WARISAN PERADABAN DINASTI UMAYYAH
| Gambar Warisan Peradaban Dinasti Umayyah |
Mengenai Khilafah Umawiyah Pada hakekatnya Khilafah Umawiyah dimulai semenjak Pemerintahan Khalifah Uthman karena sejak pada jaman ini Muawiyah Mulai mencurahkan segala tenaganya untuk memperkuat diri dan mempersiapkan daerah Syam untuk dapat menjadi pusat kekuasaan dimasa mendatang.[1] Walaupun Muawiyah telah berjuang begitu panjang untuk mendapatkan jabatan Kalifah, namun setelah ia meninggal jabatan tersebut tidaklah tetap pada anak cucunya. Muawiyah telah berusaha agar Puteranya Yazid diangkat menjadi Khalifah sesudah wafatnya, tetapi kesulitan-kesulitan yang besar telah menunggu puteranya itu. Maka pada hakekatnya Muawiyah bukanlah mendudukkan puteranya itu di atas singgasana kekuasaan tetapi hanyalah diatas sebuah roda yang terus menerus berputar sampai dia jatuh tersungkur dan menghembuskan nafas yang penghabisan.[2]
A. WARISAN BUDAYA DINASTI UMAYYAH
1. KEHIDUPAN INTELEKTUAL DI BASRAH DAN IRAK
Selama masa pemerintahan Bani Umayyah perkembangan intektual terpusat di dua dua kota yaitu Irak dan Basrah, yang kemudian berkembang menjadi pusat aktivitas intelektual di dunia Islam.
Irak Pada Awalnya merupakan kantong-kantong Militer yang dibangun pada masa kekhalifahan Umar pada 17H/638M. Sedangkan Kufah adalah bekas ibukota Babilonia Kuno, dan dalam beberapa tradisi diwarisi oleh masyarakat sekitar. Yaitu penduduk hirah, yang menjadi ibukota kerajaan Lakhmi, karena lokasinya yang sangat strategis, serta diuntungkan dengan kegiatan perdagangan dan Migrasi, sehingga kota tetangganya menjadi kota yang kaya dan padat, dengan jumlah penduduk yang kaya pula.[3]
Sedangkan Basrah menjadi pusat pemerintahan Khurasan semasa Dinasti Umayyah, diriwayatkan berpenduduk 300 ribu dengan 120 Ribu kanal pada 50H/670M. Di perbatasan Persia ini Tata bahasa Arab dimulai oleh para Muallaf. Motif awalnya adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan akan bahasa para pemeluk Islam baru yang ingin mempelajari Al_Qur’an, menduduki posisi di pemerintahan, dan bisa berinteraksi dengan orang Islam dari Arab. Selain alasan tersebut, juga karena perbedaan antara bahasa klasik Al_Qur’an dengan bahsa percakapan sehari-hari yang telah bercampur dengan bahasa Suriah, persia dan bahasa serta dialek lain menjadi pemicu munculnya minat pengkajian bahasa.[4]
Sehingga munculah tokoh perintis ilmu tata bahasa Arab yang bernama Abu al_Aswad al_Du’ali(W.688), dari Baghdad. Beliau memberikan landasan tata Bahasa Arab tiga pola bentukan kata benda, kata kerja dan imbuhan. Dalam masa ini tata bahasa arab berjalan sangat lambat, hal itu dikarenakan adanya pengaruh logika Yunani.
Kepeloporan Abu al_Aswad al_Du’ali> kemudian diikuti oleh al_Khalil ibn Ahmad(w.786), seorang ulama’ Basrah Lainnya. Beliau adalah orang yang pertamakali menyusun kamus bahasa Arab yang bernama Kitab al_Ayn, yang kemudian para penulis biografi menisbahkan penemuan struktur dan aturan bahasa Arab. Yang kemudian beliau memiliki Murid yang bernama Sibawayh(W.793), yang kemudian beliau menyusun buku teks sistematis pertama tentang tata bahasa Arab, yang dikenal dengan sebutan al_Kitab (buku), yang sejak saat itu telah menjadi landasan bagi kajian penting bahasa. (Baca juga: Masa Pemerintahan Khalifah Usman Bin Affan)
Pada perkembangan intelektual berikutnya, adalah lahirnya kajian al_Qur’andan penafsirannya, yang kemudian melahirkan ilmu kembar Yaitu, Filologi dan Leksikografi, juga aktifitas literatus islam yang khas islam, yaitu Ilmu Hadist. Salah satu tokoh yang muncul adalah Hasan al Basri dan Ibn Syihab al_Zuhri> (w.742)
Aktifitas keilmuan yang lain yang bisa dikatakan embrio bagi lahirnya gerakan inteletual Islam adalah gerakan penulisan sejarah. Kajian Historiografi Arab, yang tumbuh pada masa ini adalah dimulai dari kajian hadist. Ilmu sejarah dipelajari adalah atas keinginan para khalifah terdahulu untuk mengetahui tindakan para raja dan penguasa sebelum mereka. Minat orang Islam untuk mengumpulkan kisah tentang Nabi dan para sahabatnya. Yang kemudian menjadi landasan bagi penulisan buku-buku tentang penaklukan(maghazi) dan biografi (Sirah). Tokoh-tokoh yang mempepeloporinya adalah Abid (ubayd) ibn Syaryah. Untuk keluarga kerajaan Abidmenyusun sejumlah buku dalam bidang yang ia geluti, yang salah stunya Kitab al_muluk wa akhbar al_madin (tentang sejarah para raja dan sejarah bangsa-bangsa terdahulu). pakar lain yang merupakan pakar ilmu Asal-usul (ilmu al_Awa’il) adalah Wahab al_munabbi. (w728). Penulis yang lainnya adalah Ka’b al_Ahbar(w.654)[5]
Adapun perkembangan ilmu Ilmu pengetahuan pada masa Daulah Bani Umayyah didefinisikan menjadi dua yaitu:
1. al-A>daabul Hadi>sah(ilmu-ilmu baru), yang terpecah menjadi dua bagian:
a. al_Ulumul Islamiyah, yaitu ilmu-ilmu al_Qur’an, al_Hadist, al_Fiqh, al_Ulumul Lisaniyah, al_Tarikhdan al_Jughrafi.
b. al_Ulum al_Dakhiliyah, yaitu ilmu-ilmu yang diperlukan oleh kemajuan Islam, seperti ilmu thib, fisafat, ilmu pasti dan ilmu-ilmu eksakta lainnya yang disalin dari bahasa Persia dan Romawi.
2. Al_A>daabul Qadi>mah(ilmu-ilmu lama), yaitu ilmu-ilmu yang telah ada di zaman Jahiliah dan di zaman khalafaur rasyidin, seperti ilmu-ilmu lughah, syair, khatabah dan amsa>al.
Pada permulaan masa Daulah Bani Umayyah orang Muslim membutuhkan hukum dan undang-undang, yang bersumber pada al_Qur’an. Oleh karena itu mereka mempunyai minat yang besar terhadap tafsir al_Qur’an. Ahli tafsir pertama dan termashur pada masa tersebut adalah Ibnu Abbas. Beliau menafsirkan al_Qur’an dengan riwayat dan isnaad.[6]
Ilmu pengetahuan yang berkembang di zaman Daulah Umayyah dapat secara sistematis dibagi sebagaimana berikut :
a. al_Ulumus Syari’ah, yaitu ilmu-ilmu Agama Islam, seperti Fiqih, tafsir al_Qur’andan sebagainya.
b. al_Ulumul Lisaniyah, yaitu ilmu-ilmu yang perlu untuk memastikan bacaan al_Qur’an, menafsirkan dan memahaminya.
c. Tarikh, yang meliputi tarikh kaum muslimin dan segala perjuangannya, riwayat hidup pemimpin-pemimpin mereka, serta tarikh umum, yaitu tarikh bangsa-bangsa lain.
d. Ilma al_Qira>at, yaitu ilmu yang membahas tentang membaca Al_Qur’an . Pada masa ini termasyhurlah tujuh macam bacaan Al_Qur’an yang terkenal dengan Qiraah Sab’ah yang kemudian ditetapkan menjadi dasar bacaan, yaitu cara bacaan yang dinisbahkan kepad acara membaca yang dikemukakan oleh tujuh orang ahli qiraat, yaitu Abdullah bin Kathir (w. 120 H), Ashim bin Abi Nujud (w. 127 H), Abdullah bin Amir Al_Jashsahash (w. 118 H), Ali bin Hamzah Abu Hasan al Kisai(w. 189 H), Hamzah bin Habib al_Zaiyat (w. 156 H), Abu Amr bin al_Ala(w. 155 H), dan Nafi bin Na’im (169 H).
e. Ilmu Tafsir, yaitu ilmu yang membahas tentang undang-undang dalam menafsirkan Al_Qur’an . Pada masa ini muncul ahli Tafsir yang terkenal seperti Ibnu Abbas dari kalangan sahabat (w. 68 H), Mujahid (w. 104 H), dan Muhammad al_Baqir bin Ali bin Ali bin Husain dari kalangansyi’ah.
f. Ilmu Hadith, yaitu ilmu yang ditujukan untuk menjelaskan riwayat dan sanad al_Hadith, karena banyak Hadis yang bukan berasal dari Rasulullah. Diantara Muhaddis yang terkenal pada masa ini ialah al_Zuhry(w. 123 H), Ibnu Abi Malikah (w. 123 H), al_Auza’i Abd al_Rahman bin Amr (w. 159 H), Hasan Basri (w. 110 H), dan al_Sya’by (w. 104 H).
g. Ilmu Nahwu, yaitu ilmu yang menjelaskan cara membaca suatu kalimat didalam berbagai posisinya. Ilmu ini muncul setelah banyak bangsa-bangsa yang bukan Arab masuk Islam dan negeri-negeri mereka menjadi wilayah negara Islam. Adapun penyusun ilmu Nahwu yang pertama dan membukukannya seperti halnya sekarang adalah Abu Aswad al_Dualy(w. 69 H). Beliau belajar dari Ali bin Abi Talib, sehingga ada ahli sejarah yang mengatakan bahwa Ali bin Abi Talib sebagai Bapaknya ilmu Nahwu.
h. Ilmu Bumi (al_Jughrafi>). Ilmu ini muncul oleh karena adanya kebutuhan kaum muslimin pada saat itu, yaitu untuk keperluan menunaikan ibadah Haji, menuntut ilmu dan dakwah, seseorang agar tidak tersesat di perjalanan, perlu kepada ilmu yang memebahas tentang keadaan letak wilayah. Ilmu ini pada zaman Bani Umayyah baru dalam tahap merintis.
i. al_Ulum al_Dakhilah, yaitu ilmu-ilmu yang disalin dari bahasa asing ke dalam bahasa Arab dan disempurnakannya untuk kepentingan kebudayaan Islam. Diantara ilmu asing yang diterjemahkan itu adalah ilmu-ilmu pengobatan dan kimia. Diantara tokoh yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Khlaid bin Yazid bin Mu’awiyah (w. 86 H). [7]
2. GERAKAN KEAGAMAAN
Pada masa bani Umayyah, ditemukan cikal bakal gerakan-gerakan filosofis keagamaan yang berusaha menggoyahkan fondasi Islam. Pertama, pada awal abad ke 8 lahirlah madzhab rasionalisme yang biasa kita sebut dengan Muktazilah, yang dipelopori oleh Washil ibn ‘Atho’ (w748). Orang muktazilah mendapatkan sebutan pembelot, penentang, karena aliran ini mendakwahkan ajaran bahwa siapa yang melakukan dosa besar (Kabirah) dianggap telah keluar dari barisan beriman, tetapi tidak menjadikan dia kafir. Orang yang semacam ini berada dalam kondisi pertengahan antara kedua status itu.
Doktrin lain dari mu’tazilah adalah: penolakan terhadap kesatuan antara Tuhan dan sifat-sifatnya, seperti berkuasa, bijaksana, dan maha hidup, dengan argumen bahwa konsep semacam itu akan merusak keesaan Tuhan. Oleh karena itu, julukan yang sangat disukai oleh orang Mu’tazilah adalah kelompok pendukung keadilan dan keesaan.[8]
Kedua, kelompok Qadariyah, mereka menentang konsep takdir yang ketat dalam Islam, - yaitu konsep kekuasaan Tuhan yang sangat ditekankan dalam Al_Qur’an dan pengaruh Yunani Kristen. Kelompok Qadariyah adalah madzah filsafat Islam yang paling awal, besarnya pengaruh pemikiran mereka bisa dilihat dari kenyataan bahwasanya khalifah bani Umayyah, Muawwiyah II dan Yazid III, merupakan pengikut madzhah ini.[9]
Ketiga, kelompok Khawarij, adalah pendukung utama puritanisme Islam. Khawarij adalah sekte politik keagamaan yang pertama lahir di dalam Islam. Pendukung Khawarij pada awalnya adalah pendukung setia Ali Bin Abi Tholib yang kemudian menjadi penentang Ali Bin Abi Tholib. Awalnya kelompok ini timbul karena mereka menuntut hak istimewa orang Quraisy untuk menduduki jabatan kekhalifahan. Dalam upayanya mempertahankan prinsip demokrasi primitif Islam, kelompok khawarij yang puritan ini telah menumpahkan banyak darah selama tiga abad pertama sejarah Islam. Dalam waktu-waktu itu mereka melarang praktek kultus terhadap orang suci, dan memberangus kelompok-kelompok persaudaraan sufi.[10]
Keempat, kelompok Murji’ah, kelompok ini mengusung konsep Irja’, Yaitu penangguhan hukuman terhadap orang beriman yang melakukan dosa, dan mereka tetap dianggap muslim. Lebih spesifik lagi, orang Murji’ah tidak menganggap pemaksaan hukum agama oleh khalifah-khalifah Umayyah sebagai Alasan Yang sah untuk menolaknya sebagai pemimpin politik de facto umat Islam. Secara umum ajaran Murji’ah berkisar pada toleransi. Salah satu tokoh yang moderat madhab ini adalah Abu Hanifah (w. 767)[11]
Kelima,Golongan Syiah, adalah kelompok pembela Ali Bin Abi Tholib. Mereka berpendapat bahwasanya Ali Bin Abi Tholib RA dan putra-putranya adalah sebagai imam sejati. Jika pendiri Islam Islam menjadikan Wahyu, Al_Qur’an sebagai media penghubung antara Tuhan dan Manusia, maka orang syiah menjadikan manusia, yaitu Imam sebagai penghubung. Menurut kaum Syiah, seorang imam merupakan pemimpin komunitas Islam satu-satunya yang sah, dan ditunjuk oleh Tuhan untuk memegang kekuasaan yang tertinggi. Ia memiliki jalur keturunan langsung dengan Nabi Muhammad SAW, melalui Fatimah dan Ali Bin Abi Tholib. Seorang imam adalah pemimpin Agama dan Spiritual, sekaligus sebagai pemimpin dalam Urusan Dunia.[12]
3. TRADISI LITERER
Perkembangan kebudayaan literer pada masa bani Umayyah secara umum pada periode ini diantaranya adalah Pidato, korespondensi, dan puisi, ketiga aspek itu adalah bagian dari jenis sastra yang berkembang saat itu. Secara umum sastra Arab terbagi menjadi dua yaitu Prosa (Natsr) yang meliputi dua aspek pertama dan puisi (syi’r). Pidato di masa bani umayyah mengalami masa puncaknya. Tokoh-tokoh keagamaan (khotib) menggunakannya sebagai sarana da’wah, Jendral memanfaatkannya sebagai sarana untuk memberi semangat pada pasukannya. Pidato merupakan merupakan alat untuk propaganda dan untuk menyebarkan gagasan dan membangkitkan Emosi.[13]
Kemajuan intelektual paling penting selama periode dinasti Umayyah terjadi dalam bidang penulisan puisi. Sebelumnya, sejak kelahiran Islam kepenyairan tidak memiliki gairah menciptakan karyanya. Padahal dalam sejarah Dunia, bangsa Arab lebih dikenal dengan “ Negeri para Penyair”
Dengan naiknya dinasti Umayyah, syair betul-betul menampakkan eksistensinya dalam literatur Arab. Salah satunya adalah eksistensi Syair-syair cinta. Salah satu tokohnya adalah Umar Ibn Abi Rabi’ah (W.719). ia dikenal sebagai seorang raja penulis puisi Erotis berpaham bebas dan sebagai “Ovid(Penyair Romawi) Arab”. Ia adalah keturunan Quraisy yang suka menjalin hubungan asmara dengan gadis-gadis bangsawan ke makkah dan madinah, termasuk dengan gadis kota yang menawan, yang kemudian dengan cara yang sangat menggairahkan dan menyenangkan, ia mengungkapkan gairah asmaranya terhadap lawan jenisnya.[14]
Disamping puisi cinta, puisi politik juga muncul di zaman Umayyah. Puisi politik dibuat pertama kali oleh Miskin al_Darimiyang diminta untuk menggubah dan membacakan di depan publik bait-bait puisi untuk merayakan yazid sebagai khalifah.[15]
Pada Masa Umayyah juga dilakuakan penghimpunan puisi-puisi pra islam yang dilakukan oleh Hammad al_Rawiyah (seorang perawi hadist, 713-772). Iapun pernah membacakan 2900 (Qhasidah) puisi yang dikumpulkannya itu di depan Al Walid II, yang kemudian ia mendapatkan hadiah 100 ribu dirham. Warisan terbesar Hammad al_Rawiyah adalah himpunan puisi emas berlirik, yang dikenal Mu’allaqad.
Untuk mendukung perkembangan puisi, maka pemerintahan pada dinasti Umayyah juga mendirikan sekolah puisi, yang dikepalai oleh Farazdaq (640-728) dan Jarir (w. 729), dan sekolah puisi di ibukota kerajaan yang dikepalai oleh al Akhthal (640-710), ketiganya lahir dan besar di Irak. mereka merupakan yang terdepan diantara para penyair unggulan sebelum mereka. [16]
4. ARSITEKTUR PADA ZAMAN MUAWIYAH
Seni bangunan (arsitektur) pada zaman ini bertumpu pada dua bagian yaitu bangunan sipil yang berupa kota-kota dan bangunan agama yang berupa masjid. Pada masa ini beberapa kota baru dan perbaikan kota lama telah dibangun dengan memadukan gaya Persia, Romawi dan Arab.
Selama Awal pemerintahan bani Umayyah, Tidak ada pengembangan arsitektur yang mencolok. Arsitektur islam masih bertahan sejak zamannya Islam yaitu pembangunan masjid yang menjadi tempat Ibadah bagi umat Islam. Bangunan masjid masih sederhana yang terdiri atas pelataran terbuka yang dikelilingi dinding-dinding dari tanah liat yang dijemur, atap terbuat dari daun kurma dan batang kurma berfungsi sebagai penyanggah. Disana terdapat mimbar yang terbuat dari pohon kurma. (Baca juga: Arab Pra Islam Ditinjau dari Beberapa Aspek)
Pasca itu, masjid mulai berkembang dengan cara memadukan antara budaya Islam dengan budaya sekitarnya, yang mana daerah-daerah tersebut sudah ditaklukkan oleh Islam.
Masjid pertama yang didirikan di daerah taklukkan adalah masjid di Basrah yang dibangun oleh ‘Utbah ‘ibn Ghazwan (637/638), yang menjadikan kota itu sebagai markas pasukan di musim dingin. Tempat tersebut terdiri atas lokasi terbuka yang dikelilingi pagar rerumputan. Kemudian didirikan bangunandari tanah liat dan batubata yang dikeringkan dengan sinar matahari (Libn) oleh Abu Musa al_Asy’ary, pada masa Umar masjid tersebut diberikan atap dari anyaman rumput.
Pada 638/639 M, jenderal pasukan Islam Sa’ad bin abi Waqqash, membangun masjid di kuffah dengan masjid sederhana sebagai pusatnya, di dekat masjid tersebut dibangun kediaman gubernur (dar al_Imarah). Seperti di Basrah masjid ini pada mulanya hanyalah lapangan terbuka yang berpagar rerumputan, kemudian diganti dengan pagar dari tanah liat dan batu bata yang dijemur. Kemudian Ziyad wakil dari Muawwiyah, merenovasi masjid tersebut dengn menambahkan beranda yang memakai arsitektur Sasaniyah. [17]
Masjid pertama kali di Afrika dibangun oleh ‘amr bin al_Ashdi Fustat (Kairo lama) pada tahun 642, dalam bentuk aslinya. Yaitu bangunan segi empat yang sederhana tanpa Mihrab untuk menunjukkan arah Shalat, Dan tanpa menara (Mi’dzanah). Sebagai tempat Ibadah, masjid ini juga berfungsi sebagai markas militer di Fustatyang ketiga di dalam pemerintahan bani Umayyah.
Masjid yang juga memegang peranan penting adalah masjid ‘Uqbah Ibn Nafi’ di Kairawan (670-675) yang, seperti Fusthat, juga merupakan markas militer ‘Uqbah pertama kali mendirikan masjid dan bangunan pemerintahan sebagai pusat markas dan membangun hunian penduduk sekelilingnya. Masjid tersebut sudah mengalami renovasi beberapa kali oleh para khalifah sesuadahnya, dan terakhir kali oleh Ziyadat Allah I (817-838) dari dinasti Aghlabiyah, yang sejak saat itu menjadi salah satu masjid terbesar umat Islam. Kairawan dibangun dengan gaya arsitektur Islam dan dilengkapi dengan berbagai gedung, masjid, taman rekreasi, pangkalan militer dan sebagainya.[18]
al_Walidmemerintahkan Umar bin Abdul al_Aziz(gubernur Madinah) untuk memperluas masjid Nabawi dan memasukkan rumah-rumah isteri Rasulullah ke dalam masjid. al_Walidjuga memberitahukan kaisar Romawi bahwa ia sedang merehabilitasi masjid Nabawi dan meminta bantuan kepadanya. Kaisar Romawi mengirimkam 100.000 misqal emas dan 100 pekerja dan 40 mozaik yang indah[19].
Inovasi sekuler di dalam Masjid adalah pembuatan Maqshurah, adalah ruangan berpagar yang ada didalam masjid sebagai tempat khusus untuk khalifah. Terdapat berbagai alasan mengapa ruangan khusus itu dibangun adalah untuk melindungi khalifah dari usaha pembunuhan oleh kelompok khawarij. Maqshurah biasa digunakan oleh para khalifah untuk mengasingkan diri dan beristirahat, dan untuk bermusyawarat.[20]
Pada masa bani Umayyah ini, menara diperkenalkan, diawali di Suriah dengan mengambil bentuk menara jam setempat, atau menara gereja, berbentuk segi empat. bentuk menara di Suriah kemudian dijadikan prototype menara-menara Masjid yang lainnya. Di mesir, menara masjid ‘amr diperkenalkan oleh gubernur Mu’awiyah, yang membangun menara di keempat sudut masjid ‘amr. Di Irak, menara masjid Bashrah dilengkapi dengan Menara dari Batu.
Pembangunan Kubah batu juga merupakan peninggalan arsitektur pada khalifah Muawwiyah, pengembangan dilakukan di seluruh kompleks bangunan suci yang terdiri atas kubah batu, makam-makam, Biara dan mata air umum. [21]
Pada 705, putra Abd Malik, Al_Walidmengambil alih kawasan gereja Romawi di Damaskus yang dibangun untuk Santo Yahya, pada mulanya adalah kuil Jupiter, dan membangunnya menjadi masjid besar yang diberi nama Umayyah[22].
Selain tempat-tempat Ibadah, Dinasti Umayyah hanya meninggalkan beberapa monumen arsitektur, bangunan-bangunan yang penting diantaranya adalah istana-istana padang pasir yang didirikan oleh para putra mahkota keluarga khalifah. Sampai saat ini tidak ada peninggalan peninggalan arsitektur yang bisa dipelajari termasuk bangunan megah Qoshr al_Khadra, istana raja yang terletak berdampingan dengan masjid besar, juga tidak ada bekas sama sekali dari kediaman al_Hajjaj di Wasit yang namanya identik dengan istana Khalifah al_Qubbah al_Khadra.[23]
5. SENI RUPA DAN MUSIK
Zaman bani Umayyah kebanyakan teolog Islam menyatakan bahwa melukiskan manusia dan hewan merupakan hak prerogratif Tuhan, dan menganggap orang yang melakukan batasan itu sebagai penghina Agama, dan larangan untuk menyembah berhala.
Karena hal tersebut, tidak ada satupun gambar manusia yang ditemukan di dalam masjid, tapi di dalam beberapa kesempatan kita bisa menemukannya di dalam sebuah istana dan beberapa karya tulis. Hampir semua motif hiasan dalam Islam menggunakan motif tanaman atau garis-garis geometris. (Baca juga: Dinasti Mamluk dan Sumbanganya dalam Islam)
Apa yang kita sebut sebagai seni rupa Islam adalah unsur gabungan dari berbagai sumber, motif dan gaya, yang kebanyakan merupakan hasil kejeniusan artistik masyarakat taklukan yang berkembang di bawah kekuasaan Islam, dan disesuaikan dengan tuntutan agama Islam.
Gambaran Paling awal dari seni Rupa Islam adalah lukisan di Qushayr ‘amrah, yang menampilkan karya para pelukis kristen. Pada dinding-dinding tempat peristirahatan dan pemandian Al Walid I di Transyordania.[24]
Mengenai perkembangan lagu dan Nyanyian, bisa dikatakan bahwa pada Masa Pra Islam, orang Arab memilki beragam jenis lagu : kemenangan, perang, keagamaan, dan cinta. Jejak-jejak hymne keagamaan primitif masih terlihat dalam talbiyyahritual haji. Insyad, atau mendendangkan puisi, terlihat dalam melagukan (Tajwid) Al_Qur’an. Namun lagu kafilah, Huda, merupakan lagu yang paling disukai dan, menurur mereka , merupakan jenis lagu yang pertama kali muncul.
Generasi pertama Biduan Islam dipelopori oleh Thuways, terdiri atas orang-oranf permisif. Tuways memiliki banyak murid, yang paling terkenal diantaranya Ibn Surayj (634-726), yang dipandang sebagai salah satu penyanyi terbesar Islam. Sa’id, musisi pertama makkah dan mungkin yang terbesar pada dinasti umayyah, diriwayatkan telah melakukan perjalanan ke suriah dan persia, dan menjadi orang pertama yang menerjemahkan lagu-lagu bizantium dan persia ke bahasa Arab. Ia juga merupakan orang pertama yang menyusun secara sistematis teori dan musik Arab pada masa-masa klasik. Selain itu ada dua orang pemain perkusi Arab yang sangat terkenal yaitu ibn Muhriz (w. 715) dan Ma’bad (w.743).[25]
Konser-konser dan pementasan musik glamor yang diadakan di rumah-rumah istri para bangsawan telah menarik banyak peminat seni. Di masa ini berbagai alat musik model lama sudah digantikan alat-alat yang lebih maju.
Di masa Umayyah ini ada satu kitab bait-bait lagu yang paling di kenal yaitu kitab Agh>ani>, yang selalu dinyanyikan dengan disertai dengan iringan musik. [26]
Dengan demikian, pada masa dinasti umayyah, mekkah lebih khusus lagi di Madinah, merupakan tempat kondusif bagi perkembangan lagu dan musik. Kedua kota ini melahirkan generasi-generasi biduan baru yang terus meningkat, dan meneruskan karier mereka di ibukota kerajaan, Damaskus. Golongan konservatif dan para ulama’ mengemukakan keberatan mereka, namun tidak membuahkan hasil.[27]
Khalifah yang mempelopori perkembangan musik adalah khalifah Umayyah kedua, Yazid, beliau adalah penulis lagu dan yang memperkenalkan nyanyian dan alat-alat musik ke istana Damaskus. Ia memulai praktik-praktik penyelenggaran festival besar di istana yang menyuguhkan minuman anggur dan nyanyian, yang sejak saat itu tidak bisa dipisahkan dari pesta-pesta kerajaan.[28]
Pada masa khalifah Abdul Malik mulai dirintis pembuatan tiraz (semacam bordiran), yakni cap resmi yang dicetak pada pakaian khalifah dan para pembesar pemerintahan. Format Tirazyang mula-mula merupakan terjemahan dari rumus Kristen, kemudian oleh Abdul Aziz (Gubernur Mesir) diganti dengan rumus Islam, lafaz "La ilaha illa Allah" guna memperlancar produktivitas pakaian resmi kerajaan, maka Abdul malik mendirikan pabrik-pabrik kain. Setiap pabrik diawasi oleh "Sahib al_Tiraz", yang bertujuan mengawasi tukang emas dan penjahit, menyelidiki hasil karya dan membayar gaji mereka.[29]
Salah satu ciri dan karakteristik seni islam adalah seni menulis Indah /kaligrafi islam, Sejarah kaligrafi pada masa Umayyah tidak memiliki dokumentasi yang lengkap karena beberapa khalifah Abbasiyah yang menggantikannya dengan menghancur leburkannya. Namun ada seorang Arab yang telah membuat catatan terbesar sepanjang peride pertumbuhan kaligrafi pada masa tersebut. Ia adalah Qutbah al_Muharrir, kaligrafi umayyah pertama yang paling lama bertahan dengan kecakapan luar biasa. Qutbah punya nama terhormat dalam banyak literature Arab, karena berhasil mewariskan 4 jenis kaligrafi penting, yaitu Thumar, Jalil, Nishf, dan Tsuluts. Dia juga dikenal menulis sejarah dan bunga rampai Arab dan sangat masyhur terutama karena menghias mihArab Masjid Nabawi dengan beragam ayat Al_Qur’an yang ditulis dengan fan Jalil yang indah.
Selain Qutbah, para kaligrafer kenamaan lainnya adalah Khalid ibn al_Hayyaj, Khasynam dan Malik ibn Katsir. Khalid ibn Hayyajsangat terkenal sebagai kaligrafer resmi Khalifah al_Walid ibn Abdil Malikyang telah menulis banyak mushaf Al_Qur’an berukuran besar dengan fan Thumar dan Jalil.
Khalifah Abdul Malik ibn Marwanadalah tokoh utama yang mula-mula mencanangkan “Dekrit Arabisasi”di segala bidang. Ia memerintahkan pemberlakuan penggunaan kaligrafi Arab untuk kantor-kantor dan segenap pemakaian alat tulis Negara.
Abdul Malik digantikan oleh putranya al_Walidyang dianggap sebagai “Bapak pelindung dan Pembina”seni kaligrafi yang mula-mula dalam sejarah Islam. Minatnya sangat tinggi dalam memperkenalkan khat Jalil dan Thumar pada penulisan mushaf-mushaf Al_Qur’an .[30]
6. ORGANISASI MILITER
Pada masa Umayyah organisasi militer terdiri dari Angkatan Darat (al_Jund) Angkatan Laut (al_Bahriyah) dan Angkatan Kepolisian (al_Syurtah) sesuai dengan politik Arabnya angkatan bersenjata terdiri dari orang-orang Arab atau unsur Arab. Setelah wilayah kekuasaan meluas sampai ke Afrika Utara, orang luar pun terutama bangsa Barbar turut ambil bagian dalam kemiliteran ini. Pada masa Abd al_Malik ibn Marwan diberlakukan undang-undang wajib militer (Nidam al_Tajdid al_Ijbari) pada waktu itu aktivitas balatentara diperlengkapi dengan kuda, baju besi, pedang dan panah.[31]
Pada Masa Muawwiyah terjadi peristiwa yang heroik yang sangat monumental. Yang mana peristiwa tersebut menjadi pelecut semangat dan motivasi bagi angkatan-angkatan perang sesudahnya. Adapun peristiwa tersebut dilakukan oleh Panglima perang Thariq bin Ziyadbersama 7000 tentara, yang mayoritas berasal dari suku Berber, menyeberang ke Spanyol di tahun 711 M. ia mendarat dekat gunung batu besar yang kelak dinamai dengan namanya, Jabal (gunung) Thariq, Orang Eropa menyebutnya Gilbraltar.
Setelah berhasil menyeberang ke daratan Spanyol, tiba-tiba Thariq mengambil langkah yang hingga sampai kini membuat tercengang para ahli sejarah. Ia membakar perahu-perahu yang digunakan untuk mengangkut pasukannya itu. Lalu ia berdiri di hadapan para tentaranya seraya berpidato dengan lantang berwibawa, dan tegas.
Dalam pidatonya yang penuh semangat, panglima Thariq berkata;
“Di mana jalan pulang? Laut berada di belakang kalian. Musuh di hadapan kalian. Sungguh kalian tidak memiliki apa-apa kecuali sikap benar dan sabar. Musuh-musuh kalian sudah siaga di depan dengan persenjataan mereka. Kekuatan mereka besar sekali. Sementara kalian tidak memiliki bekal lain kecuali pedang, dan tidak ada makanan bagi kalian kecuali yang dapat kalian rampas dari tangan musuh-musuh kalian. Sekiranya perang ini berkepanjangan, dan kalian tidak segera dapat mengatasinya, akan sirnalah kekuatan kalian. Akan lenyap rasa gentar mereka terhadap kalian. Oleh karena itu, singkirkanlah sifat hina dari diri kalian dengan sifat terhormat. Kalian harus rela mati. Sungguh saya peringatkan kalian akan situasi yang saya pun berusaha menanggulanginya. Ketahuilah, sekiranya kalian bersabar untuk sedikit menderita, niscaya kalian akan dapat bersenang-senang dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, janganlah kalian merasa kecewa terhadapku, sebab nasib kalian tidak lebih buruk daripada nasibku…”[32]
Selanjutnya ia berteriak kencang: “Perang atau mati!”Pidato yang menggugah itu merasuk ke dalam sanubari seluruh anggota pasukannya.
Pada 19 Juli 711 M, pasukan Thariqyang saat itu berjumlah 12000 personil setelah ada tambahan pasukan dari Ifriqiya, berhadapan dengan Raja Roderick dan pasukannya di mulut sungai (Rio) Barbate. Peperangan di bulan Ramadhan itu berlangsung sengit selama delapan hari. Pasukan Roderick pada awalnya sempat unggul, namun kelemahan di sayap kiri dan kanan pasukan mereka berhasil dimanfaatkan oleh pasukan Islam. Dan pasukan Roderick pun terdesak, hingga akhirnya dipukul mundur. Pasukan Islam berhasil meraih kemenangan gemilang. Roderick sendiri menghilang, dan di duga ia tenggelam di Sungai Barbate. Kuda dan sepatunya ditemukan di tepi sungai.
Pasca peristiwa tersebut, seluruh Angkatan perang di Zaman Muawiyah mulai berbenah, maka terjadilah Reformasi Angkatan bersenjata. [33]
7. PERDAGANGAN
Setelah Daulah Umayyah berhasil menguasai wilayah yang cukup luas, maka lalu lintas perdagangan mendapat jaminan yang layak. Lalu lintas darat melalui jalan Sutera ke Tiongkok guna memperlancar perdagangan sutera, keramik, obat-obatan dan wewangian. Adapun lalu lintas di lautan ke arah negeri-negeri belahan timur untuk mencari rempah-rempah, bumbu, anbar, kasturi, permata, logam mulia, gading dan bulu-buluan. Keadaan demikian membawa ibukota Basrah di teluk Persi menjadi pelabuhan dagang yang teramat ramai dan makmur, begitu pula kota Aden. Dari kedua kota pelabuhan itu iring-iringan kafilah dagang hampir tak pernah putus menuju Syam dan Mesir. Kemudian dari Syam dan Mesir kapal-kapal dagang di bawah lindungan Armada Islam mengangkutnya lagi ke kota-kota dagang di Laut Tengah. Perkembangan perdagangan itu telah mendorong meningkatnya kemakmuran bagi Daulah Umawiyah.[34]
8. REFORMASI FISKAL
Ada dua jenis pajak yang dikenakan pada zaman Daulah Umayyah yaitu pajak tanah dan pajak kepala. Semua pemilik tanah baik muslim maupun non muslim diwajibkan membayar pajak tanah. Sedangkan pajak kepala hanya dikenakan kepada penduduk non muslim.[35] Jadi golongan dzimmi dikenakan pajak tanah dan kepala. Sebagai konsekuwensinya mereka hidup dengan merdeka dan tidak diperkenankan untuk mengangkat senjata (ikut perang). Disamping itu ada perbedaan beban pajak antara muslim Arab dan muslim Non Arab. Muslim Arab mendapat keistimewaan-keistimewaan dalam bidang perpajakan sedangkan Muslim non Arab tidak. Diskriminasi dalam bidang pajak ini merupakan bagian yang menyulut timbulnya gerakan untuk menumbangkan Daulah Umayah.
9. PERKEMBANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
1. PENDIDIKAN DASAR
Pada masa dinasti Umayyah pola pendidikan bersifat desentrasi,. Kajian ilmu yang ada pada periode ini berpusat di Damaskus, Kufah, Mekkah, Madinah, Mesir, Cordova dan beberapa kota lainnya, seperti: Basrah dan Kuffah (Irak), Damsyik dan Palestina (Syam), Fistat (Mesir). Diantara ilmu-ilmu yang dikembangkannya, yaitu: kedokteran, filsafat, astronomi atau perbintangan, ilmu pasti, sastra, seni baik itu seni bangunan, seni rupa, amuoun seni suara.[36]
Pada periode Dinasti Umayyah, putra-putra kahlifah bani umayyah biasanya akan disekolahkan ke Badiyah, gurun Suriah. Untuk mempelajarai bahasa Arab murni dan mendalami puisi.[37]
Pada masa khalifah-khalifah Rasyidin dan Umayyah sebenarnya telah ada tingkat pengajaran, hampir sama seperti masa sekarang. Tingkat pertama ialah Kuttab, tempat anak-anak belajar menulis dan membaca, menghafal Al_Qur’an serta belajar pokok-pokok Agama Islam. Setelah tamat Al_Qur’an mereka meneruskan pelajaran ke masjid. Pelajaran di masjid itu terdiri dari tingkat menengah dan tingkat tinggi. Pada tingkat menengah gurunya belumlah ulama besar, sedangkan pada tingkat tingginya gurunya ulama yang dalam ilmunya dan masyhur ke’aliman dan kesalehannya.
Ilmu-ilmu yang diajarkan pada Kuttab pada mula-mulanya adalah dalam keadaan sederhana, yaitu:
1. Belajar membaca dan menulis
2. Membaca Al_Qur’an dan menghafalnya
3. Belajar pokok-pokok agama Islam, seperti cara wudhu, shalat, puasa dan sebagainya.
Ilmu-ilmu yang diajarkan pada tingkat menengah dan tinggi terdiri dari:
1. Al_Qur’an dan tafsirannya.
2. Hadis dan mengumpulkannya.
3. Fiqh (tasri’).[38]
Pemerintah dinasti Umayyah menaruh perhatian dalam bidang pendidikan. Memberikan dorongan yang kuat terhadap dunia pendidikan dengan penyediaan saranadan prasarana. Hal ini dilakukan agar para ilmuan, para seniman, dan para ulama mau melakukan pengembangan bidang ilmu yang dikuasainya serta mampu melakukan kaderisasi ilmu. Di antara ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa ini adalah:
1. Ilmu agama, seperti: Al-Qur’an, Hadith, dan Fiqh. Proses pembukuan Hadist terjadi pada masa Khalifah Umar ibn Abdul Aziz sejak saat itulah hadis mengalami perkembangan pesat.
2. Ilmu sejarah dan geografi, yaitu segala ilmu yang membahas tentang perjalanan hidup, kisah, dan riwayat. Ubaid ibn Syariyah Al Jurhumi berhasil menulis berbagai peristiwa sejarah.
3. Ilmu pengetahuan bidang bahasa, yaitu segla ilmu yang mempelajari bahasa, nahu, saraf, dan lain-lain.
4. Budang filsafat, yaitu segala ilmu yang pada umumnya berasal dari bangsa asing, seperti ilmu mantik, kimia, astronomi, ilmu hitung dan ilmu yang berhubungan dengan itu, serta ilmu kedokteran.[39]
Pola pendidikan pada periode Bani Umayyah telah berkembang jika dilihat dari aspek pengajarannya, walaupun sistemnya masih sama seperti pada masa Nabi dan khulafaur rasyidin. Pada masa ini peradaban Islam sudah bersifat Internasional yang meliputi tiga benua, yaitu sebagian Eropa, sebagian Afrika dan sebagian besar Asia yang kesemuanya itu dipersatukan dengan bahasa Arab sebagai bahasa resmi Negara.
2. MADRASAH/UNIVERSITAS PADA MASA BANI UMAYYAH
Perluasannegara Islam bukanlah perluasan dengan merobohkan dan menghancurkan, bahkan perluasan dengan teratur diikuti oleh ulama-ulama dan guru-guru agama yang turut bersama-sama tentara Islam. Pusat pendidikan telah tersebar di kota-kota besar sebagai berikut:Di kota Mekkah dan Madinah (Hijaz). Di kota Basrah dan Kufah (Irak). Di kota Damsyik dan Palestina (Syam). Di kota Fistat (Mesir).
Madrasah-madrasah yang ada pada masa Bani Umayyah adalah sebagai berikut:
1. Madrasah Mekkah: Guru pertama yang mengajar di Makkah, sesudah penduduk Mekkah takluk, ialah Mu’az bin Jabal. Ialah yang mengajarkan Al_Qur’an dan mana yang halal dan haram dalam Islam. Pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan Abdullah bin Abbas pergi ke Mekkah, lalu mengajar disana di Masjidil Haram. Ia mengajarkan tafsir, fiqh dan sastra. Abdullah bin Abbaslah pembangunan madrasah Mekkah, yang termasyur seluruh negeri Islam.
2) Madrasah Madinah: Madrasah Madinah lebih termasyur dan lebih dalam ilmunya, karena di sanalah tempat tinggal sahabat-sahabat nabi. Berarti disana banyak terdapat ulama-ulama terkemuka.
3) Madrasah Basrah: Ulama sahabat yang termasyur di Basrah ialah Abu Musa al_Asy’aridan Anas bin Malik. Abu Musa al_Asy’ari adalah ahli fiqih dan ahli hadist, serta ahli Al_Qur’an . Sedangkan Abas bin Malik termasyhur dalam ilmu hadis. al_Hasan Basrysebagai ahli fiqh, juga ahli pidato dan kisah, ahli fikir dan ahli tasawuf. Ia bukan saja mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada pelajar-pelajar, bahkan juga mengajar orang banyak dengan mengadakan kisah-kisah di masjid Basrah.
4) Madrasah Kufah: Madrasah Ibnu Mas’ud di Kufah melahirkan enam orang ulama besar, yaitu: ‘Alqamah, al_Aswad, Masroq, ‘Ubaidah, al_Haris bin Qais dan ‘Amr bin Syurahbil. Mereka itulah yang menggantikan Abdullah bin Mas’ud menjadi guru di Kufah. Ulama Kufah, bukan saja belajar kepada Abdullah bin Mas’ud menjadi guru di Kufah. Ulama Kufah, bukan saja belajar kepada Abdullah bin Mas’ud. Bahkan mereka pergi ke Madinah.
5) Madrasah Damsyik (Syam): Setelah negeri Syam (Syria) menjadi sebagian negara Islam dan penduduknya banyak memeluk agama Islam. Maka negeri Syam menjadi perhatian para Khilafah. Madrasah itu melahirkan imam penduduk Syam, yaitu Abdurrahman al_Auza’iy yang sederajat ilmunya dengan Imam Malik dan Abu-Hanafiah. Mazhabnya tersebar di Syam sampai ke Magrib dan Andalusia. Tetapi kemudian mazhabnya itu lenyap, karena besar pengaruh mazhab Syafi’I dan Maliki.
6) Madrasah Fistat (Mesir): Setelah Mesir menjadi negara Islam ia menjadi pusat ilmu-ilmu agama. Ulama yang mula-mula madrasah madrasah di Mesir ialah Abdullah bin ‘Amr bin al_‘Ash yaitu di Fisfat (Mesir lama). Ia ahli hadis dengan arti kata yang sebenarnya. Karena ia bukan saja menghafal hadis-hadis yang didengarnya dari Nabi S.A.W., melainkan juga dituliskannya dalam buku catatan, sehingga ia tidak lupa atau khilaf meriwayatkan hadis-hadis itu kepada murid-muridnya.[40] Oleh karena itu banyak sahabat dan tabi’in meriwayatkan hadis-hadis dari padanya.
3. TOKOH-TOKOH PENDIDIKAN PADA MASA BANI UMAYYAH
Tokoh-tokoh pendidikan pada masa Bani Umayyah terdiri dari ulama-ulama yang menguasai bidangnya masing-masing seperti dalam bidang tafsir, hadist, dan Fiqh. Selain para ulama juga ada ahli bahasa/sastra.
1. Ulama-ulama tabi’in ahli tafsir, yaitu: Mujahid, ‘Athak bin Abu Rabah, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Masruq bin al_Ajda’, Qatadah. Pada masa tabi’in tafsir Al_Qur’an bertambah luas dengan memasukkan Israiliyat dan Nasraniyat, karena banyak orang-orang Yahudi dan Nasrani memeluk agama Islam. Di antara mereka yang termasyhur: Ka’bul Ahbar, Wahab bin Munabbih, Abdullah bin Salam, Ibnu Juraij
2. Ulama-ulama Hadist: Kitab bacaan satu-satunya ialah al-Qur’an. Sedangkan hadis-hadis belumlah dibukukan. Hadis-hadis hanya diriwayatkan dari mulut ke mulut. Dari mulut guru ke mulut muridnya, yaitu dari hafalan uru diberikannya kepada murid, sehingga menjdi hafalan murid pula dan begitulah seterusnya. Setengah sahabat dan pelajar-pelajar ada yang mencatat hadist-hadist itu dalam buku catatannya, tetapi belumlah berupa buku menurut istillah kita sekarang. Ulama-ulama sahabat yang banyak meriwayatkan hadis-hadis ialah: Abu Hurairah (5374 hadist), ‘Aisyah(2210 hadist), Abdullah bin Umar (± 2210 hadist), Abdullah bin Abbas (± 1500 hadist), Jabir bin Abdullah (±1500 hadist), Anas bin Malik(±2210 hadist)
3. Ulama-ulama ahli Fiqh: Ulama-ulama tabi’in Fiqih pada masa bani Umayyah diantaranya adalah:, Syuriah bin al_Harits, ‘alqamah bin Qais, Masuruq al_Ajda’, al_Aswad bin Yazid. Kemudian diikuti oleh murid-murid mereka, yaitu: Ibrahim al_Nakh’l(wafat tahun 95 H) dan ‘Amir bin Syurahbil Al_Sya’by (wafat tahun 104 H). sesudah itu digantikan oleh Hammad bin Abu Sulaiman (wafat tahubn 120 H), guru dari Abu Hanafiah.
4. Ahli bahasa/sastra: Seorang ahli bahasa seperti Sibawaih yang karya tulisnya Al-Kitab, menjadi pegangan dalam soal berbahasa Arab. Sejalan dengan itu, perhatian pada syair Arab jahiliahpun muncul kembali sehingga bidang sastra Arab mengalami kemajuan. Di zaman ini muncul penyair-penyair seperti Umar bin Abu Rabiah (w.719), Jamil al_Uzri (w.701), Qys bin Mulawwah (w.699) yang dikenal dengan nama Laila Majnun, al_Farazdaq (w.732), Jarir (w.792), dan al_akhtal (w.710). sebegitu jauh kelihatannya kemajuan yang dicapai Bani Umayyah terpusat pada bidang ekspansi wilayah, bahasa dan sastra Arab, serta pembangunan fisik. Sesungguhnya dimasa ini gerakan-gerakan ilmiah telah berkembang pula, seperti dalam bidang keagamaan, sejarah dan filsafat. Dalam bidang yang pertama umpamanya dijumpai ulama-ulama seperti Hasan al_Basri, Ibnu Syihab Az-Zuhri, dan Wasil bin Ata. Pusat kegiatan ilmiah ini adalah Kufah dan Basrah di Irak. Khalid bin Yazid bin Mu’awiyah (w. 794/709) adalah seorang orator dan penyair yang berpikir tajam. Ia adalah orang pertama yang menerjemahkan buku-buku tentang astronomi, kedokteran, dan kimia.[41]
B. AKHIR KEKUASAAN BANI UMAYYAH
Di antara sebab keruntuhan Daulah Umayyah adalah sebagai berikut:
A. Pengangkatan dua putra mahkota (Tawliyat al_'Ahd ithnayn)[42]Tidak jarang putra mahkota pertama yang menjadi penguasa memecat status putra mahkota yang kedua. Kemudian mengangkat putranya sebagai putra mahkota yang baru. Kejadian ini menimbulkan rasa permusuhan dan perselisihan di intern istana yang berakibat pada melemahnya persatuan di antara mereka.
B. Latar belakang terbentuknya kedaulatan Bani Umayyah yang tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi pada masa Ali[43]. Kaum Syiah dan Khawarij selalu melakukan perlawanan baik secara terbuka maupun secara sembunyi-sembunyi. Hal ini menyedot kekuatan Daulah Umayyah.
C. Pertentangan keras antar suku-suku Arab (al-S}ira>'a>t al-Qabi>liyyah)[44] . Pertentangan antara suku Bani Kalb dan Bani Qais yang terjadi pada masa pra Islam semakin meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan penguasa Bani Umayyah kesulitan menggalang persatuan dan kesatuan di kalangan bangsa Arab[45]. Ditambah lagi dengan ketidakpuasan kaum Mawali (non Arab) karena diperlakukan tidak sama (dalam perpajakan) dengan muslim Arab. Sistem yang berbeda itu pada gilirannya menyebabkan keresahan dan ketidakpuasan dalam lingkungan muslim non Arab, sehingga pada gilirannya menimbulkan gerakan untuk menumbangkan kekuasaan Umawiyah[46].
D. Terlena dalam kemewahan[47], Dari segi cara hidup, para khalifah Dinasti Umayyah telah meninggalkan pola dan cara hidup Nabi Muhammad SAW dan Khulafa' Ar-Rasyidun. Mereka menjaga jarak dengan masyarakat, dengan tinggal di istana yang dikelilingi oleh para pengawal. Baitul mal yang selama masa pemerintahan sebelumnya difungsikan sebagai dana swadaya masyarakat yang difungsikan untuk kepentingan rakyat, pada masa Umayyah telah berubah fungsi. Kecuali ketika dinasti Umayyah di bawah pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, kas negara adalah milik penguasa dan keluarganya. Rakyat hanya wajib untuk menyetor pajak tanpa mempunyai hak menanyakan penggunaannya. Pada masa ini pajak Negara dialihkan menjadi harta pribadi para kholifah. Pendapatan pajak diperoleh dari, pajak tanah, jizyah, zakat, cukai dan pajak pembelian, upeti yang harus dibayar menurut perjanjian, seperlima ghonimah, fai’, impor tambahan hasil bumi, hadiah festifal, dan upeti anak dari bangsa barbar[48]. Sikap ini membuat lengah penguasa terhadap urusan kenegaraan. Disamping itu tokoh agama merasa kecewa terhadap perilaku penguasa yang tidak bisa menjadi suri tauladan.
E. Munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas ibn Abd. Al-Muthallib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syiah, dan kaum Mawali yang merasa dikelas duakan oleh pemerintahan Bani Umayyah[49].
DAFTAR PUSTAKA
A.Syalaby, Sejarah dan Kebudayaan Islam,Jakarta : Pustaka Al Husna,1982
Abu Zahw, Muhammad, Al-Hadith wa al-Muhadithun, Mesir : Shirkah Sahimah Misriyah,
As Sayuthi, Tarikhul Khulafa’
At Thabari, Tarikhul Umami wal Muluk.
Hamka, Sejarah dan Kebudayaan Islam,Jakarta : Bulan Bintang ,1985
Hasan, Ibrahim , Sejarah dan Kebudayaan Islam 2, cet, 1, Jakarta : Kalam Mulia, 2003
Hasjmy, A., Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1975
Hitty, Philip K., The Arab : A Short History, Washington : Regnery Gateway, 1985
____________, History of The Arabs, terj. R. Cecep Lukman Yasin dkk., Jakarta : PT. Serambi Ilmu Semesta, 2006
Khuḍari Bek, Shaykh Muhammad, Muhaḍarat Tarikh al-umam al-islamiyyah juz 2, Mesir: Maktabah Tijariyyah, 1969
Maryam, Siti dkk (editor), Sejarah Peradaban Islam, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2000
Mufrodi, Ali., Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Logos, 1997
Rosyidi, Imron, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta: Ditjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1987
Taqqush, Muhammad Suhayl, Tarikh al-Dawlah al-Amawiyyah, Beirut : Dar al-Nafais, 1996
Watt, W. Montgomery, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1990
Yatim, Badri., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006
Sirajuddin, Seni Kaligrafi Islam, Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1985
Faisal Firmansyah “Sejarah Pendidikan Islam Pada Masa Bani Umayyah” dalam http://wesero.blogspot. com/2013 /01/sejarah-pendidikan-islam-pada-masa-bani.html
http://wardonojakarimba.blogspot.com/2011/06/arsitektur-bani-umayyah.html
Widad & Miftahul Jannah dalam “Kisah Ksatria Thariq bin Ziyad Saat Menaklukkan Andalusia”http://m.voa-islam.com//news/mujahid/2012/09/28/ 20898/kisah-ksatria-thariq-bin-ziyad-saat-menaklukkan-andalusia (Jum'at, 28 Sep 2012 )
[1] A. Syalaby,Sejarah dan Kebudayaan Islam (Jakarta: Pustaka Al Husna, 1982 ),27.
[2] Ibid,28.
[3]Phillip K Hitti, History of the Arabs, Terjmah: R. Cecep lukman& Dedi Slamet (jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2013),301.
[4]Ibid, 302.
[5]Ibid, 304.
[6] (http://manajemenqalbusem.blogspot.com/2010/12/makalah-bani-umayyah-di-damaskus.html).
[7] Ahmad Nurhadi “Perkembangan Ilmu Pengetahuan Masa Bani Umayah” dalam http:// noerhaedi .blogspot.com/2013/02/senin-25-februari-2013-normal-0-false.html (25 Februari 2013)
[8] Phillip K Hitti, History of the Arabs, 306.
[9] Ibid, 306.
[10] Ibid, 308.
[11] Ibid, 309.
[12] Ibid, 311.
[13] Ibid, 312.
[14] Ibid, 314.
[15] Ibid, 315.
[16] Ibid, 316.
[17] Ibid, 325.
[18] Ibid, 326
[20]Phillip K Hitti, History of the Arabs,327.
[21]Ibid, 330.
[22]Ibid,332.
[23]Ibid, 335.
[24]Ibid, 339.
[25]Ibid, 343.
[26]Ibid, 334
[27]Ibid, 345.
[28]Ibid, 347.
[32] Widad & Miftahul Jannah dalam “Kisah Ksatria Thariq bin Ziyad Saat Menaklukkan Andalusia”http://m.voa-islam.com//news/mujahid/2012/09/28/ 20898/kisah-ksatria-thariq-bin-ziyad-saat-menaklukkan-andalusia (Jum'at, 28 Sep 2012 ), 2
[33] Ibid, 3
[36] Faisal Firmansyah “Sejarah Pendidikan Islam Pada Masa Bani Umayyah” dalam http://wesero.blogspot. com/2013 /01/sejarah-pendidikan-islam-pada-masa-bani.html (13 Januari 2013)
[37]Phillip K Hitti, History of the Arabs,316
[39]Ibid, 3.
[40]Ibid, 4.
[41]Ibid,5.
[42] Muhammad Suhayl T}aqqu>sh, Ta>ri>kh al-Dawlah al-Amawiyyah, (Beirut : Da>r al-Nafa>is, 1996), 190
[43] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, 89 lihat juga Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, 48
[48](http://www.scribd.com/doc/22114141/Sejarah-Peradaban-Dan-Pemikiran-Bani-Umayyah-i).
Komentar
Posting Komentar