TEKNIK-TEKNIK PENGUMPULAN DATA PENELITIAN
![]() |
| Teknik-Teknik Pengumpulan Data Penelitian |
Menurut pemakalah juga tidak kalah pentingnya penggunaan teknik pengumpulan data harus sesuai misalnya, jika peneliti ingin memperoleh informasi mengenai persepsi guru terhadap kurikulum yang baru, maka teknik yang dipakai dalam pengumpulan data tersebut dengan wawancara, sedangkan jika peneliti ingin mengetahui bagaimana guru menciptakan suasana kelas yang hidup, maka teknik yang dipakai adalah observasi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa informasi yang ingin diperoleh dalam penelitian itu menentukan jenis teknik yang akan dipakai .
Tahapan selain pengumpulan data yang juga tidak kalah penting dalam melakukan penelitian adalah instrumen data. Instrumen data ini juga berkaitan erat dengan pengumpulan data. Dua hal inilah yang akan mempengaruhi kualitas data hasil penelitian baik itu penelitian kualitatif maupun kuantitatif. Oleh karena itu dalam makalah ini akan kami paparkan hal-hal yang berhubungan dengan metode pengumpulan data dan instrumen data dalam sebuah penelitian.[2]
Pengertian pengumpulan data.
Mengumpulkan data memang pekerjaan yang menantang bagi peneliti. Berjalan dari rumah ke rumah mengadakan interviu atau membagi angket, belum lagi kalau satu atau dua kali datang belum berhasil bertemu dengan orang yang di cari, sungguh merupakan pekerjaan yang menuntut kesabaran dan memerlukan ketahanan mental. Secara Kegiatan pengumpulan data pada prinsipnya merupakan kegiatan penggunaan metode dan instrumen yang telah ditentukan dan diuji validitas dan reliabilitasnya. Secara sederhana, pengumpulan data diartikan sebagai proses atau kegiatan yang dilakukan peneliti untuk mengungkap atau menjaring berbagai fenomena, informasi atau kondisi lokasi penelitian sesuai dengan lingkup penelitian secara sistematik.[3] Dalam prakteknya, pengumpulan data ada yang dilaksanakan melalui pendekatan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Dengan kondisi tersebut, pengertian pengumpulan data bisa juga kita artikan sebagai proses yang menggambarkan proses pengumpulan data yang dilaksanakan dalam penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Pengumpulan data, dapat dimaknai juga sebagai kegiatan peneliti dalam upaya mengumpulkan sejumlah data lapangan yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan penelitian (untuk penelitian kualitatif), atau menguji hipotesis (untuk penelitian kuantitatif). Merujuk pada pengertian di atas, betapa pentingnya pengumpulan data dalam proses penelitian. Tanpa data lapangan, proses analisis data dan kesimpulan hasil penelitian, tidak dapat dilaksanakan.
Dalam pengumpulan data ada dua golongan yang harus mendapat perhatian maksimal dari peneliti. Golongan pertama adalah pencacah, yakni yang bertugas mengumpulkan data atau mengorek keterangan-keterangan yang di perlukan. Pencacah terutama yang baru atau belum punya pengalaman perlu di arahkan dan di awasi dalam melakukan tugasnya. Para pengawas (supervisor) masih termasukdalam satu golongan dengan para pencacah. Peneliti mungkin juga bertindak langsung sebagai pencacah atau sebagai pengawas. Golongan kedua adalah penjawab (responden) dari siapa keterangan diperoleh. Kondisi yang baik memungkinkan diperolehnya data yang baik atau mendekati keinginan peneliti.
Baca Juga:
(Macam-Macam Variabel Penelitian)
(Pengertian dan Jenis Variabel Penelitian )
(Anggapan Dasar Dan Hipotesis)
Metode pengumpulan data.
(Macam-Macam Variabel Penelitian)
(Pengertian dan Jenis Variabel Penelitian )
(Anggapan Dasar Dan Hipotesis)
Metode pengumpulan data.
Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Setelah peneliti menentukan metode pengumpulan data, apakah dengan sensus, sampling atau case study, maka kemudian kemudian ada beberapa cara untuk mengumpulkan informasi yang menyangkut karakteristik/sifat-sifat elemen-elemen yang menjadi obyek penyelidikan. Cara-cara itu antara lain wawancara (interview), pengamatan/observasi, angket. Jika dilihat dari seberapa jauh pengambil data terjun langsung atau tidak langsung dengan subjek penelitian, maka metode pengumpulan data dapat dibagi beberapa kelompok diantaranya:
a) Metode pengamatan langsung;
b) Metode dengan menggunakan pertanyaan;
c) Metode khusus.[4]
1. Wawancara (Interview)
Wawancara adalah metode yang digunakan untuk memperoleh informasi secara langsung, mendalam, bentuknya bisa terstruktur ataupun tidak terstruktur,dan individual.[5]. Wawancara adalah Pada wawancara ini dimungkinkan peneliti dengan responden melakukan tanya jawab secara interaktif maupun secara sepihak saja misalnya dari peneliti saja. Suatu keserasian antara pewawancara, responden, serta situasi wawancara perlu di pelihara supaya terdapat suatu komunikasi yang lancar dalam wawancara. Untuk mendapatkan penerimaan dan kerja sama yang baik dari responden, terdapat beberapa hal yang perlu di perhatikan oleh peneliti dalam menggunakan metode interview yaitu sebagai berikut:[6]
A. Berpakain sederhana dan rapi.
B. Sikap rendah hati.
C. Sikap hormat kepada responden.
D. Ramah dalam kata-kata dan disertai muka yang cerah, tidak muram.
E. Sikap yang penuh pengertian terhadap responden.
F. Sikap netral.
G. Bersikap seolah-olah tiap responden yang kita hadapi selalu ramah dan menarik.
H. Sanggup menjadi pendengar yang baik.
I. Menguasai materi wawancara .
J. Mengikuti skenario atau petunjuk wawancara secara fleksibel.
K. Mampu mencatat jawaban semua responden secara cepat dan tepat.
L. Mampu mengulang, menerangkan responden jika belum jelas.
M. Dalam keadaan sehat.
Jenis wawancara: [7]
Dari pelaksanaannya di bagi menjadi 3 macam sebagai berikut:
a) Wawancara terpimpin.
Wawancara terpimpinadalah wawancara yang dilakukan dengan terlebih dahulu menyiapkan bahan wawancara/pertanyaan, yakni wawancara yang menggunakan panduan catatan yang akan di tanyakan, yang mana wawancara terpimpin ini dilakukan oleh pewawancara dengan membawa sederetan pertanyaan lengkap dan terperinci.
b) Wawancara bebas.
Wawancara bebas adalah interviewyang dilakukan secara bebas oleh pewawancara, yang mana pewawancara bebas menanyakan apa saja, tetapi juga mengingat akan data apa yang akan dikumpulkan. Dalam wawancara bebas ini, peneliti belum mengetahui secara pasti data apa yang akan diperoleh, sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan apa yang diceritakan oleh responden. Berdasarkan analisis terhadap setiap jawaban responden tersebut, maka peneliti dapat mengajukan berbagai pertanyaan berikutnya yang lebih terarah pada tujuan yang diharapkan.
c) Wawancara bebas terpimpin.
Wawancara bebas terpimpin adalah merupakan kombinasi antara keduannya. Jadi pewawancara hanya membuat pokok-pokok masalah yang akan diteliti, selanjutnya dalam proses wawancara berlangsung mengikuti situasi. Pedoman interview berfungsi sebagai pengendali jangan sampai proses wawancara kehilangan arah.
Sedangkan bentuk-bentuk pertanyaan dalam wawancara ada dua, yaitu: wawancara tertutup dan wawancara terbuka. Wawancara terbuka adalah wawancara yang dilakukan dimana responden diberikan kebebasan mengekspresikan pikiran atau tanggapannya, responden/informan diberikan kebebasan menjawabnya. Wawancara terbuka ini jarang di gunakan dalam schedul atau kuesioner. Responden mempunyai kebebasan dalam menjawab pertanyaan terbuka, responden tidak terikat kepada alternatif-alternatif jawaban. Contah dari pertanyaan terbuka misalnya. Seringkah Anda membaca al-Qur’an? Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat bermacam-macam. Misalnya tidak berapa sering; kadang-kadang saja; jika saya lagi sedih; jika ada waktu. Tetapi, jika yang diinginkan oleh peneliti adalah frekuensi pembaca al-Qura’n tiap minggu, maka pertanyaan tersebut lebih baik diubah menjadi pertanyaan tertutup sebagai berikut. Berapa kalikah Anda membaca al-Qura’n dalam satu minggu? Tidak pernah; satu kali dalam seminggu; dua kali; tiga kali. Adapun kebaikan dari pertanyaan terbuka adalah responden bebas untuk menjawab dan enumeratortidak menjuruskan jawaban terhadap hal-hal tertentu. Di lain pihak, jawaban terbuka sukar dianalisis, dan jawabannya dapat saja berada di luar dari kerangka analisis yang diinginkan.
Sedangkan wawancara tertutup terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang bentuknya sedemikian rupa sehingga kemungkinan jawaban responden maupun informan (pemberi informasi) amat terbatas. Misalnya responden tinggal jawab “ya atau tidak”[8].
Adapun kelemahan-kelemahan wawancara antara lain adalah validitas jawaban-jawaban yang diperoleh masih di ragukan, waktu, biaya, tenaga tidak efisien, sangat tergantung pada kesediaan orang yang diwawancarai, harus pandai bicara dengan jelas dan benar, orang bisu tidak bisa diwawancarai, proses wawancara sangat mudah dipengaruhi oleh keadaan. Sedangkan keuntungan-keuntungannya antara lain merupakan salah satu teknik terbaik untuk mendapatkan data pribadi, pewawancara yang sensitif dapat menilai validitas jawaban berdasarkan gerak-gerik, nada dan air muka responden, peneliti dapat berusaha agar pertanyaan benar dipahami oleh responden[9].
2. Kuesioner (Angket)
Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara tertulis pada seseorang atau sekumpulan orang untuk mendapatkan jawaban atau tanggapan dan informasi yang diperlukan oleh peneliti baik secara langsung atau tidak langsung[10]. Penelitian ini menggunakan angket atau kuesioer, daftar pertanyaannya dibuat secara berstruktur dengan bentuk pertanyaan pilihan berganda (multiple choice questions) dan pertanyaan terbuka (open question). Kuesioner terbuka memberi kesempatan kepada responden untuk menjawab dengan kalimatnya sendiri. Peneliti hanya memberikan sejumlah pertanyaan berkenaan dengan masalah penelitian dan meminta responden menguraikan pendapatnya. Contoh: Hukuman apakah yang paling sering saudara berikan?. Sedangkan kuesioner tertutup sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih. Kuesioner tertutup ini dipilih bila peneliti cukup menguasai materi yang akan ditanyakan. Selain itu dianggap bahwa responden juga cukup mengetahuinya, sehingga dapat mengantisipasi jawaban-jawaban yang dapat diberikan dalam angket sebagai alat pengukur sikap, misalnya, yang menunjukkan gradasi intensitas sikap. Angket sebagai alat ukur selalu bersifat tertutup. Contoh: Setujukah saudara penggunaan hukuman jasmani dalam korupsi?[11].
Adapun keuntungan angket secara umum antara lain adalah:[12]
a) Tidak memerlukan hadirnya peneliti.
b) Dapat dibagikan secara serentak kepada banyak responden.
c) Dapat dijawab oleh responden menurut kecepatannya masing-masing dan menurut waktu senggang responden.
d) Dapat dibuat anonim sehingga responden bebas jujur dan tidak malu-malu menjawab.
e) Dapat dibuat terstandar sehingga bagi semua responden dapat diberi pertanyaan yang benar benar sama.
Sedangkan kelemahan-kelemahan angket antara lain adalah:
a. Responden sering tidak teliti dalam menjawab.
b. Seringkali sukar dicari validitasnya.
c. Walaupun dibuat anonim, kadang-kadang-kadang responden dengan sengaja memberikan jawaban yang tidak betul atau tidak jujur.
d. Seringkali tidak kembali, terutama jika dikirim lewat pos.
e. Waktu pengembalianya tidak bersama-sama.
Adapun beberapa prinsip dalam penulisan angket sebagai teknik pengumpulan data antara lain adalah sebagai berikut:[13]
a. Isi dan Tujuan Pertanyaan.
Maksudnya adalah apakah isi pertanyaan tersebut merupakan bentuk pengukuran atau bukan? Jika berbentuk pengukuran, maka dalam membuat pertanyaan harus teliti, setiap pertanyaan harus disusun dalam skala pengukuran dan jumlah itemnya mencukupi untuk mengukur variabel yang diteliti.
b. Bahasa yang digunakan.
Bahasa yang digunakan dalam angket harus disesuaikan dengan kemampuan berbahasa responden (memerhatikan jenjang pendidikan keadaan sosial budaya dari responden).
c. Tipe dan Bentuk Pertanyaan.
Tipe pertanyaan dalam angket dapat terbuka (pertanyaan yang mengharapkan responden untuk menuliskan jawabannya dalam bentuk uraian) atau tertutup (pertanyaan yang mengharapkan jawaban singkat atau mengharapkan responden untuk memilih salah satu alternatif jawaban yang telah disediakan) dan dapat pula menggunakan kalimat positif ataupun negatif.
d. Pertanyaan tidak mendua.
Contohnya “Bagaimana pendapat anda mengenai kualitas dan relevansi pendidikan saat ini?”
e. Tidak menanyakan yang sudah lupa.
Misalnya “Bagaimana kualitas pendidikan sekarang bila dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu?”
f. Pertanyaan tidak menggiring.
maksudnya pertanyaan dalam angket tidakmenggiring/ mengarahkan ke jawaban yang baik atau yang buruk saja.Misalnya “Bagaimanakah prestasi belajar anda selama di sekolah yang
dulu?”
g. Panjang pertanyaan.
pertanyaan dalam angket sebaiknya tidak terlalu panjang, sehingga akan membuat responden jenuh dalam mengisi.
h. Urutan Pertanyaan.
Urutan pertanyaan dalam angket dimulai dari yang umum menuju ke hal yang spesifik atau dari hal yang mudah menuju ke hal yang sulit. Hal ini perlu diperhatikan karena secara psikologis dapat mempengaruhi semangat responden, jika pada awalnya sudah diberi pertanyaan yang sulit maka responden akan merasa malas untuk mengisi angket yang telah meraka terima.
i. Prinsip Pengukuran.
Angket yang diberikan kepada responden merupakan instrument penelitian yang digunakan untuk mengukur variable yang akan diteliti. Oleh karena itu, angket tersebut harus dapat digunakan untuk mendapatkan data yang valid dan reliabel tentang variable yang diukur,maka sebelum instrument angket tersebut diberikan kepada responden,sebaiknya diuji dulu validitas dan reabilitasnya.
j. Penampilan Fisik Angket.
Penampilan fisik angket sebagai alat pengumpul data akan mempengaruhi responden dalam mengisi angket. Angket yang dibuat dikertas buram, akan mendapat respon yang kurang menarik dari responden.
3. Observasi
Observasi diartikan pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian tanpa mengajukan pertanyaan-pertanyaan[14]. Observasi merupakan metode yang cukup mudah dilakukan untuk pengumpulan data. Observasi ini lebih banyak digunakan pada statistika survei, misalnya akan meneliti kelakuan orang-orang suku tertentu.
Sebelum observasi itu dilaksanakan, pengobservasi (observer) hendaknya telah menetapkan terlebih dahulu aspek-aspek apa yang akan diobservasi dari tingkah laku seseorang. Aspek-aspek tersebut hendaknya telah dirumuskan secara operasional, sehingga tingkah laku yang akan dicatat nanti dalam observasi hanyalah apa-apa yang telah dirumuskan tersebut. Observasi langsung dilakukan terhadap obyek di tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa, sehingga observer berada bersama obyek yang diselidikinya.
Pengamatan yang objektif hendaknya hanya mencatat apa yang sesungguhnya menampak sebagai gejala. Segala usaha atau kecenderungan penyelidik untuk menyisipkan pendapat pribadi atau kesan-kesan mengenai gejala tersebut, dapat dipandang mengurangi kemurnian pengamatan. Segala jenis interprestasi mengenai gejala yang diamati hanyalah dapat dipandang sebagai tambahan pada pengamatan, dan bukan sebagai bagian utama pengamatan.
Keuntungan dalam melakukan metode observasi antara lain:
1. Pada kasus dimana perolehan data dengan metode lain kurang memuaskan dapat dipertegas dengan observasi lapangan sehingga menjadi lebih akurat.
2. Dalam waktu yang bersamaan peneliti dapat dengan mudah mengambil responden yang mungkin dengan pertimbangan khusus untuk mengambil tindakan.
3. Banyak gejala atau peristiwa yang hanya dapat diselidiki dengan cara observasi.
4. Hasil yang diperoleh lebih akurat dan sulit dibantah karena sudah melalui penelitian.
5. Objek yang hanya bersedia diambil datanya hanya dengan observasi, misalnya terlalu sibuk dan kurang waktu untuk diwawancarai.
Kelemahan dalam melakukan metode observasi antara lain:
1. Observasi tergantung pada kemampuan pengamatan dan mengingat.
2. Kelemahan-kelemahan observer dalam pencatatan.
3. Banyak kejadian dan keadaan objek yang sulit diobservasi, terutama yang menyangkut kehidupan peribadi yang sangat rahasia.
4. Oberservasi sering menjumpai observer yang bertingkah laku baik dan menyenangkan karena tahu bahwa ia sedang diobservasi.
5. Data yang diperoleh terkadang bersifat Subyektif.
6. Apabila tujuan yang diteliti ingin mengungkap kejadian masa lalu maka dengan metode observasi tidak bisa digunakan.
Jenis-jenis Observasi
Klasifikasi tentang jenis-jenis observasi dapat dilihat dari beberapa sudut pandangan antara lain :
A. Observasi partisipasi.
Observasi partisipasi yaitu apabila pengobservasi ikut terlibat dalam kegiatan subyek yang sedang diobservasi. Misalnya seorang guru bidang studi yang ingin mengetahui bagaimana antosias siswa-siswanya terhadap pelajaran yang diberikan.
B. Observasi non partisipasi.
Observasi ini pengobservasi tidak ikut terlibat dalam kegiatan yang diobservasi. Misalnya seorang petugas bimbingan ingin mengetahui bagaimana antosias siswa terhadap bimbingan karir.
C. Observasi quasi partisipasi,
Jenis ini sebagian waktu dalam satu periode observasi pengobservasi ikut melibatkan diri dalam kegiatan yang diobservasi, dan sebagian waktu lainnya ia terlepas dari kegiatan tersebut. Misalnya kita ingin mengetahui bagaimana aktifitas siswa dalam melaksanakan suatu tugas kelompok.
2. Berdasarkan pencatatan hasil-hasil observasi.
Observasi berstruktur.[17]
Pada observasi berstruktur ini aspek-aspek tingkah laku yang akan diobservasi telah dimuat dalam suatu daftar yang telah disusun secara sistematis. Dalam pengamatan fenomena sosial, peneliti dapat menggunakan dua alat, yaitu:
1) sistem kategori yakni sebuah pernyataan yang menggambarkan suatu kelas fenomena. Suatu sistem kategori terdiri dari dua atau lebih kategori-kategori. Dengan kategori yang tepat, maka peneliti dapat melahirkan kerangka referensi untuk pengamat. Hal ini dapat meningkatkan kemungkinan bahwa aspek-aspek yang relevan dapat diamati secara lebih terpercaya.
2) skala bertingkat (rating scale), adalah sebuah instrumen yang mewajibkan pengamat untuk menetapkan subjek kepada kategori dengan memberikan nomor atau angka pada kategori-kategori tersebut. Hal-hal yang akan diobservasi itu didalam tingkatan-tingkatan yang telah ditentukan.
Kelemahan dari observasi berstruktur ini adalah bahwa pengobservasi sangat terikat dengan daftar yang telah tersusun sehingga ia tidak mungkin mengembangkan observasinya dengan aspek-aspek lain yang kebetulan terjadi selama observasi berlangsung. Untuk mengatasi kelemahan ini, dapat ditempuh dengan cara kombinasi, yaitu menggunakan suatu daftar yang terperinci tentang tingkah laku yang diobservasi, yang dilengkapi dengan blanko untuk mencatat tingkah laku tertentu yang muncul, yang belum terekam dalam daftar.
Pada observasi ini pengobservasi tidak menyediakan daftar terlebih dahulu tentang aspek-aspek yang akan diobservasi. Dalam hal ini pengobservasi mencatat semua tingkah laku yang dianggap penting dalam suatu periode observasi. Hasil-hasil observasi ini dicatat dalam bentuk catatan yang bersifat anekdot (anecdotal record), yaitu suatu catatan (record) tentang tingkah laku siswa dalam suatu situasi tertentu. Catatan yang bersifat anekdot tersebut harus ditulis apa adanya, tanpa interpretasi. Setelah terkumpul beberapa catatan dari beberapa periode observasi, peneliti membuat suatu ihtisar tentang catatan-catatan tersebut, kemudian diadakan interpretasi tentang tingkah laku yang diselidiki. Contoh catatan yang bersifat anekdot (anecdotal record) sebagai berikut :
Pada tanggal 12-12-2011 : sebelum bel berbunyi ketika anak-anak sedang bercakap-cakap dalam kelompok-kelompok kecil, A tinggal seorang diri.
Pada tanggal 17-12-2011 : A tidak ikut ambil bagian dalam diskusi yang diadakan oleh teman-temannya tentang apa yang akan dilihat di moseum.
Pada tanggal 23-12-2011 : A membuat karangan tentang kunjungan ke museum, tapi kemudian ia merobek tulisannya dan melemparkannya ke keranjang sampah.
Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan observasi, antara lain:[19]
1) Harus diketahu dimana observasi dapat dilakukan, apakah hanya ditempat-tempat pada waktu tertentu atau terjadi diberbagai lokasi?
2) Harus ditentukan siapa-siapa sajakah yang dapat diobservasi, sehingga benar-benar representatif?
3) Harus diketahui dengan jelas data apa yang harus dikumpulkan sehingga relevan
dengan tujuan penelitian.
4) Harus diketahui bagaimana cara mengumpulkan data, terutama berkaitan dengan
izin pelaksanaan penelitian.
5) Harus diketahui tentang cara-cara bagaimana mencatat hasil observasi.
4. Studi Dokumenter
Studi Dokumenter (documentary study) merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik tertulis maupun elektronik.[20]Dokumen-dokumen yang telah dihimpun terlebih dahulu dipilih yang sesuai dengan tujuan dan fokus masalah yang akan diteliti. Kemudian dokumen tersebut diurutkan sesuai dengan sejarah kelahirannya, kekuatan dan kesesuaian isinya dengan tujuan pengkajian. Selanjutnya dilakukan analisis, perbandingan dan pensintesisan (pemaduan) sehingga membentuk satu hasil kajian yang sistematis, padu dan utuh. Dibandingkan dengan metode lain, maka metode ini agak tidak begitu sulit, dalam arti apabila ada kekeliruan sumber datanya masih tetap, belum berubah.
Adapun keuntungan studi dokumentasi antara lain:
a. Untuk subjek penelitian yang sukar dijangkau seperti para pejabat, studi dokumentasi dapat memberikan jalan untuk melakukan penelitian.
b. Untuk studi yang bersifat longitudinal, khususnya yang menjangkau jauh ke masa lalu, maka studi dokumentasi memberikan cara yang terbaik.
Sedangkan kelemahan studi dokumentasi ini antara lain:
a. Bias . karena dokumen yang dibuat tidak untuk keperluan penelitian, maka data yang tersedia mungkin bias, seperti cerita yang berlebihan atau ada fakta yang disembunyikan.
b. Tersedia secara selektif. Tidak semua dokumen dipelihara untuk dapat di baca ulang oleh orang lain.
Untuk mendapat gambaran hubungan antara metode dengan instrument penelitian disajikan dalam table berikut:
Metode pengumpulan data | Instrumen pengumpulan data |
Angket (kuesioner) | a. Angket b. Skala bertingkat |
Wawancara | a. Pedoman wawancara b. Ceklis (check list) |
Pengamatan (Observasi) | Ceklis |
Dokumentasi | a. Ceklis b. Kerangka atau sistematika data hasil analisis |
Metode pengumpulan data adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya. Sedangkan instrument penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah untuk diolah atau dianalisis.
Langkah-langkah yang ditempuh dalam menyusun instrumen penelitian.
Pada umumnya penelitian akan berhasil apabila banyak menggunakan instrumen, sebab data yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan penelitian (masalah) dan menguji hipotesis diperoleh melalui instrumen. Instrumen sebagai alat pengumpul data harus betul-betul dirancang dan dibuat sedemikian rupa sehingga menghasilkan data empiris sebagai datanya. Data yang salah atau tidak menggambarkan data empiris bisa menyesatkan peneliti, sehingga kesimpulan penelitian yang ditarik atau dibuat oleh peneliti bisa keliru. Sebelum mengkaji hakikat instrumen penelitian, peneliti sebaiknya memperhitungkan terlebih dahulu jenis data manakah yang diperlukan dalam penelitian. Apakah data kuantitatif atau data kualitatif? Apakah data nominal, ordinal, interval, ataukah data rasio? Apakah data primer atau data sekunder? Data kuantitatif data yang berkenan dengan jumlah. Data kualitatif berkenan dengan nilai kualitas baik, sedang, kurang, dan lain-lain. Data kualitatif jika perlu dapat disimbolkan dalam bentuk kuantitatif, asal ada kriteria yang jelas dan tegas penggunaanya. Beberapa langkah yang ditempuh dalam menyusun instrumen penelitian. Langkah-langkah tersebut adalah :
a) Analisis variabel penelitian yakni mengkaji variabel menjadi subpenelitian sejelas-jelasnya, sehingga indikator tersebut bisa diukur dan menghasilkan data yang diinginkan peneliti.
b) Menetapkan jenis instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel atau subvariabel atau indikator-indikatornya.
c) Peneliti menyusun kisi-kisi atau lay out instrumen. Kisi-kisi ini berisi lingkup materi pertanyaan, abilitas yang diukur, jenis pertanyaan, banyak pertanyaan, waktu yang dibutuhkan. Abilitas dimaksudkan adalah kemampuan yang diharapkan dari subjek yang diteliti.misalnya kalau diukur prestasi belajar, maka abilitas prestasi tersebut dilihat dari kemampuan subjek dalam hal pengenalan, pemahaman, aplikasi analisis, sintesis, evaluasi.
d) Peneliti menyusun item atau pertanyaan sesuai dengan jenis instrumen dan jumlah yang telah ditetapkn dalam kisi-kisi. Jumlah pertanyaan bisa dibuat dari yang telah ditetapkan sebagai item cadangan. Setiap item yang dibuat peneliti harus sudah punya gambaran jawaban yang diharapkan. Artinya, prakiraan jawaban yang betul/diinginkan harus dibuat peneliti.
e) Instrumen yang sudah dibuat sebaiknya diuji coba digunakan untuk revisi intrumen, misalnya membuang instrumen yang tidak perlu, menggantinya dengan item yang baru, atau perbaikan isi dan redaksi atau bahasanya. Bagaimana uji coba validitas dan reliabilitas akan dibahas lebih lanjut.
Jadi untuk mengumpulkan data, paradigma ilmiah memanfaatkan tes tertulis (tes-pensil-kertas) atau kuesioner atau menggunakan alat fisik lainnya seperti poligraf. Pencari-tahu-alamiah dalam pengumpulan data lebih banyak bergantung pada dirinya sebagai alat pengumpulan data. Hal itu mungkin disebabkan oleh sukarnya mengkhususkan secara tepat pada apa yang akan teliti. Di samping itu, orang-sebagai-instrumen memiliki senjata ”dapat memutuskan” yang secara luwes dapat digunakannya. Ia senantiasa dapat menilai keadaan dapat dan dapat mengambil keputusan.[21]
Dalam penelitian kuantitatif, membuat instrumen penelitian, menentukan hipotesis benar-benar digunakan dalam kegiatan penelitian. Karena dalam penelitian kuantitatif, instrument untuk keperluan pengumpulan data harus dibuat terlebih dahulu secara matang untuk melengkapiproposal penelitian yang besok akan diajukan.
Cara mengecek keabsahan data dengan instrumen lain.
Menyebutkan Keabsahan data dimaksud untuk memperoleh tingkat kepercayaan yang berkaitan dengan seberapa jauh kebenaran hasil penelitian, mengungkapkan dan memperjelas data dengan fakta-fakta aktual di lapangan. Dalam penelitian kualitatif keabsahan data lebih bersifat sejalan seiring dengan proses penelitian itu berlangsung. Keabsahan data kualitatif harus dilakukan sejak awal pengambilan data, yaitu sejak melakukan reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Untuk memperoleh keabsahan data dalam penelitian kualitatif ini dilakukan dengan cara menjaga kredibilitas, transferabilitas dan dependabilitas.:[22]
Validitasinternal (Kredibilitas)
Validitas internal merupakan ukuran tentang kebenaran data yang diperoleh dengan instrumen, yakni apakah instrumen itu sungguh-sungguh mengukur variabel yang sesungguhnya. Bila ternyata instrumen tidak mengukur apa yang seharusnya diukur maka data yang diperoleh tidak sesuai dengan kebenaran, sehingga hasil penelitiannya juga tidak dapat dipercaya, atau dengan kata lain tidak memenuhi syarat validitas.
Validitas internal (kredibilitas) dapat dilakukan dengan: [23]
Validitas internal merupakan ukuran tentang kebenaran data yang diperoleh dengan instrumen, yakni apakah instrumen itu sungguh-sungguh mengukur variabel yang sesungguhnya. Bila ternyata instrumen tidak mengukur apa yang seharusnya diukur maka data yang diperoleh tidak sesuai dengan kebenaran, sehingga hasil penelitiannya juga tidak dapat dipercaya, atau dengan kata lain tidak memenuhi syarat validitas.
Validitas internal (kredibilitas) dapat dilakukan dengan: [23]
a. Memperpanjang masa observasi.
b. Melakukan pengamatan terus menerus.
c. Trianggulasi data.
d. Membicarakan dengan orang lain.
e. Menganalisis kasus negatif.
f. Menggunakan bahan referensi.
g. Pengecekan anggota
.Dalam melakukan penelitian ini, untuk mencapai kredibilitas peneliti melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Memperpanjang masa observasi, Memperpanjang masa observasi dimaksudkan untuk mendeteksi dan memperhitungkan distorsi yang mungkin merusak data. Distorsi bisa terjadi karena unsur kesengajaan seperti bohong, menipu, dan berpura-pura oleh subyek, informan, key informan. Unsur kesengajaan dapat berupa kesalahan dalam mengajukan pertanyaan, motivasi, hanya untuk menyenangkan atau menyedihkan peneliti.
2. Pengamatan terus menerus, Dengan pengamatan terus menerus dan kontinyu, peneliti akan dapat memperhatikan sesuatu dengan lebih cermat, terinci dan mendalam. Pengamatan yang terus menerus, akhirnya akan dapat menemukan mana yang perlu diamati dan mana yang tidak perlu untuk diamati sejalan dengan usaha pemerolehan data. Pengamatan secara terus menerus dilakukan untuk dapat menjawab pertanyaan penelitian tentang fokus yang diajukan.
3. Trianggulasi data, Tujuan trianggulasi data dilakukan dalam penelitian ini adalah untuk mengecek kebenaran data dengan membandingkan data yang diperoleh dari sumber lain, pada berbagai fase penelitian di lapangan. Trianggulasi data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan sumber dan metode, artinya peneliti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Trianggulasi data dengan sumber ini antara lain dilakukan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan informan dan key informan. Trianggulasi data dilakukan dengan cara, pertama, membandingkan hasil pengamatan pertama dengan pengamatan berikutnya. Kedua, membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara. Membandingkan data hasil wawancara pertama dengan hasil wawancara berikutnya. Penekanan dari hasil perbandingan ini bukan masalah kesamaan pendapat, pandangan, pikiran semata-mata. Tetapi lebih penting lagi adalah bisa mengetahui alasan-alasan terjadinya perbedaan.
4. Membicarakan dengan orang lain (peer debriefing), Mendiskusikan hasil data dengan orang lain yang paham dengan penelitian yang sedang dilakukan.
5. Menganalisis kasus negatif, Menganalisis kasus negatif maksudnya adalah mencari kebenaran dari suatu data yang dikatakan benar oleh suatu sumber data tetapi ditolak oleh sumber yang lainnya.
6. Menggunakan bahan referensi sebagai pembanding dan untuk mempertajam analisa data.
7. Mengadakan member check. Tujuan mengadakan member check adalah agar informasi yang telah diperoleh dan yang akan digunakan dalam penulisan laporan dapat sesuai dengan apa yang dimaksud oleh informan, dan key informan. Untuk itu dalam penelitian ini member check dilakukan setiap akhir wawancara dengan cara mengulangi secara garis besar jawaban atau pandangan sebagai data berdasarkan catatan peneliti tentang apa yang telah dikatakan oleh responden. Tujuan ini dilakukan adalah agar responden dapat memperbaiki apa yang tidak sesuai menurut mereka, mengurangi atau menambahkan apa yang masih kurang. Member check dalam penelitian ini dilakukan selama penelitian berlangsung-sewaktu wawancara secara formal maupun informal berjalan.
Validitaseksternal(Transferabilitas)
Validitas eksternal berkenaan dengan masalah generalisasi, yakni sampai dimanakah generalisasi yang dirumuskan juga berlaku bagi kasus-kasus lain diluar penelitian. Dalam penelitian kualitatif, peneliti tidak dapat menjamin keberlakuan hasil penelitian pada subyek lain. Hal ini disebabkan karena penelitian kualitatif tidak bertujuan untuk menggeneralisir, karena dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan sampling acak, atau senantiasa bersifat purposive sampling.
Validitas eksternal berkenaan dengan masalah generalisasi, yakni sampai dimanakah generalisasi yang dirumuskan juga berlaku bagi kasus-kasus lain diluar penelitian. Dalam penelitian kualitatif, peneliti tidak dapat menjamin keberlakuan hasil penelitian pada subyek lain. Hal ini disebabkan karena penelitian kualitatif tidak bertujuan untuk menggeneralisir, karena dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan sampling acak, atau senantiasa bersifat purposive sampling.
Dependabilitas
Dependabilitas atau reliabilitas instrumen adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Reliabilitas menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten bila dilakukan ulang terhadap gejala yang sama dengan alat pengukur yang sama.Untuk dapat mencapai tingkat reliabilitas dalam penelitian ini, maka dilakukan dengan tekhnik ulang atau check recheck.
Dependabilitas atau reliabilitas instrumen adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Reliabilitas menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten bila dilakukan ulang terhadap gejala yang sama dengan alat pengukur yang sama.Untuk dapat mencapai tingkat reliabilitas dalam penelitian ini, maka dilakukan dengan tekhnik ulang atau check recheck.
Objektivitas
Dalam penelitian kualitatif peneliti harus berusaha sedapat mungkin memperkecil faktor subyektifitas. Penelitian akan dikatakan obyektif bila dibenarkan atau di ”confirm” oleh peneliti lain. Maka obyektifitas diidentikkan dengan istilah ”confirmability”.[24]
Dalam penelitian kualitatif peneliti harus berusaha sedapat mungkin memperkecil faktor subyektifitas. Penelitian akan dikatakan obyektif bila dibenarkan atau di ”confirm” oleh peneliti lain. Maka obyektifitas diidentikkan dengan istilah ”confirmability”.[24]
[3] Moehar Daniel, Metode penelitian sosial ekonomi, (PT Bumi Aksara, 2003), 133. Lihat juga: Moh. Nazir, Metode penelitian, (Ghalia Indonesia, 2003), 174.
[5] Moehar Daniel, Metode penelitian sosial ekonomi, (PT Bumi Aksara, 2003), 143. Lihat juga: Sukardi, Metodologi penelitian pendidikan, (PT Bumi Aksara, 2003), 79. Bandingkan dengan: Cholid Narbuko, Abu Achmadi, Metodologi penelitian, (PT Bumi Aksara, 2003), 83.
[6] Irawan Soehartono, Metode penelitian sosial, (PT Remaja Rosdakarya, 2008), 68. Lihat juga: Syamsuddin, Vismaia, Damaianti, Metode penelitian pendidikan bahasa, (PT Remaja Rosdakarya, 2011), 95. Bandingkan dengan: Sukardi, Metodologi penelitian pendidikan, (PT Bumi Aksara, 2003), 80,.
[10] Husaini Usman, Metodologi penelitian sosial, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003), 60.
[12] Sukardi, Metodologi penelitian pendidikan, (PT Bumi Aksara, 2003), 80. Lihat juga: Nasution, Metode research, (PT Bumi Aksara, 2003), 133. Bandingkan dengan: Irawan Soehartono, Metode penelitian sosial, (PT Remaja Rosdakarya, 2008), 65.
[13] Cholid Narbuko, Abu Achmadi, Metodologi penelitian, (PT Bumi Aksara, 2003), 81-82. Lihat juga: Moh. Nazir, Metode penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, cet-5, 2003), 204-206. Bandingkan dengan: Nasution, Metode research, (PT Bumi Aksara, 2003), 134-137.
[14] Irawan Soehartono, Metode penelitian sosial, (PT Remaja Rosdakarya, 2008), 69. Lihat juga: Husaini Usman, Metodologi penelitian sosial, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003), 54.
[15] Kothari, Research methodology, method and tecniques, (New Age International, 2004), 97. Lihat juga: Husaini Usman, Metodologi penelitian sosial, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003), 57, Bandingkan dengan: Irawan Soehartono, Metode penelitian sosial, (PT Remaja Rosdakarya, 2008), 69.
[16] Syamsuddin, Vismaia, Damaianti, Metode penelitian pendidikan bahasa, (PT Remaja Rosdakarya, 2011), 100. Bandingkan dengan: Nasution, Metode research, (PT Bumi Aksara, 2003), 107.

Komentar
Posting Komentar