TELAAH ANALISIS TAFSIR AL-WASITH KARYA MUHAMMAD SAYYID THANTHAWI
Syeikh Muhammad Sayyid Tantawi dilahirkan di sebuah desa kecil bernama Sulaim As-Syarqiyyah di Muhafazah Sohaj di So'id Misr pada tanggal 14 jumadal ula 1347 H, bertepatan dengan tanggal 28 oktober 1928. Beliau menghafal Al-Quran dan belajar di Iskandariah, Mesir. Memperoleh PhD dalam bidang Hadith dan Tafsir pada tahun 1966 dengan pangkat Mumtaz (cemerlang). Bekerja sebagai tenaga pengajar di Fakultas Ushuluddin, kemudian beliau mengajar di Libya selama 4 tahun dan di Madinah Al-Munawwarah pula sebagai Dekan Kuliyyah Al-Dirasat Al-'Ulya di Universitas Islam Madinah. Pada tanggal 24 safar 1407 yang bertepatan dengan tanggal 28 oktober tahun 1986, beliau dilantik menjadi Mufti Mesir. Selama masa itu ia telah mengeluarkan 7557 fatwa. Salah satu fatwanya yang terkenal adalah tentang kejadian penyerangan gedung kembar WTC 11 september, ia menyebutkan bahwa tindakan ini tidak dibenarkan di dalam al-Qur’an dan kelompok Taliban serta al-Qaidah adalah kelompok yang radikal dengan menggunakan ayat-ayat suci al-Qur’an untuk melegitimasi segala tindakan-tindakan dan perbuatan mereka.
Beliau merupakan salah seorang ulama terkemuka di Al-Azhar yg mahir dalam bidang Tafsir dan mempunyai karya-karya ilmiah yang berkualitas. Nama lengkapnya adalah Muhammad Sayyid ‘Atiyah thanthawi. Proses belajarnya pertama kali dimulai dari desanya, setelah dia hafal al-Qur’an di madrasah iskandariyah pada tahun 1944, ia meneruskan pendidikannya ke fakultas ushuluddin di universitas al-Azhar pada tahun 1958. Pada tahun 1966, ia menamatkan pendidikannya di fakultas yang sama konsentrasi hadist dan tafsir dengan nilai mumtaz, dengan judul thesis “Banu Israil fi al-Qur’an wa as-sunah”. Pada tanggal 8 dzulqa’dah 1416 bertepatan dengan tanggal 27 maret 1996, Muhammad Sayyid Thanthawi diangkat menjadi Grand Syaikh al-Azhar, amanah ini ia kerjakan dengan baik sampai akhir hidupnya. Semasa hidupnya, Muhammad Sayyid Thanthawi dikenal dengan ulama yang mempunyai pemikiran yang sangat moderat dan pendapat-pendapatnya sering berseberangan dengan kaum militant.
B. Wafatnya Muhammad Sayyid Thanthawi
Muhammad Sayyid Thanthawi wafat pada umur 81 tahun setelah shalat subuh hari rabu tanggal 24 Rabi’ul awal tahun 1431 H yang bertepatan dengan tanggal 10 maret 2010 di Riyadh Arab Saudi ketika menghadiri acara musyarakah atas undangan kerajaan Arab Saudi. Setelah itu jenazahnya dibawa ke Madinah al-Munawwarah untuk di shalatkan di Mesjid Nabawi setelah shalat Isya pada hari yang sama, setelah itu, jenazah Muhammad Sayyid Thanthawi di makamkan di Baqi’.
C. Karya-Karya Muhammad Sayyid Thanthawi
Semasa hidupnya, Muhammad Sayyid Thanthawi telah banyak menghasilkan karya-karya yang sangat berguna bagi keilmuwan Islam, diantara karya-karyanya yang terkenal adalah:
1. Adab al-Hiwar fi al-Islam. Buku ini membahas tentang tata cara dialog dalam Islam, Beliau mengatakan bahwa dialog adalah proses pemahaman yang harus diiringi dengan harmonisasi dan negoisasi. Dan metode ini menurutnya telah diterapkan oleh para Nabi dalam dakwah mereka kepada umat. Dia menyebutkan bahwa dialog dan debat, diskusi dan review antara orang-orang dalam hal-hal tertentu, telah diulang dalam Al-Qur'an, lebih dari seribu tujuh ratus kali.
2. Al-Wasith fi Tafsir al-Qur’an.
3. Kitab Fiqh al-Muyassar. Dalam buku ini Grand Sheikh Muhammad Sayyid Tantawi, merakit bab-bab fiqh berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah, dan didasarkan pada buku-buku fiqh lainnya, baik yang kuno maupun kontemporer. Sehingga menjadikan buku ini mudah dibaca dan dipahami. Buku fiqh ini layak dibaca bagi mereka yang ingin mendapatkan kemudahan dalam masalah-masalah fiqh.
4. Al-Qissah Fi al-Qur’an. Ini adalah buku yang mengutarakan kisah-kisah dalam al-Qur’an serta hikmah dari kisah-kisah tersebut. Mulai dari cerita para Nabi seperti Adam, Idris, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa, ashabu al-Kahfi, Zulkarnain dan lain-lain. Buku ini ditutup dengan kisah Nabi Muhammad SAW serta mukjizat (al-Qur’an) yang dibawanya.
5. Banu Israil fi al-Qur’an. buku ini terdiri dari dua jilid, dalam buku ini Muhammad Sayyid Thanthawi berbicara tentang banyak hal yang berkaitan dengan Bani Israil, pada jilid pertama Thanthawi berbicara tentang sejarah perjalanan Bani Israil, Thanthawi juga menguraikan bagaimana metodologi al-Qur’an dalam berdakwah kepada ahlu al-kitab, juga tentang kaum yahudi dengan segala permasalahnnya pada masa Rasulullah. adapun dalam jilid kedua Thanthawi menguraikan tentang kesalahan-kesalahan ajaran Bani Israil dan bagaimana al-Qur’an memberikan pencerahan terhadapa ajaran tersebut, tentang janji-janji Allah SWT kepada mereka dan juga tentang Palestina.
Diantara karya-karyanya yang terkenal ini, Muhammad Sayyid Thanthawi juga memiliki karya-karya lain yang sangat banyak. Karya-karya ini menggambarkan bagaimana keluasan ilmu dan kontribusi Thanthawi dalam dunia keilmuwan Islam. Adapun karya-karya tersebut adalah:
1. الدعاء
2. السرايا الحرية في العهد النبي
3. الإجتهاد في الأحكام الشعية
4. أحكام الحاج و العمرة
5. الحكم الشرعي في أحداث الحليج
6. تنظيم الأسرة و رأي الدين فيه
7. مباحث في العلوم القرآن
8. العقيدة و الأخلاق
9. عشرون سؤالا و جوابا
10. فتاوي شرعية
11. منهاج القرآن في بناء المجتمع
12. رسالة الصيام
13. المرأة في الإسلام- بالمشاركة
Buku-buku yang banyak dan beragam ini, menggambarkan luasnya ilmu Muhammad Sayyid Thanthawi.
Baca juga:
(Analisis Tafsir Jami' lil Al Ahkam AlQur'an)
( Metode Jadal Dalam Al-Qur'an)
(Am Khas dalam Al-Qur'an)
Baca juga:
(Analisis Tafsir Jami' lil Al Ahkam AlQur'an)
( Metode Jadal Dalam Al-Qur'an)
(Am Khas dalam Al-Qur'an)
D. Tafsir al-Wasit li al-Qur’an al-Karim
Tafsir al-Wasit li al-Alqur’an al-Karim berjumlah 15 jilid dengan jumlah halaman lebih dari tujuh ribu halaman. Buku tafsir ini pertama kali di cetak pada tahun 1975 M, dan Muhammad Sayyid Thanthawi membuat tafsir ini dalam kurun waktu 10 tahun, waktu yang lama dalam pembuatan tafsir ini adalah semata-mata karena usahanya yang kuat, jeli, dan teliti agar tafsir al-Wasit ini menjadi sebuah tafsir al-Qur’an yang di dalamnya tidak terdapat perkataan-perkataan yang dha’if, statement-statement yang bathil, makna-makna yang salah, serta agar tidak terdapat di dalamnya sanad-sanad, kecuali sanad yang di nuqil kan dengan sahih dan akal yang sehat (Salim).
E. Metode Penafsiran
Adapun di dalam tafsirnya, Muhammad Sayyid Thanthawi pertama-tama menjelaskan lafazh-lafaz al-Qur’an dari perspektif bahasa (lugoh), lalu beliau menjelaskan maksud dari lafazh-lafazh itu apabila diperlukan. Selanjutnya, beliau menjelaskan makna ijmali ayat dari segi balagah, bayan, adab, dan ahkam. makna-makna ini kadang-kadang juga dikaitkan dengan merujuk kepada ayat-ayat lain, al-Ahadis al-Nubuwah, dan perkatan-perkatan dari al-salaf al-Salih.[1]
Di dalam mukaddimah tafsirnya, Muhammad Sayyid Thanthawi menekankan bahwa dia tidak berpanjang-panjang dalam penjelasan Wujuh al-I’rab, dan apabila di dalam sebuah penafsiran ia menemukan banyak pendapat-pendapat, ia hanya menfokuskan pada pendapat-pendapat yang ia anggap lebih benar, hal ini dimaksudkan agar tidak bertele-tele dalam penafsiran al-Qur’an sehingga terjebak dalam perdebatan yang ia anggap tidak perlu. Ini terlihat ketika Muhammad Sayyid Thanthawi menafsirkan tentang huruf al-Muqatta’ah,
وقد وقع خلاف بين العلماء في المعنى المقصود بتلك الحروف المقطعة التي افتتحت بها بعض السور القرآنية ، ويمكن إجمال خلافهم في رأيين رئيسين :
الرأي الأول يرى أصحابه : أن المعنى المقصود منها غير معروف ، فهي من المتشابه الذي استأثر الله بعلمه .
وإلى هذا الرأى ذهب ابن عباس - في إحدى رواياته - كما ذهب إليه الشعبي ، وسفيان الثوري ، وغيرهم من العلماء ، فقد أخرج ابن المنذر وغيره عن الشعبي أنه سئل عن فواتح السور فقال : إن لكل كتاب سراً ، وإن سر هذا القرآن في فواتح السور . ويروى عن ابن عباس أنه قال : عجزت العلماء عن إدراكها . وعن علي - رضي الله عنه - أنه قال : " إن لكل كتاب صفوة وصفوة هذا الكتاب حروف التهجي؟ . وفي رواية أخرى عن الشعبي أنه قال : " سر الله فلا تطلبوه " .
ومن الاعتراضات التي وجهت إلى هذا الرأي ، أنه كان الخطاب بهذه الفواتح غير مفهوم للناس ، لأنه من المتشابه ، فإنه يترتب على ذلك أنه كالخطاب بالمهمل ، أو مثله كمثل المتكلم بلغة أعجمية مع أناس عرب لا يفهمونها .
وقد أجيب عن ذلك بأن هذه الألفاظ لم ينتف الإفهام عنها عند كل الناس ، فالرسول صلى الله عليه وسلم كان يفهم المراد منها ، وكذلك بعض أصحابه المقربين - ولكن الذي ننفيه أن يكون الناس جميعاً فاهمين لمعنى هذه الحروف المقطعة في أوائل بعض السور .
وهناك مناقشات أخرى للعلماء حول هذا الرأي يضيق المجال عن ذكرها .
أما الرأي الثاني فيرى أصحابه : أن المعنى المقصود منها معلوم ، وأنها ليست من المتشابه الذي استأثر الله بعلمه
وأصحاب هذا الرأي قد اختلفوا فيما بينهم في تعيين هذا المعنى المقصود على أقوال كثيرة ، من أهمها ما يأتي :
1- أن هذه الحروف أسماء للسور ، بدليل قول النبي صلى الله عليه وسلم" من قرأ حم السجدة حفظ إلى أن يصبح " وبدليل اشتهار بعض السور بالتسمية بها كسورة ولا يخلو هذا القول من الضعف ، لأن كثيراً من السور قد افتتحت بلفظ واحد من هذه الفواتح ، والغرض من التسمية رفع الاشتباه .
2- وقيل إن هذه الحروف قد جاءت هكذا فاصلة للدلالة على انقضاء سورة وابتداء أخرى .
3 - وقيل : إنها حروف مقطعة ، بعضها من أسماء الله - تعالى - وبعضها من صفاته ، فمثلاً { الم } أصلها : أنا الله أعلم .
4 - وقيل : إنها اسم الله الأعظم . إلى غير ذلك من الأقوال التي لا تخلو من مقال ، والتي أوصلها السيوطي في " الإتقان " إلى أكثر من عشرين قولا .
5 - ولعل أقرب الآراء إلى الصواب أن يقال : إن هذه الحروف المقطعة قد وردت في افتتاح بعض السور للإشعار بأن هذا القرآن الذي تحدى الله به المشركين هو من جنس الكلام المركب من هذه الحروف التي يعرفونها ، ويقدرون على تأليف الكلام منها ، فإذا عجزوا عن الإتيان بسورة من مثله ، فذلك لبلوغه في الفصاحة والحكمة مرتبة يقف فصحاؤهم وبلغاؤهم دونها بمراحل شاسعة ، وفضلا عن ذلك فإن تصدير السور بمثل هذه الحروف المقطعة يجذب أنظار المعرضين عن استماع القرآن حين يتلى عليهم إلى الإنصات والتدبر ، لأنه يطرق أسماعهم في أول التلاوة ألفاظ غير مألوفة في مجارى كلامهم ، وذلك مما يلفت أنظارهم ليتبينوا ما يراد منها ، فيستمعوا حكما وحججاً قد يكون سبباً في هدايتهم واستجابتهم للحق .
هذه خلاصة لأراء العلماء في الحروف المقطعة التي افتتحت بها بعض السور القرآنية ، ومن أراد مزيداً لذلك فليرجع - مثلاً - إلى كتاب " الإتقان " للسيوطي ، وإلى كتاب " البرهان " للزركشي ، وإلى تفسير الألوسي.[2]
Dalam penafsiran ini terlihat beliau tidak ingin bertele-tele memaparkan perbedaan ulama tentang masalah huruf al-Muqatta’ah, beliau membagi pendapat ulama dalam hal ini menjadi dua, kelompok yang mengatakan bahwa ini adalah rahasia Allah yang tidak bisa ditafsirkan, lalu beliau memberikan alasan kelompok ini. Yang kedua adalah kelompok yang meyakini bahwa huruf ini mempunyai makna, dan disini beliau memberikan lima pendapat yang berbeda dari kelompok kedua ini dengan ringkas dan padat seperti yang dipaparkan diatas. Tidak ingin terjebak dalam permasalahan tentang huruf al-Muqatta’ah ini, Muhammad Sayyid Thanthawi memberikan pendapatnya yang ia anggap lebih mendekati kebenaran tentang masalah ini (tidak mengklaim pendapatnya yang paling benar). Dan bagi para pembaca yang tidak puas dan menginginkan pengetahuan tambahan ataupun konfirmasi tentang pendapat ini, beliau merekomendasikan agar membaca kitab al-Itqan fi al-‘Ulum al-Qur’an karya suyhuti, dan al-Burhan karya Zarkasyi, dan Tafsir al-Alusi. (
Muhammad Sayyid Thanthawi sebagai seorang ulama kontemporer dan sangat demokratis menulis penafsirannya tentang QS Ali Imran: 64 ini.
ثم بين القرآن أن عيسى عبد الله ورسوله ، وأن هذا هو الحق ، وقد تحدى الرسول صلى الله عليه وسلم كل من نازعه فى ذلك بالمباهلة ولكن المجادلين نكصوا على أعقابهم ، فثبت صدق النبى صلى الله عليه وسلم فيما يبلغه عن ربه .
وبذلك يكون القرآن قد بين الحق فى شأن عيسى - عليه السلام - بيانا يهدى القلوب ويقنع العقول ويحمل النفوس على التدبر والاعتبار ، وإخلاص العبادة لله رب العالمين .
ثم وجه القرآن بعد ذلك نداء عاما إلى أهل الكتاب دعاهم فيه - فى بضع آيات متوالية - إلى عبادة الله وحده ، وإلى ترك المحاجة الباطلة فى شأن الأنبياء - عليهم الصلاة والسلام - وإلى الإقلاع عن الكفر بىيات الله وعن تلبيس الحق بالباطل ، وعن كتمان الحق مع علمهم بأنه حق.
أنت ترى أن القرآن الكريم قد وجه إلى أهل الكتاب أربع نداءات فى هذه الآيات الكريمة أما النداء الأول فقد طلب منهم فيه أن يثوبوا إلى رشدهم ، وأن يخلصوا لله العبادة فقال { قُلْ ياأهل الكتاب تَعَالَوْاْ إلى كَلِمَةٍ سَوَآءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ } .
والسواء : العدل والنصفة ، أى قل يا محمد لأهل الكتاب : هلموا وأقبلوا إلى كلمة ذات عدل وإنصاف بيننا وبينكم .
ثم بين - سبحانه - هذه الكلمة العادلة المستقيمة التى هى محل اتفاق بين الأنبياء فقال : { أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ الله } أى نترك نحن وأنتم عبادة غير الله ، بأن نفرده وحده بالعبادة والطاعة والإذعان .
{ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً } أى ولا نشرك معه أحدا فى العبادة والخضوع ، بأن نقول : فلان إله ، أو فلان ابن إله ، أو أن الله ثالث ثلاثة .
{ وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً مِّن دُونِ الله } أى ولا يطيع بعضنا بعضا فى معصية الله . قال الآلوسى : ويؤيده ما أخرجه الترمذى وحسنه من حديث عدى بن حاتم أنه لما نزلت هذه الآية قال : ما كنا نعبدهم يا رسول الله . فقال صلى الله عليه وسلم : " أما كانوا يحلون منكم ويحرمون فتأخذون بقولهم؟ قال : نعم . فقال صلى الله عليه وسلم هو ذاك " قيل إلى هذا أشار - سبحانه - بقوله : { اتخذوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ الله والمسيح ابن مَرْيَمَ وَمَآ أمروا إِلاَّ ليعبدوا إلها وَاحِداً لاَّ إله إِلاَّ هُوَ } فالآية الكريمة قد نهت الناس جميعا عن عبادة غير الله ، وعن أن يشرك معه فى الألوهية أحد من بشر أو حجر أو غير ذلك ، وعن أن يتخذ أحد من البشر فى مقام الرب - عز وجل - بأن يتبع فى تحليل شىء أو تحريمه إلا فيما حلله الله أو حرمه .
ولقد كانت رسالة الأنبياء جميعا متفقة فى دعوة الناس إلى عبادة الله وحده ، وقد حكى القرآن فى كثير من الآيات هذا المعنى ومن ذلك قوله - تعالى - : { وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت } وقوله - تعالى - : { وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نوحي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إله إِلاَّ أَنَاْ فاعبدون } ثم أرشد الله - تعالى - المؤمنين إلى ما يجب عليهم أن يقولوه إذا مالج الجاحدون فى طغيانهم فقال : { فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُولُواْ اشهدوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ } .
أى فإن أعرض هؤلاء الكفاء عن دعوة الحق ، وانصرفوا عن موافقتكم بسبب ما هم عليه من عناد وجحود فلا تجادلوهم ولا تحاجوهم ، بل قولوا لهم : اشهدوا : بأنا مسملون مذعنون لكلمة الحق ، بخلافكم أنتم فقد رضيتم بما أنتم فيه من باطل.
Dalam penafsirannya ini, Muhammad Sayyid Thanthawi menegaskan bahwa ayat ini bertujuan untuk mengajak para ahli kitab agar kembali kepada komitmen mereka untuk menyembah Tuhan selain Allah, dan dalam penafsirannya ini Thanthawi menyatakan bahwa penafsiran dari QS Ali Imran: 64 tidak bisa kita pisahkan dari ayat sebelumnya, karena ayat sebelumnya berbicara tentang bagaimana hakikat penciptaan Nabi Isa yang oleh Allah perumpamaannya seperti menciptakan Nabi Adam yang tanpa Bapak dan Ibu, oleh karena itu, merupakan sebuah kesalahan besar kalau dilahirkannya Nabi Isa tanpa bapak merupakan tanda bahwasanya Isa adalah anak Tuhan.
Adanya kesalahan-kesalahan dalam pemahaman seperti inilah yang menyebabkan turunnya QS Ali Imran: 64 ini, mengajak semua penganut agama kembali kepada komitmen yang telah mereka janjikan pada masa lampau, bukan untuk berdialog dengan proses tawar-menawar antara keyakinan masing-masing. Dalam tafsirnya, beliau juga menegaskan bahwa para Nabi dan Rasul terdahulu sudah sepakat membawa risalah yang substansinya sama-sama mengesakan Tuhan, dan ini menurutnya sangat banyak diceritakan dalam al-Qur’an.
Pada akhir tafsirnya dalam ayat ini beliau memberikan pendapat bahwa apabila masih terdapat perbedaan teologis tentang hal ini, perbedaan itu tidak perlu ditanggapi dengan perkelahian dan kekerasan, sebagai seorang muslim kita hanya cukup menegaskan kepada mereka bahwa kita berpegang teguh kepada agama yang haq, yaitu komitmen-komitmen yang telah disepakati oleh para Nabi dan Rasul terdahulu.
Pendapat Muhammad Sayyid Thanthawi tentang substansi dari ayat ini senada dengan pendapat para ulama diantaranya al-Habasyi. Menurut al-Habasyi, seluruh Nabi, termasuk Nabi Musa dan Nabi Isa membawa ajaran monoteisme yaitu Islam. Nabi Musa datang membawa ajaran agama Islam, pengikutnya biasa disebut musawi (pengikut Nabi Musa). Nabi Isa juga datang membawa ajaran Islam, pengikutnya dinamakan dengan Muslim ‘Isawi (pengikut Nabi Isa). Pengikut Nabi Musa yang muslim kemudian dikenal dengan sebutan Yahudi, diambil dari perkataan Nabi Musa dalam QS al-A’raf: 156. Sedangkan pengikut Nabi Isa kemudian dikenal dengan nama Nasrani atau Nasara, karena mereka menyebarkan ajaran syari’at yang dibawa oleh Nabi Isa untuk menyembah Allah di Nazaret.
Akan tetapi, setelah Nabi Musa dan Isa wafat, mereka kufur kepada Allah. Mereka meyakini sesuatu yang menyimpang dari syari’at Islam. Orang Yahudi meyakini bahwa ‘Uzair adalah anak Allah, sedangkan Nasrani meyakini bahwa Isa adalah anak Allah.[3] .
Berdasarkan QS al-Baqarah: 62[4], paham pluralisme beragama berkeyakinan bahwa semua golongan agama akan selamat dan memperoleh pahala dari Allah selama mereka beriman kepada Allah, hari akhir, dan beramal saleh. Wahbah Zuhaili menafsirkan ayat ini dengan bahwa semua orang yang beriman kepada Allah, hari akhir dan beramal saleh, mereka termasuk orang-orang yang beruntung.[5]
Muhammad Sayyid Thanthawi menafsirkan QS al-Baqarah: 62 sebagai berikut:
في هذه الآية الكريمة حدثنا القرآن عن أربع فرق من الناس :
أما الفرقة الأولى : فهي فرقة الذين آمنوا ، والمراد بهم الذين آمنوا بالنبي صلى الله عليه وسلم ، وصدقوه .
وابتدأ القرآن بهم للإِشعار بأن دين الإِسلام دين قائم على أساس أن الفوز برضا الله لا ينال إلا بالإِيمان الصادق والعمل الصالح ، ولا فضل لأمة على أمة إلا بذلك ، كما قال - تعالى - : { إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عَندَ الله أَتْقَاكُمْ } وأما الفرقة الثانية : فهي فرقة الذين هادوا ، أي : صاروا يهوداً ، يقال : هاد وتهود ، أي دخل في اليهودية ، وسمواً يهوداً نسبة إلى يهوذا أكبر أولاد يعقوب - بقلب الذال دالا في التعريب - أو سمواً يهودا حين تابوا من عبادة العجل ، من هاد يهود هودا بمعنى تاب . ومنه { إِنَّا هُدْنَآ إِلَيْكَ } أي : تينا .
والفرقة الثالثة : هي فرقة النصارى ، جمع نصران بمعنى نصراني ، كندامي وندمان والياء في نصراني للمبالغة ، وهم قوم عيسى - عليه السلام - قيل سمواً بذلك لأنهم كانوا أنصاراً له ، وقيل إن هذا الاسم مأخوذ من الناصرة وهي القرية التي كان عيسى - عليه السلام - قد نزلها .
وأما الفرقة الرابعة : فهي فرقة الصابئين جمع صابئ ، وهو الخارج من دين إلى دين ، يقال : صباً الظلف والناب والنجم - كمنع وكرم - إذا طلع . والمراد بهم الخارجون من الدين الحق إلى الدين الباطل ، وهم قوم يعبدون الكواكب أو الملائكة ، ويزعمون أنهم على دين صابئ بن شيث بن آدم .
وذكر القرآن الصائبة في هذا المقام وهم من أبعد الأمم ضلالا . لينبه على أن الإِيمان منهم على النحو الذي قرره الدين الحق ، فمن لم تبلغه منهم دعوة الإِسلام ، وكان ينتمى إلى دين صحيح في أصله بحيث يؤمن بالله واليوم الآخر ويقدم العمل الصالح على الوجه الذي يرشده إليه دينه ، فله أجره على ذلك عند ربه .
أما الذين بلغتهم دعوة الإِسلام من تلك الفرق ولكنهم لم يقبلوها؛ فإنهم لا يكونون ناجين من عذاب الله مهما ادعوا بأنهم يؤمنون بغيرها ، لأن الشريعة الإِسلامية قد نسخت ما قبلها والرسول صلى الله عليه وسلم يقول : " لو كان موسى حياً ما وسعه إلا اتباعي " .
وبعض العلماء يرى أن معنى { مَنْ آمَنَ } أي : من أجدث من هذه الفرق إيماناً بالنبي صلى الله عليه وسلم وبما جاء من عند ربه ، قالوا : لأن مقتضى المقام هو الترغيب في دين الإِسلام ، وأما بيان من مضى على دين آخر قبل نسخه فلا ملابسة له بالمقام ، فضلا عن أن الصابئين ليس لهم دين تجوز رعايته في وقت من الأوقات .
ثم بين - سبحانه - عاقبتهم فقال : { فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ } .
الأجر : الجزاء على العمل ، وسمى الله ما يعطيه للمؤمن العامل أجراً على سبيل التفضل منه .
وقال : { عِندَ رَبِّهِمْ } ليدل على عظم الثواب ، لأن ما يكون عند الله من الجزاء على العمل لا يكون عظيماًً ، ولأن المجازي لهم هو ربهم المنعوت بصفات الكرم والرحمة وسعة العطاء .
والمعنى : إن هؤلاء الذين لهم أجرهم العظيم عند ربهم ، ولا يفزعون من هول يوم القيامة كما يفزع الكافرون ، ولا يفوتهم نعيم ، فيحزنون عليه كما يحزن المقصرون .
Di dalam penafsirannya tentang ayat ini, beliau menjelaskan tentang keempat kelompok yang dimaksudkan oleh al-Qur’an di dalam ayat ini, yaitu: orang-orang yang beriman, Yahudi, Nasrani, dan kaum Sabiin. Beliau menjelaskan bahwa kaum yang belum datang kepadanya dakwah Islam, dan ia berpijak kepada keyakinannya pada saat itu, maka ia berada dalam lindungan dan ampunan Allah. Namun bagi kaum yang telah sampai kepada mereka dakwah tentang Islam dan mereka tidak mengikuti dan tetap saja berpegang kepada ajaran mereka sebelumnya, maka mereka mendapatkan azab dari Allah. Hal ini di karenakan Islam telah menyempurnakan ajaran-ajaran yang datang sebelumnya.
Pendapat ini juga hampir senada dengan pendapat al-Habasyi, menurutnya al-Qur’an secara eksplisit memang mengakui eksistensi agama-agama lain, akan tetapi pengakuan terhadap eksistensi suatu perkara bukan berarti juga pengakuan terhadap kebenaran perkara tersebut. Al-Qur’an mengakui keberadaan agama diluar Islam, akan tetapi hanya memerintahkan umatnya untuk memeluk agama Islam, oleh karena itu Allah mengutus ribuan Nabinya[6] untuk menyampaikan agama Islam.
Menurut para ulama, penafsiran QS al-Baqoroh: 62 yang menyatakan bahwa umat non muslim akan selamat di akhirat dibantah oleh QS al-Baqoroh: 111-112[7], pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa hanya orang-orang Islam dan berbuat baiklah yang akan mendapatkan keselamatan.
Selanjutnya pemakalah akan mengutip pandangan beliau dalam tafsirnya al- Wasith mengenai kebebasan beragama (hurriyah al-I’tiqad). Paham ini mengajarkan bahwa Islam tidak memaksa manusia untuk menjadikan Islam sebagai satu-satunya agama di dunia. Setiap usaha pemaksaan terhadap suatu agama akan mengalami kegagalan, sebab itu bukan saja hanya menyalahi hukum kebiasaan, tetapi juga bertentangan dengan kehendak Allah. Kesimpulan ini didasarkan pada QS al-Baqoroh: 256 (la ikraha fi al-din).
Gamal al-Bana menjelaskan bahwa paham hurriyah al-i’tiqad adalah paham yang mengatakan bahwa iman dan kufur adalah masalah pribadi, karena itu tidak boleh ada campur tangan dan paksaan dalam bentuk apapun. Tugas seorang Rasul hanyalah menyampaikan dan tidak ada kemampuan bagi mereka untuk memaksa, karena hidayah hanyalah berasala dari Allah.[8]
Yusuf al-Qardhawi menyatakan bahwa kebebasan yang paling utama adalah kebebasan berakidah dan beribadah, setiap orang yang beragama dipersilahkan untuk mengamalkan agamanya dan mazhabnya, tidak dipaksa untuk meninggalkannya dan tidak boleh diperlakukan dengan kekerasan untuk berpindah pada agama Islam.[9]
Muhammad Sayyid Thanthawi menulis di dalam tafsirnya tentang ayat ini sebagai berikut:
وبعد أن ساق - سبحانه - في آية الكرسي الأدلة الواضحة على وحدانيته وعظمته وتنزيهه عن صفات الحوادث ، عقب ذلك ببيان أن الدين الحق قد ظهر وتجلى لكل ذي عقل سليم ، وأنه لا يقسر أحد على الدخول فيه فقال – تعالى لاَ إِكْرَاهَ فِي الدين
الإكراه معناه : حمل الغيرعلى قول أو فعل لا يريده عن طريق التخويف أو التعذيب أو ما يشبه ذلك . والمراد بالدين دين الإِسلام والألف واللام فيه للعهد .
والرشد : الاستقامة على طريق الحق مع تصلبه فيه ، مصدر رشيد يرشد ويرشد أي اهتدى . والمراد هنا : الحق والهدى .
والغي ضد الرشد . مصدر من غوى يغوي إذا ضل في معتقد أو رأى ، ويرى بعض العلماء أن نفي الإِكراه هنا خبر في معنى النهي ، أي : لا تكرهوا أحداً على الدخول في دين الإِسلام فإنه بين واضح في دلائله وبراهينه ، فمن هداه الله له ونور بصيرته دخل فيه على بصيرة ، ومن أضله وأعمى قلبه لا يفيده الإِكراه على الدخول فيه .
وقال بعض العلماء إن الجملة هنا على حالها من الخبرية والمعنى : ليس في الدين - الذي هو تصديق بالقلب ، وإذعان في النفس - إكراه وإجبار من الله - تعالى - لأحد ، لأن مبني هذا الدين على التمكين والاختيار ، وهو مناط الثواب والعقاب ، لولا ذلك لما حصل الابتلاء والاختبار ، ولبطل الامتحان .
أو المعنى : كما يرى بعضهم - إن من الواجب على العاقل بعد ظهور الآيات البينات على أن الإِيمان بدين الإِسلام حق ورشد . وعلى أن الكفر به غي وضلال ، أن يدخل عن طواعية واختيار في دين الإِسلام الذي ارتضاه الله وألا يكره على ذلك بل يختاره بدون قسر أو تردد .
فالجملة الأولى وهي قوله - تعالى - : { لاَ إِكْرَاهَ فِي الدين } : تنفى الإِجبار على الدخول في الدين ، لأن هذا الإجبار لا فائدة من ورائه ، إذ التدين إذعان قلبي ، واتجاه بالنفس والجوارح إلى اله رب العالمين بإرادة حرة مختارة فإذا أكره عليه الإِنسان إزداد كرهاً له ونفوراً منه . فالإِكراه والتدين نقيضان لا يجتمعان ، ولا يمكن أن يكون أحدهما ثمرة للآخرة .
والجملة الثانية وهي قوله - تعالى - : { قَد تَّبَيَّنَ الرشد مِنَ الغي } بمثابة العلة لنفي هذا الإكراه على الدخول في الدين ، أي قد ظهر الصبح لذي عينين ، وانكشف الحق من الباطل ، والهدى من الضلال وقامت الأدلة الساطعة على دين الإِسلام هو الدين الحق وغيره من الأديان ضلال وكفران وما دام الأمر كذلك فقد توافرت الأسباب التي تدعو إلى الدخول في دين الإِسلام ، ومن كفر به بعد ذلك فليحتمل نتيجة كفره ، وسوء عاقبة أمره .
Muhammad Sayyid Thanthawi di dalam tafsirnya mendukung pendapat yang mengatakan bahwa tidak boleh ada pemaksaan dalam beragama (Islam). Menurutnya, ayat ini dikarenakan ayat sebelumnya (ayat kursi) telah memuat dan menjelaskan tentang keesaan dan keagungan Allah, sehingga orang-orang yang memiliki hati dan akal yang sehat, setelah memperhatikan dan mendalami ayat ini, pasti akan beriman kepada Allah dan menjalankan syari’at Islam tanpa paksaan.
Menurut beliau, pemaksaan dalam memeluk agama tidak akan mendatangkan faedah, menurutnya, keterpaksaan dan sifat keberagamaan adalah dua hal yang berbeda, apabila keduanya digabungkan, keduanya tidak akan bermanfaat bagi yang lain, oleh karena itu keduanya harus dipisahkan. Beliau menambahkan bahwa dalam ayat ini Allah juga telah menekankan kepada kita bahwa dengan adanya dakwah, maka menjadi jelaslah antara yang hak dan yang batil, antara kebenaran dan kebathilan, sehingga tidak perlu lagi paksaan dalam mengikuti yang hak, karena semua umat manusia telah mengetahui jalannya masing-masing dan konsekwensi dari pilihan jalan yang ia pilih.
Pendapat beliau ini banyak didukung oleh para ilmuwan muslim, selain dari pendapat-pendapat yang kami utarakan di atas (sebelum penafsiran Thanthawi) tentang ayat ini, Quraisy Shihab juga memiliki wacana yang senada dengan beliau. Quraisy mengatakan bahwa diantara ketentuan yang harus ditaati adalah memberi kebebasan kepada siapapun untuk memilih dan mengamalkan agama dan kepercayaannya, karena masing-masing akan mempertanggung jawabkan kepercayaannya tersebut di hari akhirat nanti, hal ini senada dengan firmannya QS al-Kafirun: 6 lakum dinukum wa li yadin.[10]
F. Kelebihan dan Kekurangan tafsir al-Wasith.
Kemunculan tafsir al-Wasith karya sayyid thantawi menggambarkan bagaimana keluasan ilmu dan kontribusi beliau dalam dunia keilmuwan Islam. Kwalitas tafsir ini tidak kalah jika dibandingkan dengan tafsir-tafsir yang pernah muncul dalam dunia Islam. Tafsir al-Wasith ternyata tidak hanya memiliki ketebalan yang luar biasa, akan tetapi tafsir ini mempunyai kualitas tinggi yang tidak kalah jika dibandingkan dengan tafsir-tafsir yang lain. Jika dilihat dari isinya, tafsir setebal 15 jilid dengan jumlah halaman lebih dari tujuh ribu halaman ini mempunyai keistimewaan yang luar biasa, diantaranya ; Pertama, dari sisi sajian redaksi kalimatnya. Kedua, pola penafsirannya. Ketiga, kontekstualisasi penafsirannya dengan kondisi sekarang.
Diatara kelebihan tafsir al-Wasith adalah:
a) Menjawab tantangan zaman, artinya mampu mengatasi perkembangan zaman yang selalau berubah dan berkembang, dengan arti kata titik tolak keberangkatan permasalahan ini berdasarkan kenyataan yang ada dalam masyarakat dan berakhir pada al-Quran untuk mencari jawaban.
b) Bebas dari penafsiran israiliah: Tafsir ini bebas dari pemikiran-pemikiran Israiliat yang kadang-kadang tidak sejalan dengan martabat al-Qur’an sebagai kalam Allah yang Maha Suci. Selain pemikiran-pemikiran Israiliat.
c) Ruang lingkup yang luas, yakni mempunyai ruang lingkup yang luas dalam dua bentuknya; ma’tsur dan ra’yu.
d) Memuat berbagai ide. Dengan terbukanya pemikiran-pemikirannya dalam menafsirkan al-Qur’an, maka lahirlah kitab tafsir ini 15 jilid.
e) Memberikan wawasan penafsiran yang luas kepada pembaca.
f) Membuka pintu untuk selalu bersikap toleransi terhadap pendapat orang lain yang kadang-kadang jauh berbeda dari pendapat kita dan tak mustahil ada yang kontradiktif. Dapat mengurangi fanatisme yang berlebihan kepada suatu mazhab atau aliran tertentu. (Baca Juga: Kisah Israiliyah Dalam Tafsir Al-Qur'an)
[1]Muhammad Sayyid Thanthawi, al-Tafsir al-Wasit li al-Qur’an al-karim (Kairo: Nahdah al-Misr 1997). Jilid 1, hal: 10.
[2]Muhammad Sayyid Thanthawi, al-Tafsir al-Wasit li al-Qur’an al-karim (Kairo: Nahdah al-Misr 1997). Jilid 1, hal: 10.
[3]QS Al-Taubah: 30, artinya: orang-orang Yahudi berkata Uzair adalah Putra Allah, dan orang-orang Nasrani berkata bahwa al-Masih adalah putra Allah, demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu, dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?
[4] Maknanya: sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Sabi’in. siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati
[5]Wahbah Zuahaili, al-Tafsir al-Munir, (Damaskus: Dar al-Fikr al-Mua’asr. 1998) 178.
[6]Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah Nabi dan Rasul. Sebagian ulama mengatakan bahwa jumlah para Rasul adalah 313, sedangkan jumlah Nabi adalah 24.000. tetapi menurut pendapat yang unggul adalah bahwa tidak menentukan jumlah tetentu bagi mereka. Hal ini dimaksudkan agar tidak memasukan seseorang yang bukan nabi dan juga tidak mengeluarkan seorang Nabi.
[7]Maknanya: dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: sekali-kali tidak akan masuk surge kecuali orang-orang yang yahudi dan Nasrani. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.
[8]Gamal al-Bana, hurriyah al-Fikr wa al-I’tiqad fi al-Islam, (Kairo: Dar al-Fikr al-Islami), 6.
[9]Al-Qardhawi, Gharu al-Muslimin fi> al-Mujtama’ al-Isla>mi (Kairo, Dar al-Syuruq, 2000), 17.
[10]M Quraisy Shihab, Ayat-ayat Fitna, Sekelumit Keadaban Islam di tengah Purbasangka,(Jakarta, Lentera Hati, 2008), 67

Komentar
Posting Komentar