PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM IKHWAN AS-SHAFA

A.    Biografi Ikhwan as-Shafa
PEMIKIRAN PENDIDIKAN IKHWAN AS-SHAFA
Naskah Arab Abad-12 Mengenai Ikhwan as-Shafa 
Nama lengkap kelompok ini adalah Ikhwan as-Shafa wa Khullan al-Wafa wa Ahl al-Hamd wa Abna’ al-Majd. Sebuah buku yang sangat mereka hormati Kalilah wa Dimnah. Ikhwan as-Shafaberhasil merahasiakan nama mereka secara seksama. Namun Abu Hayyan al-Tauhidi menyebutkan, sekitar tahun 373H/983M lima orang dari kelompok Ikhwan as-Shafaseperti, Abu Sulaiman Muhammad bin Ma’syar al-Busti, yang dikenal dengan al-Muqaddisi, Abu al-Hasan Ali bin Harun al-Zanjani, Abu Ahmad Muhammad al-Mihrajani, al-Aufi, dan Zaid bin Rifa’ah yang terkenal itu.[1]
Organisasi ini antara lain mengajarkan tentang dasar-dasar agama Islam yang didasarkan pada persaudaraan islamiyyah (ukhuwwah Islamiyyah), yaitu suatu sikap yang memandang iman seorang Muslim tidak akan sempurna kecuali ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Sebagai sebuah organisasi ia memiliki semangat dakwah dan tabligh yang amat militan dan kepedulian yang tinggi terhadap orang lain. Semua anggota perkumpulan ini wajib menjadi guru dan mubaligh terhadap orang lain yang terdapat di masyarakat. Disinilah letak relevansinya berbicara Ikhwan al-Safa dengan pendidikan.[2]
Dalam karyanya itu, Ikhwan as-Shafa mencoba melakukan penjelasan-penjelasan yang terkait dengan agama dan ilmu pengetahuan (filsafat dan sains). Sedangkan karya yang erat hubungannya dengan Rasail adalah al-Risalat al-Jami’ah (Risalah Komprehensif) yang merupakan sebuah summarium(Ikhtisar, Ringkasan) dan summa dari karya aslinya. Selanjutnya, Jami’ahpun diikhtisarkan dalam Risalat al-Jami’ah al-Jami’ah au al-Zubdah min Rasail Ikhwan as-Shafa (Kondensasi dari Risalah Komprehensip atau Krim dari Rasail Ikhwan as-Shafa), yang juga dinamai al-Risalat al-Jami’ah. [3]
Informasi lain menyebutkan bahwa organisasi ini didirikan oleh kelompok masyarakat yang terdiri dari para filosof. Organisasi yang mereka dirikan bersifat rahasia dan memiliki misi politis. Namun bersamaan dengan itu ada pula yang mengatakan bahwa organisasi ini lebih bercorak kebatinan. Mereka sangat mengutamakan pendidikan dan pengajaran yang berkenaan dengan pembentuk pribadi, jiwa, dan akidah.[4]
B.     Konsep Pendidikan Ikhwan al-Shafa
Ikhwan as-Shafa meyakini bahwa tiap-tiap anak dilahirkan dengan attitudesnya, artinya dengan potensi yang harus diaktualisasikan.[5]Dengan akal dan emosi anak akan mampu berkembang mulai dari stage intellect in habitu, kemudian ke intellect in actu, dan terakhir sampai pada acquired intellect. Dengan demikian posisi anak berangkat dari siterdidik akan meningkat menjadi pendidik bagi dirinya sendiri dimana bentuknya sangat bervariasi mulai dari dirinya mampu belajar secara otodidak atau dirinya mampu mengambil keputusan tanpa dipengaruhi oleh orang lain.
Pemikiran Ikhwan as-Shafa ini kemudian berkembang dalam dunia pendidikan secara luas bahwa emosi dan intelligent siterdidik harus dikembangkan secara optimal. Hal ini untuk memacu siterdidik mampu mandiri baik dari aspek kehidupan sehari-hari sampai pada menjaga tauhid dalam dirinya.[6]
Baca juga:
 (Pengertian, Hubungan dan sumber Filsafat Pendidikan Islam)
(Studi Hadits dikalangan orientalis)
(Pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun)
I.       Cara Mendapatkan Ilmu
Menurut Ikhwan as-Shafa, pengetahuan umum dapat diperoleh dengan tiga cara, yaitu:
a.       Dengan panca indera. Pancaindera hanya dapat memperoleh pengetahuan tentang perubahan-perubahan yang mudah ditangkap oleh indera, dan yang kita ketahui hanyalah perubahan-perubahan ruang dan waktu.
b.      Dengan akal prima atau berpikir murni. Akal murni juga harus dibantu oleh indera.
c.       Melalui inisiasi. Cara ini berkaitan erat dengan doktrin esoteris Ikhwan as-Shafa. Dengan cara ini seseorang mendapatkan ilmu pengetahuan secara langsung dari guru, yakni guru dalam pengertian seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Guru mendapatkan ilmunya dari Imam (pemimpin agama) dan Imam dari Imam lain, dan para Imam mendapatnya dari Nabi, dan Nabi dari Allah, sumber ilmu paling akhir.[7]Konsep Imam ini disinyalir bahwa Ikhwan as-Shafamengabdopsi konsep imam dalam pemahaman Syi’ah, yang lebih menekankan pada sikap eksklusif dalam memilih imam dari kelompoknya sendiri.[8]
Abudin Nata menyimpulkan konsep pencapaian ilmu pengetahuan menurut Ikhwan as-Shafa itu dapat diperoleh melalui dua cara. Pertama, dengan cara mempergunakan pancaindera terhadap obyek alam semesta yang bersifat empirik. Kedua, dengan cara mempergunakan informasi atau berita yang disampaikan oleh orang lain. Kedua cara ini hanya dapat dicapai oleh manusia, dan tidak dapat dicapai oleh binatang.[9]
Dalam hal anak didik, Ikhwan as-Shafa memandang bahwa perumpamaan orang yang belum dididik ilmu akidah ibarat kertas yang masih putih bersih, belum ternoda apapun juga. Apabila kertas ini ditulis sesuatu, maka kertas tersebut telah memiliki bekas yang tidak mudah dihilangkan.[10]Pandangan ini lebih dekat dengan teori Tabula Rasa John Locke (empirisme). Aliran ini menilai bahwa awal pengetahuan terjadi karena pancaindera berinteraksi dengan alam nyata. Sebelum berinteraksi dengan alam nyata itu di dalam akal tidak terdapat pengetahuan apapun.[11]
Ikhwan as-Shafa berpendapatbahwa ketika lahir, jiwa manusia tidak memiliki pengetahuan sedikitpun. Proses memperoleh pengetahuan digambarkan Ikhwan secara dramatis dilakukan melalui pelimpahan (al-faidh). Proses pelimpahan tersebut bermula dari jiwa universal (al-nafs al-kulliyah) kepada jiwa manusia, setelah terlebih dahulu melalui proses emanasi. Pada mulanya, jiwa manusia kosong. Setelah indera berfungsi, secara berproses manusia mulai menerima rangsangan dari alam sekitarnya. Semua rangsangan inderawi ini melimpah ke dalam jiwa. Proses ini pertama kali memasuki daya pikir (al-quwwah al-mufakkirat), kemudian diolah untuk selanjutnya disimpan ke dalam re-koleksi atau daya simpan (al-quwwah al-hafizhat) sehingga akhirnya sampai pada daya penuturan (al-quwwah al-nathiqat) untuk kemudian siap direproduksi.[12]
Pandangan Ikhwan di atas berbeda dengan konsep fitrah dalam pendidikan Islam, bahwa manusia sejak lahir telah membawa potensi dasar (kemampuan dasar untuk beragama) yang diberikan Allah. Jadi, sejak lahir manusia sudah punya modal ”fitrah” tidak layaknya kertas putih (kosong).[13] Modal itulah yang nantinya akan dikembangkan oleh orang tua, masyarakat, sekolah maupun lingkungan cyber universe yang diciptakan oleh kemajuan teknologi informasi.
Ikhwan as-Shafajuga berpendapat bahwa semua ilmu harus diusahakan (muktasabah), bukan pemberian tanpa usaha. Ilmu yang demikian didapat dengan panca indera. Ikhwan as-Shafamenolak pendapat yang mengatakan bahwa pengetahuan adalah markuzah (harta tersembunyi) sebagaimana pendapat Plato yang beraliran idealisme. Plato memandang bahwa manusia memiliki potensi, dengan potensi ini ia belajar, yang dengannya apa yang terdapat dalam akal itu keluar menjadi pengetahuan. Plato mengatakan bahwa jiwa manusia hidup bersama alam ide (Tuhan) yang dapat mengetahui segala sesuatu yang ada. Ketika jiwa itu menyatu dengan jasad, maka jiwa itu terpenjara, dan tertutuplah pengetahuan, dan ia tidak mengetahui segala sesuatu ketika ia berada di alam ide, sebelum bertemu dengan jasad. Karena itu untuk mendapatkan ilmu pengetahuan seseorang harus berhubungan dengan alam ide.[14]
Dalam mempelajari ilmu pengetahuan, Ikhwan as-Shafa mencoba meng-integrasikan antara ilmu agama dan umum. Mereka mengatakan bahwa kebutuhan jiwa manusia terhadap ilmu pengetahuan tidak memiliki keterbatasan pada ilmu agama (naqliyah) semata. Manusia juga memerlukan ilmu umum (aqliyah). Dalam hal ini, ilmu agama tidak bisa berdiri sendiri melainkan perlu bekerja sama dengan ilmu-ilmu aqliyah, terutama ilmu-ilmu kealaman dan filsafat. Dalam hal ini Ikhwan as-Shafa mengklasifikasikan ilmu pengetahuan aqliyah kepada 3 (tiga) kategori, yaitu; matematika, fisika, dan metafisika. Ketiga klasifikasi tersebut berada pada kedudukan yang sama, yaitu sama-sama bertujuan menghantarkan peserta didik mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Menurut Ikhwan as-Shafa, ketiga jenis pengetahuan tersebut dapat diperoleh melalui pancaindera, akal, dan inisiasi. Meskipun ia lebih menekankan pada kekuatan akal dalam proses pencarian ilmu, akan tetapi menurutnya pancaindera dan akal memiliki keterbatasan dan tidak mungkin sampai pada esensi Tuhan. Oleh karena ini diperlukan pendekatan inisiasi, yaitu bimbingan atau otoritas ajaran agama.[15]
II.Sosok Ideal Guru
Bagi Ikhwan, sosok guru dikenal dengan ashhab alnamus. Mereka itu adalah mu’allim, ustadz dan mu’addib. Guru ashhab alnamus adalah malaikat, dan guru malaikat adalah jiwa yang universal, dan guru jiwa universal adalah akal aktual; dan akhirnya Allah-lah sebagai guru dari segala sesuatu.
Guru, ustadz, atau mu’addib dalam hal ini berada pada posisi ketiga. Urutan ini selanjutnya digambarkan sebagai berikut:
1).  Al-Abrar dan al-Ruhama, yaitu orang yang memiliki syarat kebersihan dalam penampilan batinnya dan berada pada usia kira-kira 25 tahun.
2).  Al-Ru’asa dan al-Malik, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan yang usianya kira-kira 30 tahun, dan disyaratkan memelihara persaudaraan dan bersikap dermawan.
3).  Muluk dan Sulthan, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan dan telah berusia 40 tahun.
4).  Tingkatan yang mengajak manusia untuk sampai pada tingkatannya masing-masing, yaitu berserah dan menerima pembiasaan, menyaksikan kebenaran yang nyata, kekuatan ini terjadi setelah berusia 50 tahun.[16]
Pemikiran Ikhwan as-Shafa tentang bahwa anak didik cenderung meniru pendidiknya seakan bertentangan dengan pemikirannya bahwa pendidikan mengarahkan pada kemandirian tingkah laku dan tauhid. Jika dikaji lebih jauh Ikhwan as-Shafa sebenarnya menghendaki bagaimana guru-guru dan orang tua menuntut dirinya untuh menjadi contoh yang baik, baik dalam perilaku maupun dalam kepribadiaannya.




[1]Omar A. Farrukh dalam M.M. Syarif (editor), Aliran-Aliran Filsafat Islam,(Bandung: Nuansa Cendekia, 2004), hal. 183
[2] Rasa'il Ikhwan al-Shafa, Jilid III, hal. 393, dikutip Omar A. Farrukh dalam M.M. Syarif (editor), Aliran-Aliran Filsafat Islam, hal. 182
[3]Omar A. Farrukh dalam M.M. Syarif (editor), Aliran-Aliran Filsafat Islam,hal. 182
[4] Ibid. hal. 394
[5] Arbaiyah Ys, dimensi filsafat dalam pemikiran pendidikan ikhwan al-shafa  1999.  dikutip dari C.A. Qadir, Philosophy and Science in Islam.
[6] Laporan penelitian oleh Arbaiyah Ys, dimensi filsafat dalam pemikiran pendidikan ikhwan al-shafa  1999. (IAIN Sunan Ampel Surabaya) Hal. 46
[7]Omar A. Farrukh, Aliran-Aliran Filsafat Islam, hal. 185
[8]Konsep Imamiyah (dalam Syiah) gelar Khalifah (Ketua Negara) diubah menjadi Imam. Imam hanya boleh dilantik oleh Rasulullah s.aw. dan kaum Muslimin tidak berhak memilih Khalifah atau Imam. Rasulullah s.a.w. telah mewasiatkan Sayidina Ali untuk mengantinya sebagai Imam setelah Rasulullah wafat. Sebagai waris Nabi, Sayidina Ali terus menerima wahyu dari Allah swt.
[9] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, hal. 182
[10] Ibid, hal. 182
                11 Ahmad Fuad al-Ahwani, Tarbiyah fi al-Islam, (Mesir: Dar al-Ma’arif, tt), hal. 227-228 atau Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, hal. 184
[12]Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 98- 99
[13]Hasan Langgulung, Pendidikan dan Peradaban Islam, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1985), hal. 215
[14]Baca Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, hal. 182-183
[15]Baca C.A. Qadir, Filsafat Pendidikan Islam, Terj. Hasan Basari, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1991), hal. 59 atau Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis, hal. 99
[16] Baca Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, hal. 185 lihat juga artikel Zainal Arifin Universitas Islam Negeri SunanKalijaga(Yogyakarta : 2009)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANGGAPAN DASAR DAN HIPOTESIS

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP STUDI QURAN

AL- JARH WA AT-TA’DIL (ADIL DAN CACAT PERAWI HADIST)