SYARAT-SYARAT PENELITIAN

Penelitian merupakan terjemahan dari bahasa inggris, yaitu research. Kata research berasal dari re (kembali) dan to search (mencari). Research berarti mencari kembali. Oleh karena itu, penelitian pada dasarnya merupakan “suatu upaya pencarian”. Apabila suatu penelitian merupakan usaha pencarian, maka timbul pertanyaan apakah yang dicari itu? Pada dasarnya yang dicari adalah pengetahuan atau pengetahuan yang benar[4].
Dahulu, apabila mendengar kata “penelitian”, orang sering membayangkan suatu kesibukan di laboratorium. Seorang ahli sedang asyik mengamati reaksi zat-zat yang dicampur di tabung reaksi, atau dalam labu didih, tabung Erlenmeyer, atau alat-alat lain yang serba rumit. Dengan demikian, maka penelitian adalah suatu kegiatan monopoli para ahli.

Memang apa yang dibayangkan orang-orang seperti disebutkan itu ada betulnya, tetapi tidak seluruhnya betul. Orang-orang di laboratorium memang sedang melaksanakan penelitian, penyelidikan di dalam bidang ilmu pengetahuan alam. Akan tetapi penelitian bukan hanya boleh dan dapat dilakukan di bidang ilmu pengetahuan  alam saja. Penelitian dapat dilakukan di seluruh bidang ilmu[5].
Penelitian atau penyelidikan adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan sistematis dan teliti, dengan tujuan mendapatkan pengetahuan baru atau mendapatkan susunan dan tafsiran yang baru dari pengetahuan yang telah ada, dimana sikap orang yang bertindak itu harus kritis dan prosedur yang digunakan harus lengkap[6].
Yoseph mengungkapkan bahwa penelitian tidak lain adalah art and science guna mencari jawaban terhadap suatu permasalahan. Karena seni dan ilmiah maka penelitian juga akan memberikan ruang-ruang yang akan mengakomodasi adanya perbedaan tentang apa yang dimaksud dengan penelitian.
Dalam hal ini kerlinger juga ikut andil dalam mendefinisikan penelitian. Menurutnya Penelitian adalah proses penemuan yang mempunyai karakteristik sistematis, terkontrol, empiris, dan mendasarkan pada teori dan hipotesis atau jawaban sementara. Beberapa karakteristik penelitian sengaja ditekankan agar kegiatan penelitian memang berbeda dengan kegiatan profesional lainnya. Penelitian berbeda dengan kegiatan yang menyangkut tugas-tugas wartawan yang biasanya meliput dan melaporkan berita atas dasar fakta. Pekerjaan mereka belum dikatakan penelitian, karena tidak dilengkapi karakteristik lain yang mendukung agar dapat dikatakan sebagai hasil penelitian, yaitu karakteristik mendasarkan pada teori yang ada dan relevan dan dilakukan secara intensif dan dikontrol dalam pelaksanaannya[7].

Kemudian apakah yang dimaksud dengan ilmiah? Untuk sampai kepada pembahasan penelitian ilmiah, perlu diketahui lebih dulu kerangka berpikir ilmiah. Hal ini merupakan landasan yang memberikan dasar-dasar pemikiran yang lebih kuat sebagai tempat berdirinya hasil-hasil penelitian tersebut[8].   Dengan ilmiah dimaksud menggunakan metode dan prinsip-prinsip science, yaitu sistematis dan eksak, atau menggunakan metode penelitian dimana suatu hipotesis yang dirumuskan setelah dikumpulkan data obyektif secara sistematis, dites secara empiris. Science selalu empiris, yaitu didasarkan atas data yang diperoleh melalui observasi. Science bersifat sistematis dan mencoba melihat sejumlah observasi yang kompleks dalam hubungan yang logis. Science itu obyektif, menjauhi aspek-aspek yang subyektif. Science tidak bertanya apakah obyek penelitian itu baik atau buruk. Ilmu pengetahuan atau science hanya mencoba untuk memahaminya dan menjelaskannya dengan meneliti prinsip-prinsip dan hakikat obyek penyelidikannya[9].
Di dalam pendekatan ilmiah, dituntut untuk dilakukan cara-cara atau langkah-langkah tertentu dengan tata urutan yang tertentu pula sehingga tercapai pengetahuan yang benar atau logis. Cara ilmiah ini merupakan syarat mutlak untuk timbulnya ilmu, yang dapat diterima oleh akal dengan berpikir ilmiah. Untuk dapat berpikir ilmiah maka akan melalui tiga tahap, yaitu Skeptik; adalah upaya untuk selalu menanyakan bukti-bukti atau fakta-fakta terhadap setiap pernyataan, Analitik; adalah kegiatan untuk selalu menimbang-nimbang setiap permasalahan yang dihadapinya, mana yang relevan, mana yang menjadi masalah utama dan sebagainya, Kritik; adalah upaya untuk mengembangkan kemampuan menimbangnya selalu obyektif. Untuk ini maka dituntut agar data dan pola berpikirnya selalu logis[10].
Beberapa ciri lain dari pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang: sistematik, karena ilmu dilihat sebagai suatu sistem yang utuh; relatif, karena kebenaran ilmiah tidaklah absolut; koheren atau dengan pengertian yang runtut; heuristik, yang pengertiannya terbuka; kausal; netral atau tidak emosional, karena harus “bebas  nilai”, dan sebagainya[11]; objektif, yang dimaksud adalah bahwa keadaan objek, masalah atau gejala sebagaimana adanya merupakan hal yang paling penting, pengaruh subjek dalam melakukan deskripsi, analisis, dan menarik kesimpulan haruslah dihindari sejauh-jauhnya; kesederhanaan, bahwa cara berpikir, cara menyatakan pendapat atau cara pengujian dilakukan dengan cara sederhana; dan sikap tidak memihak kepada etika, artinya ilmu tidak bersifat normatif yang berarti bahwa ilmu tidak bermaksud membuat penilaian baik atau buruk, tetapi mempunyai tugas untuk membuat pernyataan tentang mana yang benar dan mana yang salah secara empirik[12]. Bersifat Transmitable, penelitian harus bersifat transmitable, dalam arti penelitian harus mampu memecahkan masalah-masalah sehingga berguna bagi berbagai pihak yang memerlukan.
Jadi hasil penelitian itu tidak hanya untuk penelitian saja, tetapi juga dapat ditransfer ke orang lain yang memerlukan. Sifat transmitable dalam penelitian seperti telah dikemukakan di muka, dapat berperan dalam pengembangan keilmuan maupun untuk bahan pengambilan keputusan[13].
Metode berpikir ilmiah adalah suatu pengetahuan yang berkaitan dengan bagaimana mencapai suatu tujuan berpikir yang optimal. Tujuan berpikir ilmiah ialah untuk memperoleh utusan akal (judgement) dan kesimpulan (conclusion) yang sah dan benar[14].
Pendekatan ilmiah akan menghasilkan kesimpulan yang serupa bagi hampir setiap orang, karena pendekatan tersebut tidak diwarnai oleh keyakinan pribadi, bias, dan perasaan. Cara penyimpulannya bukan subyektif, melainkan obyektif. Dengan pendekatan ilmiah itu orang berusaha untuk memperoleh kebenaran ilmiah, yaitu pengetahuan benar yang kebenarannya terbuka untuk diuji oleh siapa saja yang menghendaki untuk mengujinya[15].

Karya tulis yang ilmiah dihasilkan oleh pengarang yang bersikap ilmiah. Sikap adalah pengejawantahan ( manifestasi ) operasionalisasi jiwa. Oleh karena sikap itu selalu mengenai atau ditujukan terhadap sesuatu, maka sikap ilmiah itu merupakan operasionalisasi dari sifat ilmiah yang dimiliki oleh seorang penulis karangan ilmiah. Sifat atau watak itu menggambarkan dan merupakan manifestasi jiwa. Jadi pengarang ilmiah itu harus berjiwa ilmiah agar berwatak dan bersikap ilmiah[16].
 Dari uraian diatas jelas, bahwa jiwa ilmiah itu merupakan dasar bagi sifat atau watak ilmiah, dan yang telah dioperasionalisasikan menjadi sikap ilmiah[17]. Dengan demikian maka pendekatan ilmiah kebenaran daripada penelitiannya bersifat mutlak, yang mana dapat diuji kapanpun, dimanapun dan bahkan oleh siapapun. Tidak lagi bersifat spekulasi atau kebenarannya menurut dugaan oleh kebanyakan orang.

1.    Konsep Syarat Penelitian
Tanpa adanya penelitian, pengetahuan tidak akan bertambah maju. Padahal pengetahuan adalah dasar semua tindakan dan usaha. Jadi penelitian sebagai dasar untuk meningkatkan pengetahuan, harus diadakan agar meningkat pula pencapaian usaha-usaha manusia[18].
Ada berbagai upaya yang dapat dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh pengetahuan. Yang pertama dapat dilakukan adalah bertanya kepada orang yang dianggap lebih tahu tentang sesuatu ( mempunyai otoritas keilmuan pada bidang tertentu ). Namun bila tidak ditemukan jawabannya atau pemecahannya, maka dapat dicari melalui akal sehat, intuisi, prasangka atau coba-coba saja. Cara ini tentu tidak melalui penalaran, sehingga jawaban atau pengetahuan yang diperoleh bukanlah pengetahuan ilmiah. Lain halnya metode ilmiah, yaitu suatu metode yang mengutamakan keyakinan bahwa setiap gejala akan ditelaah dan dicari hubungan sebab akibatnya, atau kecenderungan-kecenderungan yang timbul[19].
Namun Ada beberapa pandangan menurut para ahli tentang apa itu penelitian ilmiah, yang kita simpulkan secara garis besar sebagai berikut :
  1. Penelitian ilmiah merupakan usaha untuk memperoleh fakta-fakta atau mengembangkan prinsip-prinsip (menemukan/ mengembangkan/ menguji kebenaran)
  2. Penelitian ilmiah yang dilakukan dengan cara / kegiatan mengumpulkan, mencatat dan menganalisa data (informasi/ keterangan)
  3. Penelitian ilmiah itu hendaknya dikerjakan dengan sabar, hati-hati, sistematis dan berdasarkan ilmu pengetahuan dengan metode ilmiah.
Ciri-ciri kegiatan penelitian antara lain[20]:
a.    Kegiatan penelitian dirancang dan diarahkan untuk memecahkan suatu masalah tertentu, yang dapat berupa jawaban masalah atau dapat menentukan hubungan antara variabel-variabel penelitian.
b.    Kegiatan penelitian menekankan pada pengembangan generalisasi, prinsip-prinsip dan teori-teori
c.    Kegiatan penelitian berpangkal pada masalah/ obyek yang dapat diobservasi
d.   Kegiatan penelitian memerlukan observasi dan deskripsi yang mapan
e.    Kegiatan penelitian berkepentingan dengan penemuan baru
f.     Prosedur kegiatan penelitian dirancang secara teliti dan rasional
g.    Kegiatan penelitian menuntut keahlian
h.    Kegiatan penelitian ditandai dengan usaha obyektif dan logis
i.      Kegiatan penelitian harus dilakukan secara cermat, teliti dan sabar, serta memerlukan kebenaran, sebab hasil penelitian kadang kala berlawanan dengan norma tata aturan yang berlaku dalam suatu masyarakat dalam periode tertentu.
Dalam hal ini Crawford juga memberikan 9 kriteria penting dari penelitian[21]. Kesembilan kriteria atau ciri-ciri penelitian adalah sebagai berikut[22]:
a.       Penelitian harus berkisar di sekeliling masalah yang ingin dipecahkan
b.      Penelitian sedikit-dikitnya harus mengandung unsur-unsur originalitas
c.       Penelitian harus didasarkan pada pandangan “ingin tahu”
d.      Penelitian harus dilakukan dengan pandangan terbuka
e.       Penelitian harus berdasarkan pada asumsi bahwa suatu fenomena mempunyai hukum dan pengaturan ( order )
f.       Penelitian berkehendak untuk menemukan generalisasi atau dalil
g.      Penelitian merupakan studi tentang sebab-akibat
h.      Penelitian harus menggunakan pengukuran yang akurat
i.        Penelitian harus menggunakan teknik yang secara sadar diketahui.
Sesungguhnya itulah kriteria atau ciri-ciri penelitian, yang mana harus benar-benar dipahami oleh seorang peneliti. Dengan tujuan penelitian yang mengandung unsur-unsur diatas ialah penelitian yang baik. Dan pada akhirnya hasil penelitian tersebut membuahkan ilmu baru. Dengan demikian hasil penelitian tersebut diharapkan mampu menjawab problem yang dihadapi oleh masyarakat.

2.    Persyaratan Penelitian Ilmiah
Ada tiga persyaratan penting dalam mengadakan kegiatan penelitian yaitu: sistematis, berencana, dan mengikuti konsep ilmiah[23].
a.    Sistematis :  artinya dilaksanakan menurut pola tertentu, dari yang paling sederhana sampai kompleks hingga tercapai tujuan secara efektif dan efisien
b.    Berencana :  artinya dilaksanakan dengan adanya unsur  dipikirkan lang-
kah-langkah pelaksanaannya.
c.    Mengikuti konsep ilmiah : artinya mulai awal sampai akhir kegiatan penelitian  mengikuti cara-cara yang sudah ditentukan, yaitu prinsip yang digunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
Apabila diterapkan dalam kegiatan penelitian maka urut-urutannya adalah sebagai berikut[24]:
1.    Penelitian dihadapkan pada suatu kebutuhan atau tantangan. Ingat, John Dewey dalam reflective thinkingmenyebutkan the felt need
2.    Merumuskan masalah, sehingga masalah tersebut menjadi jelas batasan, kedudukan, dan alternatif cara untuk pemecahan masalah.
3.    Menetapkan hipotesis sebagai titik tolak mengadakan tindakan menentukan alternatif pemecahan yang dipilih
4.    Mengumpulkan data untuk menguji hipotesis (collection of data as evidence )
5.    Mengambil kesimpulan berdasarkan hasil pengolahan data dan dikembalikan kepada hipotesis yang sudah dirumuskan
6.    Menentukan kemungkinan untuk mengadakan generalisasi dari kesimpulan tersebut serta implikasinya di masa yang akan datang. ini disebut refleks dan bertujuan untuk menilai pemecahan-pemecahan baru dari segi kebutuhan-kebutuhan masa mendatang.
Dalam hal ini beberapa tokoh penelitian memberikan penjelasan tentang persyaratan penelitian ilmiah antara lain sebagai berikut[25]:
a.  Sistematik, berarti suatu penelitian harus disusun dan dilaksanakan secara berurutan sesuai pola dan kaidah yang benar, dari yang mudah dan sederhana sampai yang kompleks.
b.   Logis, Suatu penelitian dikatakan benar bila dapat diterima akal dan berdasarkan fakta empirik. Pencarian kebenaran harus berlangsung menurut prosedur atau kaidah bekerjanya akal, yaitu logika. Prosedur penalaran yang dipakai bisa prosedur induktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan umum dari berbagai kasus individual (khusus) atau prosedur deduktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus dari pernyataan yang bersifat umum.
c.Empirik, artinya suatu penelitian biasanya didasarkan pada pengalaman sehari-hari (fakta aposteriori, yaitu fakta dari kesan indra) yang ditemukan atau melalui hasil coba-coba yang kemudian diangkat sebagai hasil penelitian.
Landasan penelitian empirik ada tiga yaitu :
1). Hal-hal empirik selalu memiliki persamaan dan perbedaan (ada  penggolongan atau perbandingan satu sama lain)
2).   Hal-hal empirik selalu berubah-ubah sesuai dengan waktu
  3).   Hal-hal empirik tidak bisa secara kebetulan, melainkan ada penyebab-
       nya (ada hubungan sebab akibat).
d.  Obyektif, artinya suatu penelitian menjahui aspek-aspek subyektif yaitu  tidak mencampurkannya dengan nilai-nilai etis.
e.  Replikatif, artinya suatu penelitian yang pernah dilakukan harus diuji kembali oleh peneliti lain dan harus memberikan hasil yang sama bila dilakukan dengan metode, kriteria, dan kondisi yang sama. Agar bersifat replikatif, penyusunan definisi operasional variabel menjadi langkah penting bagi seorang peneliti.
Dalam kaitannya dengan hal ini, maka Somers memberikan beberapa syarat supaya pelaksanaan penelitian dapat berjalan lancar, antara lain yaitu[26]:
a.    Adanya kesadaran masyarakat tentang pentingnya penelitian untuk suatu negara ataupun daerah. Artinya Masyarakat  harus menyadari dan disadarkan tentang perlunya penelitian serta pentingnya penelitian dalam pembangunan. Peneliti tidak dapat bekerja dalam suasana yang hampa. Ilmuwan menghendaki laboratorium, lapangan percobaan, alat-alat, bahan-bahan dan lain-lain. Semua ini menghendaki biaya yang mana biaya ini akan diperoleh jika masyarakat sadar akan pentingnya penelitian.
b.    Harus ada sarana dan pembiayaan yang cukup. Artinya untuk kegiatan penelitian  diperlukan biaya. Biaya ini harus datang dari rakyat, pemerintah maupun dari pihak swasta. Dengan adanya kesadaran masyarakat akan pentingnya penelitian, maka dana untuk penelitian akan lebih mudah diperoleh
c.    Hasil penelitian harus segera diterapkan. Artinya penerapan hasil penelitian dengan segera merupakan suatu perangsang bagi si peneliti. Banyak kejadian, hasil penelitian tidak dengan segera diterapkan, tetapi penemuan tersebut hanya tinggal dalam laporan saja. Tanpa diketahui oleh masyarakat apa kiranya hasil penelitian tersebut. Suatu kehormatan dan kebanggaan bagi si peneliti, jika hasil penelitiannya diterima dan dipakai untuk kebaikan umat
d.   Harus ada kebebasan dalam meneliti. Artinya penelitian akan berhasil baik, jika dalam meneliti terdapat kebebasan, walaupun kebebasan ini tetap berada dalam batas-batas moral yang diterima masyarakat. Tiap peneliti harus bebas memilih masalah serta bebas melapor hasil penelitiannya, tanpa ada tangan-tangan halus yang akan menjurus atau mendikte penemuan tersebut untuk memuaskan keinginan sekelompok orang saja.
e.    Peneliti harus memenuhi syarat. Faktor lain yang harus diperhatikan untuk mensukseskan penelitian adalah faktor si peneliti sendiri. Peneliti harus benar-benar ilmuwan yang berbobot. Seorang peneliti harus menguasai ilmu dalam bidangnya dan harus mempunyai devosi dan pengabdian yang tinggi dalam mengejar ilmu pengetahuan.

3.    Urgensi Persyaratan-persyaratan Penelitian ilmiah
Pedoman penulisan karya ilmiah/ Penelitian ilmiah merupakan hal yang harus ada dalam sebuah penulisan karya ilmiah. Hal ini karena dalam penulisan laporan ilmiah semacam ini, sudah ada kaidah yang telah menjadi standar baku penulisan. Dengan adanya pedoman penulisan karya ilmiah, akan menjadi panduan para peneliti untuk menyampaikan hasil penelitiannya pada masyarakat.
Beberapa manfaat dari pedoman atau persyaratan penulisan karya ilmiah antara lain:
a.    Untuk memudahkan mengetahui apakah sebuah tulisan tersebut tergolong karya ilmiah atau bukan
b.    Memudahkan untuk menilai apakah proses penelitian yang dilakukan sudah dilakukan berdasar prosedur ilmiah atau belum
c.    Memudahkan para pembaca laporan penelitian dari berbagai latar belakang wilayah untuk bisa turut mengkaji sebuah laporan hasil penelitian yang dituliskan
d.   Menciptakan keseragaman antara satu laporan karya tulis ilmiah dengan laporan yang lainnya
e.    Agar sebuah laporan penelitian tersebut, bisa dipertanggungjawabkan baik secara kualitas penulisan maupun secara kualitas penelitian
f.  Memberikan kemudahan dari para pembaca untuk cepat mencari data pada bagian yang dibutuhkan saja, tanpa perlu membaca secara keseluruhan hasil penelitian.





[1] Menurut Moh. Nazir, Seorang ilmuwan selalu menempatkan logika serta menghindarkan diri dari pertimbangan  subjektif. Sebaliknya bagi orang awam, kerja memecahkan masalah dilandasi oleh campuran pandangan perorangan ataupun dengan apa yang dianggap masuk akal oleh banyak orang, lihat Moh. Nazir, Metode Penelitian ( Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988 ), 41.
[2]Kholid Narbuko dan  Abu Achmadi, Metode Penelitian ( Jakarta : Bumi Aksara, 2003 ), 4.
[3]Hadari Nawawi, dan Martini Hadari, Instrumen Penelitian  Bidang Sosial ( Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1995 ), 14.
[4] Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, ( Jakarta : Sinar Grafika, 2011 ), 1
[5] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik ( Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006 ), 1.
[6] Moehar Daniel, Metode Penelitian Sosial Ekonomi, ( Jakarta : Bumi Aksara, 2003 ), 5
[7] Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan, ( Jakarta : Bumi Aksara, 2003 ), 3.
[8] Mardalis, Metode Penelitian  Suatu Pendekatan Proposal, ( Jakarta : Bumi Aksara, 2003 ), 15
[9] S. Nasution, METODE RESEARCH, ( Jakarta : Bumi Aksara, 2003 ), 1.
[10] Kholid Narbuko dan Abu Achmadi, Metode Penelitian, 6
[11] Bagong Suyanto dan Sutinah, Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan,( Jakarta : Prenada Media Group, 2008 ), 3
[12] Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial Suatu Teknik Penelitian Bidang Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya, ( Bandung : Remaja Rosdakarya, 2008 ), 7
[13] Muhammad Idrus, Metode Penelitian Ilmu Sosial, ( Yogyakarta : Penerbit Erlangga, 2009 ), 14
[14] Bagong Suyanto dan Sutinah, Metode Penelitian Sosial,3.
[15] Kholid Narbuko dan  Abu Achmadi, Metode Penelitian, 6.
[16] Mukayat D. Brotowidjoyo, Penulisan Karangan Ilmiah, ( Jakarta : Akademika Pressindo, 1993),32
[17] Syamsuddin dan Vismaia S. Damaianti, Metode Penelitian Pendidikan Bahasa ( Bandung : Remaja Rosdakarya, 2011 ),12
[18] Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik , 20.
[19] Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum,1.
[20] Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, Metode Penelitian, 9
[21] C.C Crawford, The Technique of Research in Education, Houghton Millin Co., 1928, dalam  Metode Penelitian, Mohammad Nazir, ( Jakarta : Ghalia Indonesia, 1988 ), 34
[22] Moh. Nazir, Metode Penelitian, 34
[23]Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, 20
[24]Sutrisno Hadi, Metodologi Research Jilid I ( Yogyakarta : Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM, 1976 ), 8 dalam  PROSEDUR PENELITIAN Suatu Pendekatan Praktik, Suharsimi Arikunto, ( Jakarta : Rineka Cipta, 2006 ), 20
[25]Moh Nazir, Metode Penelitian, 35.
[26]Moh. Nazir, Metode Penelitian, 36.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANGGAPAN DASAR DAN HIPOTESIS

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP STUDI QURAN

AL- JARH WA AT-TA’DIL (ADIL DAN CACAT PERAWI HADIST)