat diperoleh. Keempat, mengetahui bagaimana cara memperoleh data atau informasi. Kelima, dapat menentukan cara yang tepat untuk menganalisis data. Keenam, mengetahui bagaimana harus mengambil kesimpulan serta memanfaatkan hasilnya. Ketujuh, peneliti menjadi yakin bahwa penelitiannya perlu dan dapat dilaksanakan. Kedelapan, menjajaki kemungkinan dilanjutkannya penelitian, Kesembilan, mengetahui apa yang sudah dihasilkan orang lain bagi penelitian yang serupa dan bagian mana dari permasalahan yang belum terpecahkan.[6]
Sebagai pedoman perlu tidaknya atau dapat tidaknya penelitian dilaksanakan, maka peneliti harus memperhatikan empat hal:
1)      Apakah judul penelitian yang akan dilakukan benar-benar sesuai dengan minatnya? Apakah peneliti memang akan senang melaksanakan penelitian karena menguasai permasalahannya? Pertanyaan ini sangat penting untuk dijawab karena minat, perhatian, penguasaan pemecahan masalah merupakan modal utama dalam meneliti. Sebagai contoh, mula-mula peneliti berminat meneliti masalah anak yang berkelainan bicara. Sesudah mengadakan studi pendahuluan diketahui bahwa sangat sulit dalam mengumpulkan data, karena anak itu sendiri sulit untuk diajak bicara, orang tuanya juga tidak bersikap terbuka dan sangat kurang sekali literatur yang mendukung. Kemudian semangat untuk meneliti mulai mengendor. Maka dari itu, sebelum melanjutkan niatnya untuk meneliti lebih jauh lagi, sebaiknya calon peneliti mempertimbangkan kembali untuk mengangkat judul dalam permasalahan ini.
2)      Apakah penelitian ini dapat dilaksanakan? Banyak sekali faktor yang menyebabkan seorang peneliti tidak dapat melaksanakan rencananya. Faktor-faktor tersebut antara lain: kemampuan, waktu, tenaga dan dana.
3)      Apakah untuk penelitian yang akan dilakukan tersedia faktor pendukung? Data yang akan dikumpulkan harus ada. Sebagai hasil tambahan peneliti harus sudah merumuskan judul penelitian, sudah disediakan dana, sudah mengurus izin dan berhasil.
4)      Apakah hasil penelitian cukup bermanfaat? Sebagai contoh: peneliti ingin mengetahui perbedaan efektifitas pengajaran modul dibandingkan dengan pengajaran klasifikasi. Dari studi pendahuluan, yakni membaca buku-buku di perpustakaan, kemudian diketahui bahwa sudah ada beberapa laporan penelitian yang menjelaskan bagaimana efektivitas pengajaran modul, baik secara terpisah maupun dibandingkan dengan pengajaran sistem yang lain. Dengan demikian, calon peneliti sudah memperoleh jawaban atas pertanyaan walaupun belum melaksanakan penelitiannya. Dalam keadaan seperti inilah mau tidak mau calon peneliti tersebut membatalkan niatnya untuk meneliti permasalahan yang sama dan sudah ditemukan jawabannya.[7]



2.      Menjelaskan Konsep Studi Pendahuluan
Konsep merupakan abstaraksi yang terbentuk oleh generalisasai hal-hal yang bersifat khusus. Oleh karena konsep merupakan abstraksi, maka konsep tidak dapat langsung diamati maupun diukur. Konsep hanya bisa diukur dan diamati melalui konstruk atau yang lebih dikenal dengan variabel. Variabel adalah simbol atau lambang yang menunjukkan nilai atau bilangan dari konsep dan variabel adalah sesuatu yang bervariasi. Sebagai contoh misalnya, jika sosial-ekonomi keluarga adalah konsep, maka untuk mengukur sosial ekonomi keluarga adalah, melalui variabel-variabel: tingkat pendidikan, pekerjaan dan pendapatan keluarga serta stratifikasi sosial.
Konsep dalam studi pendahuluan menitik beratkan pada dua hal pokok, yaitu konsep pra penelitian dan konsep proses penelitian berlangsung. Winarno Surakhmad dalam Suharsimi Arikunto menyebutkan tentang studi pendahuluan ini dengan eksploratoris sebagai dua langkah, dan perbedaan antara langkah pertama dengan langkah kedua ini adalah penemuan dan pengalaman. Memilih masalah adalah mendalami masalah, sehingga harus dilakukan secara lebih sistematis dan intensif, selanjutnya Dr. Winarno menyatakan bahwa setelah studi eksploratoris ini, peneliti menjadi lebih jelas terhadap masalah yang dihadapi, dari aspek historis, hubungannya dengan ilmu yang lebih luas, situasi dewasa ini, dan kemungkinan-kemungkinan yang akan datang dan lain-lainnya.[8]
Konsep pertama yaitu studi pra penelitian, yaitu studi pendahuluan sebagai langkah awal dalam mengamati masalah yang akan diteliti sebelum melakukan proses penulisan hasil penelitian. Dalam konsep ini sangat diperlukan strategi dan konstruksi teori melalui data-data atau informasi-informasi dilapangan maupun data-data dari penelitian terdahulu, sehingga selain memudahkan peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut, juga memberikan informasi penting tentang masalah baru atau masalah lama yang belum terjawab dalam penelitian terdahulu.
Konsep kedua yaitu konsep proses penelitian, yaitu kegiatan nyata yang dilakukan setelah melakukan studi pendahuluan secara matang dan mendalam, kemudian segera diproses atau ditindak lanjuti pada proses penulisan proposal penelitian. Diawali dari judul yang menarik, latar belakang masalah, tujuan penelitian dan terkait dengan konten isi dari pendahuluan dalam penulisan ilmiah yang baik dan benar, yang penulis jelaskan pada pembahasan selanjutnya.

3.      Menganalisis Tentang Cakupan Studi Pendahuluan Yang Berkaitan Dengan Masalah Penelitian
Studi pendahuluan mencakup secara utuh dari permasalahan yang hendak diangkat dalam penelitian. Pengkajian secara komprehensif memberikan data dan informasi yang akurat. Pada hakikatnya, studi pendahuluan dilakukan untuk memperoleh informasi-informasi atau pengetahuan yang berhubungan dengan bidang masalah yang akan ditelitinya, guna memperkuat dan menyokong secara ilmiah terhadap penelitian yang akan dilaksanakan tersebut.
Seperti pada umumnya karya tulis ilmiah maka, proses awal yang sudah dilakukan melalui studi pendahuluan sebagai konsep awal dari studi pendahuluan, kemudian dituliskan dalam bentuk yang sangat menarik dan mudah dipahami oleh masyarakat sebagai bagian dari maka konsep kedua. Pada proses ini penulisan hasil penelitian diawali dengan pendahuluan, bagian pendahuluan seharusnya dibuat secara menarik dan menyatakan maksud dari menulis. Kalimat-kalimat pada bagian pendahuluan karangan, selain disusun secara menarik agar pembaca tertarik pada tulisan yang dibuat, juga perlu dicantumkan maksud penulisan. Hal ini berarti bahwa pada bagian awal perlu diungkapkan permasalahan dan latar belakang masalah dari suatu pemikiran yang diungkapkan dalam penulisan karangan ilmiah.[9]Pendahuluan terdiri dari: Latar belakang masalah, Fokus penelitian (masalah dan pembatasan penelitian) dan tujuan, kegunaan / prospek penelitian[10]

3.1. Latar Belakang Masalah
William Asher dalam Suharsimi Arikunto berkata: If man is not aware of what has been learned in history, it is said he is bound to repeat the experiences. Masalah-masalah pendidikan yang kita dapati sekarang ini bukan seluruhnya masalah baru, atau bahkan boleh dikatakan masalah-masalah yang lama sering muncul kembali dalam keunikan yang lain.[11]
Masalah adalah suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang menimbulkan tanda-tanya dan dengan sendirinya memerlukan upaya untuk mencari sesuatu jawaban (Guba, 1978; 44; Lincoln dan Guba, 1985: 218; dan Guba Lincoln, 1981: 88 dalam Lexy J Moleong)[12]
Makna suatu penelitian sangat ditentukan oleh sumbangannya dalam pemecahan suatu masalah (Problem). Karena pemecahan masalah menjadi referensi dasar dari suatu penelitian, maka segala kegiatan dalam penelitian akan selalu merujuk kepada pemecahan masalah tersebut. Maka dalam laporan hasil penelitian selalu didahului dengan pernyataan mengenai latar belakang masalah.
Masalah itu ada kalau terdapat kesenjangan (gap) antara apa yang seharusnya dengan apa yang ada dalam kenyataannya. Sutrisno Hadi, 1991 dalam Ida Bagoes Mantra menyatakan, mendefinisikan permasalahan berarti mengidentifikasikan keadaan yang masih dianggap kurang baik yang perlu dibenahi.[13]
Pada bagian latar belakang ini, para ahli juga mengatakan sebagai tempat untuk mengemukakan hasil studi pendahuluan, dalam rangka memversivikasi masalah penelitian. Agar nanti dapat diajukan permasalahan yang telah dibahas dari segala kemungkinan dan pada akhirnya akan sampai kepada pembatasan masalah yang akan diteliti.[14]
Sebelum seorang peneliti dapat merumuskan suatu masalah, dan kemudian untuk selanjutnya dipaparkan dalam pendahuluan pada bagian latar belakang masalah, maka seorang peneliti tersebut terlebih dahulu harus mengidentifikasi dan memilih masalah itu. Seorang peneliti harus mencari masalah yang memiliki ciri-ciri yang baik, dan peneliti tersebut harus mengetahui sumber serta tempat mencari masalah tersebut.
Ciri-ciri dari masalah yang baik untuk dijadikan sebagai sumber pada latar belakang penelitian. Pertama, Masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. Kedua, Masalah yang dipilih harus mempunyai fisibilitas. Ketiga, Masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi seorang peneliti.[15]
Pertama, masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian, yaitu mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. Masalah akan memiliki nilai penelitian jika hal-hal berikut diperhatikan:
a)      Masalah haruslah mempunyai keaslian, yaitu masalah yang dipilih haruslah mengenai hal-hal yang up to date dan baru.
b)      Masalah harus menyatakan suatu hubungan , yaitu Masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua variabel. Masalah harus padat, definitif dan dapat dinyatakan dalam beberapa hipotesa alternatif. Masalah dapat saja mengenai hubungan antara fenomena-fenomena alam, atau lebih khas lagi, mengenai kondisi-kondisi yang mengontrol fakta-fakta yang diamati. Selanjutnya, pemecahan masalah tersebut dapat dipergunakan sebagai dasar untuk mengetahui dan mengontrol fenomena-fenomena yang sedang diteliti.
c)      Masalah harus merupakan hal yang penting, yaitu masalah yang dipilih harus mempunyai arti dan nilai, baik dalam bidang ilmunya sendiri maupun dalam bidang aplikasi untuk penelitian terapan.
d)     Masalah harus dapat diuji, yaitu masalah harus dapat di uji dengan perlakuan-perlakuan serta data dan fasilitas yang ada. Sekurang-kurangnya, masalah yang dipilih harus sedemikian rupa sehingga memberikan implikasi untuk kemungkinan pengujian secara empiris.
e)      Masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan, yaitu masalah harus dinyatakan secara jelas dan tidak membingungkan dalam bentuk pertanyaan.[16]
Kedua, Masalah harus fisibel, masalah yang dipilih harus mempunyai fisibilitas, yaitu masalah tersebut dapat dipecahkan. Ini berarti:
a)      Data dan metode untuk memecahkan masalah harus tersedia
b)      Biaya untuk memecahkan masalah secara relatif dan harus dalam batas-batas kemampuan
c)      Waktu untuk memecahkan masalah dengan cara yang wajar
d)     Biaya dan hasil harus seimbang
e)      Administrasi dan sponsor harus kuat
f)       Tidak bertentangan dengan hukum dan adat[17]
Ketiga, Masalah harus sesuai dengan kualifikasi peneliti, dalam hal ini masalah yang dipilih dalam penelitian memiliki nilai:
a)      Menarik bagi seorang peneliti, yaitu masalah yang dipilih harus menarik bagi seorang peneliti sendiri dan cocok dengan bidang kemampuannya
b)      Cocok dengan kualifikasi ilmiah seorang peneliti, yaitu masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi peneliti sendiri. Dengan kata lain, sukar mudahnya masalah yang ingin dipecahkan harus sesuai dengan derajat ilmiah yang mempunyai derajat peneliti.[18]
3.2. Fokus Penelitian (Masalah dan Pembatasan Penelitian)
Pembatasan masalah dalam penelitian sebenarnya dapat juga dikemukakan dalam tiang tersendiri dari usul penelitian. Tetapi sebetulnya lebih baik hal tersebut dikemukakannya pada bagian latar belakang juga, hanya saja dalam mengemukakannya tentu dengan menggunakan suatu argumentasi yang kuat. Pembatasan masalah ini dimaksudkan, agar peneliti membatasi ruang lingkup penelitiannya secara tegas dan jelas. Sehingga dapat diketahui secara terperinci masalah yang akan diteliti, dan tidak akan menjadi semakin luas dan kabur. Tapi akan menjadi lebih jelas dan spesifik dan akan membantu peneliti mengarahkan sasaran kerjanya.[19]
Ada dua maksud tertentu yang ingin peneliti capai dalam merumuskan masalah penelitian dengan jalan memanfaatkan fokus. Pertama,penetapan fokus dapat membatasi studi. Sebagai suatu gambaran misalnya, jika kita membatasi diri pada upaya menemukan teori dari dasar, maka lapangan penelitian lainnya tidak akan dimanfaatkan lagi. Kedua, penetapan fokus itu berfungsi untuk memenuhi kriteria inklusi-eksklusi atau kriteria masuk keluar suatu informasi yang baru diperoleh di lapangan. Dengan bimbingan dan arahan suatu fokus, seorang peneliti mengetahui persis data mana dan data tentang apa yang perlu dikumpulkan, dan data mana pula yang walaupun mungkin menarik, karena tidak relevan dengan yang dibahas atau diteliti, maka tidak perlu dimasukkan kedalam sejumlah data yang sedang dikumpulkan. Jadi, dengan penetapan fokus yang jelas dan akurat, seorang peneliti dapat membuat keputusan yang tepat tentang data mana yang dikumpulkan dan data mana pula yang tidak perlu dijamah ataupun data mana yang akan dibuang.[20]
3.3. Tujuan, Kegunaan / Prospek Penelitian
            Tujuan suatu penelitian ialah upaya untuk memecahkan masalah. Kegunaanya adalah sebagai solusi dari masalah yang bisa ditawarkan pada masyarakat dan bisa dipertanggung jawabkan. Penelitian yang baik adalah penelitian yang mengahasilkan teori dan konsep dalam memecahkan masalah dan menghasilkan beberapa masalah yang baru untuk diteliti kembali oleh seorang peneliti.

4.      Menganalisis Keterkaitan Antara Aspek Yang Terdapat Dalam Lingkup Studi Pendahuluan Yang Berkaitan Dengan Masalah Penelitian
Dari pemaparan di atas maka penulis sampaikan gambaran sederhana, bahwa studi pendahuluan yaitu suatu langkah paling awal yang dilakukan oleh seorang peneliti sebelum melangkah lebih jauh untuk melakukan penelitian. Persiapan dalam segi data, dana dan tenaga yang maksimal dalam mengkaji suatu masalah yang akan diteliti harus dipertimbangkan dengan teliti dan seksama (planing yang akurat untuk melakukan kajian masalah), kemudian harapannya penelitian ini bisa memperoleh hasil “temuan baru” dan tidak berhenti pada awal, pertengahan maupun akhir dari proses penelitian.
Sumber pengumpulan informasi untuk mengadakan studi pendahuluan ini dapat dilakukan pada 3 objek. Ketiga objek yang dimaksud adalah apa yang harus dihubungi, dilihat dan diteliti atau dikunjungi yang kira-kira akan memberikan informasi tentang data yang akan dikumpulkan. Ketiga objek tersebut berupa tulisan-tulisan dalam kertas (Paper), manusia (Person) dan tempat (Place).
Pertama, Paper; dokumen, buku-buku, majalah atau bahan tertulis lainnya, baik berupa teori, laporan penelitian atau penemuan sebelumnya (findings). Studi ini juga disebut dengan kepustakaan atau literatur studi. Dalam literatur studi ini yang menjadi titik tekan adalah pengumpulan data atau sumber bacaan untuk memperkuat seorang peneliti yakin dengan apa yang akan diteliti. Diantara sumber bacaan yang dimaksud diantaranya adalah: 1. Buku teks (text book), yaitu tulisan ilmiah yang dijilid rapi yang diterbitkan dengan interval yang tidak tentu, 2. Jurnal, yaitu majalah ilmiah yang berisi tulisan ilmiah atau hasil-hasil seminar yang diterbitkan oleh himpunan profesi Ilmiah, 3. Periodical, yaitu majalah ilmiah yang diterbitkan secara berkala oleh lembaga-lembaga baik pemerintah atau swasta yang berisi hasil penelitian yang dikerjakan, 4. Yearbook, yaitu buku mengenai fakta-fakta dan statistik setahun yang diterbitkan tiap tahun oleh lembaga pemerintah atau swasta, 5. Buletin, yaitu tulisan ilmiah pendek yang terbit secara berkala yang berisi catatan-catatan ilmiah ataupun petunjuk-petunjuk ilmiah tentang satu kegiatan operasional, 6. Circular, yaitu tulisan ilmiah pendek dan praktis biasanya dikeluarkan oleh lembaga negara atau swasta seperti universitas, lembaga penelitian, dinas-dinas dan sebagainya. Circular diterbitkan tidak dengan interval tertentu, 7. Leaflet, yaitu karangan kecil yang sifatnya ilmiah praktis, 8. Annual Review, yaitu ulasan-ulasan tentang literatur yang telah diterbitkan selama setahun atau beberapa tahun yang lampau.[21]
Kedua, Person; bertemu, bertanya dan berkonsultasi dengan para ahli atau manusia yang menjadi sumber. Pada objek yang kedua ini, seorang calon peneliti melakukan sebuah konfirmasi dan kontak langsung dengan para pakar dan nara sumber yang tepat untuk penelitiannya.
Ketiga, Place; tempat, lokasi atau benda-benda yang terdapat di tempat penelitian. Seseorang yang berhasrat besar untuk mengadakan penelitian ke daerah pedalaman, mungkin mengurungkan niatnya setelah mengadakan penelitian pendahuluan, karena ternyata daerah yang akan dikunjungi terlalu sulit untuk dicapai sehingga tidak akan seimbang antara biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang akan dicapai. Objek yang ketiga ini seorang peneliti diharuskan untuk berpikir cermat dan teliti kaitannya dengan tenaga dan biaya, sehingga penelitiannya tidak berhenti ditengah jalan.
Ketiga objek dalam penjelasan di atas sangat berkaitan dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Objek-objek tersebut merupakan faktor terpenting yang harus dilakukan oleh seorang peneliti sebagai langkah awal untuk melakukan penelitian terhadap suatu masalah.



















KESIMPULAN

Dari pemaparan makalah di atas, maka dapat diambil kesimpulan, bahwa studi pendahuluan yaitu suatu langkah paling awal yang dilakukan oleh seorang peneliti sebelum melangkah lebih jauh untuk melakukan penelitian. Persiapan dalam segi data, dana dan tenaga yang maksimal dalam mengkaji suatu masalah yang akan diteliti harus dipertimbangkan dengan teliti dan seksama (planing yang akurat untuk melakukan kajian masalah), kemudian harapannya penelitian ini bisa memperoleh hasil “temuan baru” dan tidak berhenti pada awal, pertengahan maupun akhir dari proses penelitian. Studi Pendahuluan tidak lepas dari masalah-masalah yang berkembang di masyarakat untuk diteliti lebih mendalam
Sumber pengumpulan informasi untuk mengadakan studi pendahuluan ini dapat dilakukan pada 3 objek. Ketiga objek yang dimaksud adalah apa yang harus dihubungi, dilihat dan diteliti atau dikunjungi yang kira-kira akan memberikan informasi tentang data yang akan dikumpulkan. Ketiga objek tersebut berupa tulisan-tulisan dalam kertas (Paper), manusia (Person) dan tempat (Place)















DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Rineka Cipta, Jakarta, 2010.
Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Kusmana, Suherli. Merancang Karya Tulis Ilmiah, Rosda, Bandung, 2012.
Mantra, Ida Bagoes. Filsafat Penelitian Dan Metode Penelitian Sosial, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2004.
Mardalis. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, Bumi Aksara, Jakarta, 1995.
Margono, S. Metodologi Penelitian Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 1997.
Moleong, Lexy J, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, Rosda, Bandung, 2010.
Nazir, Moh. Metode Penelitian, Ghalia Indoesia, Jakarta, 1988.
Notoatmodjo, Soekidjo. Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta, 2005.




[1] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), 83.
[2] Soekidjo Notoatmodjo, Metodologi Penelitian Kesehatan (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), 61.
[3] Moh. Nazir, Metode Penelitian (Jakarta: Ghalia Indoesia, 1988), 221.
[4] S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), 75-76.
[5] Kamus Besar Bahasa Indonesia
[6] Arikunto,  Prosedur Penelitian, 84-86.
[7] Ibid; 84-85.
[8] Ibid; 83.
[9] Nazir, Metode,  55-56.
[10] Ida Bagoes Mantra, Filsafat Penelitian Dan Metode Penelitian Sosial, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), 31.
[11] Arikunto, Prosedur Penelitian, 83.
[12] Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, (Bandung: Rosda, 2010), 93.
[13]Mantra, Filsafat Penelitia, 45.
[14] Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 37.
[15] Nazir, Metode, 134.
[16]Ibid; 135.
[17]Ibid; 135.
[18] Ibid; 136.
[19] Mardalis, Metode Penelitian, 38.
[20] Moleong, Metodologi Penelitian,  94.
[21] Nazir, Metode, 126-129.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANGGAPAN DASAR DAN HIPOTESIS

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP STUDI QURAN

AL- JARH WA AT-TA’DIL (ADIL DAN CACAT PERAWI HADIST)