Pemikiran Pendidikan Ibnu Khaldun

A.    BIOGRAFI IBNU KHALDUN
Pemikiran Pendidikan Ibnu Khaldun
Pemikiran Pendidikan Ibnu Khaldun 
Sebuah ciri khas yang melatar belakangi kehidupan Ibnu Khaldun adalah ia berasal dari politisi, intelekual dan aristokrat. Garis keturunan keluargan Ibnu Khaldun adalah para pemimpin politik di moorish, spanyol. Dalam keluarga elite semacam inilah ia dilahirkan pada tanggal 7 mei 1332 di tunisia. Oleh ayahnya diberi nama Abdur Rahman Abu Zayd ibn Muhammd Ibn Khaldun. Apa bila dilihat dari struktur kehidupannya, tampaknya merupakan faktor yang menentukan dalam perkembangan pemikirannya.
Jatuhnya dinasti al-Muwahidun telah mempengaruhi kehidupannya. Konflik dan juga peperangan antar saudara dari pihak keluarga istana untuk memperebutkan tahta kekuasaan selalu terjadi. Hasut menghasut, pembunuhan dan juga pemberontakan sepertinya sudah sangat terbiasa dalam kehidupan di istana. Pada tahun 1362 M  Ibnu Khaldunpun menyeberang ke spannyol dan bekerja pada raja Granada. Dan menjadi utusan raja untuk berunding dengan raja-raja. Dengan kecakapan yang luar biasa ia pun ditawari bekerja oleh penguasa Kristen, akan tetapi Ibnu Khaldun memilih tawaran yang sama oleh Raja Granada, dan memboyong semua keluarganya ke Afrika. Akan tetapi Ibnu Khaldun tidaklah lama karena prestasi demi prestasi yang ia raih menimbulkan iri hati oleh para mentri disana. Dan iapun menyeberangi gilbartar untuk kembali ke Afrika, kemudian ia diangkat menjadi perdana menteri oleh sultan Al-jazair dan juga beberapa kali memimpin pasukan tentara dalam medan petempuran[1].
Ibnu khaldun adalah seorang filsuf sejarah yang berbakat dan cendekiawan terbesar pada zamannya. Beliau adalah seorang pendiri ilmu pengetahuan sosiologi yang secara khas memasukkan sejarah sebagai ilmu serta memberikan alasan-alasan untuk mendukung kejadian-kejadian yang nyata[2]
Baca juga: 
Pengertian, hubungan dan sumber filsafat pendidikan Islam
pemikiran pendidikan Islam Ikhwan As-Shafa
Tujuan Pendidikan Islam Sebuah tinjauan filosofis

B.     PEMIKIRAN PENDIDIKAN  IBNU KHALDUN
  1. Konsep tentang manusia
Pemikiran pendidikan ibnu Khaldun tentang pendidikan berpijak dari statemennya yang menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna. Kesempurnaan manusia dicirikan oleh akalnya yang berfungsi memikirkan segala sesuatu, merekayasa sesuatu, dan bahkan meningkatkan rasa iman kepada Alloh. Manusia bukan hanya mempunyai kesadaran untuk mngetahui, tetapi memahami dan mempraktikkannya. Dalam  hal ini Hasan Basrimengemukakan  bahwa manusia dalam berpikirnya mengalami tingkatan – tingkatan tertentu yaitu: 1.akal pembela atau al-Aqlu at-Tamyizi.    2.akal eksperimental atau al – aql at–Tajribi.     3.realitas kemanusiaan atau al–haqiqah al-insaniyyah
Pencapaian yang didapat oleh manusia adalah akibat dari kemampuan fikirnya. Pikiran dan pandangan manusia tersebut kemudian akan dicurahkan untuk mencari hakikat kebenaran. Selain itu, manusia juga akan memperhatikan peristiwa-peristiwa yang dialaminya yang bermanfaat bagi essensi dan eksistensinya. Akhirnya, upaya mencari pengetahuan tentang hakikat sesuatu menjadi suatu kebiasan dalam dirinya. Kebiasaan tersebut oleh Ibn Khaldun disebut dengan Malakah.
 Ilmu pengetahuan timbul  melalui malakah karena dengannya  manusia mampu  mengenali gejala dan hakikat segala sesuatu. Setelah itu, jiwa manusia akan tertarik untuk mendalami ilmu tersebut sehingga ia membutuhkan orang lain untuk melepaskan dahaga keingin tahuannya (dari sinilah timbul pengajaran). Dengan demikian, ia kemudian menyimpulkan bahwa ilmu pengetahuan dan pengajaran (ta’lim) merupakan hal yang alami di tengah umat manusia[3].ini lah konsep awal ibnu khaldun yang beliau pikirkan, kebiasaan manusia yang ingin mencari tahu yang akhirnya menumbulkan sebuah sistem pengajaran.. 
  1. Konsep tentang ilmu pengetahuan
Menurut Ibnu Khaldun ilmu pendidikan bukanlah suatu aktivitas yang semata-semata bersifat pemikiran dan perenungan yang jauh dari aspek-aspek pragmatis di dalam kehidupan, akan tetapi ilmu dan pendidikan tidak lain merupakan gejala sosial yang menjadi ciri khas jenis insani.jadi sebuah ilmu pendidikan itu bermula dari sebuah gejala sosial. Tradisi penyeledikan ilmiah yang dilakukan oleh ibnu khaldun dimulai dengan menggunakan tradisi berfikir ilmiah dengan melakukan kritik atas cara berfikir “model lama” dan karya-karya ilmuwan sebelumnya, dari hasil penyelidikan mengenai karya-karya sebelumnya, telah memberikan kontribusi akademik bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang sahih, pengetahuan ilmiah di buat pengetahuan yang otentik[4].
Dari segi peningkatan kemasyarakatan, Ibn Khaldun berpendapat bahwa ilmu dan pengajaran adalah lumrah bagi peradaban manusia. Ilmu dan pengajaran sangat diperlukan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat manusia kearah yang lebih baik. Semakin dinamis budaya suatu masyarakat, maka akan semakin bermutu dan dinamis pula keterampilan di masyarakat tersebut. Untuk itu, manusia seyogyanya senantiasa berusaha memperoleh ilmu dan keterampilan sebanyak mungkin sebagai salah satu cara membantunya untuk dapat hidup dengan baik dalam masyarakat dinamis dan berbudaya. Jadi, eksistensi pendidikan menurutnya merupakan salah satu sarana yang dapat membantu individu dan masyarakat menuju kemajuan dan keunggulan. Disamping bertujuan meningkatkan segi kemasyarakatan manusia, pendidikan juga bertujuan mendorong terciptanya tatanan kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik.
Pemikiran pendidikan  Ibnu Khaldun membuat kiasifikasi ilmu dan menerangkan pokok-pokok bahasanya bagi peserta didik. Ia menyusun kurikulum yang sesuai, sebagai salah satu sarana untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Hal ini dilakukan, karena kurikulum dan system pendidikan yang tidak selaras dengan akal dan kejiwaan peserta didik, akan menjadikan mereka enggan dan malas belajar.
Berkenan dengan hal tersebut, Ibn Khaldun membagi ilmu menjadi tiga macam, yaitu[5]: yang pertama : Kelompok ilmu lisan (bahasa) : ilmu tentang tata bahasa (gramatika), sastra dan bahasa yang tersusun secara puitis (syair). Kedua Kelompok ilmu naqli : ilmu yang diambil dari kitab suci dan sunnah Nabi. Ke tiga: Kelompok ilmu Aqli: ilmu-ilmu yang diperoleh manusia melalui kemampuan berpikir. Proses akuisisi tersebut dilakukan melalui panca indra dan akal.
Adapun Ibn Khaldun menyusun ilmu-ilmu naqli sesuai dengan manfaat dan kepentingannya bagi peserta didik kepada beberapa ilmu, yaitu:  Al-qur'an dan Hadis, Ulum Al-Qur'an,  Ulum Al-Hadis, Ushul Al-fiqh, fiqh, Ilm Al-Kalam, Ilm Al-Tasawuf. Menurutnya, Al-qur'an adalah ilmu yang pertama kali diajarkan kepada anak.Al-qur 'an, Al-Qur’an yang telah ditanamkan pada peserta didik akan jadi pegangan hidupnya. Proses ini hendaknya dilakukan sedini mungkin, karena pengajaran pada masa kanak-kanak masih mudah karena otaknya masih jernih[6]. Penanaman ilmu konvensional pada anak diusia dini ini, dengan tujuan untuk memupuk jiwa aqidah dalam diri anak. Sehingga ilmu ini dapat menjadi pengangan hidup untuk mewujudkan manusia yang horizontal yakni manusia yang mempunyai jiwa sosial tinggi  dan juga vertikal yakni yang selalu takwa dan menjalan kan perintah Alloh. Itulah Pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun tentang pengetahuan.
  1. Konsep Tujuan pendidikan
Pengertian dan tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldun
Di dalam kitab muqaddimahnya Ibn Khaldun tidak memberikan definisi pendidikan secara jelas, ia hanya memberikan gambaran – gambaran secara umum, seperti dikatakan Ibnu Khaldun bahwa:  “barang siapa tidak terdidik oleh orang tuanya, maka akan terididik oleh zaman” . maksud dari apa yang di paparkan oleh Ibnu Khaldun adalah  apabila seseorang tidak memperoleh pengajaran dari orang tua ataupun seorang guru, maka ia akan memepelajarinya dengan bantuan alam yakni  peristiwa – peristiwa yang terjadi sepanjang zaman. maka  zamanlah yang  akan mengajarkanya.
Ibn Khaldun memandang bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah memberikan kesempatan kepada akal untuk lebih giat dalam  melakukansuatu  aktivitas. Hal ini dapat dilakukan melalui proses menuntut ilmu dan keterampilan. Dengan menuntut ilmu dan keterampilan,seseorang akan dapat meningkatkan kegiatan potensi akalnya. Dan  melalui potensinya, akal akan mendorong manusia untuk memperoleh dan melestarikan pengetahuan. Melalui proses belajar, manusia senantiasa mencoba meneliti pengetahuan-pengetahuan atau informasi-informasi yang diperoleh oleh pendahulunya. Pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun mengungkapkan bahwa manusia mengumpulkan fakta-fakta dan menginventarisasikan keterampilan-keterampilan yang dikuasainya untuk memperoleh lebih banyak warisan pengetahuan yang semakin meningkat sepanjang masa sebagai hasil dari aktifitas akal manusia[7].Pada hakikatnya menurut ibnu khaldun bahwa manusia itu senantiasa belajar. Karena akal pada manusia diciptakan untuk selalu beraktifitas yakni berfikir. Faktor lingkungan akan senantiasa mengajarkan manusai untuk selalu berfikir. Atas dasar pemikiran tersebut, maka tujuan pendidikan menurut Ibn Khaldun adalah peningkatan kecerdasan manusia dan kemampuannya berfikir. 
Pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun mengatakan:”Tujuan pendidikan Islam adalah dapat menanamkan keyakinan imaniyah di dalam hati/jiwa peserta didik, menginternalisasi nilai-nilai moral yang luhur melalui nilai-nilai agama sehingga mampu memberi pencerahan jiwa, penguatan moral dan memotivasi prilaku yang baik” Ibnu Khaldun juga mengatakan tujuan pendidikan Islam secara praktis adalah: Memberi peluang kepada peserta didik mampu berpikir untuk berbuat dengan benar, member peluang kepada peserta didik untuk dapat hidup berkualitas di dalam masyarakat yang maju, memberikan kemampuan untuk mendapatkan pekerjaan sebagai sumber penghasilan dan dapat mengembangkan perilaku yang terpuji dalam kehidupan sehari-hari. Kesemuanya harus dikembangkan melalui pendidikan yang berasaskan ajaran dan nilai-nilai Qur’ani.
Adapun tujuan pendidikan menurut Pemikiran pendidikan  Ibnu Khaldun yang dianalisi oleh Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibany terdapat  enam segi, yaitu[8]: a. Menyiapkan seseorang dari segi keagamaan: seperti yang pemakalah jelaskan terdahulu bahwa pendidikan yang pertama kali di kenal kan kepada seorang anak adalah ilmu agama , b.Menyiapkan seseorang dari segi akhlak, c.Menyiapkan seseorang dari segi kemasyarakatan atau sosial, d.Menyiapkan seseorang dari segi vokasional atau pekerjaan, e.Menyiapkan seseorang dari segi pemikiran, f.Menyiapkan seseorang dari segi kesenian 
  1. Metode pengajaran menurut ibnu khaldun
Pemikiran pendidikan  Ibnu Khaldun tentang metode pengajaran seorang pendidik hendaknya mampu menggunakan metode mengajar yang efektif dan efisien.dalam hubungannya dengan mengajar ilmu kepada anak didik, ibnu Khaldun menganjurkan agar para guru mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak didik dengan menggunakan metode yang baik dan mengetahui faedah yang dipergunakan. Adapun lebih lanjut Ibnu Khaldun mengemukakan kesulitan yang dihadapi para pelajar yang didasarkan pada kurang tajamnya penglihatan siswa terhadap materi, kesalahan ini disebabkan akibat seorang pendidik tidak menguasai ilmu jiwa anak.  Senanda dengan apa yang diungkapkan oleh ibnu khaldun Menciptakan suasana lingkungan yang mana melibatkan siswa untuk aktif didalamnya memang merupakan tantangan yang amat sulit bagi seorang guru. Yang mana dalam sebuah kelas terdapat beberapa macam siswa yang berbeda satu sama lain terkadang harus mengorganisir aktivitas pada saat besamaan, ataupun dituntut untuk mengambil keputusan dengan cepat untuk menangapi suatu masalah yang datang secara tiba – tiba. Bukan hanya itu guru juga dituntut untuk memvariasikan teknik – tekni penggolaan kelas yang mana tergantung pada strategi – strategi pengajaran yang sedang berjalan[9].
 Dalam hal ini Ibn Khaldun telah meletakkan prinsip-prinsip proses belajar mengajar sebagai suatu hal yang sangat mendasar dalam mengajarkan ilmu pengetahuan kepada siswa.prinsip-prinsip tersebut secara garis besarnya meliputi beberapa hal sebagai berikut[10]. yaitu: a. Prinsip pembiasaan, b. pentahapan dan pengulangan. c. tidak membebani pikiran siswa, d. tidak pindah dari satu materi ke materi lain. lupa merupakan hal biasa dalam belajar. Solusinya adalah dengan sering mengulang dan mempelajarinya kembali. , e. Prinsip pengenalan umum (generalistik), f. Prinsip kontinuitas,  g. Memperhatikan bakat dan kemampuan peserta didik dalam hal ini ibnu kholdun menghendaki bahwa Para pendidikan hendaknya mengetahui kemampuan dan daya serap peserta didik. Kemampuan ini akan bermanfaat bagi menetapkan materi pendidik yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik.  h. Menghindari kekesaran dalam mengajar. Menurut ibnu khaldun, seseorang yang dahulunya diajarkan dengan cara kasar, keras dan cacian akan dapat mengakibatkan gangguan jiwa pada si anak, anak yang demikian cenderung menjadi pemalas dan pendusta, murung, dan tidak percaya diri serta berperangai busuk, mengemukakan sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya yang disebabkan ia merasa takut diperlakukan keras atau kasar. 
Di dalam buku muqaddimahnya, Pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun telah mencanangkan langkah – langkah pendidikan, yaitu: Pertama, di dalam memberikan pengetahuan kepada anak didik, pendidik hendaknya memberikan problem – probelm pokok yang bersifat umum dan menyeluruh, dengan memperhatikan kemampuan akal anak didik. Kedua, setelah pendidik memberikan problem – problem yang umum dari pengetahuan tadi, baru pendidik membahasnya lebih detail dan terperinci.        Ketiga, pada langkah ketiga ini pendidik menyampaikan pengetahuan kepada anak didik secara lebih terperinci dan menyeluruh, dan berusaha membahas semua persoalan bagaimanapun sulitnya agar anak didik memperoleh pemahaman yang sempurna.  
Selain itu Ibnu Khaldun juga menyebutkan keutamaan metode diskusi, karena dengan metode ini anak didik telah terlibat dalam mendidik dirinya sendiri dan mengasah otak, melatih untuk berbicara, menghidupkan kreativitas pikir anak, dapat memecahkan masalah, pandai menghargai pendapat orang lain dan percaya diri. Atau dengan kata lain metode ini dapat membuat anak didik berfikir reflektif dan inovatif. Ibnu Khaldun juga menganjurkan metode peragaan, karena dengan metode ini proses pengajaran akan lebih efektif dan materi pelajaran akan lebih cepat ditangkap anak didik. Satu hal yang menunjukkan kematangan berfikir ibnu Khaldun yaitu prinsipnya yang menyatakan bahwa belajar bukan penghafalan di luar kepala, melainkan pemahaman, pembahasan dan kemampuan berdiskusi[11]. Dan juga  Ibn Khaldun tidak menyukai pembelajaran dengan menggunakan sistem hafalan, karena dianggap tidak efektif dan efiesen. Hal ini telah dibuktikan dengan riset yang pernah dilakukan di Maroko dan Tunis. Di Maroko pendidikan dasar ditempuh 16 tahun sementara di Tunis hanya 5 tahun. Tetapi hasil yang dicapai sama saja. Di Marokko metode yang digunakan bersifat verbalistik, hafalan, sementara di Tunis menggunakan metode diskusi, dialog dan demonstratif[12].Inilah Pemikiran pendidikan  Ibnu Khaldun apabila kurang lebihnya penulis minta maaf yang sebesar-besarnya.





[1] . Abu Dinata. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Gaya Media Pertama.2005)221
[2]. Jamil Ahmad, Seratus Muslim Terkemuka, (Pustaka firdaus, 2003) hlm. 503.
[3]. Terj. Ahmadie Thoha. Ibn Khaldun Muqaddimah, (Jakarta: Pustaka Firdaus, cet-10, 2011). 534
[4]. Syarifudin Jurdi, Sosiologi Islam Elaborasi Pemikiran Sosial Ibn Khaldun, (POKJA :’UIN Sunan Kalijaga, 2008) hlm.17
[5] . Ramayun . fisafat pendikan isla Abu Dinata. Filafat Pendidikan Islam. 284
[6] . Abu Dinata. Filafat Pendidikan Islam. 226
[7] Ramayun. fisafat pendidikan islam .283
[8] Warul Walidin, Konstelasi Pemikiran Pedagogik Ibnu Khaldun : Perspektif Pendidikan Modern, (Aceh : yayasan Nadia, 2003) 105-107
[9] Safan Amri, Pengembangan Dan Model Pembelajaran Dalam Kurikulum 2013. (Surabaya: Prestasi Pustaka,2013)182-183
[10] . Kurniawan, Syamsul dan Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam,( Yogyakarta: Ar-Ruzz Media,2011).109
[11]. Muhammad Jawwad Ridha, Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), 537.
[12]. Tim Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Pendidikan Islam Dari Paradigma Klasik Hingga Kontemporer, (Malang:UIN-Malang Press,2009).250

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANGGAPAN DASAR DAN HIPOTESIS

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP STUDI QURAN

AL- JARH WA AT-TA’DIL (ADIL DAN CACAT PERAWI HADIST)