PEMIKIRAN MUHAMMAD IQBAL TENTANG PENDIDIKAN
a. Biografi Singkat Muhammad Iqbal
![]() |
| MUHAMMAD IQBAL |
Muhammad Iqbal dilahirkan di Sialkot-India pada tanggal 9 November 1877/ 2 Dzulqa'dah 1294[1] dan wafat pada tanggal 21 April 1938. Iqbal lahir dari kalangan keluarga yang taat beribadah, sejak kecilnya telah mendapatkan bimbingan langsung dari ayahnya Syekh Mohammad Noor dan Muhammad Rafiq kakeknya.[2] Pendidikan dasar sampai tingkat menengah ia selesaikan di Sialkot untuk kemudian melanjutkan ke Perguruan Tinggi di Lahore, di Cambridge-Inggris dan terakhir di Munich-Jerman dengan mengajukan tesis dengan judul The Development Of Metaphysics in Persia dan mendapatkan gelar MAdalam bidang filsafat, Sekembalinya dari Eropa tahun 1909 ia diangkat menjadi Guru Besar di Lahore dan sempat menjadi pengacara.[3]
b. Karya-karya Muhammad Iqbal
Muhammad Iqbal banyak menyumbangkan pemikiannya dalam bentuk sebuah buku. Karya-karyanya adalah:
Bang-i-dara (Genta Lonceng), Payam-i-Mashriq (Pesan Dari Timur), Asrar-i-Khudi (Rahasia-rahasia Diri), Rumuz-i-Bekhudi (Rahasia-rahasia Peniadaan Diri), Jawaid Nama (Kitab Keabadian), Zarb-i-Kalim (Pukulan Tongkat Nabi Musa), Pas Cheh Bayad Kard Aye Aqwam-i-Sharq (Apakah Yang Akan Kau Lakukan Wahai Rakyat Timur?), Musafir Nama, Bal-i-Jibril (Sayap Jibril), Armughan-i-Hejaz (Hadiah Dari Hijaz), Devlopment of Metaphyiscs in Persia, Lectures on the Reconstruction of Religius Thought in Islam Ilm al Iqtishad, , A Contibution to the History of Muslim Philosopy, Zabur-i-'Ajam (Taman Rahasia Baru), Khusal Khan Khattak, dan Rumuz-i-Bekhudi (Rahasia Peniadaan Diri).[4]
Lihat juga:
Kaidah-Kaidah Tafsir
Lihat juga:
Kaidah-Kaidah Tafsir
c. Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Pendidikan
1) Kurikulum
Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Pendidikan yang pertama tentang kurikulum. Kurikulum yang digagas Muhammad Iqbal adalah kurikulum yang memperkenalkan dan memasukkan kegiatan kehidupan sehari-hari dalam kehidupan sekolah.[5]Kurikulum yang ditawarkan Muhammad Iqbal ini berimplikasi terhadap tujuan pendidikan, materi sebagai isi , metode sebagai sarana dalam penyampaian materi, dan evaluasi untuk melihat sejauh mana pemahaman peserta didik terhadap materi.
2) TujuanPendidikan
Tujuan pendidikan merupakan sesuatu yang hendak dicapai, menurut Iqbal pendidikan tanpa ada tujuannya tidak bisa disebut pendidikan. Hal ini karena tujuan merupakan langkah awal yang semua dari kompenen atau unsur kurikulum yang lain nantinya akan di arahkan kesemuanya untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri.
Menurut Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Pendidikan, bahwa tujuan pendidikan meliputi:
1. Tujuan hidup yang mulia dalam hal ini bisa melalui kegiatan insani dalam segala bidang, lebih-lebih dalam dunia pendidikan yang bertugas untuk membina kata hati dan intelek manusia yang tidak ada suatu pandangan yang serba menyerah-kalah atau pesimisme, sebab pendidikan itu merupakan perjalanan yang benar dalam menggali berbagai kemungkinan yang tak terbatas.[6]
2. Fungsi pendidikan adalah melahirkan interaksi yang dinamis dan progesitifitas kedua kutub tersebut yakni hati dan intelek manusia, dengan maksud agar keduanya dapat saling bertautan secara serasi.[7]
3. Pendidikan bagaikan “azimat” dalam upaya pencapaian tujuan, maka pendidikan hendaknya dapat dijiwai semangat dan citanya, yang merupakan sumber inspirasi bagi tata kehidupan social dan kebudayaan itu.[8]
4. Pendidikan setidaknya dinamis serta kreatif yang di ilhami oleh suatu keyakinan yang optimis tentang tujuan akhir manusia.[9]
5. Tujuan pendidikan yang dikejar adalah “ego” bukanlah sekedar emansipasi dari berbagai keterbatasan individualitas yang lebih mantap. Tujuan akhirnya bukan hanya kegiatan intelektual, melainkan tindakan yang memperdalam keseluruhan keberadaan ego yang bisa mempertegas dan mempertajam kemauannya, disertai keyakinan yang kreatif. Dunia ini bukanlah sesuatu yang sekedar cukup dilihat dan dikenal melalui berbagai konsep pandangan tertentu, melainkan sesuatu yang harus diciptakan dan dibuat kembali melalui kegiatan dan aktivitas yang berkesinambungan.[10]
6. Pendidikan hendaknya di arahkan kepada penundukan rohani terhadap jasmani untuk meraih seluruh dunia, walau dengan mengorbankan jiwa sekalipun.[11]
3) Materi
a. Pertumbuhan individualitas peserta didik
Pertumbuhan dan perkembangan individu menuntut kegiatan yang terus menerus dan aneka ragam serta tak kenal putus dalam pertautan individu yang bersangkutan dengan lingkungannya yang berlangsung terus menerus dan timbal balik, mencakup segi material maupun budayanya.
b. Nilai sejarah dan budaya
Menurut Muhammad Iqbal materi pembelajaran setidaknya tidak meninggalkan nilai-nilai sejarah dan budaya . seperti ungkapan Iqbal berikut ini:
“Bila ia mengabaikan sejarah masa lewat,
Kedalam ketiadaanlah ia akan terjerat”
Karena sejarah menjalin masa lalu dengan masa kini serta menciptakan suatu kesinambungan pada kehidupan dan kebudayaan masyarakat.[12]
Menurutnya, berkat tradisi religius dan filosofisnya, mereka akan dapat menghargai dan menyetujui ide-ide dan nilai-nilai yang bertautan dengannya.
c. Perpaduan antara sistem nilai ilmu pengetahuan dan agama
Ilmu pengetahuan tidak akan mampu memberikan gambaran yang menyeluruh dan memuaskan peserta didik mengenai dunia keyataan atau realita. Akan tetapi nilai agama sumber yang sangat vital bagi idealisme dan kasih sayang kemanusiaan sehingga berkat kehidupan yang religius itu manusia akan menggunakan segala dayanya demi kebaikan. Oleh karena itu agama hendaknya dipandang sebagai pelengkap yang mengimbangi pandangan yang didapat melalui ilmu pengetahuan.
4) Metode
Metode pembelajaran dianalogikan sebagai jalan yang dilalui oleh kendaraan, metode pembelajaran mempuyai pengaruh yang besar dalam proses pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Penggunaan metode pembelajaran tidak bisa disamakan dalam menyampaikan setiap materi yang akan disampaikan, dalam pemilihan metode yang akan digunakan tidak dapat terlepas dari relevansi tuntutan zaman, materi yang akan disampaikan, kondisi peserta didik, sumber daya manusia, sarana dan prasarana sebagai pendukung penggunaan media yang dipakai dalam proses pembelajaran. Menurut Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Pendidikan menggenai metode terdapat empat metode pembelajaran yang cocok digunakan dalam proses pembelajaran yaitu:
a. Metode self-activity
Merupakan sebuah metode untuk menjadikan peserta didik bersikap aktif dalam melaksanakan proses pembelajaran. Metode ini mengubah paradigma peserta didik tidak hanya menerima/mendengarkan pengetahuan yang disampaikan oleh pendidik, akan tetapi peserta didik lebih dituntut aktif dalam memperoleh pengetahuan baik dalam lingkungan kelas maupun dalam mengakses materinya di luar kelas.
b. Metode learning by doing
Learning by doing (belajar dengan mengerjakan) merupakan sebuah metode apabila meminjam teorinya Bloom metode pembelajaran ini tidak hanya sebatas pada ranah kognitif dan afektif saja, melainkan lebih pada psikomotorik. Dengan metode ini peserta didik lebih dituntut untuk mampu mempraktekan apa yang mereka peroleh dalam tingkah laku kehidupannya.
c. Metode proyek
Merupakan sebuah metode yang menuntut peserta didik untuk menyelesaikan sesuatu yang telah ditugaskan dengan jangka waktu yang telah ditentukan.
d. Metode problem-solving
Problem-solving merupakan metode pembelajaran dengan mencari jalan keluar terhadap permasalahan yang ada, dalam proses pembelajarannya peserta didik dihadapkan kedalam permasalahan kemudian peserta didik dimintai untuk memecahkan persalahannya baik secara individu maupun secara kelompok.
5) Pendidik
Pendidik dalam menggalli dan mengembangkan konsep pendidikannya akan harus mengkaji dan meneliti hakekat individualitas serta lingkungan.[13]Bahwasanya dalam pembelajaran pendidik harus menguasai karakteristik dari siswa sehingga dalam pembelajaran akan mudah mengajarnya.pendidik harus bisa menyiasati peserta didik yang satu dengan yang lain karena masing-masing siswa mempunyai karateritik yang berbeda. Dalam mendidik juga harus bisa menyesuaikan dengan lingkungan setempat baik dalam berkomunikasi dengan siswa maupun dengan orang tua siswa.
Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Pendidikan Pendidik hendaknya berusaha untuk memperbaiki dan mengatasi kekurangan, tidak hanya dengan jalan mengajarkan ilmu pengetahuan kepada siswa, tetapi juga dengan jalan menumbuhkan dan mengembangkan suasana dan kehidupan ilmiah.[14] Dalam proses pembelajaran pendidik tidak berfungsi sebagai transfer ilmu,tetapi pendidik harus dapat mengembangkan jiwa dalam pesertadidik agar ahlak peserta didik juga dapat berkembang, sehingga pesertadidik nantinya dalam menerapkan ilmunya dapat diterima oleh masyrakat.
6) Peserta didik
Apabila pendidikan itu dimasukkan untuk mempersiapkan anak bagi kehidupannya, maka pendidikan hendaknya dicapai melalui partisipasi dalam kehidupan itu.[15]
Pendidikan peserta didik menurut Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Pendidikanitu disesuaikan dengan kehidupan atau perilaku sehari-harinya. Untuk menyesuaikannya, peserta didik harus ikut berpartisipasi dalam pembelajaran sehingga peserta didik faham serta menguasai apa yang terkandung dalam materi yang sudah disampaikan. Jadi dalam diri peserta didik perlu adanya kesadaran untuk berpartisipasi aktif dalam menyukseskan pendidikan.
7) Lingkungan
Lingkungan belajar merupakan salah satu faktor yang mendukung proses pendidikan. Menurut Muhammad Iqbal tentang lingkungan “setiap kelangsungan pendidikan bertopang pada kenyataan kehidupan suatu organisme insani yang secara terus menerus berinteraksi dengan suatu lingkungan yang mantap dan kompleks”.[16]
“No one can develop any intelligent theory of education without consciously postulating some conception of the nature of the nature of the individual to be educated, his relationship to the community and, what may be called, his ultimate destiny”[17] (Tak seorangpun dapat mengembangkan teori kecerdasan dari pendidikan, tanpa sadar mendalilkan beberapa konsep alam tentang hakikat individu untuk dididik, yang berhubungan dengan masyarakat dan apa yang disebut dengan tujuan akhir)
Lingkungan bersama sekolah hendaknya berusaha menggali makna intelektual, estetik, dan moral dari kegiatan dan minat sehari-hari, serta meningkatkan penggunaan akal sehat dalam menanggulangi masalah kehidupan sehari-hari.[18] Menurut Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Pendidikan, Pendidikan tidak akan mampu efektif tanpa adanya lingkungan yang mendukung tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
[1] Herry Mohammad (dkk), Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20,Jakarta, Gema Insani, cet.1, th. 2006, hal.237
[2]Herry Mohammad (dkk), Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20,hal.237
[3]Ensiklopedi Umum, hal. 473
[4] Ishrat Hasan Enver, Metafisika Iqbal, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, cet. 1, th. 2004, hal. 128, Lihat juga: RA. Gunadi, M. Shoelhi, Khazanah Orang Besar Islam, Dari Penakluk Jerusalem Hingga Angkonol, hal. 162. Lihat juga: Robert Gwinn (Et.al), The New Encyclopaedia Britannica, The Univercity Of Chicago, Volume 6, Cet. 15, hal. 373. Lihat juga: Hawasi, Eksistensialisme Mohammad Iqbal, Jakarta, Wedatama Widya Sastra, th. 2003, hal. 8-9
[5] Osman Raliby, Membangun Kembali Alam Pikiran Islam, (Jakarta: Bulan-bintang), hal. 14
[6]Saiyidayin, Percikan filsafat Iqbal Mengenai Pendidikan, (Bandung: CV. Dipenogoro), hal. 99.
[7]Ibid., 147
[8]Ibid., 170
[9]Ibid., 170
[10]Ibid., 174
[11]Ibid., 174
[12]Ibid., 171
[13]Ibid., 23
[14]Ibid., 165
[15]Ibid., 60
[16]Ibid., 23
[17]Iqbal, Iqbal’s Educational Philosophy, (Lahore: Kasmiri Bazar), 9.
[18]Ibid., 66

Komentar
Posting Komentar